Love And Adventure

Love And Adventure
Invasi Orang Asing


__ADS_3

"Aria. Tolong diam sebentar!"


Irene tahu, suara siapa ini. Suara seorang pria, yang kemarin dia temui, di Tempat Perkumpulan dan suara orang yang sudah membuatnya penasaran. Ayano.


Ayano menarik Irene, untuk bersembunyi di antara tumpukan karung sampah, yang berada di samping kotak pembuangan. Irene sempat membatin, kenapa Ayano masih memanggilnya Aria? seingatnya, dia masih belum memakai pita rambutnya.


"ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Aria. Bingung.


Dek~ Dek~ Dek~


(suara langkahan kaki yang mendekat)


Bayangan orang yang sedang melangkah tersebut, terlihat jelas oleh Ayano dan Irene. Akibat cahaya rembulan yang tidak tertutup oleh gumpalan awan malam. Suara nafas orang itu tidak beraturan, bahkan suara erangannya, bagai anjing yang terkena rabies.


Beruntung. Gang di antara dua cafe, tempat Ayano dan Irene bersembunyi, tidak ada penerangan dari lampu jalan. Keadaan yang gelap, ditambah sudah tengah malam, membuat keberadaan mereka sulit ditemukan.


"diam, Aria!" ujar Ayano. Sangat pelan.


Pelukan Ayano terasa sangat hangat. Kedua tangannya, memeluk badan Aria sangat erat. Dada Aria terasa ditekan. Belum lagi, nafas Ayano yang berhembus, menghangatkan lehernya. Ada sensasi aneh di badan Aria, saat itu.


"ah~" desah Aria. Kecil.


Aria merasa tidak nyaman. Dia mencoba mengerakkan badannya sedikit, agar pelukan Ayano sedikit melonggar. Tetapi bibir Ayano malah menempel di lehernya. Sensasi lembut itu yang membuat Aria kaget, hingga menimbulkan pergerakan yang tidak perlu.


Srek~ Srek~ Srek~


(suara kantong sampah akibat gerakan Aria)


Orang itu kembali mendekat. Dia berjalan menuju sumber suara berisik, dari kantong plastik. Setiap pijakan kakinya, menimbulkan bunyi, akibat injakkan, sampah-sampah kertas dan plastik yang berserakan di gang.


"diam dulu dong. Aria!" ujar Ayano.


Aria tidak tahu, kenapa Ayano sampai setegang itu. Keringat dinginnya, sampai keluar dari dahi. Belum lagi, kenapa Ayano bisa muncul di gang sempit ini? Dan langsung menarik dan memeluk dirinya? Rasa penasaran dan kesal bercampur di benak Aria.


Cit~ Cit~ Cit~


(suara decitan tikus yang sedang berlari)


Seekor tikus, tiba-tiba muncul dari tumpukan sampah-sampah. Tikus itu berlari, menerjang semua sampah yang ada di depannya, hingga menimbulkan suara gemerisik, dari sampah-sampah yang berserakan.


Ayano lega. Bayangan orang itu, akhirnya berjalan pergi menjauh. Orang itu pasti mengira, bahwa suara berisik dari kantong sampah tadi, berasal dari seekor tikus yang sedang berseliweran.


"akhirnya, dia pergi." ucap Ayano. Bernafas dengan lega.


"apa-apaan kau ini? Hah!" teriak Aria.


Aria melompat dan melepaskan pelukan Ayano dari tubuhnya. Baju piyama tidurnya yang tipis, membuat setiap pelukan dari Ayano, menjadi sangat terasa di kulit. Apalagi ciuman tidak sengaja, di tengkuk lehernya.


"maaf-maaf. Aku bisa jelaskan." ucap Ayano.


"dasar mesum! Hum." ujar Aria. Kesal.


Ayano berdiri dari tumpukan kantong plastik sampah. Dia melihat ke arah orang tadi, untuk memastikan, apakah orang itu, benar-benar sudah pergi atau belum.


Aria memeluk dirinya dengan erat. Angin dingin malam yang berhembus, membuatnya sedikit kedinginan. Dia dipindah di gang, ketika dirinya memakai baju piyama tidur. Rambut panjangnya, sudah menjadi putih, dengan pita rambut senja yang diikat asal-asalan.


"pasti kau yang sudah mengikatkan pita rambutku. Terima kasih yah!" batin Aria.


Dia mengelus jepit rambut mawarnya. Ketika sebelum tidur, jepit rambutnya, Aria lempar ke atas meja rias. Mungkin, sebelum Aria dipindah, jepit rambutnya, berubah menjadi laba-laba dan mengambil pita rambutnya yang ada di meja rias juga.


"pakai saja jaketku! Kau kedinginan bukan?" ucap Ayano. Menyodorkan jaket kainnya.


"terima kasih." jawab Aria.


Ayano mengajak Aria keluar dari gang sempit. Keadaan gang yang gelap dan penuh dengan sampah berserakan, bukan tempat yang cocok untuk disinggahi.


"Ayano. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku masih belum paham." ucap Aria.


Kota Agantha sudah sepi dari masyarakat, yang bersukaria saat malam hari. Barisan mobil taksi dan mobil para warga, yang terlihat memenuhi jalanan kota. Lampu tiang jalan yang berwarna kuning, menambah kesan kesunyiaan jalan kota.


"intinya. Semua player, dipindahkan menuju suatu tempat." jawab Ayano.

__ADS_1


"jadi hanya kita berdua yang ada disini? Terus, apa yang harus kita lakukan?" tanya Aria.


Ayano berjalan menuju salahsatu mobil, yang diparkir dipinggir jalan. Dia meletakkan bokongnya di atas kap mobil. Pandangan matanya, melihat ke seluruh tempat, entah apa yang ingin dia pastikan.


"sepertinya. Event ini berlangsung sampai jam 3 nanti." ujar Ayano.


Jari Ayano menunjuk sebuah jam, yang ada di pos, pangkalan para sopir taksi, ketika sedang beristirahat. Jam berbentuk lingkaran, tergantung di tembok. Angka 12 sampai angka 3 di jam itu, mengeluarkan warna biru menyalah.


"duh~ kenapa semua hal ini bisa terjadi sih?" keluh Aria.


Niat Aria/Irene yang dulunya ingin mencari informasi, mengenai negara Einhoren. Tujuan yang ingin dia capai malah menjauh. Irene tidak segera mendapatkan informasi mengenai, semua pertanyaan yang ada di benaknya, malahan terseret kejadian-kejadian aneh.


"ada apa, Aria? Kau sangat kesal sekali. Hari ini?" tanya Ayano.


"aku menjadi player, hanya ingin mencari jawaban atas masalahku. Malahan, aku terbawa masalah yang lain." ujar Aria.


Pandangan Ayano terfokus ke Aria. Salahsatu perkataan Aria, sepertinya memancing rasa simpati dari Ayano. Dia yang tadinya, fokus mengamati sekitar, langsung melihat ke Aria.


"sama sepertiku. Aku menjadi player. Hanya ingin menyelesaikan masalahku." ujar Ayano juga.


Tangan Ayano merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan sebuah jam Arloji, berwarna perunggu. Ketika tutup Arloji itu dibuka, terdapat gambar tiga orang. Bapak, Ibu dan seorang gadis. Mereka semua memiliki telinga runcing. Rambut mereka berwarna hitam.


Aria berjalan mendekat, menuju tempat Ayano yang sedang duduk di kap mobil. Dia ingin melihat foto di Arloji, yang Ayano pegang dengan jelas. Di posisi sekarang, Aria hanya bisa melihatnya samar-samar, karena terkena cahaya kuning lampu jalan.


Buk~


(suara Aria terjatuh akibat menginjak rok piyama)


"aduh~" rintih Aria.


Tidak sengaja, Aria menginjak baju rok piyamanya. Piyama yang Aria pakai, memiliki model seperti sebuah daster, panjang roo dasternya, sampai menutupi seluruh kakinya.


Ayano langsung melompat dari kap mobil. Dia membantu Aria untuk kembali berdiri lagi. Daster yang Aria pakai, bawahannya sampai sedikit sobek akibat injakan Aria tadi.


"kau tidak apa?" tanya Ayano.


"maaf. Aku tidak apa." jawab Aria.


"foto di Arloji itu? Mereka keluargaku." jawab Ayano.


Gantian, Aria yang melihat Ayano dengan fokus. Ucapan Ayano tadi, jika dirinya diadopsi, membuat Aria terkejut mendengarnya. Tatapan tidak percaya, Aria lontarkan kepada Ayano.


"bagaiman bisa? Kau ras manusia bukan?" ucap Aria.


"orang tuaku sudah meninggal, saat peperangan dahulu. Negara Manusia pernah menginvasi Negara Elf, bukan?" kata Ayano.


Aria tahu tentang sejarah tersebut. Semua negara, dengan ras berbeda, tidak hanya ras manusia. Mereka semua juga, melakukan hal yang sama. Menginvasi sebuah negara, untuk mengambil sumber daya alamnya.


Di setiap tempat, yang didirikan sebuah negara. Zaman dahulu masih berupa kerajaan. Di tempat itu, terdapat sebuah sumber daya alam, yang tidak terdapat di tempat lain. Di negara Agastias, negara para Elf, terdapat sumber daya alam berupa Elixir Hitam, yang berguna untuk obat.


"aku bilang tadi, bahwa aku sama sepertimu. Aku menjadi player, untuk mencari adikku ini." ucap Ayano.


Jari jempol Ayano, menyentuh gambar gadis elf, yang ada di jam Arloji. Ayano menjelaskan, jika adiknya telah diculik, oleh pedagang budak dari negara Einhoren, tapi Ayano tidak tahu, dimana tempat adiknya berada. Negara Einhoren itu luas.


Seseorang yang pernah membantunya, berkata. Jika dirinya menjadi seorang player, dia akan segera mendapatkan petunjuk, dimana lokasi adiknya berada. Tetapi, untuk mendapatkan petunjuk tersebut, Ayano harus mencari seorang Informan.


Informan yang Ayano cari, adalah seorang Npc Berita. Untuk bisa bertemu dengannya saja, sangatlah sulit. Membutuhkan banyak persyaratan, untuk bisa mendapatkan lokasi dari Npc Berita tersebut.


"aku juga sama. Aku menjadi player, hanya ingin agar pernikahanku bisa dibatalkan." ucap Aria.


"kau hanya ingin pernikahanmu batal, kau sampai menjadi seorang player?! Yang benar saja." ujar Ayano. Terheran-heran.


Di benak Aria/Irene. Dia memiliki lebih, dari alasan itu. Orang tuanya sebagai raja negara Agastias. Selalu bergumam, tentang teknologi yang dimiliki oleh negara Einhoren. Dahulu, kerajaan manusia itu suka menjarah kerajaan lain, untuk kemakmuran negara, tapi sekarang tidak.


Belum lagi, menurut Tuan Faremon. Mereka sedang menyusun stratergi untuk menginvasi sebuah negara. Tujuan mereka sekarang, kata Tuan Faremon adalah Menara Sacram.


"tapi, aku dengar-dengar. Npc Berita itu sering menemui para dewan? Kenapa kau tidak mencegatnya saja dan bertanya sesuatu?" tanya Aria.


Ayano mengelengkan kepala. Dia tidak setuju dengan saran yang diajukan oleh Aria. Entah, apa yang membuat Ayano tidak setuju, Aria tidak tahu.


"Npc Berita, hanya membawa satu berita saja. Jika kau menanyainya. Dia tidak akan menjawab. Dia tidak tahu soalnya." ujar Ayano.

__ADS_1


Waktu terus berjalan. Malam semakin larut. Tanla adanya orang lain, yang melintas di jalanan kota, malam ini. Aria merasa nyaman mengobrol dengan Ayano. Mereka berdua merasa, memiliki masalah yang sama.


Bom~


(muncul suara ledakan)


Aria dan Ayano memalingkan perhatian mereka, ke arah suara sumber ledakan. Feeling mereka berdua berkata, bahwa sumber suara ledakan tadi tidak jauh. Berlari beberapa menit saja, sudah bisa sampai sepertinya.


"mari kita pergi, Aria! Mungkin kita bisa bertemu dengan- Awas!" teriak Ayano. Tiba-tiba.


"ada apa?!" sahut Aria. Dia menoleh ke belakang.


Seorang pria asing, berusaha menyerang Aria. Dia muncul dari atas atap cafe, seperti seekor Serigala, yang ingin menerkam mangsanya dari atas pohon. Kedua tangannya berwarna hitam besar, seperti terbalut bebatuan. Semua jari tangannya sangat runcing, seperti pisau belati.


"Sihir Pembuatan <>"


Lima rantai, muncul dari tangan kanan Ayano. Rantai-rantai berwarna hitam itu membelit pria asing tersebut. Ayano memegang kelima rantai itu dengan kedua tangannya. Sekuat tenaga, Ayano menarik rantainya, untuk membantingnya ke sebuah mobil yang ada di pinggir jalan.


Bruak~ Tin~ Tin~ Tin~


(suara bantingan dan alarm mobil berbunyi)


"kau pasti Ghoul." ucap Ayano.


Pria itu bangkit dari badan mobil yang sudah penyok. Dia bahkan, tidak merintih atau memegangi punggungnya, akibat bantingan tersebut.


"jadi dia Ghoul?!" ucap Aria.


Kedua mata pria itu berwarna hitam. Titik mata yang biasanya berwarna hitam, malah tertukar dengan bagian mata yang berwarna putih. Kedua tangannya seperti cakar manusia serigala, yang dilapisi bebatuan mengkilap.


"maafkan bapak nak! Bapak butuh makan!" ujar pria itu.


Pria itu mengerang seperti Serigala. Mulutnya mengeluarkan air liur, yang sangat banyak. Air liurnya sampai menetes di trotoar dan menodai pakai kemejanya.


"kami juga minta maaf, Pak! Kami harus menghentikan nafsu kanibal Bapak, yang sudah tidak terkontrol!" ujar Aria juga.


Aria menarik kalung lehernya. Sebuah sabit, seketika muncul dari genggaman tangannya. Ayano menunjukkan ekspresi kagum, melihat bagaimana cara Aria mengeluarkan senjatanya.


"Sihir perubahan <>"


Pria itu memasang kuda-kuda. Dia mengambil ancang-ancang untuk menyerang Aria dan Ayano. Semua jari tangannya, yang tajam seperti belati, dia tunjukkan, sambil mengerak-gerakkannya.


"Aria! Awas di sampingmu!" teriak Ayano.


Sosok Ghoul muncul lagi. Dia datang dari arah gang, tempat mereka berdua tadi bersembunyi. Aria yang sudah mengetahuinya, mencoba untuk menusuknya, mengunakan mata sabitnya.


Buk~


(Aria terjatuh lagi akibat menginjak piyamanya)


"aduh~ begini lagi." ucap Aria. Lirih.


Ketika Aria membalik badannya untuk melakukan serangan. Kaki kirinya menginjak rok piyamanya lagi. Aria langsung terjatuh ke depan. Hidungnya berdarah membentur beton trotoar.


"Aria!" teriak Ayano.


Dia berlari ke arah depan Aria. Ayano menahan serangan Ghoul, yang baru saja datang itu. Tangan kanan Ayano sampai tergigit. Ghoul itu memiliki senjata yang berbeda dengan Ghoul sebelumnya. Senjatanya adalah sebuah pedang yang keluar dari punggung tangannya.


"Sihir pembentukan <>"


Di sekitar tubuh Ayano. sebuah panah berbentuk seperti rantai, tiba-tiba muncul di sekelilingnya. Semua panah itu melesat menghujani area sekitar. Mobil dan beberapa toko, rusak terkena serangan tersebut.


Brum~ Brum~


(suara mesin truk yang sedang datang)


Dua Ghoul itu pergi. Mereka berdua menghilang dengan caranya masing-masing. Ada yang melompat ke atas atap. Ada yang pergi memasuki gang sepit.


"aduh~ Ayano kau tak apa?" tanya Aria.


"arghh~ tidak. Ini gawat." ucap Ayano.

__ADS_1


Tangan kanannya berdarah. Ayano terkena gigitan Ghoul tadi. Otot-otot berwarna hitam, terlihat bergerak mengalir di bagian tangan Ayano yang tergigit.


__ADS_2