Love And Adventure

Love And Adventure
Niat Yang Teguh


__ADS_3

Irene duduk di meja makan, setelah menganti baju tidurnya. Dia memakai seragam yang dulunya dia benci, karena seragam tersebut memiliki lubang untuk ketiak yang terlalu besar. Sekarang, Irene sudah tidak memperdulikannya lagi.


Biasanya, Irene selalu sarapan pagi mengunakan baju yang dia pakai saat tidur. Tapi tidak untuk hari ini. Karena sehabis sarapan pagi, dirinya harus berangkat ke akademi agar bisa datang tepat waktu.


"kegiatan di Akademimu, bagaimana Irene?" tanya Ibu Yana.


"lumayan bagus sih, Bu. Hanya ada gangguan kecil." jawab Irene.


"kau dibully lagi? Sama anak keluarga Frainahunt?" tanya Ibu Yana. Penasaran.


"begitulah. Aku engga salah apa-apa padahal." ujar Irene. Dia menghembuskan nafasnya.


Di meja makan, di hari ini. Hanya ada Ayah Grana dan Ibu Yana. Gantian sekarang, kak Dian yang tidak ada. Di hari kemarin, Ayah Irene yang tidak ikutan sarapan pagi.


"jurusan apa? Yang akan kau ambil?" tanya Ayah Grana.


Irene terdiam sebentar. Suara pembicaraan mereka tadi, berganti dengan suara dentingan peralatan makanan. Irene sedang fokus untuk memotong lauk-pauk yang ada di piringnya, begitu juga dengan kedua orang tuanya.


Menu di pagi hari ini, sedikit tidak berubah. Sarapan yang sama, seperti di hari kemarin. Sepotong daging kecil dengan banyak sekali sayuran di piring.


Irene saja pernah kebingungan, kenapa Chef di dapur istananya, hanya bisa memasak menu seperti ini saja? Meskipun dirinya bisa meminta menu masakan yang lain, tapi kedua orang tuanya tidak mempermasalahkannya. Banyak sayuran itu sehat, kata kedua orang tuanya.


"belum tahu, Ayah. Kemarin aja cuman perkenalan kelas kok." jawab Irene. Sedikit ketus.


"Ayah ingin, kamu masuk jurusan kenegaraan! Ayah ingin kamu nanti, ikutan mengurus masalah negara Agastias." ujar Ayah Grana.


Dentingan peralatan makan di piring Irene, berhenti terdengar. Irene diam mematung. Makanan yang tadi, Irene sedang kunyah, langsung dia telan. Irene jadi tidak mood makan, setelah Ayahnya berkata seperti itu.


"aku menolak, Ayah! Aku tidak ingin berurusan dengan, yang namanya pemerintahan. Aku berusaha hidup mandiri dengan caraku sendiri!" jawab Irene.


Ayah Grana juga menghentikan aktifitas sarapannya. Beliau melihat ke arah Irene. Irene juga begitu. Tatapan mereka berdua saling bertemu. Tatapan mata tajam, orang yang tidak setuju dengan pendapat orang lain.


"Ayah sudah tidak menjodohkanmu lagi, Irene! Ayah ingin hal lain, jika bukan kamu, siapa yang akan melanjutkan tugas Ayah?!" ujar Ayah Grana.


"menuntut terus! Apa tidak bisa? Aku memilih jalan hidupku sendiri?!" sahut Irene. Dia sedikit berbicara dengan keras.


"semua keluarga kerajaan. Hidup mereka seperti ini, Irene! Kita sudah diberikan tanggung jawab untuk mengurus hidup rakyat!" kata Ayah Grana. Mencoba menjelaskan.


Irene mengelengkan kepalanya. Dia tidak setuju. Irene membayangkan, jika dirinya harus menjadi penerus negara Agastias. Sejak dahulu, di sejarah negara Agastias, sewaktu masih menjadi kerajaan. Tidak ada raja berjenis kelamin wanita. Semuanya adalah pria.


Pastinya, Irene harus menikah terlebih dahulu, sebelum bisa ikutan mengatur urusan pemerintahan secara langsung. Pilihan paling logis, pasangan, ketika dirinya akan menikah adalah keluarga Frainahunt.


Keluarga Sheirahunt tidak akan pernah bisa menikah dengan keluarga Frainahunt. Irene juga sudah tahu betul, jika keluarga Frainahunt sepertinya membenci dirinya, tanpa alasan yang jelas, mungkin karena, Irene putri dari keluarga Sheirahunt.


Brak~


(suara gebrakan meja makan)


"aku akan urus negara Agastias dengan caraku sendiri, Ayah. Aku akan menjalankan tanggung jawab tersebut. Tanpa harus menjadi seorang ratu." ujar Irene.


Irene lalu pergi setelah mengatakan hal itu. Dia tidak menghabiskan semua sarapannya. Hanya air putih yang dia minum. Berdebat dengan Ayahnya, sudah membuang banyak waktu. Dia tidak ingin terlambat masuk ke Akademi.


"Irene. Tunggu sebentar!" ujar Ayah Grana.


Tar~


(suara gelas yang terjatuh di lantai)


Ayah Grana tidak sengaja menyenggol gelas minumnya, ketika dirinya akan berdiri. Pecahan gelas berhamburan di lantai. Irene berhenti sebentar, untuk menenggok apa yang sudah terjadi, meskipun dia sudah tahu, hal tersebut.


"astaga~" ucap Ayah Grana.


Ketika beliau sedang memunggut pecahan gelas yang besar, agar tidak mengenai kakinya. Sebuah surat terjatuh dari saku baju, sebelah dada kirinya.


Irene melihat surat itu, ada cap milik keluarga Frainahunt disana. Setelah melihat, apa yang sudah terjadi barusan, Irene melanjutkan langkahnya. Dia pergi menuju ke halaman depan istana untuk berangkat menuju Akademi, mengunakan kendaraan mobil.


"Yana. Anakmu, kau didik seperti apa, dia? Irene lebih suka membangkang daripada menurut." ucap Ayah Grana.


Ibu Yana mengambil tisu dan membersihkan mulutnya. Debat yang dilakukan oleh Suami dan Putrinya tadi, berlangsung sedikit lama. Sarapan yang ada di piringnya sampai habis.


"mungkin, karena aku sering memberinya buku tentang sejarah zaman dahulu." jawab Ibu Yana.


"kita saja dahulu. Tidak pernah memilih sendiri. Apa jalan hidup yang kita mau. Semua sudah ditentukan oleh orang tua kita." tambah Ayah Grana.


"zaman dahulu dan zaman sekarang. Semua sudah berbeda, Sayang. Putri kita juga begitu." ujar Ibu Yana.

__ADS_1


...****************...


Di Akademi Teodore. Irene sedang berusaha untuk tidur di bangkunya. Kejadian tadi malam, membuat tidurnya tidak nyenyak. Irene harus cukup tidur untuk hari ini, karena nanti malam pastinya, Event Ghoul tersebut akan berlangsung.


Buk~


(suara badan Irene terkena senggolan)


Irene membuka matanya. Dia sudah tahu, siapa orang yang sudah melakukan hal tersebut. Tidak ada murid lain yang berani menganggunya, kecuali murid dari keluarga Frainahunt.


"hei pirang! Bangun dong. Ini sudah pagi, tahu!" ujarnya.


"maksudmu apa sih? Mau cari ribut gitu?" tanya Irene sambil menatap tajam.


Tiga murid dari keluarga Frainahunt itu, membalas tatapan tajam yang Irene berikan. Mereka berada di bangku paling atas di urutan ke dua. Susunan bangku kelas di Akademi Teodore itu meninggi ke atas. Ibarat susunannya, seperti sebuah tangga.


"nona Narea, sudah berbaik hati padahal, untuk membangunkanmu." ucap salahsatu temannya.


"kau seharusnya berterima kasih! Bentar lagi. Jam pelajaran akan dimulai." sahut teman satunya lagi.


Semua orang yang ada di kelas, hanya bisa diam memperhatikan saja. Mungkin, dibenak mereka. Suasana itu belum menjadi sebegitu parah, hingga harus ada salahsatu orang yang turun tangan untuk menenangkan.


"bodoh amat." jawab Irene.


Sebelum Irene melanjutkan tidurnya. Dia melihat jam yang ada di depan kelas. Jam dinding tersebut, berada di atas papan tulis kapur. Tepat di bagian tengah papan. Jam delapan, kurang lima belas menit. Kurang lima belas menit lagi, jam pelajaran akan dimulai.


Ting~ Ding~ Ding~ Ting~


(suara bell pelajaran dan masuk Akademi)


Lima belas menit sudah berlalu. Terdengar suara berisik masuk di telinga Irene. Suara tersebut, berasal dari banyak sekali murid perempuan yang berada di luar koridor kelas. Sebagian juga, ada suara berisik dari murid pria.


Irene mencoba untuk menghiraukannya. Tetapi, suara berisik yang berasal dari koridor luar kelas, malah semakin terdengar jelas. Sebelumnya, suara murid-murid itu terdengar dari jauh, tapi sekarang, suara itu seperti berada di depan pintu kelas.


Krit~


(suara gesekan engsel pintu ketika dibuka)


"selamat pagi. Ini kelas A bukan?" tanya seseorang.


"iya, tuan muda Daniel!"


(ucapan beberapa murid di kelas. Bergantian)


Kedua mata Irene yang tadinya terpejam, langsung terbuka. Mengantuk yang dia alami terasa menghilang. Setelah dirinya mendengar, sebuah kata yang tidak asing yang tadi, disebutkan oleh teman-teman kelasnya.


"apa tadi, ada yang menyebut nama, Tuan Muda Daniel?" ucap Irene. Lirih sekali.


Wajah Irene masih berada di dalam bekaman kedua tangannya, di atas meja. Irene mencoba melirik sedikit, ke arah orang yang tadi bertanya. Pangeran Daniel beneran ada, tidak jauh dari hadapannya. Tapi apa yang sedang dia lakukan? Di Akademi ini?


"Saya izin untuk mengisi kelas ini. Saya ditugaskan dari Departemen Keamanan untuk mengajarkan kalian tentang Guild dan Player." ujar Pangeran Daniel.


Pok~ Pok~ Pok~


(suara tepuk tangan murid-murid di kelas)


Irene bingung dengan keadaan teman-temannya di kelas. Kenapa mereka sangat antusias, ketika mengetahui, mereka akan belajar mengenai Guild dan Player. Menjadi petualang Guild dan Player game dewa itu sangat berisiko.


Harta dan item, bahkan keinginan, menurut Irene sendiri, semua bisa didapat dengan mudah. Tapi harga untuk mendapatkannya sangatlah mahal. Irene sendiri saja, sekarang harus mengikuti Event yang tidak jelas, apa kegunaannya.


"kenapa. Aku jadi merasa malu deh, untuk melihat Daniel lagi?" batin Irene.


Jas almamater yang Irene pakai. Dia gunakan untuk menutupi kepalanya. Irene tidak ingin Pangeran Daniel melihatnya. Dia mencoba menutupi rambut pirangnya agar Pangeran Daniel tidak sadar, bahwa itu dirinya.


"itu. Yang sedang tertidur. Tolong dibangunkan!" ucap Pangeran Daniel.


Murid laki-laki yang berada di sebelah kiri Irene, mencoba untuk membangunkannya. Tetapi niatnya tersebut, dia urungkan. Irene membuka sedikit jas almamaternya. Dia melihat tajam ke arah murid itu untuk diam. Jangan menganggu dirinya.


Buk~


(suara buku menghantam punggung Irene)


"aw~" keluh Irene.


"Narea! Jangan ganggu murid lain!" ujar Pangeran Daniel.

__ADS_1


Nona Narea Frainahunt yang ingin melemparkan sebuah buku. Dia menghentikan tindakannya. Narea berniat melempar buku lagi ke Irene. Buku tadi milik saudarinya. Namanya Ravil yang barusan dia pakai.


Ada buku saudarinya lagi yang ingin Narea pakai, nama saudarinya satunya yaitu Perana. Buku yang sedang Narea bawa, langsung Perana ambil lagi. Perana khawatir, jika nanti bukunya bakal dipakai untuk melempar putri Irene, meskipun sudah dilarang oleh kakak saudaranya.


"si pirang itu. Tidak mau bangun, Kakak." jawab Narea.


"si pirang? Maksudmu?" tanya Pangeran Daniel.


Pangeran Daniel melihat ke arah murid tersebut. Murid itu semakin memegang erat jas almamater yang menutupi kepalanya.


"Irene? Ayo bangun. Pelajarannya akan dimulai." ucap Pangeran Daniel.


Irene membuka jas almamater yang menutupi kepalanya. Dia melihat ke arah pangeran Daniel dengan malu. Pandangan mata Irene, dia palingkan ke samping, dia tidak mematap wajah mantan kekasihnya lebih lama.


"lama tidak bertemu. Daniel. Apa kabarmu?" kata Irene. Sungkan.


Buk~


(Pangeran Daniel memeluk Irene dengan erat)


Semua orang terkejut melihatnya. Pangeran Daniel memeluk putri Irene dengan erat. Teriakan orang-orang yang merasa iri kepada mereka berdua, bergema di dalam kelas. Ciuman bibir milik pangeran, dia berikan di bagian leher Irene.


"Irene. Aku rindu sekali! Sudah berkali-kali aku kirim surat kepadamu." ucap pangeran Daniel.


Punggung pangeran Daniel, Irene pukul-pukul pelan. Irene memberi isyarat kepada pangeran Daniel, agar segera melepaskan pelukannya.


"tunggu dulu, Daniel! Ini di tempat umum." kata Irene.


"stop, kak!" ujar Narea.


Dia berusaha membuka pelukan kakak saudaranya. Narea melihat, bahwa kakaknya, semakin memeluk putri Irene semakin erat.


Tok~ Tok~ Tok~


(suara ketukan pintu kelas dari luar)


"permisi. Pangeran Daniel. Anda salah kelas. anda ditugaskan untuk mengajar anak kelas tiga, bukan kelas satu." ujar seorang guru.


Guru tersebut seorang wanita. Pakaian yang beliau gunakan yaitu jas hitam dengan rangkapan kemeja berwarna putih dan rok hitam sepanjang lutut.


"baiklah, Irene. Nanti kita bertemu lagi." ucap Pangeran Daniel. Dia mengelus kepala Irene.


"mungkin nanti. Tidak ada guru yang mengajar di kelas satu. Kalian semua, jangan membuat kegaduan yang merepotkan yah!" ujar Guru wanita tersebut.


Pangeran Daniel pergi dari kelas. Dia berjalan bersama dengan guru tersebut menuju kelas yang akan dia ajari. Ketika guru itu dan pangeran Daniel sudah tidak terlihat. Semua murid kegirangan, karena ada jam kosong di depan mata.


"Irene. Begitu bukan namamu?" ucap Narea.


"jangan kau dekati kakakku! Apalagi sampai kalian berpacaran. Aku tidak ingin kakak Daniel terkena kutukan keluargamu." ucap Narea.


Semua murid yang ada di kelas. Mereka berbondong-bondong keluar untuk kenikmati jam kosong tersebut. Narea dan dua saudarinya juga. Mereka pergi meninggalkan Irene sendirian.


"keluargaku salah apa sih?" keluh Irene.


Dia melihat ke arah sekitar kelas. Irene baru sadar, jika murid laki-laki yang pernah dia lihat saat berkelahi dulunya. Dia tidak ada di kelas, begitu juga dengan teman-temannya.


"sudahlah. Aku ingin minum kopi saja."


Irene keluar dari kelas. Dia menuju ke kantin Akademi untuk membeli secangkir kopi. Dia tidak ingin mengantuk lagi, setelah mengalami hal tadi.


...****************...


Srup~


(suara Irene menyeruput kopinya)


Suasana kantin Akademi yang ramai, membuat Irene harus membeli secangkir kopi di cafe yang ada di luar Akademi. Banyak juga, murid Akademi Teodore yang keluar untuk membeli sesuatu, karena kondisi kantin yang ramai.


"sekolah itu melelahkan." ujar Irene.


"hai Aria. Apa harus aku panggil, putri Irene?" ucap seseorang.


Irene terkejut. Di samping tempat duduknya. Sanea bisa ada disana. Sanea duduk di sampingnya sambil membawa makanan di nampan.


"Sanea. kau kenapa disini?" tanya Irene.

__ADS_1


"Aria. Aku butuh bantuanmu. Ancient Map yang kau punya. Bisa membantuku untuk menyelesaikan quest ini." ujar Sanea.


__ADS_2