LOVE IN REGRET

LOVE IN REGRET
Bab Empat Belas


__ADS_3

Singkat cerita, satu bulan sudah Mentari berkerja sebagai baby sitter Pelangi, Mentari sangat menikmati moment-moment bersama, ya bisa dikatakan jika Pelangi adalah keponakan-nya, jelas itu semua tanpa sepengetahuan Aditia dan keluarganya.


Seiring waktu berjalan itu pula, secara diam-diam baik Aditia serta orang tuanya mengamati semuanya tentang Mentari, tidak ada hal yang mencurigakan. Tidak pernah melihat gelagat aneh, atau apa pun.


Namun selama ini, Aditia tidak pernah dekat dengan Mentari, jangankan dekat, membalas sapaan baby sitter sang anaknya pun tidak pernah.


Aditia sangat acuh, bukan tanpa alasan, wajah Mentari yang sangat mirip dengan mendiang istrinya, membuat Aditia merasakan sesak saat melihat Mentari. Terbayangkan kembali sikapnya, ketidak kepeduliannya dulu pada mendiang sang istri, hingga diakhir hayatnya, hanyalah luka yang Aditia berikan pada sang istri.


Pernah, dua Minggu yang lalu Aditia meminta orang tuanya untuk memberhentikan Mentari.


Tentu saja saat itu orang tuanya tidak setuju, Mentari sangat telaten mengurus Pelangi, kasih sayang yang diberikan oleh wanita itu terlihat begitu tulus.


Terlebih Aditia memberikan alasan tentang perasaannya pada orang tuanya, jika saat melihat Mentari ia jadi teringat Melati, rasa sakit dan penyesalannya seakan tidak pernah usai.


“Jika kamu terus seperti itu, hidup kamu tidak akan bergerak Aditia! Percayalah, di sana Melati pasti sudah bahagia! Kamu harus ikhlas Aditia. Tidak mungkin, Ibu meminta Mentari untuk berhenti dengan alasan seperti itu! Tentu saja itu tidak masuk akal, Mentari tidak tahu soal ini. Sudahlah, kamu harus mulai berdamai dengan waktu, berdamai dengan masalalu kamu Aditia, Mentari itu kerjanya bagus, dia sangat telaten!” tegas Ibu Eva saat itu, dikala Aditia mengatakan hal tersebutlah.


Alhasil, Aditia hanya bisa mengut saja, berdamai dengan semuanya? Bagaimana bisa berdamai? Jika saat ini saja, ia seperti dihantui oleh rasa bersalahnya terus-menerus pada mendiang sang istri, di tambah pengasuh anaknya begitu mirip dengan Melati, apakan ini hanya satu kebetulan?


\*\*\*


Malam sudah larut, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Aditia baru saja pulang dari kantornya. Belakang ini memang ia sering pulang malam, kerena banyaknya perkejaan yang harus dibereskan, sebagai bentuk tanggungjawab, mau tidak mau ia memilih untuk lembur.


Karena kesibukan itunya pula, Aditia tidak sempat melihat buah hatinya, saat ia berangkat Pelangi sudah tidur, dan saat ia pulang sudah dipastikan juga Pelangi sudah tidur.


Sebenernya hanya sekadar melihat mungkin bisa saja, saat pulang kerja, tapi Aditia merasa sungkan, kerena Pelangi satu kamar dengan sang pengasuhnya yaitu Mentari.


Tapi, untuk malah ini, ia akan memberi diri, rindu pada Pelangi sudah tidak bisa ditahan lagi.


“Aku masuk diam-diam sajalah, aku rasa mereka juga pasti sudah tidur,” gumam Aditia yang kini sudah berada di depan pintu kamar Pelangi dan pengasuhnya itu.


Perlahan Aditia mendekatkan tangannya untuk meraih kenop pintu kamar tersebut.


Ceklek!

__ADS_1


Suara pintu berbunyi, padahal Aditia sudah berusaha pelan, tapi pintu itu masih saja berbunyi.


Sang penghuni kamar ternyata belum tidur, Mentari terlihat tengah menggendong Pelangi, menimbang-nimbang anak asuhnya itu.


“Maaf, saya kira kalian sudah tidur,” ucap Aditia gugup, saat Mentari melirik kearahnya.


“Tidak apa, Pak. Apa Bapak mau melihat Pelangi, dia baru saja terlalap, sejak tadi dia terus menangis. Mungkin, dia juga merindukan Ayahnya, sudah belakang ini Bapak sibuk sekali bukan?” jelas Mentari, senyuman terulas di bibir wanita itu, tata bicaranya pun terdengar sangat lembut.


“Boleh saya masuk?” tanya Aditia.


“Silahkan,” jawab Mentari.


Aditia pun melangkah kakinya menghampiri Mentari yang saat ini masih mengendong Pelangi.


“Hay Nak, maafin Ayah ya, belakangan ini Ayah sibuk, tidur yang nyenyak yang anak Ayah yang cantik," ucap Aditia pada Pelangi yang berada di gendong pengasuhnya itu.


“Iya Ayah, aku rindu Ayah, jangan sibuk kerja terus Ayah, aku juga mau diperhatiin.” Mentari menjawab ucapan Aditia, ia menirukan suara anak kecil, seakan yang menjawab ucapan Aditia itu adalah Pelangi.


Lalu keduanya terlihat tersenyum. Merasa konyol tapi merasa bahagia juga, Aditia merasakan kehangatan yang selama ini terasa hilang begitu saja, sejak mendiang istrinya pergi.


Dengan senang hati Menteri memberikan Pelangi, setalah itu Aditia pun memindahkan Pelangi ke dalam box tidurnya.


“Tidur yang nyenyak Nak, maafkan Ayah,” bisik Aditia, ia mencium kening putri kecilnya yang kini sudah berusia 3 bulan itu.


Pelangi yang memejamkan matanya terlihat tersenyum, entah anak itu sedang bermimpi, atau menyahut ucapan dari Ayahnya.


“Terima kasih sudah menjaga Pelangi dengan baik,” ucap Aditia.


Untuk pertama kalinya Aditia berbicara secara lembut pada Mentari.


Mentari mengangguk sambil tersenyum, “itu sudah menjadi tugas saya, Pak. Pelangi anak yang pintar, walaupun dia masih bayi, ia seperti mengerti kondisi semua ini.”


“Baiklah, sekali lagi terima kasih.”

__ADS_1


“Sama-sama, Pak.”


“Saya keluar dulu," pamit Aditia.


“Baik Pak, emm ... apa Bapak perlu sesuatu, teh, Kopi, mungkin?" tawar Mentari.


“Biar nanti saya buat sendiri saja, kamu istirahat saja,” tolaknya.


“Saya belum mengantuk, Pak. Tadi saya sempat tidur juga, pas barusan kebangunan karena Dede Pelangi, aja. Kalau Bapak mau gak apa-apa saya buatkan.”


“Emm ... boleh, kalau tidak merepotkan.”


“Baiklah, saya akan buatkan teh hangat untuk Bapak, kalau kopi gak baik deh kayanya minum kopi sudah larut begini, nanti bisa-bisa Bapak gak bisa tidur,” papar Mentari, sambil terkekeh.


“Ah iya, kamu bener. Baiklah, saya akan bersih-bersih dulu, nanti antarkan saja kopinya ke ruang tengah,” ujar Aditia.


“Baik, Pak.”


Setalah itu Aditia pun berlalu dari sana. Senyuman di wajah Mentari seketika berubah dengan senyuman penuh arti.


“Baiklah, seperti aku harus lebih mendekati diri lagi dengan dia. Ini kesempatan bagus untuk membalas senyuman, dia harus terperangkap dalam genggamanku, setalah itu akan aku hempaskan dia tanpa sisa!”


*


*


*


Aditia kini sudah berada di kamarnya, senyuman diwajahnya tidak redup sejak keluar dari kamar Pelangi.


“Sepertinya apa yang dikatakan Ibu benar, aku harus mulai berdamai dengan semuanya. Mentari bukalah Melati, dia bukan istri mu Aditia, lupakan semua penyesalan itu, semuanya akan tetap berjalan,” gumam Aditia pada dirinya sendiri.


Setalah bercakap dengan Mentari, ternyata wanita itu sangat enak diajak bicara, Aditia merasa bersalah kerena selama ini ia tidak pernah menggubris pengasuh anaknya itu.

__ADS_1


“Sepertinya aku harus meminta maaf padanya. Selama ini aku selalu berprasangka buruk padanya, menganggap kalau dia yang kembali mengingat aku tentang luka itu. Ya, seperti aku harus meminta maaf nanti.”


Bersambung ...


__ADS_2