LOVE IN REGRET

LOVE IN REGRET
Bab Tiga Puluh


__ADS_3

“Ibu tidak seharusnya menuduh anak saya seperti itu, saya tahu apa yang sudah anak saya lakukan memang salah. Tapi, saya kenal betul siapa Mentari, dia tidak mungkin sampai membahayakan nyawanya orang lain. Mentari tidak sekejam Aditia, anak ibu, yang sudah membuat anak saya Melati meninggal!” bentak Mamahnya Mentari, tentu saja ia tidak terima dengan tuduhan besannya itu.


“Sudah cukup! Situasi lagi genting gini, kalian malah bertengkar, apa tidak malu hah? Ingat ini rumah sakit, jangan membuat ulah!” pungkas Ayahnya Aditia.


“Keluarga Pasien?” Tiba-tiba saja Dokter yang menangani Aditia keluar dari ruangan UGD tersebut.


“Saya orang tuanya, Dok. Bagaimana kondisi anak saya?” Ibunya Aditia langsung menghampiri Dokter tersebut.


“Mohon maaf, kami sudah melakukan semaksimal mungkin, namun Tuhan berkehendak lain, Bapak Aditia tidak bisa di selamatkan, benturan di kepala sangat kuat, membuat pembulu darahnya pecah,” jelas sang Dokter, menyampaikan kabar buruk tersebut.


Tidak ada kata-kata yang terlontar dari mereka, Ibunya Aditia terlihat langsung tidak sadarkan diri. Sementara Mentari ia menangis sambil memeluk erat Pelangi.


Mamahnya Mentari juga ikut menangis.


Mereka benar-benar tidak menyangka jika Aditia akan pergi secepat ini.


Jenazah Aditia pun langsung di bawa pulang oleh orang tuanya, Mentari dan Mamahnya pun ikut. Tangisan Pelangi terus mengiri perjalan pulang mereka itu, seperti bayi itu merasakan apa yang sedang mereka rasakan.


Anak yang malang, di usianya baru beberapa bulan harus kehilangan kedua orang tuanya.


Terbesit juga rasa penyesalan pada hati Mentari, karena sudah membuat kecewa Ayah dari bayi malang itu.


Andai saja Mentari tahu, jika Aditia akan pergi. Namun nasi sudah menjadi bubur.


‘Maafkan aku,’ batin Mentari.


Ia menyesal sudah membuat rencana balas dendam, dan membuat Aditia jatuh hati padanya, tapi yang ia berikan malah perkataan tajam, yang pastinya sangat menusuk di relung hati pria yang sudah terbujur kaku itu.

__ADS_1


Jika bertanya apakah ada rasa cinta dihati Mentari untuk Aditia? Jawabnya tidak! Ia sama sekali tidak punya rasa apa-apa.


Pemakaman Aditia pun langsung di langsungkan, Ibunya kembali menangis histeris dan beberapa kali juga tak sadarkan diri saat Aditia di masukan ke liang lahat, Aditia dikuburkan tepat di samping makan istrinya—Melati.


*


*


*


Dua hari berlalu ....


Mentari masih berada di rumah Aditia begitu juga dengan kedua orang tuanya. Semalam mereka semua sudah damai, berbicara secara hati kehati, tentang semua yang terjadi. Mereka semua berusaha ikhlas. Yakin jika semua ini rencana Tuhan.


Tidak ada gunanya saling menyalahkan, karena jodoh, rezeki, kematian itu semua rencana Tuhan. Mereka hanya berdoa semoga Aditia di sana tenang dan bahagia. Aditia sudah bertemu dengan Melati.


Walaupun masih dibaluti kesedihan yang mendalam, namun mereka tidak mau berlebihan, masih ada Pelangi yang butuh perhatian mereka semua.


“Selamat siang.” Tiba-tiba saja dua orang Polisi datang ke rumah tersebut.


“Selamat siang, Pak,” sahut mereka serentak, lalu mempersilahkan kedua polisi itu masuk.


“Maaf menganggu waktunya, kami kesini ingin menyampaikan kabar tentang khasus kecelakaan yang menimpa mendiang Pak Aditia,” ucap salah satu Polisi tersebut.


“Kami sudah mendapatkan siapa pelaku yang sebenernya, dua orang yang terekam oleh CCTV itu sudah kami dapatkan, dan mereka pun sudah mengakui perbuatannya, mereka di suruh oleh wanita yang bernama Siska,” sambung Polisi tersebut.


Sontak mereka pun langsung membulatkan matanya, bener-bener merasa terkejut dan tak percaya, ternyata dalang dari semua ini adalah Siska.

__ADS_1


“Apakah kalian mengenal Bu Siska?” tanyanya.


“Tentu saja Pak, kami sangat mengenalnya. Dia mantan kekasihnya mendiang anak saya,” jawab Ibunya Aditia.


“Baiklah, kami masih mencari motif dari semua ini, kami akan mengabari jika ada informasi lagi.”


“Baik Pak, terima kasih.”


“Kami permisi.”


Kedua polisi itu pun berlalu meninggalkan tempat tersebut.


“Ibu benar-benar tidak menyangka, kalau yang melakukan semua ini adalah Siska, kenapa dia tega sekali,” lirih wanita itu.


“Sabar, Bu. Biarkan pihak yang berwajib yang mengurus semuanya, kita serahkan saja. Kita doakan saja Aditia semoga tenang di sana,” ujar suaminya.


“Sepertinya mereka memang sudah bahagia di sana, Pak, Bu, semalam aku bermimpi, melihat Kak Mentari dan Kak Aditia bergandengan tangan, mereka menatap Pelangi yang sedang terlelap di sampingku. Aku melihat senyuman di wajah mereka sangat cerah. Mimpi itu seperti nyata,” ucap Mentari.


Semua orang terlihat tersenyum mendengar cerita wanita itu.


“Maafkan Ibu ya, Mentari, Ibu pernah menuduh kamu,” ucapnya.


“Tidak apa-apa Bu, tidak perlu minta maaf. Wajar jika Ibu berprasangka seperti itu, justru aku yang minta maaf, aku sudah melakukan hal yang tak seharusnya aku lakukan,” sahutnya dengan mata berkaca-kaca.


“Sudah yang lalu biarlah berlalu, kita semua petik hikmahnya saja. Selalu ada hikmah dibalik musibah. Semoga kita semua bisa selalu kompak, masih ada Pelangi yang membutuhkan kasih dan sayang kita semua,” pungkas Pak Reno, Ayahnya Aditia.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2