Love And Adventure

Love And Adventure
Seorang Anak


__ADS_3

"Tante. Tolong bantu adikku! Dia sedang dikejar oleh tiga orang!"


Anak kecil yang baru saja menabrak Reana, meminta pertolongan. dia berkata seperti itu, dengan wajah dan nada yang memohon, meskipun anak kecil ini terlihat mencurigakan, tapi perasaan ketika meminta pertolongan tadi, terasa jujur.


"Kenapa adikmu? Dimana dia?" Tanya Reana.


Pergelangan tangan Reana ditarik olehnya. Anak kecil itu berlari sambil memegangi tangan Reana, agar dirinya mau ikut menyelamatkan adiknya.


Reana yang masih kebingungan dengan apa yang sudah terjadi, hanya bisa mengikutinya saja. Anak kecil itu menarik tangannya dengan paksa, sepertinya dia ingin membawa Reana menuju ke tempat adiknya berada.


"Apa yang sedang terjadi sih? Adikmu kenapa?" Tanya Reana, dia kebingungan, jika dimintai pertolongan secara tiba-tiba.


"Adikku dikejar tiga orang tante! Mereka menganiaya kami saat aku dan adikku sedang makan." Jawab anak kecil itu.


Ketika sedang berlari, mereka berdua mendengar suara tangis anak kecil yang berada tidak jauh dari tempat ini, tapi di sekitar sini terasa sepi sekali, berbeda dengan tempat sebelumnya yang ramai orangnya bagaikan di Bazar. merasakan hal ini feeling Reana menjadi waspada.


"Kemana kau mau pergi monster kecil?!"


"Kita bunuh dia atau kita lakukan sesuatu padanya?"


"Kita introgasi saja dulu! Pasti teman-temannya masih ada di sekitar sini!"


Tiga orang pria, berpakaian seperti anak muda biasa, berdiri di hadapan seorang gadis kecil yang sedang terjatuh di jalan. Gadis itu meringkuk ketakutan sambil menangis, di pakaian merah mudanya terdapat bekas darah, begitu juga di bibirnya.


Ketika salahsatu dari tiga pria itu memegang tangan kanan gadis kecil itu. Sebuah tendangan datang menghantam belakang punggungnya, membuatnya jatuh tersungkur di jalan.


"Pergi kalian para pedobear!" Teriak Reana.


Reana memukul dua pria yang masih belum tersungkur di jalan, tapi mereka berdua bisa menangkis dan menghindari serangan Reana barusan.


Anak kecil tadi yang bersama Reana, menghampiri adik perempuannya, dia memeluk adiknya untuk menenangkan ketakutan yang sedang adiknya alami.


"Tenang Vio! Kita baik-baik saja!"


"Kak En! Kenapa semua orang memperlakukan kita seperti ini? Kita hanya mau makan saja kak."


Dua pria itu membantu temannya yang sedang tergeletak di jalan untuk berdiri. Mereka bertiga mulai menunjukan tatapan waspada ketika melihat ada wanita berseragam prajurit datang di tempat ini.


"Maaf nona. Dua anak itu sangat berbahaya! Jangan tertipu dengan wajah memelas mereka!" Ucap pria yang telah Reana tendang.


Pria itu sedang memegangi punggungnya, tempat tendangan tadi dia terima, mungkin tendangan Reana terasa sakit baginya.


"Mereka monster nona. Dua anak kecil itu seorang Ghoul! Mereka sudah memakan orang tadi!" Tambah teman satunya.


Reana bingung sekaligus penasaran, bagaimana bisa dua anak kecil imut seperti ini seorang monster? Jika mereka monster, apakah monster memiliki perasaan takut dan sedih seperti orang?


"Apa buktinya jika mereka monster?" Tanya Reana.


Tiga pria itu terdiam tidak menjawab pertanyaan Reana. Mereka saling memandang satusama lain sambil berkata pelan, perkataan mereka tidak bisa didengarkan oleh Reana, meskipun Reana berada tidak jauh dari depan mereka.


"Nona. Ini sangat penting! Kami harus menyelesaikan quest ini, sebelum monster Ghoul menjadi makhluk berkehendak bebas!"


"Jika nona masih melindungi mereka berdua, Kami akan gunakan kekerasan untuk merebut mereka! Kami tidak takut dengan prajurit negara sekalipun!"


Reana mengatur pernafasannya agar tidak terlihat panik di depan orang yang akan menjadi musuhnya. Gurunya, kak Teo pernah berkata, jika kau terlihat takut sebelum bertarung melawan musuhmu, maka kau sudah kalah saat itu.


Anak kecil yang berada di belakang Reana menarik-narik bajunya. Dia seperti ketakutan setelah mendengar apa yang sudah dikatakan oleh tiga orang itu.


"Tante. Tolong kami! Kami akan berikan sesuatu sebagai hadiah nanti."


Reana mengangguk, dia lebih memilih percaya kepada anak laki-laki itu daripada tiga pria yang berani menyakiti seorang anak kecil yang terlihat lemah.


"Maafkan aku! Mereka berdua berada di bawah perlindunganku sekarang!" Ucap Reane sambil mengedipkan satu matanya ke anak lelaki itu.


Mereka bertiga mengeluarkan senjata. dua orang mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya, sedangkan satu orang mengambil tongkat yang tersimpan dibalik baju di punggungnya.


"Memang tidak ada pilihan lain ternyata!"

__ADS_1


"Jangan menangis yah nona!"


Setelah selesai berkata, mereka maju menyerang prajurit wanita yang sedang melindungi dua anak kecil itu. Dua orang yang memegang pisau lipat berlari maju, sedangkan pria yang memegang tongkat berada di belakang mereka.


"Formasi dasar ternyata! Pasti dua orang itu class Assasin, sedangkan orang di belakangnya class Mage." Ucap Reana.


Reana menyambut serangan mereka dengan ikutan maju ke depan. Reana berusaha menjauhkan dua anak itu dari pertarungan yang sedang terjadi, dia tidak ingin mereka terkena serangan ketika dirinya sedang bertarung.


Sling~ Slang~ Buk~ Bak~


(Suara pisau yang membelah angin dan pukulan ketika ditangkis)


Dua orang itu tidak bisa melukai Reana, meskipun mengunakan senjata sekalipun. Sabetan pisau mereka hanya bisa membelah angin saja.


"Prajurit wanita ini tangguh juga."


"Kau benar. Dia gesit seperti monyet."


Reana dan dua orang itu mundur menjaga jarak setelah melakukan opening serangan. Dua pria itu mengatur pernafasan mereka setelah menyerang, sedangkan Reana sudah ngos-ngosan berusaha menyerang dan menghindar, tapi serangannya hanya sia-sia.


"Kalian bukan pedobear biasa kayaknya. Cara bertarung kalian setara dengan prajurit terlatih." Ucap Reana.


"Ander, Juan! Kalian butuh bantuan?!" Ucap pria pembawa tongkat. Dia daritadi hanya diam melihat dua temannya berkelahi.


Pria bernama Ander dan Juan memasang ancang-ancang. Mereka berdua sepertinya siap untuk melakukan serangan yang kedua.


"Kalian. Larilah!" Ucap Reana.


Dua anak kecil yang ada di belakang Reana mengangguk, anak laki-laki itu membawa adiknya untuk sedikit menjauh dari sisi tante Reana agar tante Reana tidak khawatir akan keselamatan mereka.


"Kami serius nona! Rasakan kombinasi jurus kami bertiga!"


Reana mulai waspada setelah mendengar perkataan barusan. Dia memegang kalung yang ada di lehernya untuk mengubah bentuknya menjadi sebuah senjata.


"Ron! Bantuan sihir!"


"Sihir angin! <<supporter wind>>"


Sebuah angin kecil menyelimuti dua orang pria itu. Mereka mengenggam erat pisau di tangan mereka lalu berlari ke arah Reana.


"Kami hanya akan melumpuhkanmu saja nona! Nyawamu masih aman!" Ucap pria bernama Ander.


"Tenang saja! Wajah cantikmu tidak akan kami sakiti!" Sahut pria bernama Juan.


Reana membuang topi barretnya di jalan agar tidak menganggu dirinya ketika sedang bertarung serius. Dia menarik kalung di lehernya lalu berubah menjadi sebuah sabit berwarna ungu.


Ting~ Tang~


(Suara pisau ketika mengores sabit Reana)


Mereka melompat ke belakang dua kali, berpijakan angin setelah serangan mereka berdua mengenai sabit Reana. Mungkin pijakan angin yang tiba-tiba muncul di kaki mereka berdua saat melompat adalah sihir milik pria yang ada di belakang mereka.


"Apa?! Dia mempunyai senjata?"


"Darimana sabit itu muncul?"


Reana melakukan freestyle dengan memutar sabitnya sambil memasang kuda-kuda. Inilah hasil latihan dari komandan Fa dan komandan Teo, putri Irene dapat menguasai senjata yang sangat susah dipakai untuk bertarung.


"Maju kalian semua! Mau kau mage yang ada di belakang, aku tidak takut!"


Pria yang ada di belakang berjalan maju agar dekat dengan dua temannya. Dia mengangkat tongkat sihirnya ke arah Reana.


"Kami bertiga akan mengalahkanmu! Kami harus menyelesaikan quest ini secepat mungkin."


Reana jadi teringat dengan perkataan manager dari karavan Einhoren. Apa mereka sedang membicarakan quest dari Npc? Yang katanya berbeda dengan quest dari guild petualang.


"Formasi biasanya!" Ucap pria dengan tongkat itu.

__ADS_1


Dua temannya mengangguk. Mereka berdua maju dengan langkah yang diperkuat dengan sihir angin di kaki mereka. Reana sampai terhuyung ketika menangkis serangan mereka yang datang kepadanya.


"Astaga! Tenagaku tidak sekuat mereka." Ucap Reana.


Karena dirinya seorang perempuan maka jelas ada perbedaan kekuatan antara perempuan dengan laki-laki, tapi Reana masih berusaha untuk berdiri dan melawan.


"Sihir angin! <<wind shoot>>"


Sebuah peluru angin melesat ke arah Reana, padahal dia baru saja menangkis dua serangan dari pria itu.


Bus~


(Suara peluru angin ketika dibelah)


Peluru angin itu berubah menjadi hembusan angin yang cukup kencang setelah dibelah. hembusan anginnya bisa membuat debu-debu di sekitar beterbangan.


"Sabit tidak cocok untuk main keroyokan seperti ini!" Batin Reana.


Reana maju ke depan, ke arah pria yang mengunakan tongkat sihir di depannya. Dua temannya yang tahu rencananya langsung menghadang dirinya.


"Tidak semudah itu menyerang support kami!"


Pisau yang dua orang itu pegang tiba-tiba diselimuti oleh angin. Sihir angin yang tadinya berfokus di telapak kaki mereka, berpindah menuju ke senjata yang mereka pegang.


"Jurus kombinasi! << twin blade wind>>" ucap mereka berdua.


Mereka berdua melempar angin yang telah berkumpul di senjata yang mereka pegang. Angin itu melesat seperti anak panah berbentuk huruf X menuju ke arah Reana.


"Perubahan seri bentuk! << Spear>>"


Senjata sabit yang Reana pegang berubah menjadi sebuah tombak. Dia tusuk sabetan angin yang sedang melesat mengunakan mata tombaknya.


Bus~


(Suara sabetan yang berubah menjadi angin ketika ditusuk)


Angin yang ditimbulkan dari serangan sihir gabungan itu menimbulkan gejolak angin yang cukup kuat dari yang pertama. Angin itu berhembus ke mana-mana sampai lampu tiang yang ada di sekitar pecah akibat tekanannya.


Tiga orang itu tercengang melihat prajurit wanita yang mereka lawan mengubah senjata sabitnya menjadi sebuah tombak.


"Senjatanya bisa berubah ternyata!"


"Iya! Aku tidak menyangka juga!"


Menurut mereka, melawan musuh yang mengunakan senjata jarak panjang akan sangat merepotkan, karena mereka menyerang mengunakan pisau yang harus dilakukan dengan jarak yang begitu dekat.


"Siap untuk ronde kedua?!" Ucap Reana kepada mereka.


"Aduh! menangkis serangan mereka membuat tanganku kesemutan." Ucap Reana di dalam batinnya.


Pertarungan sengit mereka daritadi tidak diganggu sama sekali. Tidak ada warga yang datang atau melintas di tempat ini. Reana berharap ada warga yang melapor ke prajurit kerajaan agar pertarungan ini segera berakhir.


"Ron, Ander, Juan! Hentikan pertarungan kalian!" Ucap seseorang.


Reana melihat ada seorang laki-laki yang berdiri di atas bangunan. Dia memiliki rambut hitam ditambah cahaya rembulan yang menyinarinya dari belakang, membuat kesan misteriusnya terasa.


"Kita harus pergi sebelum prajurit kerajaan dan player datang disini! Hembusan angin tadi memancing perhatian banyak orang!" Ucapnya.


Tiga pria itu menurunkan persenjataan mereka setelah mendengar perkataan pria itu.


"Awas nona! Anak kecil itu akan menjadi ghoul nanti! Dia akan membunuh lebih banyak orang nantinya!" Ucap pria yang tadi Reana tendang punggungnya.


Tiga pria itu melompat ke atas atap bangunan mengunakan sihir angin yang ada di kaki mereka. Mereka melompat menuju ke tempat pria yang tiba-tiba muncul disana.


"Aku ramal. Kita akan bertemu lagi, entah sebagai teman atau musuh!" Ucap pria misterius itu.


Mereka berempat melompat ke atap bangunan lain hingga tidak terdengar lagi suara pijakan kaki mereka.

__ADS_1


__ADS_2