LOVE IN REGRET

LOVE IN REGRET
Bab Dua Puluh Sembilan


__ADS_3

Usai mendapatkan telepon dari Ibunya Aditia, Mentari terlihat langsung beranjak, lalu ia memanggil kedua orang tuanya.


“Mah, Pa ..." teriak Mentari.


“Ada Tari?”


“Kita harus ke rumah sakit Mah, Aditia kecelakaan, sekarang kondisinya kritis,” jawabnya.


“Apa?” Kedua orang tuanya terlihat terkejut.


“Bagaimana bisa kecelakaan?” lanjut Mamahnya.


“Katanya rem mobilnya blong, Mah.”


“Mentari ini bukan sebagian dari rencana kamu, kan?” tanya Papanya.


Sontak Mentari pun membulatkan matanya.


“Ya tidak Pa, aku memang benci sama dia, tapi aku masih punya hati. Kenapa Papa menuduhku?”


“Tidak menuduh, Papa hanya memastikan, awas saja kalau kamu terbukti ada kaitannya dengan semua ini,” ucap Papahnya.

__ADS_1


“Demi Tuhan, Pa. Aku gak tahu soal ini.”


“Sudah, lebih baik kita ke Rumah Sakit sekarang jangan berdebat seperti ini. Dan kamu Pa, masa gak percaya sama anak sendiri.”


Setalah itu mereka pun langsung bersiap-siap menuju rumah sakit. Mentari juga membawa Pelangi, kerena tidak mungkin meninggalkannya, walaupun ada Mbok Enah di rumah, apa lagi sejak tadi Pelangi terus menangis, seperti orang yang sedang gelisah.


Mereka pun langsung berangkat menuju rumah sakit. Setengah jam kemudian, akhirnya mereka pun sampai di Rumah Sakit.


“Bu, bagaimana kondisi Bapak?" tanya Mentari.


“Kondisinya kritis, masih ditangani oleh Dokter di dalam,” jawab Ibunya Aditia. Wanita itu langsung memeluk Mentari.


“Ya sabar Bu, kita doakan yang terbaik untuk Aditia, semoga tidak terjadi apa-apa. Kita harus percaya Aditia pasti baik-baik saja,” ujar Mamahnya Mentari.


Papanya Mentari yang menjawab semua pertanyaan Polisi tersebut.


“Saya merasa kalau kecelakaan ini ada yang ganjal, apakah di rumah Bapak ada CCTV?” tanya Polisi tersebut pada Papahnya Mentari.


“Ada Pak,” jawabnya.


“Kami ingin melihatnya, siapa tahu ada petunjuk dari sana.”

__ADS_1


“Baik Pak, mari kita ke rumah saya," ajak Papanya Mentari.


Kedua Polisi itu pun mengangguk, lalu Papanya Mentari berpamitan. Dan mereka pun berlalu dari sana.


“Tunggu! Mentari kenapa kamu memanggil Pak Besan dan Bu Besan saya dengan Mamah dan Papa?” tanya Ibunya Aditia.


Ia baru menyadari hal tersebut. Mentari langsung menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu harus menjelaskan seperti apa.


“Mentari anak saya Bu, dia adiknya Melati.” Mamahnya yang menjawab.


Kedua orang tua Aditia terlihat terkejut, ia langsung mencerca banyak pernyataan pada Mentari, namun Mentari hanya diam, dan Mamahnya yang menjelaskan semua yang terjadi.


“Kamu tega Mentari, kenapa kamu melakukan semua ini pada kami? Aditia memang bersalah, tapi kamu tidak berhak menghakimi dia! Aditia bahkan sangat menyesali semuanya, apa yang sudah diperbuat pada Melati, saya yang menjadi saksi bagaimana terpuruknya Aditia saat itu kehilangan istrinya!” pekik Ibu Aditia pada Mentari, wanita parubaya itu terlihat sangat kecewa.


“Aditia juga manusia biasa, Mentari. Manusia tempatnya salah, harusnya kamu berpikir lagi, semua manusia pasti pernah melakukan kekhilafahan,” sambungnya.


“Maaf, Bu. Tapi saya benci sama Pak Aditia, dia sudah membuat Kakak saya satu-satunya meninggal! Bahkan dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Saya akui, memang seharusnya saya tidak melakukan semua ini. Tapi yang seperti Ibu katakan, barusan manusia tempatnya salah!”


“Saya benar-benar kecewa sama kamu. Atau jangan-jangan kamu yang sudah membuat Aditia celaka?” tuduhnya.


“Dengar ya Bu, saya memang membencinya, tapi saya masih punya hati nurani!”

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2