LOVE IN REGRET

LOVE IN REGRET
Bab Dua Puluh Satu


__ADS_3

“Maaf, Sis. Sebaiknya kamu lupakan saja aku, kita gak mungkin bersama. Maaf jika selama ini aku ada salah sama kamu, dan satu lagi aku minta kamu jangan pernah temui aku lagi, selamanya kita tidak akan pernah bersama, Sis. Aku dan kamu tidak akan pernah menjadi kita, dan aku ... ” Aditia menggantungkan ucapannya.


“Dan aku apa? Apa kamu sudah ada wanita yang sekarang mengisi hati kamu begitu? Atau kamu belum bisa melupakan mendiang istri kamu Melati, begitu Aditia?” sela Siska memotong ucapan lawan bicaranya itu.


“Melati selamanya akan ada di hati aku, Siksa, dia memiliki posisi tertentu di hati aku. Dan, ya benar, untuk saat ini aku sudah menemukan wanita yang kembali bertahta dihati aku, tanpa menyingkirkan posisi Melati di sini,” jelas Aditia sambil menunjuk dadanya.


“Siapa hah? Siapa wanita itu hah? Berani sekali dia merebut kamu dari aku, Aditia. Mana wanita itu hah, mana?” pekik Siska.


Jelas ia tidak terima dengan hal yang diucapkan oleh pria yang sangat dicintainya itu, selama ini perjuangannya menjalani hubungan dengan Aditia, sungguh menguras energi jiwa dan raganya. Apakah perjuangannya selama ini akan sia-sia?


Mentari yang baru saja kembali dari kamarnya, ia mendengar suara perdebatan antara Aditia dan seorang wanita itu, terlihat langsung menghampirinya, ia perasaan, apa yang sebenernya terjadi?


“Pak Aditia,” panggil Mentari.


Sontak Aditia dan Siska pun langsung menatap kearah Mentari, yang kini terlihat sedang berjalan menghampirinya.

__ADS_1


Siksa terkejut, kedua bola mata wanita itu terlihat membulat sempurna. Siapa wanita itu? Kenapa sangat mirip dengan Melati.


“Ka-kamu masih hidup?” tanya Siksa terbata-bata sambil menunjuk kearah Mentari.


Mentari mengerutkan keningnya, seolah ia tidak mengerti apa yang di ucapkan wanita itu. Padahal Mentari sudah tahu, pasti wanita yang kini menunjukan itu menyangka kalau dirinya adalah mendiang sang Kakak, Melati.


Tapi tunggu, siapa wanita itu? Tadi Mentari sempat menguping pembicaraan Aditia dan wanita itu, dari arah bicara, sepertinya wanita itu ada kaitannya juga dengan kematian sang Kakak. Apakah mungkin, jika wanita itu adalah wanita yang menjalani hubungan dengan Aditia? Apa mungkin itu Siska, yang pernah Aditia ceritakan padanya?


Jika benar, bukankah ini sangat menyayangkan. Baiklah, kita buat drama dan kita buat wanita yang bernama Siska itu kena mental! pikir Mentari.


“Aditia, ini apa maksudnya?” Siska yang terlihat bingung dan terkejut itu, malah bertanya pada Aditia.


“Bukankah istrimu itu sudah meninggal, tapi kenapa dia ada di sini? Apa kamu merekayasa semuanya?” sambung Siksa.


Entahlah, Siksa saat ini bisa dilihat seperti orang bodoh! Bukankah sudah jelas, bahwa kematian Melati itu terjadi adanya, bahkan dirinya sendiri pun ikut serta melayat dan mengantarkan wanita itu ke tempat peristirahatan terakhirnya?

__ADS_1


“Maaf Mbak, saya bukan istrinya Pak Aditia, sepertinya Mbak salah paham, saya di sini hanya pengasuh putrinya Pak Aditia, Pelangi,” jelas Mentari.


Sontak Siksa pun menganga, ia sama sekali tidak percaya. Ia begitu yakin jika wanita itu adalah Melati.


“Benar yang dikatakan oleh Mentari, Siksa. Kamu jangan menuduh aku yang tidak-tidak, mana mungkin aku merekayasa sebuah kematian, kamu pikir aku tidak waras!” sentaknya.


“Tidak! ini tidak mungkin. Aku yakin kalau dia itu Melati, dari namanya saja pun hampir sama, Melati-Mentari!” keukeh Siksa.


“Terserah kamu Siksa, aku tidak meminta kamu untuk percaya sama aku! Sebaiknya kamu pergi dari sini dan jangan pernah mengusik hidup aku lagi!” tegas Aditia.


“Tidak! Aku tidak akan pergi dari sini sebelum kamu menjelaskan semuanya!”


“Apa lagi yang harus jelaskan Siksa? Dia bukan Melati, dia Mentari, puas kamu!”


Bersambung ...

__ADS_1


.


__ADS_2