
"maaf Nona. Saya hanya bisa mengantar sampai sini saja." ucap pak Supir.
"tidak apa kok, pak. Ini ongkosnya." jawab Aria.
Aria berjalan memasuki gang yang mengarah ke tempat pembuangan sampah.
Tempat pembuangan sampah, kota Agantha tidak kotor. Tidak ada sampah yang berceceran di sekitar. Semua sampah telah dipilah dengan baik oleh para petugas. Seluruh sampah yang datang, dikumpulkan di satu tempat yang terletak di bagian paling belakang.
Penjual makanan juga ada di tempat ini. Mereka menjual dagangannya di sebuah warung kecil, untuk dijual kepada para pekerja. Walaupun mereka menjual makanan di dekat tempat sampah, orang yang mampir untuk makan disana selalu ada.
"sedang ngapain, Nona?" tanya seseorang.
Orang itu sedang duduk di meja warung, di bawah naungan pohon. Beliau seorang pria tua, jika dilihat dari kerut yang ada di wajahnya. Pria itu bersama dengan dua temannya, sedang menikmati secangkir kopi yang mereka beli, dari warung yang ada di sebelahnya.
Beliau mungkin penasaran. Melihat seorang gadis berpakaian mewah mengunjungi tempat seperti ini. Hanya gadis itu yang berpakaian berbeda dengan orang-orang yang sedang mondar-mandir di tempat ini.
"lubang selokan air, ada dimana yah pak?" jawabnya.
Teman pria tua itu membisik. Dia sepertinya tahu, alasan kenapa gadis itu ingin pergi ke tempat selokan air.
"mau mencari monster slime kah, Nona?" jawab beliau.
Aria mengangguk. Lebih baik minta izin terlebih dahulu sebelum mencari monsternya. Takutnya, dirinya akan dicurigai melakukan sesuatu. Pasti mencurigakan, ada seorang gadis mondar-mandir di gorong-gorong.
"benar pak. Mau menyelesaikan quest."
Beliau bertiga mengangguk paham. Kata "ouh." sampai terlihat di mulut mereka, meskipun tidak terdengar ucapannya.
"lurus saja, Nona. Disana banyak lubang selokan yang mengarah ke gorong-gorong." ucap beliau.
Aria paham. Pria tua itu menunjuk ke arah depan, jadi Aria tinggal berjalan lurus mengikuti arah jalan yang sudah di beton. Mungkin lokasi para monster slime berkumpul, ada di tempat yang beliau tunjuk.
Sedari tadi. Monster slime berwarna coklat yang terlihat, sejauh Aria memandang. Walaupun banyak pekerja di sekitar mereka, para slime itu tidak menunjukkan bahwa mereka berbahaya.
"terima kasih, bapak. Saya izin pamit." ucap Aria.
Beliau menjawab terima kasihnya, kemudian gadis itu pergi, menuju tempat yang sudah ditunjukkan kepadanya.
"aku jadi keingat keinginanmu, Fredo. Kau dulu ingin jadi petualang bukan?" ucap kakek Edr.
"waktu kita muda, siapa coba yang tidak penasaran dengan namanya petualang?" tambah kakek Syip.
"yah benar. Tapi semua sudah berubah." sahut kakek Fredo.
Mereka bertiga nostalgia akan masa lalu. Sewaktu muda, sebelum ditemukan teknologi seperti ini, semua orang ingin menjadi petualang. Berkelana jauh untuk mencari hal baru dan mencari uang.
Sejak teknologi diperkenalkan. Semua hal menjadi lebih mudah. Semua orang tidak perlu lagi bekerja, menjadi seorang petualang untuk mencari uang. Di kehidupan petualang, kadang ada situasi, dimana berbuat hal keji itu diharuskan.
"aku juga masih bingung. Kenapa masih ada aja anak muda zaman sekarang yang menjadi petualang, padahal risikonya sangat besar." ucap nenek Iyta. pemilik warung.
Nenek Iyta mengeluarkan unek-uneknya, setelah mendengar percakapan para pembeli setianya. Dia bingung. Pekerjaan berbahaya seperti berpetualang masih saja diminati, meskipun sudah banyak berita tentang kematian, dari orang-orang yang menjadi petualang tersebut.
...****************...
Tidak jauh dari pandangan Aria. Ada sebuah tumpukan sampah yang terlihat menggunung tinggi ke atas. Banyak sekali orang yang sedang membawa sebuah karung. Mereka mengambil sampah yang bisa di daur ulang untuk dijual.
__ADS_1
Monster slime berwarna coklat juga ada di sekitar mereka. Slime-slime itu memakan sampah yang kelihatannya kotor lalu memuntahkannya lagi. Sampah yang bisa membusuk saja yang mereka cerna.
"dimana sih, lubang selokannya?" batin Aria.
Dia malu, jika dilihat oleh orang-orang disini. Sedari tadi, banyak sekali orang memandang dirinya, sepertinya karena pakaian yang Aria gunakan, berbeda dengan orang di sekitarnya.
Karena kebingungan dengan lokasi lubang gorong-gorong. Aria melihat ada jalur lain yang dapat menuju ke tempat itu. Ada sebuah tangga yang mengarah ke bawah. Disana ada gorong-gorong dengan air jernihnya yang mengalir.
Kondisi gorong-gorong yang gelap, tapi tidak begitu pengap. Hanya dingin dengan suara gemericik air yang sedang mengalir. Aria mengunakan lampu senter yang dia bawa di tas kotak kecil, yang ada di belakang pinggulnya.
Tas itu terlihat kecil, tapi kapasitas tampungannya melebihi dari yang dilihat. Tas itu termasuk salahsatu aksesoris yang Irene bawa ketika sedang berpetualang, selain pita rambut senja kelabu, yang bisa membuat warna rambutnya berganti.
"apa yang harus dikumpulkan?" ucap Aria. Dia lupa.
Aria mengambil dokumen quest untuk melihat permintaan dari questnya, monster slime apa yang akan diambil lendirnya. Banyak monster slime yang tersorot lampu senternya, dengan berbagai macam warna.
Cara untuk mengambil lendir slime terbilang sangat mudah. Pakai benda yang tumpul, lalu pukul saja badan mereka. Bisa sampai hancur atau tidak. Terpenting, bagian bulat di tengah badan mereka hancur.
Slime yang sudah hancur bagian inti tengahnya, akan menjadi gumpalan jeli. Jeli ini yang akan diambil untuk diubah menjadi produk lain. Setiap slime yang memiliki warna berbeda, memiliki kegunaannya yang berbeda, jika dibuat menjadi sebuah produk.
"slime berwarna hijau, slime berwarna coklat saja yang harus aku ambil lendirnya. Pasti orang yang meminta quest ini sedang membuat obat untuk kulit." gumam Aria.
Lendir licin dari monster slime hijau, kebanyakan diolah menjadi obat oles dan pelumas mesin kendaraan. Lendir mereka yang licin, didapatkan dari menyerap lumut-lumut hijau, yang bentuknya seperti ingus orang, yang ada di sekitar dinding gorong-gorong.
Jeli dari slime coklat bisa digunakan untuk obat gatal. Slime coklat masih sejenis dengan slime kuning, tapi karena terlalu banyak menyerap kotoran, menjadikan warna jeli mereka menjadi lebih coklat. Ada zat aktif yang dapat dimanfaatkan untuk membersihkan sesuatu yang kotor dan infeksi kulit yang disebabkan oleh jamur.
"semoga aja tidak terjadi apa-apa nanti." ucap Aria.
Berbekal senternya. Aria menyusuri gorong-gorong ini. Beruntungnya, tidak sedang hujan saat ini. Hujan bisa membuat air di gorong-gorong menjadi meluap dan banjir.
...****************...
Terkadang Aria/Irene penasaran. Barang-barang seperti ini darimana orang tuanya bisa mendapatkannya. Ibunya memiliki gudang penyimpanan aksesoris yang memiliki kemampuan khusus.
Irene hanya mengambil ikat rambut berwarna putih dan tas pinggang. Kata ibunya, ikat rambut itu bernama sutra kelabu senja, bisa mengubah warna rambut seseorang yang memakainya untuk menyamar.
Tas pinggang itu, sepertinya tidak memiliki nama. Ibu Irene hanya mengatakan, bahwa tas ini bisa menyimpan lebih banyak barang daripada yang terlihat dari bentuknya. Bentuknya kecil, tapi isi dalamnya sangat luas.
"kenapa monster slime ini hanya ada di sekitar sini saja?" kata Aria.
Gorong-gorong kota Aganta, memiliki cabang jalur yang banyak. Pemerintah membuat gorong-gorong yang besar dan memiliki banyak cabang, untuk tempat pemasangan kabel listrik. Pemasangan itu bermaksud agar kabel tidak menumpuk di langit-langit kota.
Menurut firasat Aria, ada yang aneh. ada tempat gorong-gorong yang kosong dari monster slime. Setahu dirinya, semua tempat yang banyak makanan slime, pasti bakalan ada banyak sekali mereka, apalagi slime adalah monster berkoloni. Mereka tidak akan jauh-jauh dari kerumunan spesiesnya.
Buk~ Brak~
(suara sesuatu yang keras)
Sebuah suara misterius terdengar. Aria yakin, jika suara itu seperti suara benturan dinding yang keras. Tapi apa itu? Kenapa bisa menimbulkan bunyi seperti itu? Bahkan di tempat yang jarang dijamah oleh orang lain.
Bum~
(terdengar suara ledakan)
Aria semakin penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi? Ketika dia menyenter ke arah aliran air. Sebuah slime berwarna hitam yang sudah hancur, mengalir terbawa arus air gorong-gorong. Syoknya lagi, gumpalan slime hitam itu memiliki mata yang masih bergerak-gerak.
__ADS_1
"balik sajalah. Quest juga sudah selesai." ucap Aria.
Ketika dirinya akan berbalik badan lalu pergi. Ada sebuah pisau kecil yang terbawa arus air. Pisau kecil yang ukurannya tidak terlalu panjang itu hanyut, tapi tidak hanya satu, melainkan banyak. Sekitar sepuluh pisau yang Aria lihat.
Ting~ Bum~ Bruak~
(suara misterius itu masih terdengar)
Karena merasa pensaran, Aria berlari ke sumber suara itu. Dia merasa ada seseorang yang sedang membutuhkan bantuannya. Jika tidak, dia tinggal menjawab saja, bahwa dirinya hanya numpang lewat, untuk mencari lendir slime.
"aduh deh. Rasa penasaran ini menganggu banget." ujar Aria.
Dia berlari menghampiri sumber suara tersebut. Feelingnya berkata, jika suara itu berasal dari jalur gorong-gorong yang ada di depannya. Tidak lupa, Aria mengubah kalung di lehernya menjadi sabit untuk berjaga-jaga.
Buk~
(suara kepala Aria menantap sesuatu)
Jidatnya sakit sekali. Aria seperti menabrak dahi orang lain, dan benar saja. Ada seorang gadis yang terjatuh di depannya. Dia memakai pakaian kuno, wanita pada zaman dahulu. Baju lengan panjang berwarna biru, dengan rok panjang berwarna ungu.
"astaga. Kejadian seperti ini lagi." keluh Aria, sambil mengusap dahinya.
Kemarin malam, dia menabrak anak kecil, dan sekarang, dirinya menabrak anak gadis yang kelihatan seumurannya.
"aduh. Siapa sih ini?" keluh gadis itu juga.
Jika Aria berlari sambil menyenter jalan di depannya. Tidak mungkin dirinya akan mengalami kejadian seperti ini. Dia terlalu sibuk mengenggam senjatanya, sampai lupa mengunakan senternya.
"apa yang kau lakukan disini?" tanya Aria.
"terus. Kau sedang apa?" tanyanya balik.
Dari aliran air gorong-gorong. Bisa-bisanya ada orang yang membawa belati, muncul darisana. Dia melompat dari dalam air dan menyerang Aria dan gadis itu.
Untungnya. Aria dengan sabitnya bisa menghempaskannya, hingga menabrak ke dinding, lalu terjatuh ke air. Sepotong tangan, terlihat sedang terlempar di udara.
"apa maksudmu? Hah!" ucap Aria.
Pria itu berdiri dengan santai. Seolah-olah benturan keras yang tadi dialaminya, tidak berdampak apapun, meskipun tangan kanannya sudah putus, dan bercucuran darah.
"datang penganggu lagi." ucapnya.
Dia membenarkan rambut poninya yang basah dengan tangan kirinya, karena menutupi kedua matanya. Sorot matanya sedikit bercahaya merah, ketika pria itu melihat ke arah Aria, lalu cahaya itu, menghilang dengan perlahan.
Aria jadi teringat. Tatapan orang itu seperti tatapan orang-orang yang dia lihat di kota Roanes. Tapi orang ini, matanya bercahaya merah, bukan hijau.
"aku butuh bantuan. Lokasi akan aku kirim." ucap gadis yang Aria temui.
Dia berbicara dengan sebuah benda, yang dia ambil dari tas kecil di pahanya. Sebuah alat yang bisa berkomunikasi dengan orang dari jarak jauh.
"matanya bercahaya merah. Makhluk apa sih dia?" keluh Aria.
Gadis yang Aria temui, berpaling ke arahnya, setelah dia mendengar perkataan mata merah. Ekpresinya seperti tidak percaya, akan hal yang sudah dia dengar.
"tunggu. Kau juga seorang player?" ucapnya.
__ADS_1