LOVE IN REGRET

LOVE IN REGRET
Bab Dua Puluh Delapan


__ADS_3

“Mentari, Papa mau bicara sama kamu!” ucap Papanya, suaranya terdengar sangat tidak bersahabat.


“Dan sama kamu juga Mah,” sambungannya.


Anak dan istrinya itu pun mengikuti langkah pria yang bergelar sebagai kepala keluarga tersebut. Mereka duduk di sofa yang ada di ruang tengah.


“Papa benar-benar kecewa sama kamu Mentari, dan kamu juga Mah, apa kamu sudah mengetahui ini semua sejak awal?” tanyanya.


“Maaf, Pa. Mamah sejak awal sudah memperingatkan Mentari, tau sendirikan dia gimana," sahut istrinya.


“Udah Pa, jangan salahin Mamah, benar kok kata Mamah, aku sudah diingatkan sama Mamah. Tapi aku memang tidak mendengarkan Mamah, jadi kalau Papa mau marah, silahkan marah saja aku, jangan bawa-bawa Mamah,” timpal Mentari.


“Mentari, Papa paham yang kamu rasakan. Tapi tidak seharusnya kamu melakukan semua ini sama Aditia. Kamu ingin membalas perlakuan Aditia terhadap mendiang Kakak kamu, apa kamu tidak berpikir? Kamu sama kejamnya sama dia?”


“Papa kok malah belain Aditia sih? Aku ngelakuin semua ini demi keluarga ini. Aku tidak seperti Papa yang terlihat tidak sama sekali kehilangan saat Kakak pergi selama-lamanya!”


“Mentari jaga ucapanmu!” bentak Papanya sambil menatap tajam kearah putri bungsunya itu.

__ADS_1


“Memang benarkan itu kenyataannya? Papa hanya diam saat Kak Melati meninggalkan kita semua.”


“Mentari jangan berkata seperti itu, Nak. Hormati Papa kamu,” pungkas Mamahnya.


“Lalu Papa harus bagaimana hah? Papa harus membunuh Aditia begitu hah? Dengar Mentari, kamu pikir Papa tidak sakit, tidak sedih saat kakak kamu meninggal hah? Hancur, hati Papa hancur Mentari, tapi Papa harus bagaimana? Andai saja membunuh Aditia tidak haram, tidak dilarang, Papa akan melakukannya! Tapi, Papa masih waras! Apakah jika Papa melakukan semua itu akan membuat Kakak kamu kembali sama kita hah? Akan membuat Kakak kamu hidup kembali hah?” papar sang Papa, sejak dulu memang ia yang terlihat bersikap biasa saja saat Melati meninggal pun, terlihat acuh. Padahal tidak seperti, nyatanya ia sangat hancur, tidak ada seorang Ayah yang tidak merasakan kehilangan saat anaknya pergi.


Tapi selama ini ia berusaha tegas, berusaha ikhlas, ia sebagai kepala rumah tangga tidak mau terlihat lemah. Kerena dalam hal apapun harus seusai dengan porsinya.


Mencintai sewajarnya, menyayangi sewajarnya, bahagia sewajarnya, bersedih pun sewajarnya. Apa pun yang berlebih itu tidak baik, Tuhan saja sudah mengatur semuanya, ada siang ada malam, ada air ada api, ada langit dan bumi, untuk mengimbangi semuanya.


Mentari langsung terdiam, ternyata selama ini ia beranggapan salah terhadap sang Papa.


“Jangan minta maaf pada Papa, minta maaflah pada Aditia! Berikan lagi Pelangi padanya, dia Ayah kandungnya, seburuk apa pun Aditia, dia tetap Ayah kandung Pelangi, dia yang berhak atas Pelangi.”


“Tapi, Pa ...”


“Terserah keputusan ada ditangan kamu Mentari, jangan sampai kamu menyesali semuanya. Kita tidak berhak melakukan balas dendam, ingat Tuhan menciptakan surga dan neraka itu untuk apa? Biar Tuhan yang menghakimi setiap umatnya, atas perbuatan baik dan buruknya!”

__ADS_1


Setalah berkata seperti itu, Papanya pun berlalu dari sana.


“Mah, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Mentari pada sang Mamah.


“Kamu pasti tahu jawabannya sendiri Tari, apa yang dikatakan Papamu benar,” jawab Mamahnya. Mamahnya pun berlalu dari sana.


“Baiklah, seperti aku harus minta maaf,” gumamnya.


Tiba-tiba saja ponsel Manteri berdering. Nama Ibunya Aditia terlihat terpang-pang di layar ponselnya itu.


“Apa mungkin Aditia sudah menceritakan semuanya?” gumamnya. Ia pun mengangkat telepon tersebut.


“Hallo ... ”


“ .....”


“Apa, baik Bu, saya segara kesana.”

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2