
Lampu kendaraan roda empat, menyinari garis putih putus-putus jalanan beraspal. setelah menyelesaikan quest membunuh Tarantula yang menghalangi jalan raya, mereka pulang dengan mengendarai dua mobil Jeep.
Satu mobil Jeep, mampu membawa empat penumpang, jadi masing-masing mobil Jeep, ada empat atau tiga orang yang menumpang, sesuai jumlah petualang yang mengikuti quest ini, yaitu tujuh orang. Lima pria dan dua wanita.
"Hey Reana!"
"Ada apa Liz?"
Lize adalah ras manusia, dia bertemu dengan Reana setelah ikut serta dalam quest pembasmian monster yang sedang menghadang jalan raya. Quest squad, diharuskan memiliki minimal satu orang support, untuk menjamin pertolongan pertama ketika terluka.
"Jika kau berminat, cobalah datang ke kota Einhoren. Aku sepertinya akan kembali kesana nanti, dalam jangka waktu dekat." Ucap Lize
"Einhoren, kota pusatnya ras manusia itukan? Akan aku pikirkan deh nanti." Jawab Reana
Sebagai ras Elf, Reana sedikit menjaga jarak dengan ras manusia, selain dari negara Agastias. Ras Elf sering diperdagangkan layaknya sebuah hewan peliharaan oleh banyak ras, tetapi paling banyak melakukan hal tanpa moral seperti itu, adalah ras manusia.
Pemandangan tulang-belulang monster yang berserakan, terlihat di pinggir jalan, saat Reana melihat ke samping, dipadu dengan keindahan gelapnya malam, yang hanya disinari cahaya bulan dan lampu mobil, berserta suara gemuruh mesin, membuat suasana malam menjadi tentram.
"Sebentar lagi, kita akan sampai di tempat pemantauan!" Ucap seseorang dari mobil Jeep depan
Lize sedang melihat peta, saat Reana meliriknya. Dia seperti orang yang sedang berfikir, harus kemana tempat petualangannya nanti, mengingat Lize menyukai hal berbau petualangan, sampai ingin menikah dengan lelaki yang memiliki hobi petualangan dan melakukan petualangan bersama.
Tudung jaket warna hitam yang Reana pakai, terbuka saat angin kencang berhembus. Rambut hitam ponytail, yang diikat dengan kain berwarna putih bermotif bunga merah jambu, berkibar seperti sebuah pakaian yang terkena angin, ketika dijemur.
Di kejauhan, ada cahaya kuning yang terpancar dari bangunan-bangunan tertentu. Tempat itu adalah pos pemantauan, tempat para petualang berkumpul untuk melakukan quest bersama dan tempat untuk memantau pergerakan monster.
"Kita sampai di pos pemantauan. Jangan lupa tunjukan paspor petualang kalian!" Ucap orang yang duduk di samping sopir Jeep
Di tempat pos pemantauan, tenda kecil dan bangunan semi permanen banyak dibangun. Ada rumah yang terbuat dari batu bata yang disusun menjadi rumah jadul, bahkan rongsokan mobil dibuat untuk tempat beristirahat. Kasur dan bantal bisa terlihat dari kaca kendaraan yang sudah tidak ada.
Pos pemantau, dibuat untuk melindungi negara Agastias dari monster yang akan menyerang. Para petualang, kebanyakan berada di pos pemantau, daripada berada di dalam kota, karena quest yang ditawarkan lebih menarik dan menantang.
"Tolong perlihatkan paspornya!"
"Paspornya, tolong kalian!"
Dua orang pria elf dengan seragam kerajaan dan membawa pedang, datang untuk menanyai paspor. Mereka berdua menghampiri satu-persatu, orang yang ada di mobil Jeep, untuk mengecek, siapa yang tidak memiliki benda tersebut.
Negara Agastias dahulunya adalah sebuah kerajaan, yang dipimpin oleh raja elf lelaki berambut pirang bernama Rasandrian Sheirahunt, sebelum kerajaan diganti menjadi republik.
Salahsatu bukti, bahwa dulunya negara Agastias adalah kerajaan, bisa dilihat dari seragam militer prajurit Agastias yang elegan dan indah, seperti di komik-komik bertema kerajaan.
"Reana. Sabitmu dimana? Sebelumnya, kayaknya ada?" Tanya Lize.
Reana tidak terlihat membawa sabitnya, ketika berada di belakang mobil. Dia hanya duduk sambil menunggu petugas datang, untuk mengecek paspor yang dia miliki.
"Aku mengubah sabitku menjadi kalung." Ujar Reana sambil menunjukan kalung di lehernya.
Ketika petugas datang, Reana memasukan kembali kalung berwarna ungu ke dalam jaket hitamnya dan mengambil kartu paspor yang ada di saku jaket, untuk diperlihatkan ke petugas yang datang.
Petugas yang menghampiri Reana memintanya untuk menunjukan kartu persegi kecil yang disebut paspor untuk discanning. Alat kecil seperti sebuah senter, menyinari kartu yang Reana pegang lalu muncul sebuah lambang, dua sayap dengan dua anak panah dan satu pedang berwarna putih menyala.
"Baiklah, kalian boleh masuk! Maaf menganggu kenyamanan anda!" Ucap dua petugas itu.
Gerbang dari besi yang tadinya tertutup, perlahan terbuka, setelah semua orang menunjukan kartu paspornya. Keadaan pos pemantau, hanya ada sedikit orang yang sedang mondar-mandir, mungkin karena malam baru saja muncul, jadi semua petualang masih bersiap-siap.
"Kenapa ras elf, warna rambutnya berbeda-beda yah?" Celetuk salahsatu orang di mobil.
Semua orang yang ada di mobil Jeep, kecuali si sopir, langsung memandang ke arah Reana yang memiliki warna rambut hitam, sedangkan dua penjaga elf tadi, rambut mereka berwarna putih.
__ADS_1
"Kenapa semua melihat ke arahku?" Tanya Reana.
Semua orang yang ada di mobil Jeep, berasal dari ras manusia. Mereka adalah ras yang paling banyak di dunia sihir, sampai mereka berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
"Kenapa kok bisa seperti itu Reana?! Jawab dong!" Tanya Lize.
Reana yang melihat wajah orang-orang sudah penasaran, jadi terpaksa memberitahukan, kenapa ras elf, bisa memiliki berbagai macam warna rambut.
"Itu karena darah murni yang mereka miliki. Darah elf campuran biasanya memiliki rambut berwarna hitam. jika mereka menikah dengan selain elf. Jika elf menikah dengan sesama elf, rambut mereka akan berwarna putih karena darah mereka masih murni."
"Tapi nona. Kenapa keluarga kerajaan memiliki rambut berwarna pirang? Raja sebelumnya juga seperti itu?" Tanya salahsatu orang, setelah mendengar perkataan Reana barusan.
"Aku juga tidak begitu mengerti, kenapa keluarga kerajaan bisa berwarna pirang. hehehe~" jawab Reana sambil memegang rambutnya.
Setelah berjalan cukup lama, melewati jalanan beraspal yang hanya lurus dengan pohon-pohon di sekitarnya, kota Agantha akhirnya terlihat. Kota Agantha adalah ibukota dari negara Agastias, sebuah pusat kota paling ramai dan paling maju dalam bidang ilmu pengobatan.
Negara Agastias disebut juga sebagai negara elf, karena dulunya negara Agastias hanya ditinggali oleh bangsa elf, sebelum perang antar bangsa berakhir. Di zaman sekarang, ketika perang antar bangsa sudah berakhir, semua bangsa bisa berkunjung ke negara bangsa lain, tanpa takut terkena ancaman seperti zaman dulu.
"Sebentar lagi kita akan berpisah Reana." Ucap Lize.
"Aku yakin kok kita akan bertemu lagi." Ujar Reana.
Setelah mobil sampai di terminal kota, semua orang turun dari mobil dan menuju ke tempat Guild petualang untuk mengambil hadiah quest.
Guild yang terlihat seperti sebuah Bar dengan furnitur terbuat dari kayu, saat orang melihat ke dalamnya. Banyak orang berpakaian rapi sedang duduk di masing-masing meja, bersama dengan orang lain.
"Semuanya, sebagai orang yang dipercaya untuk memimpin quest ini, saya mengucapkan terima kasih. Karena quest ini sudah berhasil diselesaikan, maka grup ini, akan segera dibubarkan, semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan lagi." Ucap om Rafael.
"Bisa kami bantu?" Tanya resepsionis.
Dua orang resepsionis elf, pria dan wanita datang menghampiri om Rafael untuk berbincang-bincang. Setelahnya, mereka menyuruh semua orang yang bersama om Rafael, untuk menghampiri meja resepsionis.
Semua orang meletakan kartu identitas petualang di atas meja, sambil menunggu si resepsionis pria, mencari berkas quest dan mentaksir jumlah hadiahnya.
"Ini dia berkasnya dan uang sejumlah 1050 Neal." Ujar resepsionis pria.
Resepsionis wanita itu melihat kartu identitas petualang, yang diletakan di atas meja. Dia mencocokan semua nama petualang yang ada di kartu, dengan nama yang ada di lembaran kertas quest.
"Baiklah ini hadiah kalian!" ucapnya.
Sebuah uang kertas bernominal 100 dan 50 Neal, diberikan kepada om Rafael. Uang itu berwarna biru untuk nominal 50 Neal dan berwarna hijau untuk nominal 100 Neal.
"Sesuai janji. Kita bagi 150 untuk masing-masing orang." Ucap om Rafael.
Setelah membagi uang sesuai jumlah, mereka bersalaman lalu pergi keluar dari Bar. ada juga yang duduk di meja, bersama petualang tadi, untuk berkenalan lebih akrab dan melepaskan penat.
"Selamat tinggal Reana!" Kata Lize sambil melambaikan tangannya.
"Sampai jumpa juga Lize!" Jawab Reana sambil melambaikan tangan juga.
Dua resepsionis itu memberikan kode isyarat kepada Reana, untuk masuk ke tempat VIP yang berada di belakang Bar. tangan mereka memberikan sebuah gesture, agar Reana mengikutinya.
"Putri Irene! Apa kabar?!" Ucap resepsionis wanita itu.
"Aku baik-baik saja kok, Yua." Jawab Irene.
Yua adalah teman akrab Irene, dia bekerja sebagai resepsionis di guild ini. Yua juga yang membuatkan identitas guild palsu buat putri Irene, dengan nama samaran Reana.
Irene dipeluk erat oleh Yua, sambil menciumi pipi dan bibirnya secara terus-menerus. Irene yang dibegitukan oleh temannya, hanya bisa menahan geli, saat wajahnya sedang diraba oleh bibir halus Yua.
__ADS_1
"Selamat datang juga tuan putri!" Ucap resepsionis pria, dia juga teman Irene yang bernama Wirl.
Wirl berlari kecil untuk memeluk Irene. Dia ingin mencium wajah putri Irene, seperti yang dilakukan oleh Yua. Bibir Wirl terlihat mancung ke depan, saat mendekat ke arah Irene.
Plak~
(Suara tamparan tangan)
"Kamu ngapain sih?!" Ujar Irene.
Sebelum bisa mendekat, untuk mencium dirinya. Irene langsung menampar wajah Wirl sekuat tenaga, hingga membuatnya terhuyung.
"Irene. Bagaimana rasanya menjadi seorang petualang? Apa menyenangkan?" Tanya Yua.
"Masih lebih baik, daripada dijodohkan dengan seorang manusia, aku tidak peduli, meskipun dia seorang pangeran negara Einhoren." Ujar Irene.
"Irene. Orang tuamu sedang mencarimu loh!" Kata Wirl, dia berkata sambil mengusap pipi kirinya.
Irene paham, kenapa mereka sedang mencari dirinya. Dia kabur dari rumah, ketika dia akan dijodohkan dengan pangeran negara Einhoren, untuk hubungan politik antara kedua negara.
"Siapa yang sedang mencariku, Wirl?" Tanya Irene.
"Aku melihat banyak prajurit negara berpatroli, semenjak kau kabur dari rumah. beruntung pita rambut yang kau pakai, bisa menyamarkan penampilanmu." Ujar Wirl.
Kain berwarna putih bermotif kembang merah jambu itu yang Wirl maksud. Ketika Irene memakai kain itu di rambutnya, maka warna ramburnya, bisa berubah menjadi warna lain.
Bruak~
(Suara pintu dibuka sedikit keras)
Sepuluh prajurit berjalan masuk ke dalam Bar. Mereka berjalan mengecek seluruh ruangan, satu persatu, hingga ke bagian yang tersembunyi.
"Nona Irene. Akhirnya kami menemukanmu!"
Prajurit wanita dan prajurit pria berjalan menghampiri Irene dan mengenggam kedua tangannya.
"Tolong jangan kabur lagi Nona! Yang mulia sudah mencari Nona, selama sebulan."
Prajurit wanita itu melepaskan ikatan rambut yang putri Irene pakai. Rambut panjang yang tadi berwarna hitam, berubah menjadi warna pirang keemasan.
"Kenapa bisa ketahuan?!"
"Siapa sih yang mulut ember?!"
Wirl dan Yua saling bertanya, hingga muncul orang tua berbadan kekar dengan rambut, kumis dan jenggotnya yang berwarna putih.
"Aku yang mulut ember!"
Wirl dan Yua yang mengetahui suara itu, langsung mengidik ngeri. Orang itu adalah ketua guild, sekaligus boss mereka.
"Terima kasih kakek Damon, atas informasinya." Ucap prajurit pria.
Dua prajurit menemani putri Irene pergi, menuju keluar Bar, sambil dikawal dengan sepuluh prajurit, meninggalkan Wirl dan Yua bersama kakek Damon.
"Jadi kalian berdua yang membuat identitas palsu untuk putri Irene!?"
Yua dan Wirl langsung bersujud sambil meminta maaf, jika merekalah yang membantu putri Irene untuk melarikan diri.
"Maaf kakek Damon! Kami bersalah!"
__ADS_1