
Tangan kanan dan tangan kiri Irene, dipegangi oleh dua prajurit kerajaan tadi, dengan sepuluh prajurit lainnya, yang mengikuti di belakang.
Semua orang yang ada di Bar, melihat ke arah segerombolan prajurit negara Agastias, yang sedang mengawal seorang gadis elf cantik, berambut pirang panjang.
"itu Reana kan? Tapi kok rambutnya berwarna pirang?"
"Betul dia Reana, tapi bukannya dia berambut hitam tadi?"
Dua petualang tadi, yang ikut menyelesaikan quest bersama Irene, masih ingat, bahwa elf berambut pirang yang sedang dikawal oleh beberapa prajurit itu adalah Reana. Pakaian jaket hitam dan rok mini putih, dengan stoking, itulah yang Reana gunakan sebelumnya.
Di depan Bar, sebuah mobil hitam terparkir di pinggir jalan, dengan banyak orang dan reporter yang penasaran, akan keramaian yang sedang dilakukan oleh beberapa prajurit negara, di sebuah Bar.
"Bukankah itu putri Irene?!"
"Iya itu putri Irene!"
Sahutan percakapan orang-orang terdengar, menyebut nama putri Irene berulang kali. dahulu, tuan putri menghilang tanpa kabar, selama sebulan, dan sekarang telah ditemukan di sebuah Bar.
"Silahkan masuk, tuan putri!"
Prajurit pria itu, membukakan pintu mobil, agar putri Irene dapat masuk ke dalam, tanpa perlu membuka pintu. Cahaya flash dan suara klik dari kamera, terdengar silih berganti, sebelum putri Irene masuk ke dalam mobil.
"Bagaimana bisa, kalian menemukanku?" Tanya Irene.
Prajurit wanita itu masuk ke dalam mobil, dan duduk di samping, bersama putri Irene. Dia prajurit wanita berambut putih, mengunakan seragam prajurit kerajaan. putri Irene memanggilnya dengan nama kak Fa, seorang guru beladirinya, sekaligus pengawal pribadi keluarga kerajaan.
"Bapak Damon yang mengabari, bahwa nona sering mengikuti quest squad, bersama petualang lain." Jawab kak Fa.
"Aku ingin hidup bebas, daripada hidup diatur-atur." Ujar Irene.
Prajurit pria tadi menghampiri kak Fa, dia memasukkan setengah badannya ke dalam pintu mobil, untuk mengatakan sesuatu. Irene sering memanggilnya dengan nama kak Teo.
Kemampuan beladiri Irene didapatkan dari mereka berdua, kak Teo dan kak Fa, yang mengajari Irene cara untuk survive dan seluk-beluk untuk menjadi seorang petualang.
"Fa. Kau duluan pergi ke kerajaan! Ada investigasi yang harus dilakukan oleh para prajurit."
"Semoga beruntung Teo! Jika sudah selesai mengantarkan nona, aku akan pergi kesana."
Mobil hitam yang Irene tumpangi, mulai berjalan, setelah putri Irene dan komandan Fa sudah berada di dalam. semua orang yang berada disekitar menepi, untuk membukakan jalan agar mobil tersebut bisa lewat.
Malam hari ini, masih terbilang pagi, tidak lama setelah sang mentari turun, digantikan oleh sang rembulan. Orang-orang yang berada di pinggir trotoar, ada yang berdiri melihat mobil hitam yang sedang putri Irene tumpangi, dan ada juga yang acuh, melanjutkan jalan kaki mereka.
"Ditemukan mayat tiga anak remaja yang tewas dengan bekas luka cakaran di tubuh mereka! prajurit kerajaan telah melakukan otopsi pertama di lokasi TKP dan menemukan bekas luka gigitan selain cakaran!"
Layar televisi besar dipasang di sebuah tiang, di perempatan jalan. Layar televisi tersebut, digunakan untuk memberitahukan berita terbaru yang sedang terjadi, sekarang berita pembunuhan sepertinya, yang sedang menjadi trending utama.
Irene tidak memperdulikan, ada berita apa yang sedang disiarkan disana. Dia hanya memikirkan ekspresi orang tuanya, saat dirinya sudah sampai di rumah. Dia masih terbayang keputusan ayahnya untuk menikahkan dirinya, dengan pangeran kerajaan Einhoren, apakah keputusan itu sudah berubah atau masih belum?
Ketika Irene melamun, melihat pantulan wajahnya di kaca mobil, ada anak kecil yang berdiri bersama orang-orang lainnya di pinggir trotoar. Anak kecil itu, sepertinya bisa melihat dengan jelas wajah Irene dari balik kaca gelap mobil. Pandangan matanya masih melihat ke Irene, meskipun mobil sudah berjalan menjauh.
__ADS_1
"Anak kecil itu membuatku penasaran. Siapa sih dia?" Ucap Irene dengan suara pelan.
"Ada apa nona? Anda sedang memikirkan apa?" Tanya kak Fa saat melihat nona Irene bergumam sendiri.
"Tidak. Tidak ada apa-apa." Jawab Irene.
Rumah Irene terletak di atas bukit, dengan jalan meliuk-liuk yang harus dilewati untuk sampai disana. Setiap satu liukan jalan, terdapat pos prajurit, untuk menjaga keamanan di sekitar istana kerajaan. Tidak boleh ada sembarangan orang yang bisa masuk di wilayah kerajaan.
"Silahkan turun, nona Irene!"
Kak Fa membukakan pintu mobil, agar putri Irene dapat keluar, ketika sudah sampai di depan istana. Rumah Irene seperti istana zaman dahulu yang sudah direnovasi menjadi lebih modern.
"Terima kasih, kak Fa!"
Putri Irene disambut dengan beberapa prajurit kerajaan di depan halaman istana. Mereka berbaris, untuk menghormati semua orang yang sudah datang di istana.
Tidak memperdulikan semua hal itu, putri Irene berjalan masuk menuju ke pintu istana, yang sudah dibuka oleh salahsatu prajurit yang sedang berjaga.
"Katakan sejujurnya saja nona! Jika itu kemauan nona!" Ucap kak Fa, dia mengembalikan kain yang Irene gunakan untuk mengikat rambutnya.
Kak Fa mengawal Irene sampai di depan pintu yang terbuat dari emas. Di depan pintu itu, kak Fa izin pamit untuk membantu pekerjaan kak Teo. Penyebab lainnya, karena ruangan itu hanya boleh dimasuki oleh orang tertentu yang sudah mendapatkan izin saja.
"Sampai jumpa nona! Saya izin pamit." Ucap kak Fa lalu pergi.
Ketika Irene mendorong pintu itu untuk membukanya pelan-pelan, dia melihat banyak orang yang sedang duduk di sofa, menunggu dirinya datang.
Ibu Irene langsung memeluknya, ketika melihat putri kesayangannya sudah pulang. Beliau bernama Yana Sheirahunt, istri dari raja Grana Sheirahunt yang memiliki dua anak, satu putra bernama Dian Sheirahunt dan satu putri bernama Irene Sheirahunt.
"Irene! Kemana saja kau?! Ibumu khawatir!" Tanya kakak Dian.
Irene duduk di sofa, bersama semua keluarganya. Ayahnya, sepertinya sudah mengetahui penyebab putrinya pergi dari rumah, karena dirinya sering membicarakan pernikahan putrinya, untuk hubungan politik.
"Kamu pergi kemana, selama sebulan ini?!" Tanya ayahnya.
Irene yang duduk sendirian di sofa, berhadapan dengan ayah dan ibunya, sedangkan kakaknya hanya berdiri di sampingnya. dia mengikuti saran dari gurunya, kak Fa untuk berterus-terang akan alasan dirinya pergi dari rumah.
"Maaf ayah. Aku ingin memilih sendiri dengan siapa aku akan menikah nanti! Aku tidak mau di akhir hayatku bersama dengan pria yang tidak aku cintai!"
Ayah Irene memasang ekspresi muka serius, saat putrinya berkata seperti itu, karena bukan soal pernikahan yang beliau tanyakan tadi.
"Semua ini demi kepentingan negara Irene! Mempunyai hubungan politik dengan bangsa manusia, bisa membuat negara ini lebih sejahtera. Pikirkan juga rakyat dan negaramu!" Kata raja Grana.
"Bagaimana dengan diriku? Apa aku harus memikirkan kehidupan orang lain, sedangkan diriku sendiri nanti menderita?" Ujar Irene.
Raja Grana memegangi pelipisnya. Beliau paham dengan perasaan anaknya, tapi di lain sisi negara Agastias sangat bergantung kepada negara Einhoren untuk barang kebutuhan.
"Jangan samakan manusia dulu dengan manusia sekarang, Irene! Mereka pasti telah berubah, tidak seperti dahulu!"
"Aku tidak mau ayah! Jika aku menikah, maka aku akan menikah dengan pria yang aku sukai sendiri! Aku tidak mau dijodohkan dengan lelaki yang belum aku kenal!" Ujar Irene, dia berkata dengan nada sedikit kasar.
__ADS_1
Ibu Yana yang melihat kejadian ini, akan bertambah buruk, jika terus dilanjutkan, menyuruh Irene untuk segera kembali ke kamarnya, supaya kondisi tidak semakin memburuk.
"Nak, kamu kembali dulu ke kamar! bersihkan badan kamu! Badan kamu kotor pasti!" Ucap ratu Yana.
Irene berdiri dari sofa, tapi sebelum dia pergi dari hadapan orang tuanya. Irene mengatakan sesuatu kepada ayahnya.
"Ayah! Aku akan buktikan bahwa negara kita, bisa makmur tanpa bantuan negara manusia itu! Aku buktikan!" Kata Irene lalu meninggalkan ruangan.
Raja Grana hanya bisa mendengus, setelah mendengar putrinya berbicara seperti itu. Ekspresi wajahnya, terlihat tidak yakin, bahwa putrinya bisa menemukan solusi, agar negara Agastias tidak bergantung dengan negara Einhoren.
Di lorong kerajaan, Irene berjalan menuju ke kamarnya. Tidak terlihat ada pelayan di sekitar sini yang sedang mondar-mandir, mungkin tugas harian mereka sudah selesai.
"Irene!" Ucap kak Dian.
Kak Dian sedang berjalan menuju ke Irene. Dia seperti ingin mengutarakan suatu hal, yang tidak bisa dibicarakan di depan kedua orang tua mereka.
"Ada apa kak Dian?"
"Kau tahu bukan? Kenapa ayah sangat ingin pernikahan ini dilakukan?"
Pernikahan lagi, mendengar pertanyaan ini membuat Irene memalingkan wajahnya. Dia sudah muak, mendengar kata pernikahan terus-menerus di telinganya.
"Aku tahu kak! Negara ini sangat bergantung dengan barang dari negara Einhoren! Kendaraan, barang elektronik, sampai barang yang lain, berasal dari impor negara itu!"
"Aku paham, ayah menikahkan aku supaya hubungan negara Agastias dengan negara Einhoren semakin dekat, tapi setelah mendengar kabar, bahwa mereka masih memperbudak bangsa lain aku jadi khawatir!"
Selama sebulan, Irene menjadi petualang. Dia sering mendengar hal ganjil dari negara Einhoren, seperti perbudakan yang masih terjadi disana, tapi budak-budak itu tidak dijual kepada orang konglomerat negara Einhoren.
Penemuan negara Einhoren, dari kendaraan dan barang elektronik juga sangatlah aneh. Barang-barang ini hanya bisa diproduksi oleh negara Einhoren saja, sedangkan negara lain tidak bisa. Semua itu, karena bahannya yang hanya bisa dibuat di negara Einhoren, seperti bensin dan kabel tembaga.
"Aku tahu perasaanmu, Irene! Kau jadi petualang untuk mencari infomasi mengenai negara Einhoren bukan?" Ucap kak Dian sambil menyentuh pipi Irene.
Irene tidak menjawab pertanyaan kakaknya itu, dia hanya diam, melihat ke arah kanan dengan pipi kirinya yang masih dielus-elus oleh kak Dian.
"Jika kau mau. Aku akan daftarkanmu ke akademi Teodore, supaya kau bisa menjadi petualang. Tidak, maksudku agent sekaligus petualang yang hebat."
Irene memegang tangan kanan kakaknya yang sedang menyentuh pipinya, untuk menunjukan perasaan terima kasih. Irene berjanji akan berusaha untuk mempelajari semua hal di negara Einhoren, ketika sudah sampai disana.
"Terima kasih kak! Padahal aku tahu, aku tidak bisa memberikan apapun untuk negara ini, tapi kakak masih mau mempercayaiku untuk ikut membawa masa depan negara!"
"Sudahlah Irene! Bersihkan badanmu sekarang juga! Kau tidak terlihat seperti anak putri raja!"
Setelah berbicara cukup panjang, Irene pamit kepada kakaknya untuk kembali ke kamar yang berada tidak jauh. Dua pintu lumayan besar terbuat dari kayu adalah pintu untuk menuju ke kamar Irene.
Irene mendorong pintu itu untuk mengecek, apakah pintu sedang dikunci atau tidak. Setelah pintu terbuka, Irene masuk ke dalam dan menutup pintu lalu menguncinya. Dia masih ingat, bahwa dulu cara untuk mengembok pintu dengan menganjal sebuah balok kayu di belakangnya, sebelum cara mengunakan kunci ditemukan.
"Aku penasaran, bagaimana bisa bangsa manusia menemukan penemuan seperti ini? Padahal di negara lain, bahan untuk pengerak kendaraan seperti bensin saja tidak ditemukan?"
Setelah puas berbicara sendiri, Irene pergi menuju ke kamar mandi yang terletak sedikit jauh di dalam kamarnya. Semua ruangan di kerajaan ini selalu dibersihkan oleh para pelayan kerajaan, tapi entah kenapa, mereka tidak terlihat sama sekali saat ini.
__ADS_1