LOVE IN REGRET

LOVE IN REGRET
Bab Dua Puluh Lima


__ADS_3

Aditia terdiam, mengapa Mentari meminta menghentikan mobilnya di sini? Tepat di depan rumah orang tuanya Melati. Apa mungkin saudara yang dimakan oleh Mentari itu adalah kedua mertuanya?


“In ... ”


“Ayo kita turun Pak,” ajak Mentari.


Baru saja Aditia akan bertanya, akan tetapi wanita itu langsung menyela ucapannya dan langsung turun dari mobil tersebut terlebih dahulu.


Manteri langsung membuka bagasi mobil tersebut, dan mengambil tasnya. Sementara itu Aditia masih diam mematung. Ia sungguh bingung, apa yang sebenernya terjadi?


Apa mungkin Mentari itu ada kaitannya dengan Melati? Apa mungkin kemiripan mereka itu memang ada sangkut-pautnya, atau jangan-jangan Mentari adalah suaranya Melati?


Tapi, jika benar. Kenapa Mentari seakan tidak pernah mengenal Melati? Bahkan saat Aditia pernah membahas tentang mendiang istrinya itu, respon wanita itu terlihat tidak mengenal sosok mendiang istrinya. Ada apa ini sebenernya?


“Pak, ayo. Mereka sudah menunggu!” Mentari ngetok kaca mobil tersebut.


Aditia pun tersadar dari lamunannya, dengan ragu akhirnya ia pun keluar dari mobilnya.


“Ayo Pak,” ajaknya.


“Tunggu! sebenernya siapa kamu?” tanya Aditia.


Mentari tersenyum manis. “Saya Mentari, Pak. Bukankah Bapak ke sini ingin menemui kedua orang tua saya, mari, mereka sudah menunggu.” Senyuman manis itu kini berubah menjadi senyuman yang sulit diartikan.


“Ya aku tahu namamu Mentari, maksudku sebenernya siapa kamu? Kenapa kamu membawa aku ke sini? Inu rumah orang tua mendiang istriku, Melati!”

__ADS_1


“Mari, Pak. Masuk, kalau Bapak ingin tahu siapa saya.” ucap Mentari dengan wajah tempa ekspresi.


Lalu wanita itu masuk ke dalam rumah, mau tidak mau Aditia pun mengikuti langkah wanita itu, entah kapan terakhir kali ia menginjakan kaki ke rumah ini.


“Mbok, tolong dong jagain Pelangi dulu,” pinta Mentari pada Mbok Enah, yang tak lain adalah asisten rumah tangga di rumah tersebut.


“Baik, Non.” Wanita yang bernama Mbok Enah itu pun mengambil Pelangi dari pangkuan Mentari.


“Non?” Aditia benar-benar merasa bingung, kenapa pembantu mertuanya memanggil Mentari dengan sebutan Non? “Sebenarnya kamu siapa Mentari? Apa hubungan kamu dengan keluarga ini?” pekik Aditia sambil mencengkram tangan wanita itu.


“Sakit, lepaskan!” Mentari mencoba menepis tangan pria itu, akan tetapi Aditia malah semakin mengeratkan cengkeramannya.


“Lepaskan tangan Mentari!” tiba-tiba saja terdengar suara menggelegar penuh amarah.


“Papa?” Aditia pun melepaskan cengkramannya itu.


Deg!


Apa maksud dari semua ini? Mentari adalah adiknya Melati? Kenapa Aditia sampai kecolongan seperti ini?


Jelas Aditia sangat terkejut mendengar pengakuan dari wanita yang sudah membuat hatinya terbuka kembali itu.


“Kenapa? Apakah kamu terkejut? Bahkan kau tidak tahu bukan jika istrimu mempunyai seorang adik, iyakan Aditia?” bentak Mentari.


Tatapan tajam menatap Aditia penuh amarah dan kebencian.

__ADS_1


Aditia menatap tidak percaya pada wanita yang ada dihadapannya itu, lalu pandangan beralih pada Papa dan Mamah mertuanya yang kini tengah berdiri tak jauh dari mereka.


Sorot mata Aditia seakan bertanya, 'apakah benar semua itu?'


“Ya benar, dia putriku,” ucap Papa mertuanya. Seakan tahu arti sorotan dari menantunya itu.


Aditia langsung menggeleng-gelangkan kepalanya.


“Kenapa? Kecewa, marah, sakit, merasa terbohongi?” cerca Mentari.


“Ke-kenapa kamu melakukan semua ini? Kenapa kamu tidak jujur sejak awal Mentari?” tanya balik Aditia.


Tentu saja apa yang dikatakan oleh Mentari benar apa adanya, saat ini Aditia merasa kecewa, marah, sakit, merasa di bohongi.


“Kamu bertanya? Aku rasa kamu sudah punya jawaban sendiri!” jawab Mentari.


Aditia terdiam, ia mencoba mencerna ucapan yang terlontar dari wanita itu. Jawab sendiri?


Detik kemudian Aditia pun mengerti.


“Apa kerena kamu ingin menjadi Ibu pengganti dari Pelangi? Kamu sengaja tidak memberitahu aku kerena kamu ingin aku mencintaimu dengan tulus, bukan karena menganggap kamu sebagai Melati, begitukah Pelangi?”


Hah? Mentari langsung membulatkan matanya. Rasanya ia ingin tertawa mendengar ucapan yang keluar dari pria yang berstatus kakak iparnya itu.


Aditia meraih tangan Mentari. “Dengar, awalnya aku memang mengira jika kamu adalah Melati, karena kamu begitu mirip dengannya. Itulah alasan mengapa pada awalnya aku selalu menjaga jarak sama kamu, Mentari. Tapi seiring berjalannya waktu, aku sadar, kamu bukan Melati, dan aku bersumpah, aku mencintaimu sangat tulus. Aku tidak perduli jika kamu adiknya Melati, tidak ada larangan untuk aku menikahi kamu bukan. Dan sekarang aku ingin meminta restu pada Papa dan Mamah, aku ingin menikahi kamu Mentari,” ujar Aditia panjang lebar, dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2