
Gadis yang Aria temui, terkejut akan apa yang sudah dia dengar. Ada orang lain yang menjadi player sama seperti dirinya. Dia mengira, jika gadis ini yang dikirim untuk membantunya.
"kau punya alat, seperti yang tuan Faremon punya?" ucap Aria.
Di tangan Gadis itu. Ada alat yang namanya masih Aria ingat, Handy Talkie. Kata tuan Faremon, alat itu sangat langka karena dibuat dari dunia lain, tapi gadis ini bisa memilikinya.
"simpan basa-basinya untuk nanti saja. Siapa namamu?" ucapnya.
"namaku Aria. Namamu?"jawab Aria.
"namaku Sanea." jawabnya.
Pria yang Aria hempaskan ke dinding, mengambil belatinya yang terjatuh di air. Tangan kanannya yang sudah terpotong oleh sabetan Aria, mulai bergetar, lalu sebuah urat daging tumbuh membentuk tangannya lagi.
"Aria. Bantu aku untuk keluar dari sini." ucap Sanea.
Tangan Sanea memegang tas kecil yang ada di paha sebelah kanannya. Tas yang Sanea pakai, terlihat sama dengan tas yang Aria gunakan di belakang pinggulnya.
"kita buat mudah saja, nona. Kalian serahkan botol itu, maka anggap saja semua ini tidak pernah terjadi." kata pria itu.
Sanea mengeluarkan sikap yang lebih waspada daripada sebelumnya. Sepertinya dirinya tidak setuju dengan kesepakatan yang dibuat oleh orang tadi.
"tidak akan!" jawab Sanea.
Aria tidak paham, apa yang telah terjadi. Tapi feelingnya mengatakan, bahwa pria yang ada dihadapannya adalah orang jahat, sedangkan gadis yang dia temui adalah orang baik. Intuisi memang tidak jelas.
Bus~ Bus~
(suara lesatan angin)
Tiga bola asap melayang menyerang Aria dan Sanea. Beruntungnya benda itu berhasil dihindari. Namun, ketika tiga bola asap itu tidak mengenai mereka berdua. Bola asap itu pecah dan membentuk sebuah dinding dari asap.
"lama sekali. Kau bisa mengambilnya atau tidak?" kata seseorang.
Dari arah depan mereka. Terdengar suara langka kaki. Aria yang penasaran menyorot sumber suara itu dengan lampu senternya. Disana, ada pria berambut gondrong sedang berjalan menuju ke arah mereka berdua. Di tangannya, sebuah cerutu rokok sedang dipegang.
"berisik sekali. Kau daritadi cuman santai sambil menghisap cerutumu." jawab pria tadi.
Aria ingin menanyakan sesuatu, tapi Sanea menyuruhnya untuk menyimpan basa-basi. Melihat situasi yang semakin membingungkan, Aria langsung bertanya kepada Sanea, apa yang sebenarnya terjadi, supaya tidak ada kesalapahaman.
"Sanea. Kau punya masalah apa dengan mereka?" tanya Aria.
"mereka orang jahat. Jangan sampai mereka mendapatkan barang yang sedang aku bawa." ucap Sanea.
Pria yang membawa cerutu itu berjalan mendekat. Dia menyedot cerutunya, sambil menahan asapnya di mulut.
"oke. jika kalian tidak ingin menyerahkannya, maka akan kami ambil paksa."
Pipinya mengembung, mengeluarkan asap cerutu yang tadi dia simpan. Asap itu melesat membentuk sebuah bola, lalu berubah bentuk menjadi api.
"sihir angin <>"
Sanea mengambil katana kecil yang berada di belakang punggungnya. Katana yang panjangnya sepergelangan tangan. Rapalan sihir itu membuat katananya dilapisi angin, lalu melempar angin yang ada di katana tersebut.
Sling~ Duar~
(suara sabetan angin dan ledakan)
Orang yang tadi Aria hempaskan di dinding juga ikutan menyerang. Dia melompat sambil menghunuskan pisaunya.
"penguatan tenaga <>"
Aria yang merasakan feeling tidak enak, langsung mengangkat sabitnya. Dihadapannya, pria itu melompat maju, dan ingin menebas lehernya. Beruntung, serangan tadi bisa Aria tangkis mengunakan gagang sabitnya.
Sekilas. Pisau yang orang yang Aria lawan, mengeluarkan sebuah angin transparan. Aria tahu, jika angin itu bukan sembarang angin. Suara angin itu seperti dengungan besi baja, ketika mengores sabitnya.
__ADS_1
Ting~ Ting~ Ting~ Slang~
(suara tangkisan dan satu serangan yang meleset)
Serangannya bertubi-tubi. Aria hanya bisa bertahan dan menangkisnya saja. Dia tidak bisa mengubah bentuk senjatanya ke bentuk lain, karena itu membutuhkan sedikit waktu.
Di lain pihak. Sanea sedang berusaha menebas kepala pria yang membawa cerutu. Berulang kali dirinya berusaha menebasnya, orang itu bisa menangkis semua serangannya, dengan pedang yang dibuatnya dari asap cerutunya.
"penguatan tenaga <>"
Katana Sanea mengeluarkan angin berwarna putih, lalu berubah menjadi cahaya. Sabetan katananya, melesatkan cahaya itu seperti anak panah yang keluar dari tali busurnya, menuju pria itu.
"percuma." ucap pria itu.
Dia menyedot cerutunya lagi. Sebuah asap dia hembuskan dari mulutnya. Asap itu membentuk sebuah dinding asap yang tidak bisa ditembus, oleh sabetan cahaya dari serangan Sanea tadi.
"kau saja tidak bisa mengambilnya. Grend." ucap pria yang sedang Aria lawan.
"kau benar. Rawn. Dua gadis ini sangat tangguh." jawab orang yang melawan Sanea.
Aria dan Sanea bertatap punggung. Mereka benar-benar kesusahan untuk mengalahkan dua pria ini. Penyebab kesusahan yang mereka alami karena perbedaan class pertarungan.
Pria bernama Grend adalah seorang Mage dan semi Fighter. Dia bisa mengunakan sihir angin asapnya, untuk bertahan, sekaligus menyerang dari jarak jauh dan dekat. Jika bertarung dengan Sanea yang murni class Fighter, kemampuan mereka sangat imbang.
Lain lagi dengan lawan Aria. Rawn adalah class Assasin. Dia bisa menyerang beruntun mengandalkan kecepatannya. Aria sebagai class Fighter akan sangat kesulitan. Kemampuannya terletak di tenaga yang besar, bukan kecepatan.
"kita butuh ide untuk mengalahkan mereka. Kekuatan saja, tidak mungkin sepertinya." kata Sanea.
"kau benar, tapi ide apa yang akan kita gunakan untuk melawan mereka?" ucap Aria.
Mereka berdua berpikir keras. Memutar otak untuk mencari cara supaya bisa mengalahkan dua orang ini. Cara curangpun tidak masalah. Aria mengamati sekeliling terowongan gorong-gorong dan menemukan sebuah ide bagus.
Aria baru sadar. Pantas saja, pria yang membawa cerutu itu tidak mengunakan sihir api yang memiliki ledakan dahsyat. Sihir api yang dia gunakan, selalu sihir api biasa. Ledakannya hanya membuat beton lantai gorong-gorong retak.
"Sanea. Kita ledakan tempat ini." ujar Aria. pelan
"bagaimana caranya?" tanya Sanea. samar-samar.
"kau lihat di atas." ucap Aria. lirih.
Atap dinding gorong-gorong banyak kabel besar yang terpasang rapih. Semua kebel itu diikat menumpuk jadi satu. Menurut Aria itu ide yang bagus untuk merusak tumpukan kabel itu. Apalagi ada aliran air di tempat ini.
"baiklah. Aku setuju!" ujar Sanea
"beri aku sedikit waktu!" jawab Aria.
Dari tas kecil yang ada di paha kiri dan kanannya. Sanea merogoh sesuatu. Di kedua tangannya, ada delapan bola hitam yang sedang Sanea genggam mengunakan jemarinya.
"oke. saatnya mengakhiri ini." ucap pria bernama Grend.
"itu benar. Tidak ada main-mainnya lagi." jawab Rawn. Teman Grend.
Aria memegang erat senjata sabitnya, sambil memejamkan mata. Sanea bersiap untuk melemparkan delapan bola hitam yang ada di kedua tangannya, setelah melihat Aria yang sedang fokus akan sesuatu.
"kami yang akan mengakhiri ini." ucap Sanea.
Dia melemparkan semua bola hitam itu di lantai. Seketika, bola hitam itu hancur dan mengeluarkan asap tebal yang berwarna hitam. Seluruh terowongan gorong-gorong sampai terhalang oleh debu asap.
"perubahan seri bentuk <>" ucap Aria.
Senjata Aria berubah menjadi sebuah busur. Dia arahkan busurkan ke atas, lalu menarik talinya. Sebuah anak panah berwarna terang tiba-tiba muncul untuk menjadi amunisinya, dan Aria lepaskan.
Duar~
(suara ledakan dan percikan api)
__ADS_1
Beberapa kabel berukuran sedang meledak. Percikan api dan listrik terdengar saling sahut-menyahut. Ketika moment ledakan itu, Aria dan Sanea berlari menerobos ke arah Grend.
Karena banyak kabel yang jatuh di aliran air. Membuat air menjadi meluap dan teraliri listrik. Untungnya, Grend bisa membuat kuba kecil dari asap sihirnya untuk melindunginya dan Rawn, dari luapan air yang mengandung arus listrik.
"Grend. Mereka kabur!" ujar Rawn.
"nyawa kita yang lebih penting, bodoh!" jawab Grend.
"tinggal diterobos. Apa susahnya." ujar Rawn lagi.
"meskipun kita bisa memulikan diri. Di teganggan setinggi ini. Kita bisa terpanggang." kata Grend.
...****************...
Aria dan Sanea berlari sekuat tenaga. Mereka asal melangkah saja, meskipun banyak cabang jalur terowongan di gorong-gorong ini. Tujuan mereka sekarang, berlari sejauh mungkin untuk menghindari luapan air, yang mungkin saja sedang teraliri arus listrik.
"terowongannya, cabangnya banyak sekali." ucap Aria.
"aku juga tidak tahu, dimana jalan keluarnya." kata Sanea.
Ketika Aria sedang berlari bersama Sanea. Di rambutnya, terasa seperti ada yang sedang menyentuhnya. Sentuhan itu berasal dari jepit rambut yang berubah menjadi seekor laba-laba.
Laba-laba itu berubah menjadi setengah peta, untuk menunjukkan sesuatu. Ada jalur yang berkelap-kelip berwarna merah. Sepertinya, Aria disuruh untuk mengikuti jalur di peta yang sedang berkelap-kelip itu.
"Sanea. Ikuti aku! Sepertinya aku tahu dimana jalan keluarnya." ucap Aria.
"makhluk apa itu, di dahimu?" tanya Sanea.
"sudahlah simpan pertanyaan itu. Ikuti aku!" kaya Aria.
Mereka berlari mengikuti arahan dari peta itu. Meskipun luapan air gorong-gorong sudah tidak meluap lagi. Mereka sampai disebuah tempat, yang terdapat anak tangga dari besi yang mengarah ke atas.
Aria dan Sanea menaiki satu persatu anak tangga, dan mendorong tutup selokan yang ada di atas kepalanya. Mereka keluar di tempat yang dekat dengan balai kota. Tepatnya di sela-sela gang sempit yang diapit dua toko.
"ini bukannya tempat anak hijau itu tadi, muncul yah?" batin Aria.
"ngapain diam. Cepat naiklah!" kata Sanea.
Di luar gorong-gorong. Sanea berasa legah. Dia bisa kabur dari kejaran orang-orang tadi. Untung saja, dirinya masih beruntung ada orang lain yang datang untuk membantunya.
"tunggu Aria. Kau seorang player bukan?" tanya Sanea.
"sepertinya benar. Tapi aku hanya pernah melihat orang berwarna hijau saja. Tidak merah." ujar Aria.
Sanea mengangguk-angguk. Dia menyimpulkan, sepertinya gadis yang dirinya temui, adalah player baru, tapi pengalaman bertarungnya sudah diatas rata-rata.
"ikut aku ke distrik merah, Aria. Kau juga sama seperti kami, seorang player." kata Sanea.
"aku niatnya akan datang disana, saat malam hari." ujar Aria.
Tangan Aria, Sanea pegang. Dia berharap sekali bahwa Aria mau menemaninya ke distrik merah saat ini. Ada sesuatu hal yang ingin dia laporkan disana.
"bantulah aku, Aria. Untuk sesama gadis." ucap Sanea.
"baiklah. Baiklah, setelah aku melaporkan quest ini dulu." ucap Aria.
Sanea setuju. Dia dan Aria berjalan menuju ke balai kota untuk menyetorkan lendir slime yang sudah dia bawa. Uang yang Aria dapat dari menyetor lendir slime adalah 30 Neal, untuk lima quest berburu slime.
Setelah itu, mereka berdua mencari taksi untuk pergi ke distrik merah. Tapi Aria tidak ingin menumpang di dalam taksi terlebih dahulu. Aria duduk di bawah pohon taman, sambil melihat keramaian orang-orang yang sedang membeli sesuatu di pasar balai kota.
"ada apa Aria? Kau lelahkah?" tanya Sanea.
"tidak. Badan kita berkeringat. Aku ingin menyejukkan badan terlebih dahulu." jawab Aria.
"keringatmu bau yah?" sindir Sanea.
__ADS_1
"keringat elf mana bau. Harusnya kau. Kau manusia bukan? Telingamu tidak runcing." sahut Aria.