
Siska menatap lekat wajah Aditia, ia mencoba mencari cela, apakah ada kebohongan di wajah Aditia. Tapi sayangnya, sepertinya tidak. Siska cukup tahu bagaimana seorang Aditia, dan saat ini ia melihat jika ucapan Aditia itu bersungguh-sungguh, tidak bohong sama sekali.
Tapi tunggu, Siska merasa ada yang janggal, jika memang wanita yang bernama Mentari itu bukanlah Melati, lantas kenapa mereka sangat mirip, bak pinang terbelah dua.
Apa mungkin Mentari masih ada ikutan keluarga dengan Mentari?
Apa mungkin juga wanita yang Aditia bilang saat ini sudah bertahta dihatinya itu adalah wanita itu, Mentari? Ya, sepertinya Siska paham, apa maksud ucapan pria itu tadi.
Jelas wanita yang bertahta di hati Aditia itu tidak akan menggeser posisi mendiang istrinya—Melati. Kerena apa? Kerena Mentari jelas sangat mirip dengan Melati, dan Aditia sepertinya menganggap jika Mentari adalah Melati.
“Yayaya, sekarang aku paham. Aku paham apa yang kamu ucapan tadi, Aditia. Apa wanita ini yang sudah bertahta dihati kamu itu hah? Wanita yang bertahta tanpa menggeser posisi Melati dihati kamu, begitu?” Siska tersenyum sinis, dengan tatapan menyalang kearah Aditia dan Mentari.
“Kerena si Mentari itu sangat mirip dengan Melati, jadi kamu mencintai dia, iya begitu? Haha ... ” sambung Siska diiringi tawa jahatnya.
“Tidak, jangan asal bicara kamu Siska, aku mencintai Mentari dengan tulus, bukan kerena dia mirip dengan mendiang istrinya Melati," sangkal Aditia dengan cepat.
Sebenernya Aditia juga tidak tahu, ia memang mengakui jika ia sudah jatuh cinta pada pengasuh putrinya itu, tapi Aditia tidak tahu alasannya. Apa mungkin yang dikatakan oleh Siska itu benar? Paras Mentari yang sangat mirip dengan Melati itu yang sudah membuat hati Aditia luluh? Entahlah hanya Aditia sendiri yang tahu jawabannya.
__ADS_1
“Hey kamu Mentari, kasian sekali kamu! Kamu itu hanya cinta bayangannya Aditia, kamu jangan bodoh jadi wanita! Aditia itu tidak mencintai kamu dengan hatinya, tapi dia itu menganggap kalau kamu adalah istrinya yang sudah mati!” ejek Siska pada Mentari.
Bukannya kesal atau bagaimana karena ejekan wanita itu, Mentari malah tersenyum mendengar ucapan dari Siska.
“Jika memang Pak Aditia menganggap saya sebagai gambaran istrinya yang sudah tiada, apa masalahnya dengan Mbak hmm? Bukankah itu lebih baik, setidaknya saya tidak mengemis cinta seperti yang Mbak lakukan,” ujar Mentari dengan santainya.
Tentu saja ucapan yang terlontar dari Mentari, membuat Siska sangat kesal.
“Kurang ajar kamu, ya! Dengar ya, kamu itu tidak mengenal saya, jadi jaga bicara kamu!” pekik Siska.
“Iya saya memang tidak mengenal Mbak, lagian saya tidak berniat sama sekali untuk mengenal Mbaknya!” balas Mentari sengit.
Setalah berkata seperti itu, Siska pun berlalu dari sana.
Seketika suasana menjadi hening, usai kepergian Siska, Aditia dan Mentari sama-sama bergeming dengan pemikiran mereka masing-masing.
“Mentari, bisa saya bicara serius sama kamu?” setalah beberapa menit terdiam, Aditia memecah keheningan tersebut.
__ADS_1
“Iya, Pak. Saya juga ada yang ingin saya bicarakan serius pada, Bapak,” sahut Mentari.
“Sebaiknya kita cari tempat yang nyaman.”
Aditia melangkah menuju sofa yang berada di ruang tamu, Mentari terlihat mengikuti langkah pria itu.
“Emm, Pak maaf jika saya tadi berbicara sangat lancang pada teman Bapak itu, maaf apa dia wanita yang pernah menjalin hubungan dengan Bapak, saat masih bersama mendiang istri, Bapak?" tanya Mentari, ia membuka kembali percakapan dengan pria itu.
Sebenernya Mentari sudah mendapatkan jawaban, hanya saja agar sandiwaranya lebih sempurna, sengaja ia menanyakan hal tersebut.
Aditia mengangguk pelan sebagai jawaban.
'Apa menarikannya wanita itu, sehingga kamu mengkhianati Kakakku, Aditia?! aku sungguh muak denganmu, kau sangat jahat!' ucap Mentari dalam hatinya.
“Mentari," panggil Aditia.
“Ya, Pak.”
__ADS_1
“Kamu sudah mendengar bukan semuanya? Saya tahu ini semua terlalu cepat, tapi saya benar-benar serius, apakah kamu mau menjadi Ibu untuk Pelangi? Maukah kamu menjadi istri saya?”
Bersambung ...