
“Aku patah Aditia, aku sakit saat mendengar kabar jika kamu sudah menikah. Berulang kali aku mencoba melupakan kamu, berulang kali aku mencoba menghilangkan rasa cinta ini untuk kamu, tapi nyatanya? Tidak! tidak semudah itu, semakin aku mencoba melupakan semuanya semakin sakit, aku mencintai kamu Aditia,” lanjut Siksa.
Wanita itu langsung memeluk Aditia, menangis terisak dipeluknya, Aditia yang merasa tidak tega pun akhirnya membalas pelukan Siska.
Setalah mengetahui semuanya, ternyata Siska tidak seburuk yang Aditia kira, dia terpaksa membatalkan semuanya, atas keinginan orang tuanya. Bukankah itu tidak masalah, seorang anak memang akan ada diposisi yang sulit saat pikirannya tidak sejalan dengan orang tuanya.
Tapi Aditia teringat kepada istrinya di rumah, Melati sedang hamil, saat ini.
Kenapa Melati harus hamil? Jika saja Melati tidak hamil, ia akan segara menceraikannya, lalu kembali bersama Siksa, hidupnya pasti akan bahagia.
“Maaf, Sis, tapi yang kamu katakan itu benar. Aku sudah menikah, kita tidak bisa seperti dulu lagi,” ucap Aditia. Terpaksa ia berkata seperti itu.
“Memangnya kenapa kalau kamu sudah menikah? Apa kerana istri kamu lagi hamil? Aditia dengar, aku sangat mencintai kamu, aku tahu kamu pasti sangat mencintai aku jugakan, aku akan menunggu sampai kamu berpisah dengan istri kamu itu, sampai istri kamu melahirkan anak itu.”
“Tidak, Siksa, lebih baik kamu cari saja pria yang lajang, kamu masih muda, cantik, pasti banyak yang mau sama kamu,” keukeh Aditia. Ia menolak akan hal itu.
__ADS_1
Bukan apa-apa kerena Aditia sudah berjanji pada dirinya sendiri, jika mulai saat ini ia akan mencoba membuka hatinya untuk Melati—sang istri.
Setalah itu Aditia pun langsung masuk ke dalam mobilnya, lalu melaju mobilnya tersebut.
Akan tetapi setalah kejadian tersebut, justru Siksa lebih sering menemui Aditia, wanita itu terus memohon pada Aditia, sehingga akhirnya Aditia pun luluh, Aditia goyah akan pendiriannya, bahkan ia melupakan janjinya pada Melati.
Hubungan Siska dan Aditia pun kembali membaik, namun mereka berdua bersepakat untuk menyembunyikan terlebih dahulu hubungan mereka itu.
Aditia yang meminta, semua itu demi kebaikan mereka berdua, dan jika nantinya Aditia dan Melati berpisah, Siska tidak ikut disalahkan dan terbawa-bawa dengan masalahnya.
Semakin hari hubungan mereka semakin hangat, keduanya menjadi sama-sama budak cinta.
Tanpa Aditia ketahui, ternyata Melati sudah mengetahui semuanya, akan tetapi Melati memilih untuk diam.
Flashback off ...
__ADS_1
Lagi-lagi Aditia tersadar dari ingatan masalalunya. Betapa bodohnya dia sudah menyia-nyiakan Melati.
‘*Kini aku mengerti arti kehilangan, setalah kamu pergi, dunia ini terasa sepi Melati.
Betapa bodohnya aku sudah menggoreskan luka sanubari mu, Tuhan bisakah engkau hidupkan Melati-ku kembali, mengapa engkau begitu menyayanginya sehingga dengan cepat engkau mengambilnya dari sisi hamba?
Engkau tidak memberikan aku sama sekali kesempatan untuk membahagiakannya, menebus segala kesalahanku, bahkan aku aku tak sempat mengucapkan kata maaf padanya*.’
Jerit batin Aditia, penyesalan semakin hari semakin merasa mendalam, baru 2 lembar yang baru Aditia baca di catatan buku yang mencurahkan isi hati mendiang istrinya itu.
Masih tersisa banyak halaman, apakah Aditia sanggup membaca setiap bait kalimat yang di tuliskan oleh Melati?
“Kenapa kamu menyiksaku seperti ini sayang?" lirih Aditia sambil memandangi Poto Melati yang tertempel di buku tersebut.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa buat like dan komen ya geas.
Terima kasih.