
Aditia termenung sejak, mungkin benar ia harus mulai berdamai dengan semua ini. Lihatlah, Manteri pun mengatakan hal yang sama dengan Ibunya. Apa mungkin setalah ia berdamai dengan semua ini, semuanya akan kembali baik-baik saja, jujur Aditia pun lelah dengan rasa penyesalannya terhadap mendiang istrinya itu, terlebih ia sangat sulit memperbaiki semuanya, ia dan istrinya sudah beda alam.
“Ya kamu benar, mungkin saya harus mulai berdamai dengan semuanya,” ucap Aditia.
“Gitu dong, Pak. Semangat ya Pak.” Mentari mengulas senyuman manisnya. Padahal dalam hati ia sangat muak berpura-pura baik dan bijak di depan pria yang sudah membuat mendiang Kakaknya menderita sampai akhir hayatnya itu.
“Terima kasih sudah mendengarkan cerita saya, saya merasa lebih lega, beban saya terasa berkurang.”
“Ya sama-sama, Pak. Berbagi cerita itu penting, biar kita gak banyak beban,” sahut Manteri sambil terkekeh.
Aditia ikut terkekeh, melihat senyuman yang terulas di bibir wanita itu, Aditia kembali mengingat Melati, kenapa sangat persis?
'Ayolah Aditia jangan seperti ini! Mulailah berdamai, dia bukan Melati, dia Mentari! '
“Sudah malam sebaiknya kita istirahat, sekali lagi terima kasih sudah menemui saya minum teh dan mendengarkan keluh kesah saya.”
“Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi,” pamit Mentari.
Wanita itu pun berlalu dari sana, senyuman penuh kemenangan kini terpancar dari bibir Mentari.
'Satu rencana berjalan dengan mulus, baiklah semoga rencana selanjutnya juga berjalan dengan mulus, aku sudah tidak sabar melihat dia terperangkap dalam permainanku. Lihat saja Aditia, aku tidak akan mengampuni kamu, aku akan membuat kamu seakan terbang dan setalah itu aku akan menghempaskan kamu ke jurang yang sangat curam!'
*
*
*
Keesokan harinya, seperti biasa semua orang di rumah tersebut melakukan rutinitasnya masing-masing.
Tugas Mentari di rumah tersebut adalah sebagai baby sitter, namun ia sering juga membuat mengurus pekerjaan rumah tangga, seperti menyiapkan makanan dan lain-lain, untuk membersikan rumah di sana sudah ada asisten rumah tangga, namun tidak tinggal di sana, ART itu akan datang lagi hari sekitar jam setengah tujuh dan pulang jam lima sore, ya pulang pergi, kerena jarak rumahnya pun bisa dikatakan dekat.
Namun ART ini tidak masuk kerja hari ini kerena suaminya sakit, dan sejak subuh Mentari sudah bangun, ia mengantikan tugas ART untuk sementara waktu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Aditia terlihat baru saja keluar dari kamarnya dengan setalah baju kantornya. Pria itu berjalan tergesa-gesa. Ya benar, Aditia bangun kesiangan, mungkin efek dari semalam ia gadang, padahal biasanya juga memang sering bergadang, tapi semalam entah mengapa ia tertidur sangat pulas hingga lupa waktu, alarm bahkan sudah berbunyi puluhan kali sampai ia tidak dengar.
“Pak Aditia gak sarapan dulu?” tanya Mentari saat melihat Aditia berjalan melewatinya.
“Sudah siang, saya pasti terlambat kalau sarapan dulu,” jawab Aditia, ia menghentikan langkahnya.
“Saya bikinin bekal saja ya, tunggu sebentar.” Tanpa menunggu jawaban dari Aditia, Mentari langsung membuatkannya.
__ADS_1
Secepat kilat bekal untuk Aditia pun siap.
“Ini bekalnya, Pak.” Mentari memberikan wadah yang sudah diisi oleh masakan buatannya tadi, ya sebenernya sih memang dia sudah merencanakan hal itu.
“Terima kasih, saya berangkat dulu," ucap Aditia.
Mentari hanya mengangguk, lalu tersenyum.
Setalah itu Aditia pun berlalu dari sana.
'Pelan tapi pasti!'
Senyuman Mentari berubah menjadi senyuman sinis.
“Mentari,” tiba-tiba saja seseorang memanggilnya.
Mentari pun membalikkan tubuhnya, terlihat di belakangnya ada Bu Eva, ternyata wanita parubaya itu yang memanggilnya.
“Iya, Bu,” jawab Mentari.
“Eh iya, Pelangi mana Bu?” lanjut Mentari, ia tak melihat bayi itu digendong neneknya, kerena jika pagi-pagi Bu Eva selalu mengasuh bayi itu.
“Sama Kakeknya,” jawab Bu Eva.
“Saya sikap Aditia sama kamu lebih dekat ya?”
“Ah iya Bu, Pak Aditia sudah sikapnya sudah tidak seperti kemarin-kemarin lagi.”
“Syukurlah, saya senang melihatnya. Oh iya apa kamu sudah punya pacar?”
“Pacar? Mentari terlihat mengerutkan keningnya.
“Iya,” jawab Bu Eva.
“Emm ... memangnya kenapa ya Bu? Maaf, kok Ibu bertanya seperti itu?”
“Hehe ... tidak apa-apa sih, saya cuman tanya saja. Emm ... menurut kamu Aditia itu orang seperti apa?”
Mentari sedikit bingung, kenapa Bu Eva menanyakan hal itu, kalau boleh berbicara secara jujur tentu saja Aditia orang yang sangat kejam dan tidak punya hati. Tapi tidak mungkin bukan Mentari menjawabnya dengan jujur seperti itu?
“Baik kok, Bu. Saya rasa Pak Aditia orang yang sangat baik,” jawab Mentari.
__ADS_1
“Saya sudah pernah cerita bukan tentang masa lalu anak saya?”
“Iya, Bu. Bahkan semalam Pak Aditia juga menceritakannya sama saya.”
“Benarkah?” Bu Eva nampak terkejut.
Dengan ragu Mentari mengangguk kepalanya.
“Jadi dia bisa terbuka sama kamu?”
Lagi, Mentari mengangguk kepalanya.
“Ah saya senang sekali, Aditia mulai bisa berbagi cerita, kamu benar-benar membawa dampak positif, Mentari,” seru Bu Eva sambil tersenyum lebar.
Apa katanya dampak positif? Ya memang Mentari akan memberikan dampak positif untuk saat ini, tapi nanti ...
“Saya harap kamu bisa lebih mendekatkan diri pada Aditia, kamukan sudah sangat dekat dengan Pelangi, anaknya,” pinta Bu Eva.
“Emm ... maksud Ibu apa ya?”
“Mentari, maaf jika saya lancang. Entah mengapa saya menginginkan Aditia itu mempunyai pendamping hidup lagi, dan saya berharap Aditia berjodoh dengan kamu,” jelas Bu Eva.
Sontak Mentari pun membulatkan matanya, apa berjodoh dengan pria seperti Aditia? Dalam mimpi pun Mentari tidak Sudi! Baiklah, Mentari paham apa yang dimaksud oleh Bu Eva, bahkan Mentari sangat mengerti kenapa wanita parubaya itu sangat begitu berharap!
Kerena Mentari sangat mirip dengan Melati!
Mentari tahu jika wanita yang kini dihadapannya itu, dulu ketika mendiang Kakaknya menjadi menantu, Bu Eva sangat baik, bahkan mendiang sang Kakak bisa dikatakan sebagai menantu kesayangan.
Tapi mohon maaf, jelas di sini terlihat. Kerena mirip dengan sang Kakak, Bu Eva jadi berharap juga ia menjadi menantunya.
Jelas Mentari tidak akan mau, ia tidak mau nasibnya sama tragis dengan sang Kakak, Aditia bukanlah pria yang baik dimata Mentari.
“Maaf jika saya lancang Mentari, tapi saya merasa kamu dan Aditia sangat cocok, apa lagi kalau kamu belum punya pacar, mungkin kamu bisa menjalani hubungan pendekatan dulu satu sama lain, dan jika kamu mau nanti saya akan bicara pada Aditia. Tapi, jika kamu tidak mau juga, saya tidak akan memaksa, tapi saya sangat berharap,” paparnya.
Dalam hati Mentari keheranan, katanya tidak memaksa, kenapa ucapan wanita itu terkesan mengharuskannya. Bukankah itu namanya memaksa.
“Maaf, Bu. Tapi saya merasa tidak pantas untuk Pak Aditia, saya tidak mau memberikan harapan pada Ibu, dan saya tidak mau juga berharap pada Pak Aditia,” ucap Mentari.
Tapi, jika dipikir-pikir lagi mungkin ini bisa menjadi salah satu misinya juga.
'Baiklah kita ikuti permainan!’
__ADS_1
Bersambung ...