
"Mereka kabur begitu saja." Ucap Reana, melihat empat orang itu pergi melompat ke atap bangunan lain.
Irene mengambil topi barretnya yang berada di bawah tiang lampu yang sudah rusak akibat tekanan sihir angin pria tadi. Topi barretnya hanya kotor terkena debu, tanpa adanya lecet sedikitpun.
"Apa maksudnya kita akan bertemu lagi? Dan apa maksud dari perkataan anak kecil itu akan menjadi ghoul?" Batin Reana.
Kejadian malam ini sangatlah ambigu. Selama sebulan Irene menjadi petualang, belum pernah mengalami kejadian seperti ini. Anak kecil yang dia lindungi akan menjadi seorang monster? Yang benar saja.
"Kalian berdua! Kalian baik-baik saja!?"
Irene berteriak untuk mencari tahu, apakah dua anak kecil itu tidak apa-apa. Di perempatan gang, dua anak itu muncul dan berjalan menuju Reana. Sebelum mereka berdua sampai di depan dirinya, Reana sudah mengubah senjata tombaknya menjadi kalung dalam bentuk semula.
"Terima kasih tante! Sudah menjaga kami berdua." Ucap anak laki-laki itu.
"Sama-sama kok. Mari tante bawa ke rumah sakit terdekat! Maaf tante tidak mempunyai sihir healing untuk menyembuhkan kalian berdua!"
Dua anak kecil itu terlihat baik-baik saja, hanya adik perempuannya yang terlihat berantakan dengan noda darah di pakaian beserta beberapa luka gores dan memar di sekitar wajahnya. Irene yang merasa kasihan, memegang pipi anak perempuan itu untuk melihat ada luka apa saja di wajah imutnya.
"Tidak apa tante! Adikku baik-saja kok. Iyakan Vio?!"
"Iya kak Enn. Aku tidak apa-apa."
Anak laki-laki bernama Enn memang tidak apa-apa, dia tidak terlihat sama sekali ada luka gores atau memar di sekitar tubuhnya, sedangkan anak perempuan bernama Vio itu wajahnya terdapat sebuah lebam dan luka gores yang membuat pipinya berwarna merah.
"Vio dan Enn. Kita ke rumah sakit dulu yuk! Supaya luka kalian cepat sembuh. Biaya pengobatan biar tante yang tanggung!"
Vio mengelengkan kepala, dia melepas tangan tante Reana yang sedang memegang wajahnya.
"Sesuai janji tante. Kami akan kasih hadiah buat tante." Ucap Enn.
Adiknya Enn, si Vio mengeluarkan sebuah peta kuno berwarna kuning kecoklatan dari saku jaketnya. Vio memberikan peta itu kepada tante Reana sebagai sebuah hadiah.
"Peta itu adalah lokasi quest dari semua Npc yang terdapat di dunia ini. Para Npc itu akan memberikan tante semua hal yang tante mau, selama hal itu masih memungkinkan." Ujar Enn.
Reana yang penasaran dengan peta yang diberikan oleh Vio, mencoba membukanya. Peta itu masih dilipat dalam bentuk persegi saat Vio memberikan peta itu kepadanya. Peta yang Reana pegang tidak terdapat gambar apapun, hanya kosong saat dibuka.
"Tante Reana. Aku tahu tante punya masalah. Semoga dengan peta ini masalah tante bisa berangsur-angsur menghilang."
Vio tahu, jika dirinya mempunyai sebuah masalah, tetapi bagaimana bisa anak kecil ini tahu jika dirinya mempunyai sebuah masalah? Dan kenapa bisa Vio tahu, jika namanya itu Reana? Meskipun itu nama samaran, padahal dirinya belum menyebutkan namanya sama sekali.
"Vio kok bisa tahu nama tante sih?!"
Pertanyaan Reana tidak Vio jawab. Dia memegang tangan kanan tante Reana sambil menatap kedua mata biru yang Reana punya. Kedua mata Vio sekilas bercahaya hijau sebelum perlahan menghilang.
Peta yang sedang Reana pegang dengan tangan kirinya, tiba-tiba mengambar denah lokasi kota Roanes dengan sangat detail. Di peta itu terdapat titik-titik berwarna hijau dan merah beserta simbol lainnya, seperti gambar sebuah toko dan gambar daun herbal.
"Di sekitar sini bunyi suaranya tadi berasal!"
"Betul. Di daerah sini angin kencang itu muncul!"
__ADS_1
Dari arah belakang, Reana mendengar suara orang, sepertinya mereka sedang datang menuju tempat ini. Mungkin saja mereka adalah para prajurit negara yang datang untuk mengecek tempat ini karena suara ledakan angin tadi.
"Vio dan Enn. Kalian diam saja biar aku yang bilang kepada para prajurit itu!"
Ketika Reana melihat ke arah Vio dan Enn, mereka sudah hilang entah kemana. Reana yang kebingungan dengan hilangnya dua anak itu mencoba mengamati ke arah sekitar untuk mencari jejak mereka pergi.
Sosok Vio dan Enn sama sekali tidak meninggalkan jejak, tetapi Reana yakin bahwa Vio dan Enn sepertinya masuk ke dalam lubang selokan yang tidak jauh dari tempat dirinya berdiri. Tutup besi selokan itu masih terbuka soalnya.
"Vio, Enn! Kalian dimana?!" Teriak Reana.
Vio dan Enn tidak menjawab teriakannya. Irene Melihat keadaan lubang selokan yang gelap dan pengab membuatnya tidak yakin, jika mereka masuk di dalam sini. Bau khas selokan dan udara pengabnya saja terasa, meskipun berada di luar selokan.
Belum selesai dengan fenomena Vio dan Enn yang menghilang secara misterius, Reana dikejutkan oleh hal lain. Peta yang dia pegang tiba-tiba berubah menjadi seekor laba-laba lalu melompat ke rambutnya.
"Laba-laba! Ada laba-laba!" Teriak Irene.
Laba-laba itu mencengkram rambut Reana dengan enam kakinya. Tubuh laba-laba itu berubah menjadi sebuah bunga mawar yang mekar secara perlahan. Warna bunga itu yang tadinya coklat tua berubah menjadi merah merona.
"Nona! Kau tidak apa-apa?" Tanya seseorang.
Reana tadinya terlihat seperti orang yang sedang histeris langsung mengubah sikapnya. Dia memasang raut wajah seolah tidak terjadi apa-apa, padahal dirinya tadi seperti orang yang sedang ketakukan akan sesuatu.
"Tidak apa-apa pak." Ucap Reana.
Lima orang prajurit elf pria datang menuju ke tempat ini. Mereka berlima terkejut ketika melihat tempat di sekitar sini sudah berantakan.
"Kenapa semua ini bisa terjadi? Apa kau mengetahuinya?" Tanya bapak itu.
Orang itu mengamati Irene dari bawah sampai atas. Beliau seperti sedikit curiga dengan perempuan di hadapannya karena seragamnya basah dengan keringat dan terlihat tidak rapi.
Empat prajurit elf pria berambut putih yang datang bersama orang itu melakukan penyelidikan di sekitar tempat kejadian. Mereka tidak menemukan adanya barang bukti yang tertinggal, kecuali bekas darah.
"Lapor pak! Kami menemukan sebuah darah, tapi darah itu sudah mengumpal."
Beliau memalingkan pandangannya ke arah kiri. Kelihatannya beliau sedang mengingat sesuatu hal setelah mendengar perkataan anak buahnya itu.
"Itu darah Ghoul! Darah mereka akan mengumpal jika mereka terluka."
Reana terkejut mendengar perkataan beliau. Untung saja, Reana mampu menyembunyikan ekspresi terkejutnya hanya dengan mengangkat salahsatu alisnya.
Tiga orang yang tadi yang Irene lawan juga mengucapkan kata yang sama, monster ghoul. Apakah benar, jika Vio dan Enn adalah seorang monster?
"Beritahu kepada semua prajurit yang berada di sekitar sini! Ancaman quest monster sudah berada dalam tahap ancaman!"
Prajurit itu menunduk lalu pergi keluar dari gang ini. Sisa tiga orang prajurit yang sedang melihat sekitar tempat lokasi untuk menyelidiki, apa masih ada bukti lainnya atau tidak.
"Nona. Aku belum pernah melihatmu. Di tempat mana kau bertugas?"
"Di kediaman keluarga Sheirahunt pak."
__ADS_1
Beliau mengangguk-angguk, beliau menatap wajah gadis di depannya dengan tatapan dalam, seolah-olah beliau sedang mengamatinya.
"Wajahmu seperti putri Airin Frainahunt, Nona!"
Reana tahu siapa putri Airin Frainahunt. Dia adalah keluarga kedua yang berkuasa setelah keluarga Sheirahunt. Putri Airin juga memiliki wajah yang cantik seperti dirinya, tapi ada skandal bahwa keluarga Frainahunt itu iri dan dengki dengan keluarga Sheirahunt.
Sifat iri dengki mereka disebabkan karena keluarga Sheirahunt saja yang memiliki skill manipulasi materi, skill itulah yang membuat Irene bisa mengubah kalungnya menjadi bentuk lain seperti senjata, sedangkan keluarga Frainahunt tidak bisa.
Karena keluarga Frainahunt tidak bisa mengunakan skill manipulasi materi. Mereka tidak bisa menjadi pemimpin negara, karena hanya penguna skill manipulasi materi yang bisa mengunakan tiga artefak senjata pamungkas untuk melindungi negara Agastias.
Perbedaan antara keluarga Sheirahunt dengan keluarga Frainahunt, hanya terletak di warna rambutnya saja. Keluarga Sheirahunt memiliki rambut berwarna pirang, sedangkan keluarga Frainahunt memiliki rambut berwarna putih.
"Tidak kok pak. Lebih cantikan saya sepertinya." Ucap Irene.
Beliau cuman terdiam setelah mendengar perkataan tersebut. Beliau menyuruh Irene untuk kembali ke kediaman raja Sheirahunt karena tugas disini biar diselesaikan oleh para laki-laki.
"Permisi pak. Semoga berhasil."
"Sama-sama."
Reana keluar dari gang sempit itu. Dia melihat banyak sekali orang-orang aneh yang tidak dia lihat sebelumnya. Entah bagaimana bisa, banyak sekali orang gelandangan yang bersender di sudut-sudut gang dan kedua mata mereka bersinar warna hijau lalu menghilang seperti mata yang dimiliki oleh Vio.
Ketika Reana berjalan pelan untuk melihat mata orang-orang itu, sebuah koran bekas terbang menabrak kakinya. Di koran itu bertulis berita have fun monster ghoul, bercahaya biru beserta tulisan akan dimulai 3 hari lagi.
Tidak hanya di koran bekas, tapi tulisan cat berwarna putih kusam di dinding juga mengeluarkan cahaya berwarna biru sebentar lalu menghilang, tulisan cat itu berbunyi fight monster yang hanya Reana yang bisa melihat cahaya itu. Orang yang sedang jalan malam di kota Roanes seperti tidak menyadarinya.
"Apa yang sedang terjadi? Apa ini salahsatu kemampuan dari seorang player?"
Reana menepi di gang sempit yang tidak terlalu gelap dari pencahayaan tiang lampu di pinggir jalan. Jepit rambut mawar di kepalanya dia tarik untuk melihat peta yang diberikan oleh Vio tadi.
Jepit rambut itu, Reana kembalikan menjadi bentuk semula dari bentuk bunga mawar menjadi bentuk peta. Di peta terlihat banyak titik-titik berwarna hijau bertulisan side quest, sedangkan kolom persegi di bagian kiri bawah terdapat tulisan main quest : have fun monster ghoul dalam 3 hari lagi.
"Aku sudah menjadi playar ternyata." Ucap Reana.
Tidak disangka bahwa sentuhan tangan dari Vio bisa membuat dirinya menjadi seorang player. Informasi mengenai player juga masih sedikit yang Reana tahu. Katanya, player dengan petualang itu dua hal yang sangat berbeda, meskipun dua-duanya membunuh monster sebagai tugas utama.
"Lebih baik aku pulang saja sekarang. Aku takut ibu dan kakak sedang mencariku."
Reana berjalan menuju pinggir trotoar untuk pulang naik taksi. Dia akan bertanya tentang player kepada dua temannya nanti, mungkin saja mereka tahu, karena mereka berdua sering berinteraksi dengan para petualang.
"Pak. Pergi ke kota Agantha dong!"
"Siap Nona."
Supir taksi itu menyalakan mesin lalu menginjak gas. Irene yang duduk di kursi belakang melihat ke arah luar cendela taksi.
Orang aneh dengan mata mengeluarkan cahaya hijau berada di sekitar masyarakat Roanes, tapi masyarakat kota Roanes seolah tidak memperdulikan mereka atau memang mereka tidak tahu hal tersebut.
"Apa yang sebenarnya terjadi sih? Apakah ini juga salahsatu dari perjanjian dengan dewa itu? Bukannya hanya ada monster yang harus dibunuh?"
__ADS_1
Reana mengingat perkataan tuan Legan, manager karavan negara Einhoren. Orang bermata hijau itu pasti adalah Npc, tapi apa hubungannya para Npc itu dengan teknologi yang negara Einhoren punya? Apa mungkin ada hubungan pernikahan dirinya dengan pangeran negara manusia? Entahlah semua ini masih belum jelas.