LOVE IN REGRET

LOVE IN REGRET
Bab Dua Puluh


__ADS_3

Sontak Mentari pun mengehentikan langkahnya, ah sial jangan sampai Aditia tahu. bisa gagal semua rencananya.


'Tuhan selamat aku, jangan sampai dia curiga!’ batin Mentari.


“I-iya, kenapa Pak?” sahutnya, ia mencoba bersikap tenang dan biasa saja.


“Kamu mau kemana? Apa dokumennya sudah kamu berikan?”


Aditia menatap lekat Mentari, entah mengapa


ia merasa ada aneh dengan sikap pengasuh putrinya itu.


“A-anu, emm ... anu ini Pak saya mau lihat Pelangi, takutnya bangun,” dusta Mentari.


Aditia terlihat menganggukkan kepalanya, Mentari mereka lega saat Tristan sudah kembali fokus dengan leptopnya.


Dangan cepat Mentari pun kembali melanjutkan langkahnya. Sesampainya di kamar, Mentari menyimpan dokumen tersebut lemari pakaian, tepatnya ia menyembunyikan dokumen tersebut di bawah tumpukan bajunya.


Setalah itu Mentari menghampiri Pelangi yang kini masih terlelap dalam tidurnya. Mentari menatap lakat keponakannya itu dengan mata yang sudah mengeluarkan air matanya.


“Pelangi, maafkan bibinya, Nak. Bibi gak bermaksud untuk memisahkan kamu dan Ayah kamu nantinya. Semoga suatu hari nanti, kelak jika mau sudah dewasa, kamu pasti akan mendapatkan jawabannya sendiri,” gumam Mentari.


*


*

__ADS_1


*


Sementara itu sebuah mobil terlihat berhenti di depan rumah milik Aditia tersebut.


Seorang wanita yang memakai pakaian kurang bahan, terlihat keluar dari mobil tersebut


Wanita itu berjalan mendekati pintu rumah tersebut. Menekan tombol bell yang ada di dekat pintu tersebut.


Aditia yang tengah fokus pada leptopnya itu seketika konsentrasinya buyar.


“Siapa sih yang bertamu di siang bolong seperti ini?!” gerutu Aditia sambil berjalan mendekati pintu rumahnya itu.


Ceklek!


“Hay Dit, boleh aku masuk?” sapa wanita tersebut pada Aditia, dengan ramah.


“Mau apa lagi kamu ke sini? Bukankah sudah aku bilang, jangan pernah tunjukan wajahmu dihadapanku lagi!” jawab Aditia sinis.


“Dit, aku datang ke sini dengan niat yang baik, aku ingin meminta maaf sama kamu. Aku tahu aku salah, tidak seharusnya waktu itu aku berbicara seperti itu. Tolong maafkan aku, Dit. Mari kita mulai semuanya dari nol,” jelas Siska sambil memohon, menangkubkan kedua tangannya di depan dada.


Lagi-lagi Aditia tersenyum sinis, ya memang ini bukan yang pertama kalinya Siska datang ke rumahnya meminta maaf, bahkan sudah berulang kali.


Tapi sayangnya, hati Aditia tidak tergugah sama sekali dengan permohonan tersebut.


Dalam lubuk hatinya yang paling dalam Aditia merasa kasian pada mantan calon istrinya itu.

__ADS_1


“Baiklah, aku maafkan kamu,” ucap Aditia.


“Benarkah?!” seru Siska penuh dengan semangat.


Aditia menganggukkan kepalanya pelan, sebagai jawaban.


“Terima kasih," seru Siska girang, ia terlihat ingin menghamburkan memeluk Aditia, namun Aditia dengan capat menghindari pelukan sang mantan tersebut.


Dan lagi, Aditia kembali mengangguk kepalanya sebagai jawaban.


“Jadi kamu udah gak marah lagikan sama aku, kita bisa kembali seperti dulu lagi kan, Aditia?” tanyanya.


“Aku memang sudah memaafkan kamu, kerena aku ingin membebaskan semaunya. Tapi, maaf kita tidak bisa seperti dulu lagi, Sis!” tegas Aditia.


Wajah girang Siska meredup seketika saat mendengar ucapan yang terlontar dari Aditia, jelas sangat terlihat jika wanita itu kini merasa kecewa.


“Mak-maksud kamu, apa Dit?” tanyanya Siksa terbata-bata.


“Aku rasa aku tidak perlu menjelaskannya, bukan? Lebih baik kamu pergi Siksa, aku sibuk," usir Aditia secara halus.


“Tidak, aku tidak akan pergi sebelum kamu menjelaskan semuanya! Kenapa Aditia, kenapa?” teriak Siksa.


“Secepat itukah kamu melupakan aku, Dit?" sambungnya, suaranya kini terdengar lirih.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2