
“Jaga bicara kamu Siska!” bentak Aditia.
Ia sudah tidak bisa lagi menahan emosi dalam jiwanya, sehingga ia refleks mendarat tamparan di pipi wanita yang ada dihapannya itu.
“Kamu jahat Aditia, kamu tega menampar aku, hanya demi dia yang sudah tidak ada. Selama ini yang selalu menemani kamu siapa Aditia? Siapa? Aku, aku yang selalu menjadi tempat keluh kesal kamu, bahkan saat istrimu masih ada di dunia ini, dan kamu kini bersikap kasar seperti ini sama aku, kamu benar-benar tidak punya hati nurani Aditia!”
“Iya benar, apa yang kamu katakan benar, aku tidak punya hati! Tapi sekarang aku sadar, jika kamu bukanlah yang terbaik untuk aku Siska, aku pikir setalah semuanya yang terjadi aku akan behagia jika bersama kamu kembali, ternyata aku salah, kerena aku tidak menggunakan hatiku, aku menggunakan logika ku, sehingga hatiku gelap tidak berpikir ulang, jelas-jelas kau dulu sudah menyakiti aku, bahkan Melati yang menjadi korban, kerena kamu tidak hadir di pernikahan kita dulu!” papar Aditia.
“Bukankah sudah berulang kali aku jelaskan, jika aku punya alasan, kenapa aku melakukan hal itu. Aku benar-benar kecewa sama kamu Aditia, kamu tega!”
Setalah berkata seperti itu, Siska langsung berlalu dari hadapan Aditia.
Aditia terlihat menyugar rambutnya dengan kasar, terlihat sekali jika ia sangat frustasi.
“Aaaa.... kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa? Maafkan aku Siska aku tidak bermaksud menyakiti kamu, tapi aku ingin menyudahi semuanya, sudah cukup salama ini aku melakukan sebuah dosa denganmu, hingga Melati-ku pergi dengan sejuta luka yang aku goreskan di hatinya,” gumam Aditia.
__ADS_1
Ia memang tidak bermaksud untuk bersikap kasar pada Siska, akan tetapi Siska seperti terus-menerus memancing emosinya, sehingga Aditia pun kelepasan menampar wanita itu, ada rasa sesal yang menghinggapi hatinya. Tapi, bukankah itu semua pantas Siska terima, kerena wanita itu seakan merasa puas dan bahagia atas meninggalnya Melati.
Aditia pun kembali melanjutkan langkahnya, ia masuki kantor tempatnya ia berkerja itu.
“Kenapa Lo terlihat sangat lesu sekali, Dit?" tanya Arif, dia adalah salah satu teman kerjanya Aditia.
“Tidak apa-apa," jawab Aditia lemas.
“Pasti Lo kurang tidur ya? Gadang ngurusin Pelangi?” tanya Arif lagi.
“Kenapa kamu gak nyari Baby sitter aja sih, Gue kan udah bilang dari kemarin, mending cari baby sitter biar Lo gak kaya gini terus, itu sih saran Gue ya. Gue aja yang punya bini pake Baby sitter buat bantu ngurus anak, lah apa kabar Lo yang sendirian, gak bayang deh!”
“Iya ini juga rencananya Gue mau cari Baby sitter, kasian juga orang tua Geu terus mengurusin cucunya, mereka udah tua, harusnya menikmati hari tuanya, eh ini malah di buat ribet sama Gue, ngerasa berdosa benget, sumpah!” keluh Aditia.
“Ya udah makanya cepat cari baby sitter,” titah Arif.
__ADS_1
“Eh, Lo punya kenalan semodel yayasan yang suka nyalurin Baby sitter gak? Tapi yang profesional dan pastinya bisa dipercaya,” tanya Aditia.
“Kalau ini sih Gue gak tahu, nanti Gue tanyain deh sama Bini Gue," jawab Arif.
“Okelah, kabarin Gue aja, kalau bisa secepatnya, thanks sebelumnya.”
***
Sementara itu, seorang wanita terlihat berjongkok di salah satu makam, wanita cantik itu terlihat menangis terisak sambil mengelus batu nisan yang bertuliskan nama sang pemilik makam tersebut.
“Semuanya belum berakhir, mari kita belas mereka yang sudah berkhianat!” sorot mata yang tadinya sendu, kini terlihat tajam.
Sorot mata itu menyiratkan sebuah amarah dan dendam.
Bersambung...
__ADS_1
Waah, kira-kira siapa ya wanita itu?