LOVE IN REGRET

LOVE IN REGRET
Bab Delapan Belas


__ADS_3

“Lalu apakah istri Bapak tahu?" tanya Mentari.


“Saya merasa pada saat itu dia tidak tahu, tapi ternyata dugaan aku salah, selepas dia tiada, saya menemukan buku catatan dia, ternyata dia tahu semuanya." Aditia tak kuasa menahan tangisnya, namun dengan capat ia mengusap air matanya itu.


“Dan kamu tahu, betapa kejamnya saya? Saat itu istri saya sedang hamil,” sambung Aditia.


Deg!


Mentari terlihat membulatkan matanya, ingin rasanya ia menghabisi pria yang ada dihadapan itu, dugaannya benar. Ya Tuhan, ia benar-benar tidak bisa membayangkan, bertapa terlukanya dan tersiksanya mendiang sang Kakaknya itu.


Kakaknya sedang hamil, bahkan setalah itu didiagnosa mengidap gagal ginjal, Melati berjuang melawan penyakitnya sambil berjuang membesarkan anak yang ada di dalam kandungannya, sementara suaminya malah berselingkuh dengan mantannya, pria itu kembali dengan sang mantan yang jelas-jelas sudah membuatnya terluka.

__ADS_1


‘Kau orang yang terkejam yang pernah aku temui Aditia, dasar tidak punya hati, aku bersumpah akan membuatmu lebih menderita dibandingkan dengan apa yang sudah kamu lakukan terhadap Kakakku! Kamu akan merasakannya Aditia!


'Dan untuk kamu Kak, kenapa kamu menyembunyikannya semuanya dari aku, Kami semua, aku adikmu, adikmu itu Dokter spesialis penyakit yang kamu derita, andai saja kamu bercerita aku akan berusaha menyembuhkan kamu, kak.”


“Saya mengerti perasaan, Bapak. Tapi jujur saja saya sendiri sebagai seorang wanita, yang dikatakan oleh Bapak benar, ingin rasanya saya memakai Bapak. Maaf bila saya lancang Pak, apakah saat itu Bapak sama sekali tidak merasa bagaimana perasaan istri Bapak, jika saya bisa menghakimi, saya akan menghakimi Bapak, saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika saya di posisi mendiang istri Bapak saat itu,” papar Mentari.


Sengaja ia berkata seperti itu, ia ingin membuat mental Aditia down! Tapi ia juga memilih kalimat yang seakan semuanya itu terlontar begitu saja.


“Iya kamu benar, saya memang seorang pria yang sangat kejam! Tapi demi apapun saya sangat menyesali semuanya, andai saja waktu bisa saya putar lagi,”


“Itu tidak akan pernah mungkin, Pak. Waktu yang sudah dilewati tidak akan pernah terulang kembali, bukan waktunya, tapi masanya, bukankah waktu itu kata lain dari jam? Setiap hari kita akan berjuang dengan jam yang sama tapi dengan masa yang berbeda dengan moment-moment yang berbeda. Penyesalan memang selalu datang terlambat, Pak. Tapi tidak semua orang bisa menerima pengakuan sesal dari seseorang yang sudah membuatnya terluka. Sebenernya kesempatan kedua itu ada, tapi tidak semua orang tidak memberikannya,” papar Mentari.

__ADS_1


Aditia mencoba mencerna semua ucapan yang terlontar dari mulut wanita itu.


“Lantas saya harus bagaimana?”


“Untuk itu silakan Bapak tanyakan pada diri Bapak sendiri, kerena semuanya ada pada diri kita sendiri. Bukankah tidak ada gunanya menyesali sesuatu yang sudah terjadi, terlebih untuk memperbaiki semuanya itu sangat sulit, saya yakin istri Bapak di sana sudah bahagia,” jawab Mentari.


Kata-kata terdengar mengandung motivasi, tapi semua itu hanya kedok saja. Silahkan bangkit Aditia, semakin kamu bangkit maka semakin kamu sulit, dan akan dipastikan kamu lebih menderita dari Melati.


“Berdamai dengan semuanya saja, Pak," sambung Manteri.


'Silakan berdamai Aditia, tapi ingat semuanya tidak akan semudah yang kau bayangkan, selama aku ada di sini, aku pastikan bayang-bayang hal burukmu terhadap Kakakku akan selalu menghantui kamu!”

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2