LOVE IN REGRET

LOVE IN REGRET
Bab Sepuluh


__ADS_3

Hari-hari pun berganti, sudah beberapa hari ini Aditia kembali menjalani aktifitasnya seperti biasa, ia sudah mulai masuk ke tempat kerjanya, dimana ia berkerja di salah satu staf administrasi di perusahaan swasta yang cukup ternama di kota tersebut.


“Pelangi, Ayah berangkat kerja dulu ya, baik-baik ya sama Nenek,” ucap Aditia pada putri kecilnya itu yang kini berada dipangkuan sang Nenek.


“Iya ayah,” jawab sang Nenek, menirukan suara anak kecil, seakan-akan sang cuculah yang menjawabnya.


Aditia mendaratkan kecupan di kening putri kecilnya itu, lalu ia berpamitan pada Ibunya.


“Bu, aku berangkat dulu, maaf ya Bu, aku jadi ngerepotin Ibu, nanti Aditia akan mencari baby sitter untuk membantu menjaga Pelangi," ujarnya.


“Iya terserah kamu saja, Dit. Gimana baiknya, Ibu sih gak beratan kalau pun tanpa baby sitter juga, wong Pelangi cucu Ibu.”


“Iya benar, Dit. Kamu gak usah terburu-buru mencari Baby sitter, kamu harus cari dengan selektif orang yang mau kamu kerjakan jadi Baby sitter cucu kami," timpal Ayahnya—Irwan.


“Iya, Yah. Kalau begitu aku pamit.” Aditia menyalami kedua orang tuanya itu dengan takzim, setalah itu Aditia pun berlalu dari sana.


Akan tetapi baru saja Aditia keluar dari rumahnya, sebuah mobil terlihat berhenti di depan rumah Aditia.


Aditia sangat hafal siapa pemilik mobil tersebut, mobil itu adalah milik kedua mertuanya. Dan benar saja Mamah Reni dan Papa Reno terlihat keluar dari mobil tersebut.


Aditia pun langsung menghampiri mereka.


“Dit, kamu sudah mau berangkat?" sapa Papa Reno, semenjak Melati meninggalkan Papa Reno sikapnya memang tidak berubah pada Aditia, berbeda dengan sang Mamah Mertua, yang terlihat jelas masih sangat kecewa pada Aditia, namun Aditia tidak masalah, ia mengerti kekecewaan sang Mamah Mertuanya itu. Intinya Aditia cukup sadar diri, walau pun ia sangat merindukan sikap Mamah Reni, yang sangat humble padanya pada saat Melati masih ada.

__ADS_1


“Iya, Pah," jawab Aditia, lalu ia menyalami Papa Reno, akan tetapi saat ia akan menyalami Mamah Reni, mertuanya itu sama sekali tidak menerima uluran tangan dari menantu itu. Alhasil Aditia pun kembali menarik tangannya.


“Pa, Mamah kedalam duluan," ucapnya ketus, lalu ia berlalu masuk ke dalam rumah tersebut.


Kedua orang tua Aditia terlihat sangat ramah menyambut kedatangan besannya itu, hubungan mereka pun baik-baik saja, sikap Mamah Reni pada kedua orang tua Aditia sama sekali tidak berubah.


Kedatangan mereka kemari untuk bertemu dengan sang Cucu—Pelangi. Memang kedua mertuanya Aditia itu selalu berkunjung tiga kali dalam seminggu, sebenernya mereka ingin sekali membawa Pelangi untuk tinggal bersama mereka, tapi Aditia tidak mengizinkannya, boleh nanti jika Pelangi sudah agak besar, menginap bersama nenek dan kakeknya dari Melati, tapi untuk tinggal bersama mereka, sampai kapan pun Aditia tidak akan memberikannya.


Pelangi adalah segalanya, apa pun kondisinya, Aditia tidak akan memberikan hak asuh Pelangi pada kedua mertuanya. Mereka sudah membicarakan hal ini, dan terpaksa kedua mertuanya pun mengurungkan niatnya itu, karena memang walaupun di bawa ke pengadilan Aditia tetap menang, hak asuh Pelangi pasti akan jatuh pada Ayah biologisnya.


“Maafkan Mamah kamu, Dit, mungkin dia masih merasa kecewa sama kamu, tapi Papa akan berusaha mencoba menasihatinya,” ujar Papa Reno, merasa tidak enak dengan Aditia.


“Tidak apa-apa Pa, Aditia mengerti. Emm ... kalau begitu Aditia berangkat ya Pa, sudah siang,” pamitnya.


“Iya hati-hati,” ucap Papa Reno.


Ya selama hidup bersama dengan Melati, kedua orang tua mereka masing-masing memang tidak pernah merasa curiga pada Aditia. Pernikahan anak mereka itu terlihat seperti normal-normal saja.


Kerena sejak awal memang sikap Aditia sangat baik pada Melati, begitu pun sebaliknya, mereka memang terikat oleh pernikahan, akan saat itu Aditia sama sekali tidak mencintai istrinya. Tapi, berbeda dengan Melati, sikap baik dan perhatian Aditia usai menikah, membuat perlahan Melati mencintai sosok pria yang menjadi suaminya itu.


Hanya saja sikap Aditia memang berubah, selama Melati dinyatakan hamil, sebenernya saat itu Aditia sendiri merasa bahagia kerena akan menjadi seorang Ayah, tapi ego kembali menutupi itu semua.


Terlebih saat itu Siska kembali hadir di kehidupan Aditia, terlalu terobsesi dengan wanita yang jelas-jelas sudah membuat dirinya kecewa itu, hingga tak sadar Aditia melukai hati Melati, menyiksa batin istrinya itu perlahan-lahan.

__ADS_1


Sekitar 30 menit kemudian, akhirnya Aditia pun sampai di kantornya, langkah Aditia terhenti saat melihat seorang wanita yang sepertinya menunggu kedatangannya, wanita itu terlihat berjalan menghampiri Aditia.


Aditia menatap wanita itu dengan tatap kesal dan benci, sementara sang wanita terlihat tersenyum sambil terus berjalan menghampirinya. Ya, wanita itu adalah Siska, wanita yang sudah membuatnya hilang akal, bahkan merasakan kini merasakan penyesalan yang teramat dalam pada mendiang istrinya—Melati.


“Mau apa kamu ke sini?” tanya Aditia pada Siksa, wajahnya menampakkan ketidak sukaannya pada wanita itu.


“Kok tanya gitu? Mau ketemu kamulah Sayang, sudah beberapa Minggu ini kamu gak ada kabar loh, bahkan kamu tidak bisa dihubungi, apa kamu memblokir nomer ponsel aku?” Siska menatap Aditia kesal, padahal kedatangannya menemui Aditia, ia merasa rindu pada pria itu, karena memang semenjak Siska mendapatkan kabar jika istrinya Aditia, Melati meninggal dunia.


Tapi Siska berusaha untuk sabar, ia terpaksa menahan kerinduan pada pria yang sangat dicintainya itu, kerena keluarga dari Aditia pasti lagi berduka, ia juga tidak mau dicurigai oleh orang-orang, jika selama ini dia dan Aditia diam-diam menjalin hubungan kembali.


“Ye baner, sebaiknya kita akhir semua ini Sis, aku menyesal, Melati sudah menjadi korban keegoisan kita!” tegas Aditia.


“Apa maksud kamu? Keegoisan kita bagaimana maksudnya? Jadi kamu berpikir jika istrimu meninggal gara-gara kita gitu? Aditia dengar! Melati meninggal ya sudah takdirnya, jangan merasa bersalah, toh bukannya itu bagus, jadi kita bisa bersama-sama lagi secara leluasa, tidak sembunyi-sembunyi, kita juga bisa menikah, seperti impian kita dulu,” paparnya.


“Lupakan mimpi itu Siska, aku sudah tidak bermimpi lagi menikah dengan kamu, aku menyesal sudah menjalin kembali hubungan dengan kamu. Andai saja dulu aku tidak menerima kamu lagi, mungkin saat ini aku masih bahagia bersama Melati, istriku masih berada bersamaku dan membesarkan buah hati kita!”


“Tunggu! jangan bilang kamu mencintai Melati, Aditia?” Siska menatap Aditia penuh selidik.


“Ya benar, kau memang benar, aku memang mencintai istriku, bahkan sejak dulu, tapi aku dibutakan oleh rasa obsesiku padamu!”


“Come on Aditia! Melati sudah mati!”


Plak!

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like, komen dan votenya ya, terima kasih.


__ADS_2