
“Maaf, nama saya Mentari, Pak. Saya di kirim oleh yayasan Kasih Bunda ke sini,” ucap Mentari, ia menampakan wajah kebingungannya, tak mengerti sama sekali dengan ucapan Aditia tersebut.
“Oh jadi kamu yang akan menjadi Baby sitter cucu saya, ayo silahkan masuk,” ujar Bu Eva, mempersilahkan wanita itu untuk masuk.
Mentari terlihat mengangguk kepalanya sopan, lalu mulai melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.
Sementara Aditia, ia kasih terdiam. Dengan berjuta pertanyaan kini tersarang di benaknya.
Memang sebelumnya Aditia sudah mendapatkan kabar dari Yayasan yang direkomendasikan oleh teman kantornya kemarin, jika hari ini atau lusa orang yang akan menjadi Baby sitter Pelangi akan datang.
Tapi kenapa wajahnya sangat mirip dengan Melati—mendiang istrinya? Namanya juga hampir sama, Melati-Mentari, apa mungkin Melati punya saudara kembar?
Tentu saja tidak mungkin! Walaupun selama Aditia menikah dengan Melati memang ia tidak pernah tahu seluk beluk keluarga istrinya, punya saudara atau tidak. Saat dulu mereka menikah pun Aditia tidak terlalu mempertanyakan, atau memperhatikan siapa-siapa saja keluarga dari Melati.
Tapi setahu Aditia Melati itu anak tunggal, mungkin sih, kerena secara langsung pun Aditia tidak pernah bertanya, dulu ia berpikir untuk apa bertanya soal seperti itu? Menikah dengan Melati saja terpaksa.
Tapi jika pun Mentari benar saudara kembar Melati, untuk apa dia menjadi baby sitter, dan dia bergabung dengan yayasan pula. Secara logika sih memang tidak mungkin, jika Mentari bagaian dari keluarga Melati, secara keluarga Melati bisa dikatakan orang berada, berkecukupan.
Tapi seperti Aditia harus menyelidikinya lebih dalam lagi. Ya walaupun sebenernya Mentari hanya mirip saja dengan mendiang istrinya, lagian di dunia ini memang selalu ada saja bukan orang yang mirip? Entahlah.
“Kamu beneran mau jadi baby sitter anak saya?” Aditia mengeluarkan suaranya, ia berjalan menghampiri Mentari yang tengah berbincang dengan Ibunya.
__ADS_1
Bu Eva sejak tadi sudah banyak memberikan pertanyaan pada Mentari, tentang keluarga wanita itu, dan Mentari bilang bahwa ia berasal dari kampung.
Jujur saja Bu Eva juga merasa sangat penasaran, melihat Mentari ia seperti melihat Melati sang menantu kesayangannya hidup kembali. Tapi, tidak mungkin bukan orang meninggal akan hidup lagi.
“Saya yakin bisa, Pak,” jawab Mentari mantap, “jika Bapak meragukan saya, nanti jika memang saya tidak profesional, kerja saya buruk, Bapak bisa memecat saya tanpa membayar sepeser pun,” lanjutnya.
“Inu bukan masalah uang, saya hanya ragu saja, apakah kamu benar-benar ingin menjadi Baby Sitter, dan saya sempat dengar tadi kamu berbicara dengan Ibu saya, kamu bilang kami berasal dari kampung, saya hanya merasa heran saja, kamu seperti bukan berasal dari kampung, penampilan kamu juga sangat berbeda dari orang kampung, kamu terlihat fashionable, gaya kamu seperti orang luar negeri,” papar Aditia.
Mentari terlihat gugup, namun detik kemudian ia mencoba bersikap tenang.
“Memangnya orang kampung tidak boleh fashionable ya, Pak. Maaf jika Bapak tidak berkenan dengan penampilan saya, besok saya akan mengubah warna rambut saya, dan besok juga saya akan mulai memakai seragam baby sitter-nya.”
“Sudah tidak perlu, senyaman kamu saja Mentari, asalkan kamu bisa dengan baik saja merawat cucu saya,” pungkas Bu Eva.
“Baiklah, kamu pasti lelah, kamu mulai besok saja berkerjanya, sekarang mari ikut saya, saja tunjukkan di mana kamar kamu,” ajak Bu Eva.
Mentari terlihat mengangguk kepalanya, setalah itu ia pun beranjak dari tempat duduknya, lalu mengikuti langkah Bu Eva.
Kamar Melati berada di lantai dua, bersampingan dengan Kamar Aditia, sebenernya itu kamar untuk Pelangi jika sudah dewasa, Aditia bahkan sudah mengubah kamar tersebut dengan nuansa serba pink, dengan wallpaper hello Kitty.
“Ini kamarnya, kamu akan tidur di sini bersama cucu saya, biar kamu bisa terus mengurus dan memantau Pelangi,” ujar Bu Eva.
__ADS_1
“Baik, Bu, terima kasih,” ucap Mentari ramah.
“Sama-sama, ya sudah kalau begitu saya kebawah lagi,” pamit Bu Eva.
Mentari hanya menganggukkan kepalanya, setalah itu Bu Eva pun berlalu dari sana.
“Bu," panggil Aditia yang melihat Ibunya sudah kembali.
“Iya kenapa Dit? Sudah Ibu tahu apa akan kamu bicarakan, dia bukan Melati, Aditia. Dia Mentari, walaupun mereka terlihat mirip, ingat Melati itu sudah tidak ada, di sudah bahagia dia sana. Sudah jangan berpikir yang tidak-tidak, awas saja kalau kamu mengganggu dia, biarkan dia fokus mengurus Pelangi nantinya!” jawab Bu Eva.
Aditia terlihat menghelai napasnya, ya memang sih apa yang dikatakan Ibunya itu benar.
Tapi kenapa, Mentari harus mirip dengan Melati, itu sungguh menyiksa Aditia, ia teringat kembali atas apa yang sudah dilakukannya pada mendiang istrinya dulu, menyakitinya.
*
*
*
Sementara itu Mentari yang kini berada di kamar, ia terlihat tengah berdiri seraya menatap sebuah pigura yang ukurannya cukup besar yang tertempel pada dinding kamar tersebut.
__ADS_1
“Tenanglah, aku hanya ingin memberi dia pelajaran saja, aku akan membalas semua yang sudah dia lakukan padamu, Kak. Kamu wanita baik, kenapa kamu cepat sekali pergi meninggalkan aku, Kak. Maaf aku tidak ada di saat kamu sedang terluka," lirih Mentari sambil menatap lekat wajah sang Kakaknya, yaitu Melati yang berada di dalam Poto tersebut.
Bersambung ...