LOVE IN REGRET

LOVE IN REGRET
Bab Dua Belas


__ADS_3

Hari demi hari pun berlalu, Aditia sudah kembali lebih baik dari sebelumnya, apa lagi kehadiran Pelangi yang selalu membuat ketentraman dalam hatinya.


Hari ini kebetulan hari weekend, jadi Aditia ada di rumah dan tengah menggendongnya putri kecilnya itu.


“Oh iya, bukannya kamu sudah menghubungi salah satu yayasan untuk menyalurkan baby sitter untuk Pelangi? Gimana ada yang cocok belum?” cerca sang Ibu.


“Udah Mah, katanya baby sitter itu akan datang besok atau lusa,” jawab Aditia apa adanya.


Lalu mereka pun kembali berbincang hangat di ruangan televisi tersebut sambil mengasuh Pelangi.


*


*


*


Sementara itu seorang wanita terlihat baru saja turun dari taksi, taksi itu berhenti di sebuah rumah yang cukup mewah.


“Terima kasih, Pak, ambil saja kembaliannya,” ucap wanita tersebut seraya memberikan tiga lembar uang berwarna merah pada sopir taksi itu.


“Wah, terima kasih, Mbak. Tapi ini banyak sekali,” ucapnya, ia nampak ragu untuk mengambil, ongkosnya hanya seratus lima puluh ribu, dan wanita itu memberinya dua kali lipat.


“Ambil saja, Pak.”

__ADS_1


“Sekali lagi terima kasih, ya Mbak, semoga rezeki Mbak, terganti berkali-kali lipat.”


“Amin," sahutnya.


Setalah itu mobil taksi tersebut pun kembali melaju, meninggalkan wanita tersebut.


Wanita itu terdiam sejenak, matanya menatap rumah berlantai dua yang ada di hadapannya itu.


“Rumahnya sangat bagus, bersih, apakah di dalam rumah sama seperti halnya di luar? Ck, aku rasa tidak mungkin, okelah, selamat datang di neraka!” ucap ya sinis lalu ia berjalan mendekati pintu utama rumah tersebut.


Ia pun menekan tombol bell rumah tersebut, satu kali menekannya, akan tetapi tidak ada sahutan dari dalam sana, lalu ia kembali menekan tombol bell itu lagi.


Hingga beberapa saat kemudian terdengar samar-samar seseorang yang menyahut, dengan berucap ‘sebentar’.


Dan, Ceklek!


Pintu rumah tersebut terbuka, terlihat seorang wanita parubaya yang membukakan pintunya.


“Selamat siang,” ucapnya menampakan senyuman lebar dan manis yang memperlihatkan gigi putih dan rapinya.


“Selamat si ... ” Wanita parubaya itu terkejut bukan main, bahkan ia tak menggantungkan ucapannya. Wanita parubaya tersebut adalah Ibu Eva—Mamahnya Aditia.


Ibu Eva menatap wanita yang berpenampilan sangat rapi itu dengan lakat, atasan model kemeja berwarna putih terlihat melekat di tubuhnya, serta celana berwarna senada terlihat melekat di tubuhnya bagian bawahnya itu, menampakkan lekuk tubuh yang sangat Indah.

__ADS_1


“Perkenalkan naman saya Mentari, saya di tugaskan dari yayasan kasih bunda untuk datang ke sini,” ujarnya dengan ramah.


Akan tetapi Bu Eva sama sekali tidak menyahutnya, ia masih fokus menatap wanita yang bermana Mentari itu, memperhatikan penampilannya dari atas sampai kebawah.


Bu Eva benar-benar terkejut, bagaimana bisa ia melihat wanita yang kini berdiri dihadapannya itu sangat mirip sekali dengan Melati, siapa wanita itu? Apakah hanya sebatas kebetulan saja.


Aditia yang masih duduk di sofa ruang televisi ia merasa penasaran, siapa yang datang? Kenapa Ibunya lama sekali?


Aditia pun beranjak dari sofa tersebut, lalu ia berjalan ke depan, untuk melihat apa yang terjadi.


Deg!


Aditia tertegun dan terkejut saat wanita yang kini tengah berdiri di hadapannya sang Ibu.


Apakah Aditia sedang bermimpi?


Apakah Aditia sedang berhalusinasi, kerena merasa sangat rindu pada mendiang istrinya—Melati, sampai-sampai Aditia melihat wanita itu seperti Melati.


Mana mungkin Melati kembali, bahkan ia melihat dengan mata kepala sendiri, kalau jasad mendiang istrinya—Melati sudah pergi.


“Selamat siang, Pak," sapa wanita yang bernama Mentari tersebut dengan ramah.


“Me-me-melati,” gumam Aditia sampai terbata-bata.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2