Love And Adventure

Love And Adventure
Ketua Para Player


__ADS_3

Akhirnya, Aria bisa melihat sosok orang yang dulu pernah membuatnya penasaran. Pria yang lebih tinggi darinya, jika Aria dan dia berdiri sejajar. Aria hanya setinggi dagunya. Berambut hitam, berponi panjang yang disisir ke arah belakang.


Di situasi itu. Aria kebingungan. Apa yang harus dirinya ekspresikan, di depan semua orang yang ada di tempat ini. Apalagi, dia pernah membuat gagal salahsatu quest yang diberikan oleh para dewan kepada orang lain.


"hai Ayano. ngomong-ngomong, kalian pernah bertemu kah?" ucap Sanea.


"dia yang membuat gagal questku. Aku jadi kehilangan informasi yang bisa aku dapat dari anak ghoul itu." jawab Ayano.


Nona Ra dan tuan Kai menyimak percakapan mereka. Dua dewan, selain Nona Ra dan tuan Kai, tidak berkomentar apapun. Kelihatan bergerak dari tempat duduknya saja, tidak sama sekali.


Alasan dua dewan itu tidak berkomentar sama sekali, masih bisa dipahami. Salahsatu dewan pria, terlihat sedang tertidur di sofa. Tangan beliau menutupi matanya agar cahaya dari luar, tidak menganggunya. Kadang tidur dengan mata masih melihat cahaya itu tidak enak.


Beliau sepertinya masih terlihat muda. Berpakaian kemeja putih berlengan panjang, dengan celana hitam panjang. Sepatunya berwarna coklat, yang berada di samping sofa, saat dirinya saat tidur. Beliau melepas sepatunya saat tidur, menyisakan kaos kaki yang dipakainya.


Satu dewan lagi adalah seorang perempuan. Hanya beliau yang sedang tidur di lantai, dengan kasur dan selimut. Dilihat dari wajahnya saat sedang tidur. Beliau sepertinya masih anak-anak. Pancaran sinar matahari tidak menganggunya, karena ada sebuah angin dingin di sekitarnya.


"pasti kau anak baru bukan? Aku belum pernah melihatmu." ucap tuan Kai.


Dia melihat ke arah Aria. Tatapan tuan Kai sangat serius ketika memperhatikan Aria. Sepertinya tuan Kai mengira bahwa dirinya adalah keluarga Frainahunt.


"saya ingin menjadikannya sebagai rekan, tuan Kai. Jadi saya membawanya ke sini." kata Sanea.


"kau membawa orang asing ke tempat ini? Sanea." tanya tuan Kai.


Ketika tuan Kai sedang menanyai Sanea, kenapa dia membawa orang asing masuk ke dalam tempat perkumpulan. Semua player sudah diberi tahu, jika membawa orang asing masuk tempat perkumpulan adalah hal ilegal.


Izin harus dari persetujuan tuan Faremon dan lima dewan lainnya. Sedangkan Aria, dia bisa seenaknya mengunjungi tempat ini. Jika Aria sudah dapat izin, pasti tuan Faremon akan memberitahu kepada mereka, atau salahsatu dari lima dewan yang ada.


"berisik banget. Ada masalah apa sih?"


Salahsatu dewan pria yang sedang tertidur, jadi terbangun. Pertanyaan tuan Kai sepertinya sudah menganggu tidurnya. Beliau melihat ke arah temannya, Kai. yang sedang bertanya kepada player lain.


"maaf Divan. Sepertinya kami menganggumu." ucap nona Ra.


Tuan Divan bangun dari tidurnya. Beliau duduk di sofa sambil meregangkan leher dan bahunya yang kaku.


"tuan Divan. Tolong izinkan teman saya untuk menjadi anggota Argamanter. Saya ingin, dia jadi rekan saya." sahut Sanea.


Wirl dan Ayano yang sedari tadi berdiri, sudah mulai bosan. Ayano sampai melihat ke atas sambil menghentakkan kaki kanannya agar bosannya hilang.


Jika Wirl, sepertinya tidak begitu bosan. Dia masih penasaran, apakah nona Irene akan diterima menjadi anggota player negara Agastias? Sebuah organisasi player terbesar yang ada di negara Agastias, yang bernama Argamanter.


"silahkan. Kita memang membutuhkan banyak personil nantinya. Minta ke nona Ra untuk dibuatkan surat izinnya." ucap tuan Divan.


Tuan Kai melonggo mendengar perkataan temannya tadi. Dia dengan gampangnya memperbolehkan orang asing yang belum mendapat persetujuan dari para dewan lainnya, untuk bergabung menjadi anggota Argamanter.


"Divan. Bukannya kau terlalu terburu-buru untuk memasukkan orang asing ke dalam organisasi ini?" tanya Kai.


Divan menatap mata temannya itu. Kai sampai membuat ekspresi tidak percaya di wajahnya. Matanya membesar dan mulutnya mengangga. Dia sendiri tahu, sebab apa Kai khawatir, jika dirinya memasukkan gadis ini, tanpa penilaian lebih lanjut.


"kau takut, jika gadis itu mata-mata dari keluarga Frainahunt bukan? Jika dia dikirim kepada kita untuk memantau setiap pergerakan organisasi ini?" kata Divan.

__ADS_1


Penyebab Kai tidak langsung memasukkan Aria ke dalam organisasi Argamanter. Karena dia memiliki warna rambut putih, yang menjadi ciri khas dari keluarga Frainahunt.


Semua orang di negara Agastias sudah tahu. Keluarga Frainahunt yang memegang kendali atas keamanan negara. Kebanyakan keluarga Frainahunt, bekerja menjadi prajurit negara.


Apalagi organisasi Argamenter, telah ditetapkan sebagai salahsatu organisasi yang harus ditumpas. Bukan tanpa sebab. Setiap quest yang diberikan kepada para player, baik dari cafe Red Baron Ground dan organisasi Argamanter. Selalu membuat keributan di masyarakat.


"bukannya peraturannya sudah ditetapkan? Bahwa setiap anggota Argamanter harus mendapat izin dari lima dewan dan ketua cafe Red Baron dulu?" ucap Kai.


Perdebatan tidak menemukan titik tengah. Aria sudah mengira bakal sulit untuk dirinya masuk menjadi anggota Argamanter. Meskipun Sanea sekalipun memiliki Shinning Card.


Aslinya, Aria ingin mencari lebih lanjut, apa saja yang dilakukan oleh player? Dan apa aja quest yang diberikan? Sebagai pemula. Dia harus mencari tahu tentang itu.


Apalagi, Sanea tadi berkata, bahwa organisasi ini memiliki musuh, yaitu monster. Tapi buat apa mereka melawan monster? Padahal ada Guild dan prajurit negara Agastias, yang bisa membantu mereka, tapi malah menjadi musuh buat organisasi ini.


"apa sih ini? Masih pagi udah ribut sekali?"


Salahsatu dewan yang sedang tidur di kasur, ikutan terbangun. Udara dingin di sekitarnya langsung menghilang, setelah dia bangun. Dibandingkan tiga dewan lainnya. Dia yang masih anak-anak sepertinya. Dia gadis kecil dengan telinga runcing. Rambutnya hitam panjang.


"ini sudah siang, Nell." ucap nona Ra.


Aria tidak menyangka. Anak semuda dia, bisa menjadi salahsatu dewan. Pengalaman dan kemampuan apa, yang bisa membuatnya jadi dewan, dari para player, di negara Agastias di umur segitu.


"baiklah. Karena kita sudah banyak basa-basi. Masukkan saja gadis itu ke organisasi ini." ucap tuan Divan.


"tunggu dulu, Divan. Tidak semudah itu caranya." sahut tuan Kai.


Nona Nell mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Dia meregangkan sendi punggungnya yang kaku, dan membuka mulutnya untuk menguap.


"masukkan saja dia. Kita memang butuh banyak orang sekarang." ucap nona Nell.


"Kai. Musuh kita itu banyak. Kedepannya, bukan hanya para monster dari negara Agastias saja yang kita lawan. Mungkin organisasi player dari negara lain, akan kita lawan juga." ucap nona Nell.


Nona Nell bangkit dari kasurnya. Dia berjalan menuju ke kursi yang paling banyak warnanya dan perhiasannya. Pakaian piyama tidurnya langsung berganti, saat sebuah udara dingin menyelimuti badannya.


"Aku dan Nell sudah menyelidiki hal ini. Untuk sekarang. Musuh kita hanya para monster dan prajurit negara saja. Tapi, tidak memungkinkan. Jika kita akan melawan organisasi player dari negara lain." tambah Divan.


"lakukan saja. Tugasmu sebagai administrasi Argamanter saja, Kai. Urusan lainnya biarkan kami saja yang paling bertanggung jawab." tambah Nell juga.


Pok~ Pok~ Pok~


(suara tepuk tangan nona Ra)


Semua perbincangan menjadi terhenti. Tuan Kai tidak membantah lagi, omongan dari kedua temannya itu. Dia langsung fokus kepada suara tepuk tangan yang sudah dilakukan oleh Ra.


"baiklah. Kita ambil jalan tengahnya saja. Kasihan mereka semua. Sudah berdiri menunggu lama." ucap Nona Ra.


Dia melihat ke arah para player, yang sedang berdiri dihadapan mereka. Keinginan melapor quest mereka menjadi terhambat, karena perdebatan tadi.


"yang setuju, ada dua orang. Sedangkan yang tidak setuju hanya satu orang. Aku sendiri memilih untuk tidak memilih." tambah nona Ra.


Nona Ra, menyuruh para player yang ingin melapor quest, pergi menghadap ke Tuan Kai. Karena dia yang membawa data dan catatan quest untuk para player.

__ADS_1


Dan Aria. Nona Ra menanyainya beberapa pertanyaan. Masalah apa yang membuatnya sampai menjadi player, apa tujuannya untuk bergabung di organisasi ini, dan apakah dia punya rencana sesuatu.


Semua pertanyaan itu bisa Aria jawab. Dia menceritakan, bahwa dia sedang mencari tahu, apa yang membuat negara Einhoren begitu maju dalam hal teknologi. Dia ingin belajar hal tersebut untuk diterapkan di bisnis orang tuanya.


Dan dia mendapat solusi. Jika menjadi seorang player dan menyelesaikan quest yang diberikan oleh game ini. Semua keinginannya dan permasalahannya bisa terkabul.


"kau bukan suruhan dari keluarga Frainahunt kan? Aria." tanya nona Ra. Lagi.


"tidak nona Ra. Aku hanya ingin membantu masalah keluargaku sendiri. Bukan yang lain." jawab Aria.


Setelah mendengar hal itu. Nona Ra meminta Shinning Card milik Aria, untuk data, sebagai pembuatan surat izin masuk ke tempat perkumpulan.


Nona Ra memegang Shinning Card milik Aria. Sebuah cahaya hitam mengumpul di Shinning Cardnya. Cahaya hitam itu menyalin semua data yang ada di Shinning Card, dan berubah bentuk, menjadi kartu berwarna hitam, dengan motif emas.


"informasi selebihnya. Bisa kau dapatkan nanti, Aria. Setelah pengunuman event. Cobalah bertanya kepada Sanea atau player yang lain untuk sekarang." kata nona Ra.


"terima kasih nona Ra. Akan saya lakukan." jawab Aria.


"tapi tolong. Jangan beritahu kepada keluarga Frainahunt yang lainnya. Kami selalu mengawasi keluarga itu soalnya, jadi gerak-gerikmu akan selalu diperhatikan." tambah nona Ra.


...****************...


Mereka berjalan keluar dari gedung dewan. Udara segar dan asin lautan terasa menyegarkan, apalagi setelah pertanyaan berbelit-belit yang dilontarkan para dewan tadi.


"selamat Aria. Kau menjadi anggota organisasi Argamenter sekarang. Mari kita bikin squad bersama." ucap Wirl.


Sanea yang mendengar hal itu. Dia langsung mendorong Wirl untuk menjauh.


"aku duluan yang mengajak Aria. Kenapa kau yang menyerobot duluan? Wirl." tanya Sanea.


Wirl merasa kasihan kepada putri Irene. Sanea sudah terkenal sebagai player yang ceroboh. Wanita terhormat dan disiplin seperti putri Irene, pasti akan merepotkannya, jika harus setim nantinya.


Aria yang melihat kedua temannya sedang berdebat. Mencoba berusaha untuk melerai mereka. Dia sendiri sudah capek akan perdebatan sebelumnya. Jangan ada part yang kedua.


"selamat nona Aria. Aku harap kau tidak menganggu lagi nantinya." ucap Ayano.


Dia hanya berkata begitu saja. Tidak marah sama sekali, padahal dulu, dirinya pernah mengagalkan questnya. Ayano berjalan pergi begitu saja. Dia menutup kedua matanya, dan sedikit menunduk, untuk salam perpisahan.


Aria membalas sikap Ayano tersebut, dengan tata krama bangsawan. Dia menunduk sambil mengangkat sedikit roknya.


"hey kalian berdua." ucap Aria.


Sanea dan Wirl menatap Aria. Merasa diri mereka sedang dipanggil.


"kenapa kita tidak buat aja, squad bersama?" kata Aria.


"dia orang yang ceroboh Aria. Sebab itu, tidak ada orang yang mau membuat squad bersamanya." ucap Wirl.


Mendengar perkataan Wirl. Sanea tidak bisa membantah, karena seperti itu yang orang-orang katakan, mengenai dirinya.


"kalian berdua adalah temanku. Lebih bagus jika kita bisa berkumpul bersama. Apalagi akan ada Event untuk para player besoknya." ucap Aria.

__ADS_1


Wirl dan Sanea merasa, ada benarnya ucapan Aria. Lebih baik berkumpul bersama, apalagi akan ada event besoknya. Mempunyai rekan itu sangat penting.


Karena jam sudah memunjukkan pukul 14.36. Aria ingin beristirahat. Aria bertanya kepada Sanea. Dimana penginapan terdekat. Dia ingin tidur agar nanti malam saat pengumuman event dirinya tidak mengantuk.


__ADS_2