LOVE IN REGRET

LOVE IN REGRET
Bab Enam


__ADS_3

“Apa maksud kamu Aditia?” tanya Ibu Reni.


“Iya, bicara itu yang jelas!” timpal Eva sang Ibu.


“Ja-jadi kalian semua gak tau?”


Kedua orang tuanya serta mertuanya itu pun kompak menggeleng kepala mereka.


Aditia langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Bahkan Melati menyembunyikan penyakitnya itu dari kedua orang tuanya.


Terbuat dari apa hati wanita itu? Bagaimana bisa ia menanggung beban yang sengat berat itu seorang diri?


“Aditia kenapa kamu diam? Jelaskan siapa yang sakit parah?” tanya Ibu Reni lagi.


“Melati, Bu. Melati mengidap penyakit gagal ginjal,” jawab Aditia dengan suara lirihnya. Laki-laki itu sudah tidak bisa lagi menopang tubuhnya, badannya terasa sangat lemas. Aditia tertunduk lemas di lantai Rumah Sakit tersebut.


“Tidak! ini tidak mungkin! Kamu pasti bohongkan Aditia? Tidak mungkin Melati sakit seperti itu, ia tidak pernah menceritakan hal ini pada kita semua. Tidak ini pasti tidak mungkin!” teriak Ibu Eva seraya menggeleng-gelangkan kepalanya. Tentu saja ia tidak bisa percaya dengan ucapan menantunya itu.


Apa lagi Melati selama ini terlihat baik-baik saja. Ia tidak seperti orang sakit, memang ada sedikit perubahan saat hamil, putrinya itu terlihat lebih kurus, kulitnya terlihat kusam. Ia pikir itu watak bawaan dari sang jabang bayi. Kerena banyak orang yang mengalami hal tersebut.


“Aku juga awalnya tidak percaya Bu, tapi Dokter yang mengatakan ini semua. Aku pikir kalian semua sudah tau, ternyata Melati bukan hanya menyembunyikan semuanya dari aku, tapi dari kalian juga.”


Tidak ada kata-kata lagi yang terlontar dari kedua orang tua Aditia, baik kedua mertuanya. Mereka kini sama halnya merasakan apa yang dirasakan oleh Aditia.


Sementara itu, di ruang operasi. Dokter sudah memulai melakukan operasi caesar pada Melati. Sekitar 1 jam kemudian, operasi Caesar tersebut berjalan dengan lancar.


Bayi dalam perut Melati sudah dikeluarkan dengan keadaan sehat.


Dokter Marsela dan Dokter Dirga terlihat menghembuskan napas lega mereka. Namun tiba-tiba, “Dok keadaan Ibu Melati melemah,” ucap Dokter anestesi yang mendampingi operasi tersebut.


Mereka kembali sigap menangani Melati, Melati mengalami pendarahan yang sangat hebat. Namun sayangnya keadaan Melati semakin memburuk, wanita itu kritis.


Tiiittt......


Bunyi elektrokardiogram (EKG) terdengar sangat nyaring, menandakan jika detak jantung Melati sudah berhenti.


“Kita gagal Dok,” ucap Dokter Marsela lirih dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


Sepertinya wanita itu merasakan kehilangan pasiennya. Bagaimana tidak selama ini ia dan Melati sudah cukup dekat, apa lagi mengingat perjuangan Melati yang hamil di saat kondisi kesehatan sangat buruk, berulang kali ia mengingatkan Melati jika kehamilannya itu sangat beresiko, namun Melati tetap teguh dalam pendiriannya, membesarkan bayi yang berada di kandungan itu.

__ADS_1


“Kita sudah berusaha yang terbaik untuk beliau, namun Tuhan berkehendak lain, sebaiknya kita temui keluarganya,” ucap Dokter Dirga, seraya menepuk bahu Dokter Marsela.


Setelah itu mereka pun keluar dari ruangan operasi tersebut, sebelumnya mereka meminta rekan kerja yang lainnya untuk mengurus bayi wanita itu dan mengurus jenazah Melati.


Aditia dan yang lainnya terlihat menunggu di depan ruangan operasi tersebut, dengan perasaan yang cemas.


Melihat pintu ruangan operasi tersebut terbuka dan kedua Dokter itu keluar dari sana, mereka langsung menghampirinya.


“Bagaimana kondisi putri saya, Dok?” tanya Ibu Reni. Wanita yang sudah melahirkan Melati itu terlihat tidak sabar menunggu jawaban dari sang Dokter, begitu juga dengan yang lainnya.


“Maaf Bu, kami sudah melakukan semaksimal mungkin, namun Tuhan berkata lain,” jawab Dokter Dirga.


“Tidak! tidak mungkin, semua ini pasti salah!” teriak Ibu Reni histeris. Tidak mungkin putrinya itu meninggal, rasanya ia tak percaya.


“Maafkan kami, kami sudah berjuang yang terbaik untuk menyelamatkan Ibu Melati, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya pada Pak Aditia, jika operasi ini sengat beresiko besar, kemungkinannya sangat kecil, mengingat kondisi Ibu Melati yang mengidap gagal ginjal kronis,” ucap Dokter Marsela.


Ibu Reni menggeleng-gelengkan kepalanya, tangis wanita parubaya itu pecah. Ayah Reno langsung menarik istrinya itu ke dalam pelukannya.


“Kita harus ikhlas, Bu,” lirik Ayah Reno, seraya mengusap punggung istrinya itu.


Hal yang sama pun dilakukan oleh Ayah Irwan kepada istrinya—Ibu Eva. Mereka seakan tidak percaya dengan kenyataan ini. Menantunya pergi kepangkuan illahi secepat ini.


Sementara Aditia, ia langsung bergegas masuk keruangan tersebut. Tangis Aditia pecah saat melihat sang istri yang sudah terbujur kaku.


“Melati bangun, maafkan aku Melati. Bangunlah jangan tinggal aku dan anak kita, aku janji akan menjadi suami yang baik, aku janji akan selalu ada di samping kamu, bangunlah Sayang. Maafkan aku, ayo bangun Melati ... bangun ... maafkan aku, tolong beri aku kesempatan satu kali lagi, aku janji akan membahagiakan kamu, aku janji akan menuruti apa permintaan kamu, bangun Sayang bangun ... jangan tinggalkan aku, aku mohon ...” Suara Aditia semakin lirih. Dunianya terasa sangat runtuh.


Raut wajah penuh penyesalan dan bersalah terlihat jelas dari laki-laki itu. Mengingat apa yang sudah ia lakukan selama ini pada Melati, ia selalu menyakiti batin istrinya itu dan kini Melati pergi, ia sadar jika ia ternyata mencintainya.


“Aku mencintaimu Melati, maafkan aku...” lirih Aditia lagi, ia mengecup kening istrinya yang sudah tidak tidak bernyawa itu.


Hancur, sakit, perih, begini kah rasanya ditinggalkan oleh orang yang kita cintai? Kenapa? Kenapa ia baru sadar sekarang! jika Melati begitu berarti untuknya.


Kepergian Melati menyisakan luka yang teramat dalam untuk orang-orang terdekatnya. Ibu Reni, bahkan beberapa kali tak sadarkan diri.


Setalah itu jenazah Melati pun di bawa pulang untuk di mandikan dan di ke bumi kan.


Flashback off


***

__ADS_1


Aditia dan kedua orang tuanya baru saja sampai di Rumah. Hujan terlihat turun sangat deras, bumi pun sepertinya ikut menangisi kepergian Melati.


“Kamu istirahat Adi, dari kemarin kamu belum tidur sama sekali. Ibu akan tinggal di sini untuk sementara waktu,” ujar Ibu Eva saat mereka tiba di Rumah tersebut.


Tidak ada jawaban dari Aditia, tubuhnya memang sangat lelah, tapi untuk beristirahat rasanya itu tidak bisa. Mana bisa ia beristirahat dalam kondisinya yang seperti ini. Bahkan ia sendiri tidak tahu harus bagaimana menjalani hari-harinya tanpa Melati.


Namun Aditia langsung berlalu menuju kamarnya. Ibu Eva dan Ayah Irwan hanya menatap nanar punggung putranya itu. Mereka mengerti perasaan dan kondisi Aditia saat ini, tapi mereka berharap Aditia tidak terus larut dalam kesedihannya itu.


Rasa sesak kembali menerpa dadanya, saat Aditia masuk ke kamar yang biasa ia tempati dengan mendiang istrinya itu.


Biasanya jika ia masuk ke sana, senyuman manis sang istri selalu menyambutnya, walau pun tak jarang dirinya mengabaikan senyuman dari sang istri tersebut.


“Maafkan aku yang selalu acuh padamu, mengabaikan sapaan senyummu. Kini aku benar-benar sadar, hidupku hampa tanpa dirimu istriku,” ucap Aditia lirih.


Lalu ia berjalan masuk ke dalam kamar tersebut. Aditia memutuskan untuk membersikan tubuhnya terlebih dahulu. Sekitar 15 menit ia menyelesaikan ritual mandinya itu.


Aditia menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti. Namun saat ia hendak mengambil pakaiannya itu, ia melihat sesuatu di bawah tumpukan baju milik mendiang istrinya yang tersusun rapi itu.


“Apa itu?” gumam Aditia. Ia pun mengambil benda tersebut, yang ternyata adalah sebuah buku.


“Buku, apa ini milik Melati?” Melihat buku itu berada di bawah tumpukan baju mendiang istrinya, sudah dipastikan jika buku tersebut milik wanita itu.


Aditia pun meletakkan buku tersebut dia atas meja, lalu ia kembali melanjutkan aktifitasnya mengambil pakaian gantinya. Usia berganti pakaian, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Lagi-lagi bayangan mendiang istrinya terlintas di benak Aditia. Rasa bersalah menyesal terasa semakin menggerogoti hati laki-laki itu. Lalu Aditia teringat dengan buku yang ia temukan tadi. Ia pun bangun, lalu mengambil buku tersebut.


‘Melati’


Tertulis nama mendiang istrinya di sampul buku tersebut. Perlahan Aditia pun membuka buku itu, ia penasaran apa isi dari buku tersebut.


Di halaman pertama Aditia melihat ada poto pernikahan mereka yang tertempel di sana. Aditia tersenyum tipis saat melihat poto tersebut, di sana terlihat keduanya tersenyum, layaknya pengantin baru yang merasakan penuh kebahagiaan, tanpa orang ketahui sebenarnya senyuman keduanya itu palsu.


Lalu Aditia membuka lembaran berikutnya, mata Aditia mulai berkaca-kaca, saat ia mulai membaca tiap bait aksara yang di tulis oleh mendiang istrinya itu. Di mana di sana Melati menuliskan mulai kisah hidupnya yang menikah dengan Aditia.


Dadanya terasa semakin sesak, seperti ada bongkah batu besar yang menimpa dadanya itu, air mata kini sudah membasahi wajah laki-laki itu.


‘Jika memang dia adalah takdirku, buatlah hati ini berlapang dada menerimanya, begitu pun sebaliknya. Hadirkan-lah cinta diantara kami, dan buatlah rumah tangga ini menjadi rumah tangga sakinah, mawadah dan warahmah. Jadikan-lah rumah tangga kami layaknya seperti istana surga.’


Aditia membaca aksara yang tertulis di akhir lembaran buku tersebut. Tangisnya pecah, ia memeluk buku tersebut.

__ADS_1


“Maafkan aku Melati, kau mengharapkan istana surga, tapi aku malah memberikanmu rumah tangga layaknya seperti neraka,” lirih Aditia penuh penyesalan.


Bersambung...


__ADS_2