Love And Adventure

Love And Adventure
Mereka


__ADS_3

Aria dan Sanea berada di dalam taksi. Transportasi umum yang mereka tumpangi sedang berjalan menuju ke kota Roanes. Kota yang pernah Aria kunjungi, sewaktu dirinya mencari informasi, tentang pangeran Roan.


"menurut informasi yang pernah aku dengar. Monster kelas Superior itu. Mereka terikat oleh sebuah Belenggu. Belenggu tersebut membuat mereka kehilangan kendali diri." ujar Sanea.


Event yang sedang terjadi sekarang, Havefun Monster Ghoul membuat semua monster Ghoul yang berjenis Superior, dipaksa untuk menjadi Npc di Event. Semua player harus membunuh monster Ghoul yang sudah menjadi Npc, untuk bisa menyelesaikan Eventnya.


Aria mendengarkan penjelasan Sanea, meskipun dirinya tidak terlalu paham. Sopir taksi hanya diam saja, beliau masih fokus memandang jalan raya, padahal pembicaraan tadi, bisa dirinya dengar dengan jelas.


"Sanea. Pembicaraanmu, bukannya terlalu keras? Kita sedang ada di dalam taksi loh!" ujar Aria. Khawatir.


"oh~ kau takut kenapa? Kita aman saja kok." jawab Sanea. Santai.


Sopir taksi itu tersenyum sambil sedikit mengelengkan kepala. Ucapan Aria yang dirasanya sudah pelan itu, ternyata masih bisa beliau dengar.


"santai saja, Nona! Saya juga seorang player kok." ujarnya.


Beliau seorang Elf. Rambut berwarna hitam sambil memakai kacamata berbentuk lingkaran. Wajah beliau juga terlihat lebih dewasa. Aria rasa, umur beliau sama seperti umur kakaknya, bisa saja lebih.


"halo bapak Bou! Apa kabar?" sapa Sanea.


"baik kok. Omong-omong. Kalian kenapa ingin pergi ke kota Roanes?" tanya pak Bou.


Sanea hanya bisa diam. Dia menatap ke arah Aria sambil menyikutnya pelan. Rencana untuk pergi ke kota Roanes adalah rencana milik Aria. Sanea pasti tidak bisa menjawab, jika ditanya tentang hal itu.


"anu pak. Kami ingin pergi ke sebuah tempat aja." jawab Aria.


Taksi yang mereka tumpangi berhenti. Lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Suasana saling bertanya tadi, seketika menjadi sunyi. Hanya ada suara dengungan mesin dari kendaraan yang sama-sama sedang berhenti.


"kalian mendapatkan quest dari cafe Red Baron kah?" tanya bapak Bou. Sekali lagi.


Aria mengangguk. Perasaan was-wasnya kepada bapak Bou sudah menghilang. Aria merasa, tidak perlu lagi ada yang harus disembunyikan.


"kami sedang mencari Npc yang membawa quest mengenai ramuan kahidupan untuk monster Ghoul, pak." kata Sanea.


"maafkan aku. Jika tidak bisa membantu kalian untuk menyelesaikan quest itu. Aku juga mendapatkan sebuah quest dari Tempat Perkumpulan soalnya." ujar pak Bou.


Aria dan Sanea penasaran. Quest apa yang sudah diberikan kepada bapak Bou? Bukannya Event Havefun Ghoul yang harus diprioritaskan terlebih dahulu? Sampai-sampai keadaan di Distrik Merah saja menjadi sepi, karena akan ada Event itu.


"quest apa yang sedang bapak Bou dapatkan?" tanya Sanea.


"para Elf darah campuran. Mereka banyak yang diculik. Entah apa tujuannya. Berita tentang pemberontakan juga." jawab bapak Bou.


Lampu lalu lintas menjadi hijau. Bapak Bou menginjak pedal mobil setelah memasukkan gigi mesin. Kecepatan kendaraan taksi berjalan lebih cepat daripada sebelumnya. Beberapa kendaraan bahkan banyak yang sudah beliau salip.


"pemberontakan apa itu, Pak? Kenapa tidak ada beritanya yang terdengar?" tanya Aria. Sangat penasaran.


Aria saja baru tahu, jika negaranya memiliki masalah internal yang sedalam ini. Sesaat, Aria berpikir. Apa ada hubungannya dengan pernikahan dirinya itu? Ayahnya saja sampai pusing kepala, ketika dirinya menolak menikah dengan pangeran dari negara Agastias itu.


"maaf Nona. Aku juga masih belum tahu." ujar bapak Bou.


...****************...


Brum~


(suara mesin taksi melaju pergi)


"terima kasih bapak Bou, atas tumpangan gratisnya!" teriak Sanea.

__ADS_1


"makasih bapak." ucap Aria. Malas.


Taksi bapak Bou pergi menjauh, setelah Aria dan Sanea, beliau turunkan di pinggir trotoar. Tempat trotoar yang sama, ketika Aria datang disini mengunakan taksi saat malam hari. Dahulunya, dia masih memakai nama samaran Reana.


Trotoar di pinggir jalan, banyak dilalui orang-orang yang sedang melintas. Berbeda ketika malam hari. Entah apa yang sedang mereka nikmati di pinggiran trotoar ini. Cafe dan tempat makan saja, tidak ada yang buka di pinggiran trotoar kota Roanes.


"baiklah. Kita akan pergi kemana?" tanya Sanea.


"ikuti aku. Kita akan cari lubang selokan di kota ini." ujar Aria.


Aria melangkah memasuki gang yang ada di depannya. Sanea mengikutinya dari arah belakang. Kondisi gang yang mengarah ke tempat pasar malam yang dulu pernah Aria kunjungi, ternyata tidak seramai saat malam hari.


Di tempat pasar malam berada. Ketika siang hari. Banyak sekali warung-warung kecil yang sedang buka. Kursi-kursi dan meja ditata rapi di bagian sisi kiri dan kanan warung. Di kota Roanes, cafe dan tempat makan ternyata digantikan dengan warung-warung kecil ini.


Suasana di setiap warung tersebut, hampir persis dengan kondisi cafe dan tempat makan yang ada di kota Agantha. Ramai akan orang yang sedang duduk berbincang-bincang dan memesan sebuah makanan.


"kenapa kita ke selokan sih? Aria." tanya Sanea.


"katanya tempat pengab dan gelap. Selokan yang pernah aku temui ciri-cirinya seperti itu." jawab Aria.


Lubang selokan tempat Enn dan Vio kabur. Aria yakin, bahwa di dalam selokan itu ada sesuatu yang sedang mereka cari. Apalagi Enn dan Vio juga. Mereka berdua adalah monster Ghoul, pasti ada sebuah jejak yang sudah ditinggalkan oleh mereka berdua.


Di gang yang dulunya, Aria pernah bertarung dengan tiga teman Ayano. Keadaannya juga berbeda, ketika sedang malam hari. Ada dua warung kecil yang pinggiran jalan, padahal saat malam yang lalu. Gang disini tidak ada apapun, bahkan orang yang berlalu-lalang.


"itu dia, tutup selokannya!" ucap Aria sambil menunjuk lokasinya.


"oh~ oke." jawab Sanea. Dia memperhatikan hal lain. Tidak selokan yang Aria tunjuk.


Tidak jauh dari hadapan mereka berdua. Tutup selokan yang terbuat dari besi terlihat. Aria yakin, jika di lubang selokan itu. Vio dan Enn kabur masuk ke dalam sana. Kaca dari lampu tiang jalan juga masih pecah. Semua lampu tersebut belum diperbaiki.


"ada yang aneh dengan orang-orang itu." ujar Sanea.


"kau benar. Pakaian mereka juga sudah kuno bukannya." ujar Aria juga.


Aria dan Sanea menghiraukan firasat buruk mereka. Tutup besi lubang selokan, Aria buka. Bau menyengat dan udara pengab merambat keluar. Ancient Map yang Aria miliki, dia buka untuk melihat denah di dalam selokan ini.


Ancient Map yang Aria punya, pernah menunjukkan denah lokasi di gorong-gorong, ketika dirinya sedang menghindari air bah yang teraliri arus listrik.


"Sanea. Aku menemukannya!" ujar Aria.


"apa?" tanya Sanea.


Di Ancient Map. Ada titik berwarna kuning. Disana pasti ada Npc yang sedang menunggu. Di benak Aria dan Sanea sempat bertanya-tanya. Npc apa juga yang ada di tempat jorok seperti di dalam selokan ini?


"mau kemana? Nona." ucap seseorang.


Orang-orang yang tadi sedang duduk di dua warung tersebut, menghampiri Aria dan Sania. Mereka memakai armor yang besinya sudah menguning dan jubah kain yang sudah usang. Peralatan kuno yang pernah dipakai oleh petualang saat zaman dahulu.


"apa mau kalian?" tanya Sanea.


"sebaiknya, kalian jangan bermain dibawah sana! Tempat itu kotor!" ucap salahsatu dari mereka.


Aria melihat, ada cairan berwarna hitam yang menetes dari tangan mereka. Cairan hitam tersebut, mirip seperti cairan dari tangan Ghoul yang pernah dirinya lawan di mimpi.


"Sanea. Mereka bukan orang." ucap Aria.


...****************...

__ADS_1


Monster Ghoul yang pernah Aria temui di mimpinya. Mereka miliki ciri khas yang sama. Cakar di tangan yang terbuat dari gumpalan cairan berwarna hitam yang mengeras menjadi batu.


Ting~


(suara pisau daging menghantam tutup selokan)


Aria dan Sanea melompat ke arah samping. Aria ke kiri dan Sanea ke kanan. Pria penjaga salahsatu warung tersebut, dia melompat sambil menghantamkan pisau dagingnya. Beruntungnya, serangannya tadi hanya membuat penyok penutup besi selokan.


"sihir tanah! <>"


Penjaga warung satunya lagi. Dia mengarahkan tongkat sihirnya yang berasal dari sumpit pangsit untuk menyihir lubang selokan yang akan Aria dan Sanea masuki. Debu-debu dan batu krikik memadat dan menutupi tutup selokan itu hingga menjadi rata dengan jalan.


"mau buka tutup selokan aja. Udah dapat cobaan." ucap Aria.


"menjadi player lebih menantang bukan? Daripada menjadi petualang di Guild?" ucap Sanea.


Sepuluh orang laki-laki berotot menghadang mereka berdua. Aria bersiap dengan senjatanya, dia menarik kalungnya untuk mengubahnya menjadi sabit, sedangkan Sanea, dia sudah bersiap dengan membuka bungkus katananya.


"kami ditugaskan oleh para master untuk menghambat kalian. Orang-orang yang ingin menganggu event untuk para Ghoul." ujar pria yang memakai jubah lusuh.


Pria itu seorang Elf. Mukanya penuh dengan luka sayatan dan rambutnya berwarna putih. Telinga runcing bagian kirinya, hanya tersisah setengah. Senjata yang sedang dia pegang adalah pedang panjang.


Cahaya berwarna hijau terpancar dari kedua mata sepuluh pria itu. Cahaya mata yang sama seperti para Npc yang hidup bergelandangan di pinggiran untuk memberikan quest kepada para player.


"Sihir Support <>" ucap pria yang mengunakan sihir tanah tadi.


Debu-debu yang ada di jalanan. Semuanya beterbangan menjadi angin. Debu-debu itu berkumpul untuk melapisi senjata orang-orang tersebut. Orang yang memakai senjata sihir saja yang tidak diselimuti oleh debu di peralatannya.


Sing~


(suara desisan sabetan senjata dengan debu)


Tiga orang langsung menyerang ke arah Aria dan Sanea. Mereka mengayunkan senjatanya ke arah depan, meskipun jaraknya jauh, serangan itu bisa melesat menuju ke arah mereka berdua. Melihat ada tiga sabetan angin berdebu yang datang. Aria dan Sanea langsung menghindar.


Setelah serangan tadi. tujuh orang yang membawa senjata jarak dekat. Semuanya berlari menyerbu ke arah Sanea dan Aria, meninggalkan tiga orang di belakangnya yang sedang bersama-sama mengarahkan tongkat sihir ke arah depan.


"sihir support <>"


"sihir support <>"


"sihir support <>"


Tiga orang penyihir yang ada di belakang. Mereka memberikan sihir buff kepada tujuh orang yang ada di depannya. Senjata yang mereka pegang sampai mengeluarkan angin api. Otot-otot di tubuh mereka juga menegang.


Bum~ Bum~ Dar~


(suara ledakan api dan pecahan es di jalan)


Beberapa sihir bola api dan sihir balok es lancip terbang di angkasa. Sihir-sihir itu menghantam sepuluh orang yang ada di depan Aria dan Sanea. Sepuluh orang tersebut sampai hangus dan sebagian badannya hancur terkena serangan tadi.


"ini bukan sembarang sihir! Mana yang dipakai untuk sihir seperti ini harus banyak!" ujar Sanea.


Di belakang Aria dan Sanea. Tiga orang perempuan muncul. Mereka berjalan mendekat menuju ke arah mereka berdua. Orang yang berada di tengah dan memakai berseragam militer berwarna putih. Dia yang sudah mengeluarkan sihir tadi.


Tongkat sihir panjang yang dia pegang yang bersinar paling terang, meskipun dua orang wanita di sampingnya juga tongkat sihirnya bersinar. Tapi tongkat sihir dua wanita itu berukuran biasa, tidak seperti yang dimiliki wanita berseragam militer itu.


"oh~ ternyata dia." ucap Aria. Tidak kaget.

__ADS_1


"itu putri Airin Frainahunt bukan?" tanya Sanea. Menyakinkan.


Aria tidak kaget dengan sihir yang sudah putri Airin gunakan. Dia hanya terkejut, karena putri Airin bisa muncul di hadapannya. Apa yang sedang putri Airin lakukan di tempat seperti ini? Apa ada dirinya muncul karena ada sangkut-pautnya untuk Event ini?


__ADS_2