LOVE IN REGRET

LOVE IN REGRET
Bab Sembilan Belas


__ADS_3

Waktu terus berlalu, sudah hampir enam bulan Mentari berkerja menjadi pengasuh Pelangi, yang tak lain adalah keponakannya sendiri.


Hubungan Aditia dan Mentari pun semakin dekat, tak jarang jika weekend mereka selalu jalan bersama-sama, ke Mall atau pun sekadar makan di luar, tentu saja Pelangi selalu ikut, kerena putrinya itu selalu menjadi alasan untuk Aditia, agar bisa jalan bersama dengan Mentari.


Semakin hari Aditia pun merasa nyaman dengan Mentari, Aditia menyadari perlahan hatinya mulai terpaut dengan wanita itu, akan tetapi Aditia belum ada keberanian untuk mengatakan perasaannya itu pada Mentari.


Dan hari ini adalah hari weekend, jika biasa mereka akan berjalan-jalan keluar, untuk weekend kali ini tidak, Pelangi sedang demam, dan kebetulan Aditia juga masih ada beberapa pekerjaan yang sengaja memang ia bawa ke rumah untuk mengerjakannya di sana.


Aditia terlihat fokus dengan layar leptopnya, sambil duduk sofa yang ada diruang tengah.


Ibu Eva dan Ayah Reno sedang tidak ada di rumah, sudah tiga hari mereka pulang ke rumahnya, dan mengatakan jika mereka akan tinggal di sana selama satu Minggu. Tadinya mereka ingin pulang dan kembali tinggal di sana, akan tetapi Aditia melarangnya, dengan alasan di rumah sepi tidak ada orang tuanya.


“Di minum kopinya, Pak, biar tambah semangat lemburnya,” ujar Mentari, wanita itu meletakan satu cangkir kopi di atas meja.


Aditia mengalihkan pandangan pada Mentari, tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


“Terima kasih, oh iya dimana Pelangi?” tanya Aditia.


“Tidur, Pak, mungkin kerena semalam tidurnya gak nyenyak jadi udah tidur lagi,” jawab Mentari.


“Gimana demamnya, udah turun belum? Kalau belum lebih baik kita bawa ke rumah sakit saja.”


“Sudah, Pak.”

__ADS_1


Ya kondisi Pelangi memang sudah membaik kembali, tentu saja Mentari gerak cepat untuk menyembuhkan anak asuh alias keponakannya itu, dia seorang Dokter, jelas ia tahu apa yang harus dilakukan.


“Syukurlah, oh iya bisa minta tolong ambilkan dokumen di kamar saya gak? Ada di atas nakas," pinta Aditia.


Mentari langsung menganggukkan kepalanya, setalah itu ia pun berlalu dari sana.


“Ini kesempatan bagus, aku harus satukan dokumen yang sudah aku buat di dokumennya, biar dia tidak curiga!” gumam Mentari.


Sebelum ke kamar Aditia, Mentari lebih dulu mengambil dokumen yang sudah ia siapkan, entah dokumen apa itu, tapi Mentari butuh tanda tangan Aditia di dokumen miliknya itu.


Setalah itu Mentari pun mengambil dokumen milik Aditia di kamar pria itu.


“Dia masih menyimpan Poto Kakakku?” sinis Mentari saat masuk ke dalam kamar Aditia tersebut, ia melihat masih banyak bingkai poto yang terpajang di kamar tersebut.


Setalah mengambil dokumen milik Aditia tersebut, Mentari pun keluar dari kamar pria itu, tak lupa ia juga menyatukan dokumen miliknya di tengah-tengah dokumen milik Aditia.


“Ini Pak Dokumennya." Mentari yang sudah kembali itu, langsung memberikan Dokumen tersebut pada Aditia.


“Oke, maaf ya saya merepotkan kamu," ujar Aditia.


“Tidak kok, Pak. Emm ... apa Bapak butuh bantuan lagi?” tanya Mentari.


“Emm, ada sih. Kalau kamu gak keberatan, tolong dong bukain tiap lembar dokumennya, saya mau tanda tangan, ini dokumen mau ada yang ambil soalnya, teman saya sudah ada di jalan, saya juga ini tanggung lagi input data, takut ada yang terlewat,” jawab Aditia.

__ADS_1


“Baiklah saya akan bantu.”


Dalam hati Mentari bersorak penuh kemenangan, ia merasa semua rencananya selalu berjalan dengan mulus.


Setalah itu Mentari pun membantu Aditia mengarahkan tangan pria itu, Aditia terlihat menurut, ia mendatangai semua dokumen tersebut, namun matanya masih fokus dengan layar leptopnya.


Hanya sekilas dari sudut matanya saja ia melirik kearah dokumen yang ia tanda tangani itu, hanya takut salah letaknya saja, dan seperti Aditia memang tidak mencurigai apa-apa.


“Sudah semua, Pak,” ucap Mentari.


“Oke," jawab Aditia singkat.


“Terus ini dokumennya mau di kemanakan, Pak?”


Aditia kini mengalihkan pandangan pada Mentari, Aditia nampak ragu akan berbicara.


“Maaf jika saya merepotkan kamu lagi, bisa tolong antarkan ke depan, ini teman saya sudah ada di depan katanya, tapi dia gak bisa masuk, soalnya lagi buru-buru dia menunggu di mobil yang ada di depan.”


Dengan senang hati Mentari pun menganggukkan kepalanya, setalah itu ia pun berlalu menuruti permintaan Aditia. Tak lupa ia juga mengambil dokumen miliknya, agar tidak terbawa.


Setalah itu Mentari masuk melalui pintu belakang, tentu saja ia takut Aditia curiga padanya.


Aditia terlihat masih fokus dengan leptopnya, Mentari berjalan mengendap-endap menaiki anak tangga menuju lantai dua, ia berniat ingin menyimpan dokumen miliknya itu ke tempat yang aman.

__ADS_1


“Mentari,” tiba-tiba saja Aditia memanggil wanita itu.


Bersambung ...


__ADS_2