
"kau ingin beristirahat? Aria." tanya Sanea.
Aria menganggukkan kepalanya. Badannya masih terasa sakit, disebabkan pertarungan kemarin. Temannya si Ayano sungguh hebat. Mereka menyerang tidak asal-asalan. Ada tempo tertentu yang mereka pakai.
Hal itu. Membuat Aria harus mengeluarkan tenaga ekstra. Dia harus menangkis serangan sabetan belati, yang akan disusul dengan serangan sihir. Apalagi dirinya seorang wanita. Tenaga wanita tidak sama dengan tenaga pria.
"apa ada penginapan disini?" ucap Aria.
"kebanyakannya sih. Para player berkemah atau tidur di luar sana." sahut Wirl.
Telunjuk tangan Wirl, menunjuk ke arah hutan. Sebuah hutan yang terletak tidak jauh dari Tempat Perkumpulan berada. Dari kejauhan. Selalu ada asap hitam yang membumbung tinggi di angkasa.
"iya sih. semua orang disini suka tidur di sembarang tempat. Toko yang menjual peralatan camping juga banyak." tambah Sanea.
"kok bisa sih? Orang-orang sini lebih suka tidur di tenda, daripada tidur di penginapan?" tanya Aria.
"karena banyak manfaatnya, Nona. Jika kau camping di luar sana. Kau bisa cepat-cepatan berburu quest, dengan player yang lain." jawab Wirl.
Sanea mengangguk. Betul, seperti apa yang sudah dikatakan Wirl barusan. Di luar Tempat Perkumpulan. Ada quest yang dibawa oleh seorang Npc, bahkan Npc yang ada di luar sana. Tidak selalu tampil dengan wujud manusia.
Terkadang, mereka akan muncul dengan wujud lain seperti hewan, makhluk mitologi. Mendengar penjelasan lanjutan dari Wirl. Membuat Aria penasaran. Dirinya sendiri juga, belum pernah menyelesaikan quest satupun dari Npc.
"tapi Aria. Di luar sana. Tidak aman loh." ucap Sanea.
Melihat ekspresi Aria yang antusias. Pasti dia ingin mencoba untuk berkemah di luar sana. Apalagi mencari seorang Npc dan menyelesaikan quest tersebut. Sama seperti dirinya dahulu.
Apalagi quest Npc bakal memberikan sesuatu, seperti uang. Bagi Sanea sendiri, dahulu, menyelesaikan quest sudah termasuk dari pekerjaannya. Dia harus menyelesaikan quest yang dia temui, untuk mendapatkan rewardnya.
Hidup tanpa orang tua sejak masih anak-anak, membuatnya harus bisa hidup mandiri. Meskipun dia menumpang di keluarga orang. Sanea merasa tidak enak. Keluarga Elf yang Sanea tumpangi juga sama miskinnya.
Untuk itu. Dia memilih untuk pergi dari rumah, setelah mendapatkan sebuah solusi dari seseorang. Jika menjadi seorang player, semua hal yang dia mau, akan gampang untuk dikabulkan.
"tidak aman kenapa coba?" tanya Aria.
"banyak pertarungan antar player. Lihat bumbungan asap itu!" ucap Sanea.
Dari arah alun-alun tempat mereka berada. Terlihat jelas beberapa kepulan asap hitam yang membumbung tinggi ke angkasa. Pasti orang yang pertama kali berkunjung di tempat ini, bakal mengira. Itu hanya asap dari sesuatu yang sedang dibakar.
Kata Wirl dan Sanea. Asap itu timbul, bukan disebabkan oleh sesuatu yang sedang dibakar. Kepulan asap itu muncul dari pertarungan para player. Mereka sedang mengunakan sihirnya untuk menyerang sesuatu. Asap itu timbul dari ledakan sihir.
"aku jadi penasaran." batin Aria.
Irene/Aria bersyukur dirinya bisa menjadi seorang petualang. Jika dia dulu tidak dibully oleh anak-anak keluarga Frainahunt, mungkin dirinya bakal masih menjadi gadis rumahan yang tidak akan mengetahui dunia luar.
"mari kita pergi dari tempat ini. Tidak ada tempat penginapan di desa ini soalnya." kata Wirl.
Setelah berkata sana-sini. Aria mengikuti Wirl dan Sanea untuk keluar dari Tempat Perkumpulan. Karena penginapan tidak ada disini. Sanea dan Wirl memutuskan untuk mencari penginapan di Distrik Merah.
Mereka berjalan menuju ke sebuah tempat. Tempat yang ramai dengan banyak orang duduk di meja sambil menikmati minuman seperti kopi dan makanan cepat saji.
Banyaknya pedagang di tempat ini, karena lokasi untuk keluar dari Tempat Perkumpulan ada disini. Para pedagang makanan berharap, orang-orang akan mampir dulu untuk membeli sesuatu, sebelum pergi.
"itu adalah gerbang portal untuk keluar dari Tempat Perkumpulan." ucap Sanea.
Aria terkagum. Gerbang yang Sanea maksud berwarna merah dan cukup tinggi. Di tengah gerbangnya, ada cahaya berwarna putih yang besarnya setinggi badan orang dewasa.
Semua orang berjalan menuju ke sana, untuk keluar dari Tempat Perkumpulan. Ternyata ada teknologi yang lebih canggih daripada buatan negara Einhoren.
__ADS_1
"Putri. Gerbang itu akan mengeluarkan kita di tempat acak yang ada di Distrik Merah. Jika bersama dengan orang lain, jangan jauh-jauh dari mereka, agar tidak dikeluarkan berbeda lokasi." bisik Wirl.
Aria paham dengan perkataan Wirl. Dia langsung memegang erat tangan Wirl dan tangan Sanea. Dia tidak mau terpisah nantinya dari mereka berdua.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pengelihatan menjadi bunar. Kejadian itu yang Aria alami, saat masuk pertama kali, melintasi gerbang tersebut. Aria pikir tidak akan ada efek apapun saat melintasinya.
Ketika cahaya bunar di mata sudah menghilang. Mereka sudah berada di Distrik Merah. Di sebuah sudut toko yang menjual makanan, berbagai macam mie.
Seperti biasa. Banyak orang yang sedang berlalu-lalang. Dari kejauhan. Ada segerombolan orang yang sedang membawa tandu. Mereka membawa dua orang yang kelihatannya sedang pingsan.
Aria dan Sanea tahu dua orang tersebut. Dua orang yang pingsan itu pasti, dua orang yang sudah diracun Neurotoxin oleh Eira. Entah, mereka bakal mati atau hidup nantinya.
"kita sampai." ucap Sanea.
"rasanya tidak berubah. Masih membuat mata pening." sahut Wirl.
Ketika Aria memasuki gerbang itu. Tubuhnya terasa seperti dibawa oleh cahaya tersebut. Melesat berkecepatan tinggi, hingga membuat pengelihatannya kabur, seperti melihat lampu yang terang menuju matanya.
"maaf. Aku harus kembali ke guild. Sekarang masih shift ku untuk bertugas." kata Wirl.
"sampaikan salamku kepada Yua, Wirl." ucap Aria.
Aria melambaikan tangannya, untuk menyambut kepergian Wirl. Sudah tidak terhitung, Wirl pernah membantunya. Sejak dirinya masih menjadi petualang guild sampai sekarang.
"Aria. Bagaimana kau bisa kena Wirl?" tanya Sanea.
"dulu sih. Dia pernah membantuku, untuk mendaftar ke guild, saat aku tidak punya perizinannya." jawab Aria.
"karena dia pencari informasi. Kadang, para player bertanya sesuatu kepadanya. Informasinya sangat penting untuk keberhasilan sebuah quest." kata Sanea.
"informasi macam apa?" tanya Aria. Lagi.
"informasi mengenai aktifitas Guild dan para petualang. Mereka kadang, yang menganggu quest yang kita terima." jawab Sanea.
Jam di kedai mie itu sudah menunjuk di jam setengah tiga. Aria dan Sanea pergi mencari sebuah penginapan untuk beristirahat. Sejak kemarin, Aria hanya beristirahat sebentar saja.
Di Distrik Merah, meskipun ada beberapa penginapan. Orang-orangnya lebih suka beristirahat di sudut-sudut distrik, yang sekiranya tidak ramai dilewati banyak orang.
Mungkin sebab itu. Penginapan di distrik merah kebanyakan sepi. Penginapan yang memiliki tempat yang luas, seperti ada aulanya, sampai dialih fungsikan menjadi tempat untuk judi dan Bar.
"tolong. pesan satu kamar untuk dua orang!" kata Sanea.
"Shining Cardnya Nona!" ucapnya.
Pegawai pria, resepsionis itu mengambil Shining Card milik Aria dan Sanea. Dia meletakkannya di sebuah alat yang sama, sewaktu Eira sedang membuatkan Aria kartu untuk pergi ke Tempat Perkumpulan.
Dari alat itu. Muncul selembar kertas. Tulisan dari kertas itu, menyimpan identitas penyewa penginapan, yang diambil dari Shinning Card yang mereka punya.
"silahkan. Naik ke lantai dua. Kamar nomer lima belas!" ucap resepsionis itu.
Dia memberikan kunci kamar, yang terdapat gantungan bertulisan lima belas. Sekaligus mengembalikan Shinning Card milik Sanea dan Aria.
Kamar lima belas berada di lorong ke tiga. Sanea dan Aria harus melewati dua lorong untuk bisa sampai di kamar tersebut. Kamar di lorong pertama dan kedua, dibuat untuk satu orang karena tempatnya yang tidak luas.
"ini dia kamarnya." ucap Aria.
__ADS_1
Di pintunya. Ada tulisan angka lima belas. Sanea memasukkan kunci yang sudah diberikan oleh resepsionis tadi. Kuncinya berbentuk silinder. Bentuk kuncinya yang aneh, sepertinya agar kuncinya sulit untuk dibobol.
"lebih luas daripada yang aku kira." kata Sanea.
"kau tidak pernah menginap di penginapan sebelumnya?" tanya Aria.
"tidak sih. Aku lebih suka menginap di luar." jawab Sanea.
Entah, apa yang membuat Sanea tidak suka beristirahat di penginapan. Apa karena ingin berhemat uang? atau ada sebab yang lain? Dulu Aria beristirahat di penginapan yang buruk kondisinya, hanya karena tidak adanya uang, dan tidak ada tempat penginapan yang bagus.
"Sanea. Aku ingin mandi dulu." ucap Aria.
Aria berjalan ke arah kasur. Dia melepas ikat dadanya. Ada perasaan lega, saat kain berwarna putih yang mengikat dadanya itu dilepas.
Sanea sedikit tidak percaya. Dia kira, bahwa aset yang Aria punya itu setipis papan talenan. Ternyata dia salah.
"eh. Punyamu berisi juga, Aria. Aku pikir tepos." kata Sanea.
"aku terpaksa memakai ini. Agar saat aku mengayunkan sabitku. Lenganku tidak terhalang oleh dadaku." jawab Aria.
Setelah menjelaskan perkataan Sanea barusan. Aria berjalan menuju ke kamar mandi. Dia melepas semua pakaiannya dan ikat rambutnya, dan mengantung semuanya di gantungan dinding. Warna rambut putihnya kembali menjadi pirang.
Sanea sedikit kebingungan. Aset punyanya lebih besar padahal, daripada aset milik Aria. Dia tidak pernah kesulitan dalam berkelahi mengunakan semua senjatanya.
Ketika Sanea mengamati seluruh ruangan. Dia melihat di sebuah laci di dekat kasur. Di dalam laci itu terdapat beberapa peralatan mandi, yang masih tersegel.
"Aria. Peratalan mandinya ada disini semua." ucap Sanea.
Tapi Aria tidak mendengarkan. Dia lagi asik berendam di bathup. Ketika Aria sedang berendam di air hangat, sambil memejamkan mata. Dia teringat tujuannya lagi.
Buat apa dia melakukan semuanya sampai sejauh ini? Pernikahannya sepertinya sudah dibatalkan. Apakah dia harus mencari tahu darimana asal teknologi negara Einhoren, seperti yang dikatakan oleh kakaknya?
Tok~ Tok~ Tok~
(suara ketukan pintu)
"Aria. Ada yang ketinggalan." ucap Sanea.
Aria tersadar dari lamunannya. Hangatnya air membuatnya rileks sampai ingin tertidur. Dia sampai tidak mendengar bahwa Sanea sedang memanggilnya di luar kamar mandi.
"sebentar!" ucap Aria.
Dia berjalan tanpa mengunakan handuk. Karena hanya ada Sanea saja di kamar ini. Kenapa juga dia malu dengan sesama wanita?
"ada apa Sanea?" ucap Aria.
"peralatan mandinya ketinggalan-" kata Sanea.
Ketika pintu kamar mandi sudah dibuka oleh Aria. Sanea sedikit terkejut, melihat ada orang yang pernah dia lihat. Orang yang sama, yang pernah muncul di berita, sampai menjadi tranding di hari kemarin.
"kau. Bukannya putri raja Agastias sekarang?!" ucap Sanea.
Rambut pirang dan bertelinga runcing. Hanya sedikit warga elf, negara Agastias yang memiliki warna rambut pirang. Hanya dari keluarga bangsawan Elf Sheirahunt saja yang mempunyai ciri khas tersebut.
"eh~ astaga~" ucap Aria.
Dia memegang rambutnya yang berwarna pirang. Dia lupa tidak memakai ikat rambutnya terlebih dahulu. Perasaan relaks tadi, membuatnya lupa dunia dalam sesaat.
__ADS_1