Love And Adventure

Love And Adventure
Malam Event


__ADS_3

"Ayano. Tanganmu tidak apa? Sakitkah?" tanya Aria.


"bukan sakitnya. Tapi efeknya." ujar Ayano.


Pergelangan tangan Ayano yang sudah tergigit Ghoul, terlihat sedang berdenyut. Gumpalan hitam yang ada di dalam daging tangan Ayano, sedikit demi sedikit, bergerak menyebar ke seluruh peredaran darah.


"jangan bilang, kalau kau akan menjadi Ghoul nantinya?" tanya Aria. Dia memasang wajah terkejut.


"benar. Ghoul dan Zombie masih satu spesies. Mereka sama-sama bisa menginfeksi korbannya." jawab Ayano. Biasa saja.


"eh~ benarkah? Aku tadi, hanya bercanda padahal." tambah Aria. Dia mulai khawatir.


Brum~


(suara mesin mobil yang mendekat)


Sorot cahaya dari lampu mobil Jeep, menyinari mereka berdua. Para prajurit negara pasti sedang berpatroli, karena Event sedang berlangsung malam ini, apalagi timbulnya kegaduan di kota, di saat jam segini.


"kita harus pergi, Aria!" ujar Ayano.


"sepertinya, mereka bisa membantu, untuk membawamu ke rumah sakit terdekat." ucap Aria.


Ayano mengelengkan kepala. Dia tidak setuju dengan saran yang diberikan oleh Aria. Dia mengenggam tangan kanan Aria dengan tangan kirinya. Mereka berdua lalu berlari, masuk ke dalam gang tadi. Sabit yang Aria bawa, Aria ubah menjadi kalung untuk tangan kirinya.


"tunggu, kalian berdua!"


Seseorang yang ada di mobil Jeep berteriak. Dia mengeluarkan kepalanya dari cendela mobil. Menyuruh Aria dan Ayano untuk berhenti agar tidak pergi, tapi Ayano selalu menyuruh Aria untuk tidak mendengarkan teriakan orang tersebut.


"kita harus cepat mencari anggota Agamanter yang lain. Mungkin ada informasi, apa yang harus kita lakukan sekarang." ujar Ayano.


"jangan terlalu cepat berlarinya. Nanti aku terjatuh lagi!" ucap Aria.


Aria harus mengangkat rok piyamanya, ketika berlari. Ayano yang tahu, sudah dua kali, Aria tadi tersandung, akibat menginjak rok piyamanya, memutuskan untuk tidak berlari, mereka berjalan sedikit cepat agar cepat sampai di tujuan yang sedang Ayano ingin datangi.


...****************...


Di pasar modern, kota Agantha. Ayano dan Aria berhenti, di depan sebuah papan peta yang menunjukkan denah lokasi, tempat pasar dan sekitarnya. Kondisi pasar sangat sepi. Sampah plastik ada beberapa yang berterbangan, karena terbawa oleh hembusan angin malam.


"Aria. Kita harus pergi ke tempat ini! Di tempat ini, ada sebuah Handy Talkie yang bisa digunakan untuk menghubungi anggota Agamanter yang lain." ucap Ayano.


Ayano menunjuk sebuah tempat yang ada di denah peta. Di tempat itu terdapat sebuah simbol. Gambar berwarna biru lingkaran, bertulisan OP (operator) dan gambar menara pemancar.


"bagaimana kau bisa tahu? Jika disana ada Handy Talkie?" tanya Aria.


"karena semua merk, Handy Talkie yang dipakai para player. Logonya seperti itu." ujar Ayano.


Sesaat. Ayano bergumam sendiri, kenapa ada simbol lain di denah peta? Selain simbol bergambar OP tersebut, ada simbol lain yang Ayano lihat. Simbol bergambar keranjang mall dan lingkaran bertulisan Q.


"jadi, kita harus pergi ke sana yah, tapi apa yang harus kita lakukan, agar bisa pergi lebih cepat?" ucap Aria sambil melipat kedua tangannya di bawah dada.


Jam yang terpasang di tiang jalan, sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Suara ledakkan terkadang terdengar dari jauh. Suara ledakan tersebut bergema di udara, akibat sapuan angin malam.


Aria mendekat di samping Ayano. Dia ingin melihat denah peta, untuk memastikan lokasi yang akan mereka berdua datangi. Apakah lokasinya sangat jauh?


"sialan. Kepalaku mulai pusing." ujar Ayano sambil memegang tiang papan peta agar tidak terjatuh.


"ada apa, Ayano? Kau masuk angin?" tanya Aria.


Ayano berusaha berdiri lagi, Aria mencoba membantunya dengan memegangi badan Ayano yang mulai melemas. Nafas Ayano tiba-tiba menjadi tidak beraturan, nada bicaranya juga menjadi mengerang.


Buk~


(Aria ditindih Ayano sampai terjatuh di trotoar)


"Ayano. Apa yang sedang kau lakukan?!" tanya Aria.

__ADS_1


Dua tangan Aria, Ayano pegangi dengan erat. Dia membeku sebentar, ketika dirinya sedang ditindih oleh Ayano. Badan Ayano yang bersentuhan langsung dengan badannya, terasa enak. Hangat sekali.


"Aria. Aku merasa panas!" ujar Ayano.


"panas kenapa? Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Aria.


Baju piyama Aria di bagian leher, Ayano sobek dengan paksa. Air liur Ayano juga mulai menetes di dada Aria. Tatapan mata Ayano yang tajam, seperti sedang menahan rasa sakit. Akhirnya Aria paham, apa yang sedang terjadi, setelah menarik kesimpulan dari kejadian tersebut.


Buk~


(Aria mendengkul kelamin Ayano dengan kuat)


Dengkulan Aria yang sangat kuat tadi, membuat Ayano jatuh tersungkur ke samping. Aria langsung melompat ke belakang. Dia mengancingkan jaket Ayano untuk menutupi sebagian dadanya yang sudah terlihat.


Ah~ Arghh~


(suara rintihan dan erangan dari Ayano)


"kau mau menjadi Ghoul, Ayano!" teriak Aria.


Ayano sudah seperti orang yang sedang kerasukan. Aria melihat Ayano sedang mereog di trotoar. Kedua tangan Ayano selalu memegangi kepalanya. Rasa sakit bisa terasa dari suara Ayano yang sedang merintih.


"ada sesuatu yang sedang berjalan di seluruh tubuhku! Dia berusaha mengambil ahli otakku!" ujar Ayano.


Kondisi pasar dan jalanan sangat sepi. Aria celingak-celinguk untuk mencari bantuan, mungkin ada orang lain yang lewat. Tapi tidak ada seorangpun. Dia kebingungan, apa yang harus dirinya lakukan sekarang?


"bodoh amat deh. Aku coba buat keributan saja! Siapa tahu ada yang datang. Seri Perubahan Bentuk <>" ucap Aria.


Kalung yang berada di tangan kiri Aria. Dia mengubahnya menjadi sebuah senjata busur. Banyak kendaraan umum seperti taksi dan mobil barang yang sedang terparkir di pinggir trotoar pasar. Aria menarik busurnya dan mengarahkan anak panah sihirnya.


Bum~


(suara ledakan dari mobil yang terbakar)


Kendaraan yang terkena panah sihir Aria, meledak seketika. Kepulan asap dan api muncul dari kerangka mobil yang sudah menjadi rongsokan. Bagian mobil yang Aria bidik adalah bagian kap mobil. Disana terdapat mesin dan bahan lainnya yang mudah terbakar.


Bum~


(suara ledakan dari mobil yang Aria panah)


Aria melesatkan panahnya tiga kali. Ada tiga kendaraan yang sudah meledak. Dua mobil berwarna hitam yang telah menjadi warna abu-abu, akibat terbakar api dan satu mobil barang.


"akhirnya, ada yang datang." ucap Aria.


Sebuah lampu sorot dari mobil barang, Aria lihat. Mobil itu datang dari ujung jalan raya. Mobil itu sedang berjalan menuju ke arahnya, karena sinar dari lampunya yang semakin menerang.


Ketika Aria ingin berlari ke tengah jalan, untuk melambaikan tangannya, agar posisinya dapat diketahui. Ayano dari arah belakangnya, langsung melompat ke arahnya. Dia berusaha mengigit leher Aria, tapi beruntung, Aria bisa membanting tubuh Ayano di aspal.


"kemana kau, Aria?" ucap Ayano sambil mengeram.


Mata Ayano sudah memutih. Bola matanya yang tadinya berwarna putih, sedikit demi sedikit menjalar warna hitam. Tangan Ayano mencengkram-cengkram seperti ingin mencabik-cabik seseorang. Mulutnya juga sudah meneteskan air liur.


"sadarlah Ayano! Kau pasti bisa melawan racun Ghoul itu!" ujar Aria.


Ayano lanjut menyerang Aria lagi. Dia berusaha untuk mengigit Aria. Gaya bertarung Ayano, hampir mirip dengan gaya bertarung dua Ghoul yang mereka berdua temui tadi. Mencakar dan mengigit. Hanya saja tangan Ayano, tidak membesar hitam seperti dua Ghoul tadi.


"tahan, Nona!" teriak seseorang.


Suara itu berasal dari orang yang sedang menaiki mobil tadi. Aria melihat, ada mobil barang yang datang. Mobil itu jaraknya tidak jauh dari pandangannya. Di bagian belakang mobil, ada tiga orang yang sedang berdiri.


Buk~


(suara balok kayu menghantam kepala Ayano)


Salahsatu dari orang tadi, turun dari mobil. Dia membawa balok kayu lalu memukul kepala bagian belakang Ayano. Hantaman balok kayu itu membuat Ayano pingsan, tergeletak di aspal.

__ADS_1


"Mas. Tolong bantu teman aku! Dia tadi habis terkena gigitan Ghoul." ucap Aria.


Dua orang yang ada di bagian dalam mobil, ikutan keluar. Mereka berdua kaget, ketika melihat, wajah orang yang sedang pingsan di aspal tersebut.


"eh~ ini bukannya Ayano?" ucapnya. Bingung.


"benar. Ini Ayano." tambah orang di sampingnya.


Aria juga sama terkejutnya. Ada orang yang mengenal Ayano ternyata. Setelah melihat wajah dua orang itu, Aria paham, kenapa dua orang itu mengenal Ayano. Mereka adalah orang yang pernah Aria lawan sebelumnya. Ketika dirinya melindungi Vio dan Enn.


"Siapa dia? Kalian kenal?" tanya orang yang sudah memukul Ayano.


"Rif. Tolong obati dia pakai serum itu. Dia salahsatu dari teman kami!" kata Juan.


"tolonglah, Rif!" ujar Ander.


Juan dan Ander. Akhirnya Aria ingat, nama mereka berdua. Juan memiliki penampilan seperti Bad Boys. Celananya penuh sobekan dan selalu memakai kaos hitam polos. Sabuk yang dia gunakan memiliki aksesoris yang aneh-aneh.


Jika Ander, penampilannya hampir mirip dengan Ayano. Dia memakai jaket dengan rangkapan kaos berwarna hitam. Penampilan uniknya, berasal dari Hairstyle yang digunakan. Ander memiliki tiga garis di rambut bagian kiri dan kanannya. Letaknya berada di pelipis.


"Manra! Cepat kemarilah! Kita butuh serum itu!" teriak pria, bernama Riff itu. Dia memanggil seseorang.


"iya~ sebentar. Aku kesana!" jawabnya.


seorang gadis seusia Aria, muncul dari belakang bak mobil barang. Dia salahsatu dari tiga orang yang sedang berdiri, ketika mobil barang tersebut sedang menghampirinya.


Manra memakai jaket kain, dengan rangkapan kaos hitam. celana yang dia gunakan, panjang dan ketat. Dia memberikan sebuah suntikan yang diambil dari saku jaketnya. Suntikan itu memiliki cairan berwarna biru.


"kau terinfeksi kah, Nona?" tanya Rif.


"tidak. Aku hanya habis, dilecehkan." ujar Aria. Dia teringat, apa yang sudah Ayano lakukan padanya tadi.


Rif membuka tabung kaca yang menutup jarum serum. Dia menyuntikkan serum tersebut, di bagian tubuh Ayano yang terinfeksi. Cairan serum tersebut, terlihat sedang mengalir di tubuh Ayano. Cairan biru dari serum itu menyebar ke seluruh tubuh.


Setelah Rif, selesai menyuntikkan serum itu. Juan dan Ander menggotong tubuh Ayano menuju bak belakang mobil barang. Aria bersyukur, jika Ayano sudah tidak kenapa-kenapa sekarang. Aria merasa bersalah, karena penyebab Ayano digigit Ghoul juga karena dirinya.


"Nona. Apakah kau, salahsatu dari bagian kami?" tanya Rif.


"maksudmu player? Iya, aku seorang player." jawab Aria.


Rif memberikan sebuah kertas kepada Aria. Dia menyuruh Aria untuk membaca kertas tersebut. Isi di kertas itu, berisi tulisan alfabet acak. Aria melihat ada beberapa hurup yang bercahaya biru, jika dihubungkan, huruf-huruf itu membentuk tulisan Riff Deansol.


"Riff Deansol?" ucap Aria. Memastikan.


"panggil saja Riff. Salam kenal, Nona." jawab Riff.


...****************...


Aria dan Ayano menaiki mobil barang. Tujuan mereka semua, tempat yang tadi Ayano sudah sebutkan. Lokasi di peta yang terdapat gambar merk Handy Talkie yang sering dipakai oleh para player.


"Riff. Apa yang sedang terjadi?" tanya Aria.


Riff, Aria, Ayano dan tiga orang tadi, berada di belakang mobil barang. Ayano sedang diobati dengan peralatan P3K dan sihir penyembuhan oleh tiga orang tersebut. Beruntung sekali, ada orang dengan class Support, di situasi saat ini.


"Event Have Fun Ghoul sedang berlangsung, Nona." ujar Rif.


"karena apa sih? Event ini diadakan?" tanya Aria. Lagi.


"Dewa pembohong itu. Dia sedang melakukan pengurangan populasi di dunia sihir. Untuk menyambut makhluk baru yang akan menjadi penduduk dunia sihir." ujar Riff.


"maksudnya? Aku masih belum paham." tanya Aria. Lagi.


"tujuan Event ini diadakan. Pertama, untuk mengurangi populasi penduduk dunia sihir, sekaligus untuk mengurangi player yang tidak berguna. Kedua, menyiapkan makhluk Ghoul, agar bisa hidup di dunia sihir seperti makhluk lainnya." jawab Rif.


"maksudnya. Dewa itu ingin membuat makhluk Ghoul agar bisa hidup mudah, di dunia sihir?" ucap Aria. Meminta penjelasan.

__ADS_1


Rif menghembuskan nafasnya. Dia kemudian mengangguk, setelah mendengarkan perkataan dari Aria. Riff sepertinya sudah bingung, bagaimana cara untuk menjelaskannya lagi. Pelipis kanannya, dia pijat-pijat mengunakan jari-jarinya.


__ADS_2