
Mentari memperlihatkan map yang berisi surat perjanjian tersebut pada Aditia.
“Kau sudah menyetujuinya Aditia, cap tanganmu sudah tertara hitam di atas putih, kau sudah menandatanganinya,” lanjut Manteri.
Aditia langsung merebut map tersebut dari tangan Mentari, ia membaca isi dari surat tersebut.
“Ini tidak sah, aku tidak pernah merasa menandatanganinya!” pekik Aditia.
“Apa kau yakin, lalu itu tanda tangan siapa hah? Jelas itu tanda tangan kamu Aditia! Apa kau lupa saat kau meminta aku untuk membawakan dokumen milikmu, bersamaan dengan itu, kau menanda tangani itu!” sinis Mentari.
“Kau sangat licik Mentari, aku tidak menyangka kau berbuat seperti ini!” geram Aditia. Ia langsung merobek Dokumen tersebut.
Namun Mentari terlihat sangat santai, bahkan ia tersenyum penuh arti saat melihat Aditia merobeknya.
“Silahkan robek saja, itu hanya salinan, yang asli aku sudah simpan!”
“Kau!” Aditia terlihat melayangkan tangannya kearah Mentari.
“Jangan sakiti putriku Aditia!” pekik Papa mertuanya, menahan tangan Aditia yang hampir saja mengenai wajah Mentari.
Aditia menghelai napas bertanya, lalu menurunkan tangannya, kedua tangannya terlihat mengepal erat, menahan amarahnya.
“Kenapa kalian tega melakukan semua ini, kenapa hah?”
__ADS_1
“Maaf Aditia, Papa tidak bisa melarang Mentari, kerena dia sangat berbeda dengan Malati,” ujar Papa mertuanya.
Terlebih ia juga tidak tahu tentang semua ini, Mentari tidak pernah menceritakan semuanya padanya. Ia tidak tahu jika Mentari menyamar sebagai baby sitter Pelangi, kerena selama beberapa bulan ini ia ditugaskan kerja di luar kota, dan baru pulang beberapa hari yang lalu.
Istrinya pun tidak pernah menceritakan semua ini.
Sementara Mamah mertuanya, sejak awal memang sudah mengetahui semuanya, awalnya ia tidak mengizinkan Menteri melakukan hal itu, akan tetapi anak bungsunya itu sangat keras kepala. Terpaksa ia pun mengikuti permainan Mentari, walaupun dalam hatinya ia sadar bahwa semuanya itu salah.
“Iya benar kata Papa, aku bukan lah kak Melati, yang bisa kamu bodohi Aditia. Aku Mentari!” timpalnya.
Aditia benar-benar tidak tahu harus apa lagi.
Baiklah, mungkin untuk sementara waktu ia membiarkan saja Pelangi bersama dengan Mentari dan kedua mertuanya. Untuk saat ini ia tidak akan bisa melawan, ia harus bisa mencari cara dulu. Dan untuk saat ini ia butuh ketenangan juga.
“Tidak tahu malu! Sudah jangan banyak omong sebaiknya kamu pergi Aditia!”
Tanpa kata-kata lagi Aditia pun langsung berlalu dari sana. Aditia langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat tersebut.
Saat mobil Aditia melaju, terlihat ada dua orang laki-laki yang mengikuti mobilnya mengunakan sepada motor, mereka memang sejak tadi sudah menunggunya.
“Bagaimana apakah dia sudah pergi?”
“Sudah Bos, semua beres!”
__ADS_1
“Bagus, kalian ikuti dia, dan pastikan kalau dia tidak baik-baik saja!”
“Baik Bos.”
Pria itu mengakhiri percakapan lewat sambungan telepon bersama Bos yang menyuruhnya itu.
Aditia melajukan mobilnya membelah jalan raya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Berkali-kali ia membenturkan kepala ke setir.
“Kenapa kamu tega Mentari? Kenapa? Padahal aku sangat mencintai kamu.” ucapnya parau.
“Melati, apakah ini hukuman untukku, maafkan aku dulu sudah menyakitimu, maafkan aku Melati. Rasanya aku tidak sanggup melewati semua ini, aku ingin menyusulmu saja Melati,” ucapnya lagi.
Aditia membulatkan matanya ia terlihat panik, berkali-kali ia menginjak pedal remnya, namun rem mobilnya itu tidak berfungsi.
“Loh kenapa remnya blong?” panik Aditia.
Sebuah mobil terlihat melaju dengan kencang dari arah yang berlawanan. Aditia semakin merasa panik.
“Ya Tuhan.”
Ia berusaha menghindari mobil tersebut membanting setirnya. Namun ...
Braak!
__ADS_1
Bersambung ....