
Banyak orang berkumpul, membentuk lingkaran. Teriakan semangat mereka, ditujukan kepada orang yang sedang berkelahi di hadapan mereka. Semua orang berkumpul, membentuk sebuah lingkaran, untuk menonton perkelahian dua orang yang sedang berlangsung.
Padatnya orang-orang, hingga membuat tempat ini, menjadi sebuah ring, berbentuk lingkaran. Ring yang dibatasi oleh para penonton yang sedang bersorak-sorak. Semua barang-barang bekas sekolah, sampai disingkirkan agar tidak menganggu.
Bruak~ Puk~ Tar~
(suara barang-barang pecah)
Orang-orang yang melihat, perkelahian dua orang itu. Kadang, memberikan benda-benda tumpul, kepada salahsatu jagoan mereka. Apapun itu, botol kaca, balok kayu atau barang lainnya. Tidak ada senjata tajam.
"bukannya, perkelahian seperti ini tidak boleh?" tanya Irene.
"entah juga sih. Ini sudah menjadi tradisi dari dahulu." ujar Eira.
Menurut Eira, yang sudah lima tahun bersekolah disini. Perkelahian di zona delapan enam, sudah menjadi sebuah tradisi, untuk menentukkan, siapa orang terkuat di Akademi.
Sudah lama sekali, tradisi ini dijalankan, tapi pihak kepala sekolah, tidak pernah melarang tradisi tersebut. Selama tidak ada korban jiwa dan hanya luka-luka saja. Tradisi ini masih boleh dilakukan.
Tiar~
(suara botol pecah)
Seorang pria kurus tinggi, datang ke tengah arena. Dia mengecek orang yang terkapar tersebut. Kepalanya berdarah, terkena tamparan dari botol bir kaca, yang diberikan oleh penonton, kepada salahsatu orang yang berkelahi. Kelihatannya, dia wasitnya.
"pertandingan usai! Dia K.O!" teriak orang itu.
Semua orang berteriak kegirangan. Sebagian tidak. Semua orang yang tadi berteriak kegirangan, menghampiri lima orang yang sedang duduk di sofa usang yang berada di samping arena.
"mereka semua, kenapa menuju ke orang-orang itu?" tanya Irene.
"mereka sedang mengambil uang taruhan. Pertandingan ini termasuk judi juga." ujar Eira.
Irene memperhatikan orang yang menang, dalam perkelahian tadi. Pria berambut hitam, sedikit kemerah-merahan. Badannya sedikit lebih tinggi darinya, jika Irene menebak tingginya dari kejauhan.
Beberapa orang datang menghampiri pria itu. Ucapan selamat dan bantuan untuk berdiri, semua orang berikan kepadanya. Dia masih bisa tersenyum dan tertawa, meskipun wajahnya sudah babak belur.
"mari kita pergi, Nona! Anda sudah ditunggu oleh kepala Akademi!" ucap Eira.
"baiklah." jawab Irene.
Irene berbalik, mengikuti Eira untuk menuruni tangga. Semua orang sepertinya belum mengetahui, jika ada salahsatu anak raja Agastias, yang sedang melihat mereka semua.
...****************...
Ruang Kepala Akademi Teodore. Terletak sedikit jauh dari ruang perpustakaan. Butuh berjalan kaki beberapa menit, lurus melewati pepustakaan, untuk sampai di ruangan itu.
Tanpa adanya pintu. Jalan untuk masuk ke dalam ruang Kepala Akademi, hanya ditutupi oleh gorden berwarna emas. Di balik gorden emas tersebut, seorang pria parubaya sedang duduk di kursi. Beliau sedang menstampel dan menanda tangani berkas-berkas.
"permisi bapak Ren. Putri Irene sudah datang!" ucap Eira.
Eira berjalan masuk duluan, disusul oleh Irene di belakangnya. Beliau langsung menata semua berkas yang berserekan di atas meja, ketika mengetahui Putri Irene sudah datang.
"Putri Irene. Tidak saya sangka, Putri akan bersekolah disini. Apa ada hal yang ingin Putri tanyakan?" ucap bapak Ren.
Beliau sepertinya sudah tahu. Putri Irene memiliki beberapa pertanyaan yang ingin dia tanyakan. Apalagi, setelah mengetahui, beberapa hal yang aneh, seperti tradisi perkelahian tadi.
"maaf nona Irene dan pak Ren. Saya pamit pergi. Ada mata pelajaran yang harus saya hadiri." ujar Eira.
Dia menunduk lalu pergi. Meninggalkan Irene dan pak Ren, berdua. Suasana sedikit hening sesaat. Suara detikan jam dinding, sampai terdengar, sebelum Irene melontarkan pertanyaannya.
__ADS_1
"ini sekolah, mengajarkan apa sih, Pak? Kenapa ada tradisi aneh seperti itu?" ucap Irene.
Pak Ren berdiri dari kursinya. Beliau berjalan menuju ke arah sofa, yang terletak sisi kanan ruangan. Sebuah koran yang tadinya, tidak beraturan halamannya, beliau tata kembali.
"itu bukan tradisi, Nona. Itu hanya salahsatu kegiatan, untuk praktikum siswa-siswi akademi." ujar pak Ren.
Beliau berjalan kembali menuju mejanya. Koran yang sudah beliau tata tadi, diletakkan di atas meja kerja, di samping berkas-berkasnya. Irene yang sedang berdiri, bisa melihat, apa judul berita di halaman utamanya.
Berita tentang pembunuhan, tiga orang yang lalu. Irene masih ingat berita itu, berita yang pernah disiarkan di televisi jalanan. Tapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Tulisan di berita itu, ada yang bercahaya biru, seperti coretan grafiti di dinding, tentang event Monster Ghoul.
...Kejadian diperkirakan berlangsung saat tengah malam. Para pelaku menyerang korban-korban tersebut. Ketika masyarakat kota Agantha sedang tertidur lelap....
"akan saya jelaskan lebih lanjut di perjalanan. Supaya putri Irene paham." ucap Pak Ren.
"eh~ iya pak. Ini nanti, mau kemana?" jawab Irene, spontan. Dia sedang fokus membaca koran di meja.
"ke kelas kamu dong. Saya yang akan menunjukkan, di kelas mana, kamu akan masuk nanti." ujar pak Ren.
Pak Ren melanjutkan penjelasannya. Melihat ekspresi wajah putri Irene yang sepertinya belum puas, akan jawaban tadi.
Akademi Teodore memiliki Visi dan Misi, untuk menciptakan siswa-siswi yang paham, akan dunia msyarakat. Kejadian seperti berkelahi di lantai dua, itu bertujuan untuk membentuk siswa dan siswi yang melanggar norma sosial.
Karena di masyarakat, harus ada yang melanggar norma sosial dan ada yang membetulkan normal sosial tersebut. Siswa yang terluka juga, bisa digunakan untuk latihan siswa dan siswi, yang memiliki pengetahuan untuk menyembuhkan.
"kenapa Akademi ini mempunyai tujuan seperti itu? Pak." tanya Irene.
Irene tidak setuju dengan salahsatu tujuan Akademi. Kenapa harus menciptakan siswa dan siswi yang melanggar norma sosial, padahal tanpa perlu diciptakan, makhluk yang melanggar norma sosial, sudah banyak berkeliaran di kota Agantha.
"agar roda kehidupan berjalan. Di dunia ini, semua harus saling melengkapi. Butuh baik dan jahat, pintar dan bodoh." ujar pak Ren.
Secara filosofis. Ucapan beliau ada benarnya. Tapi pemikiran tersebut, termasuk pemikiran kubu kiri. Jika tidak ada orang jahat seperti pencuri, pembunuh atau lainnya, profesi orang baik seperti prajurit keamanan, tidak akan ada.
ketika Irene sedang berjalan menyusuri lorong sekolahan, dengan Kepala Akademi. Dia sering melihat tulisan bercahaya biru di mading sekolah. Entah cerpen, komik pendek dan artikel. Tulisan yang bercahaya pasti tulisan, tengah malam dan orang asing.
"apa ini, salahsatu informasi, mengenai event tersebut? Tapi kenapa, ada di sekitar sini?" batin Irene.
Bukan hanya tulisan bercahaya biru yang menarik perhatian Irene. Ketika melewati ruang UKS Akademi. Pria yang tadi memenangkan perkelahian, di zona delapan enam, sedang ada di UKS, bersama dengan teman-temannya.
Jendela UKS yang tidak ditutupi oleh gorden, membuat orang yang berada luar, bisa melihat keadaan di dalam UKS. Empat orang itu sedang berbicara sesuatu, yang tidak bisa Irene dengarkan, dari luar ruangan.
Sebelum Irene melepaskan pandangan matanya, dari empat orang itu. Tatapan matanya, sekilas bertemu pandang dengan pria tersebut. Perasaan pernah bertemu, muncul di benak Irene. Tatapan mata pria itu, seperti pernah dia lihat, di suatu tempat.
...****************...
Bapak Ren dan Irene berhenti di sebuah lorong. Di kiri dan kanannya, terdapat banyak sekali tanda nama kelas, yang di pasang di atas pintu masuk. Tanda nama kelas bertulisan kelas A sampai kelas F bisa Irene baca, meskipun tulisan itu sedikit kecil.
"ini tempat kelas anda, Putri. Silahkan masuk!" ucap bapak Ren.
"saya harus milih yangmana? Kelasnya banyak." tanya Irene.
"terserah putri Irene saja. Saya ingin pergi sekarang." ujar pak Ren.
Perasaan Irene tertuju di pintu paling pertama. Kelas itu terletak paling depan, ketika Irene sampai. Tanda nama kelasnya, bertulisan kelas A yang di pajang di atas pintu kayu, yang sedang ditutup.
"masuk saja. Apa boleh yah? Enggak ada izin, engga ada kabar. Langsung masuk aja?" batin Irene.
Irene teringat akan janjinya kepada kakaknya. Dia sudah berniat untuk belajar lebih giat, agar tidak menjadi beban untuk keluarga. Apalagi, setelah melihat Putri Airin Frainahunt sudah sukses duluan. Irene harus menepis semua keraguannya sekarang.
Tok~ Tok~ Tok~
__ADS_1
(suara ketukan pintu)
Pintu terbuka. Irene melihat ada seorang pria yang tidak terlalu tua. Muka beliau masih bersih dari kumis dan jenggot, tanpa adanya kerutan di wajahnya.
"maaf Bapak. Saya ingin masuk di kelas ini." ucap Irene. Sedikit malu.
Pandangan mata beliau terlihat sangat bersinar. Beliau seperti sedang terkejut, melihat seseorang yang ada di depannya. Irene memasang wajah polos dan memelas, agar beliau merasa kasihan kepadanya.
Tok~
(suara pintu ditutup. Pelan)
Tanpa membalas perkataan Irene. Bapak itu menutup pintu kelas. Irene hanya bisa menghembuskan nafasnya, setelah melihat tingkah laku guru tersebut. Dia sudah ditolak untuk masuk di kelas, sepertinya.
"sudahlah. Aku coba kelas lainnya aja." ucap Irene. Lirih.
Ketika Irene akan melangkah pergi. Pintu kelas, kembali dibuka. Guru tadi menghampiri Irene dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam kelas.
"kalian semua. Kita kedatangan siswi baru." ucap beliau.
Beliau menyuruh Irene untuk berjalan di depan kelas dan melakukan perkenalan diri. Semua siswa-siswi yang ada di bangku yang menghadap ke depan kelas, saling bisik-membisik.
"perkenalkan. Nama saya Irene Sheirahunt. Saya ingin bersekolah disini. Mohon bantuannya." ucap Irene.
Seluruh kelas menyambut putri Irene. Mereka terkejut, jika ada salahsatu anak dari raja Agastias bersekolah di Akademi Teodore. Apalagi anak itu berada di kelas A. Tapi ada beberapa murid, yang menunjukan ekspresi tidak suka. Siapa lagi, jika bukan murid dari keluarga Frainahunt.
Saat semua kelas sedang ricuh, ingin menanyai Irene. Pintu kelas yang tadinya ditutup oleh Guru itu, ada seseorang yang membukanya. Empat siswa mencoba meminta izin kepada guru, untuk masuk ke dalam kelas.
"dia, kelas disini?" batin Irene.
Empat orang, yang Irene temui di UKS tadi. Mereka berempat, ternyata siswa dari kelas A. Guru itu memberikan izin untuk masuk dan menyuruh Irene untuk duduk, di bangku yang sedang kosong. Akhirnya, Irene bisa bersekolah setelah sekian lamanya.
...****************...
Malam hari. Jam menunjukkan pukul tujuh malam, di kamar Irene. Jam pulang Akademi Teodore sangat lama. Ada sampai jam empat sore, kelas baru berakhir. Pantas saja, banyak siswa-siswi yang keluar duluan dari kelas, sebelum jam pelajaran berakhir.
Sebelum pulang ke rumah. Wali kelasnya yang bernama bapak Ganna, menyuruh Irene untuk pergi ke ruang kepala sekolah. Bapak Ren memberikan salahsatu seragam yang belum Irene terima, sebelumnya.
Seragam itu adalah sebuah jas, dari satu set pakaian yang pernah irene coba sebelumnya. Pakaian yang sangat minim, sampai ketiak dan dadanya bisa terlihat dari samping.
"Eventnya, apa akan berlangsung jam dua belas malam nanti yah?" batin Irene.
Akibat belum tidur siang tadi. Irene merasa sedikit mengantuk. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Setelah makan malam dan mandi. Rasa kantuknya langsung datang. Tidak lupa, Irene melempar jepit rambutnya ke meja rias, agar tidak menganggu tidurnya.
Cit~ Cit~ Cit~
(suara decitan tikus yang berlari)
Saat Irene terlelap dalam tidurnya. Suara decitan tikus terdengar di telinganya. Batinnya, tidak mungkin ada hewan tikus bisa masuk di kamarnya. Ketika Irene membuka matanya. Dia menyadari, bahwa dirinya tidak berada di kamarnya lagi.
Entah bagaimana caranya, Irene bisa terbangun di kasur bekas yang ada di gang sempit kota Agantha. Bulan yang sudah membulat dan bercahaya terang menunjukkan, jika saat ini sudah tengah malam.
"tolong~ tolong aku~ aku butuh makanan~" ucap seorang lelaki.
Irene bangun dari kasur itu dan menghampiri sumber suara tersebut. Sumber suara itu berada di ujung gang, tepatnya di trotoar jalan.
"siapa disana? Ada~" tanya Irene. Suara terpotong.
Saat Irene berjalan lambat, menuju sumber suara. Sebuah bekapan dengan dua tangan, muncul membungkam mulutnya. Bekapannya sangat kuat, hingga Irene ikut terjatuh ke arah bekapan tersebut.
__ADS_1