LOVE IN REGRET

LOVE IN REGRET
Bab Dua Puluh Empat


__ADS_3

“Kamu kamu yakin Tari?”


“Aku sudah yakin Mah, aku yakin semua ini akan berhasil.”


“Tapi ini semua sangat keterlaluan, Nak. Sejak awal Mamah sudah mengingatkan kamu, biarlah, yang sudah terjadi itu kehendak Tuhan, lupakan semuanya Nak, Mamah yakin, Kakak kamu di sana sudah bahagia, sebaiknya sebelum semuanya terlalu jauh, kamu lebih baik jujur pada Aditia, Mamah memang kecewa pada Aditia, tapi biarlah semua berjalan sendirinya, Tuhan gak tidur Mentari,” papar sang Mamah panjang lebar, lewat sambungan telepon tersebut.


Mentari memberitahukan kepada orang tuanya jika Aditia ingin menemui mereka. Sejak awal kedua orang tuanya itu tidak mendukung keputusan putri bungsunya itu untuk membalas dendam pada Aditia. Namun, seorang Mentari, bukanlah Melati, mereka saudara namun sikap mereka sangat bertolak belakang, Melati dominan menurut, tapi Mentari sangat pembangkangan.


“Maaf, Mah. Tapi semuanya sudah sejauh ini. Satu langkah lagi aku berhasil. Besok aku dan Aditia serta Pelangi akan datang ke rumah Mamah. Dan satu lagi, Mah. Hak asuh Pelangi kini sudah jatuh ke tangan kita, jadi setelah ini kita harus pergi jauh meninggalkan kota ini Mah.”


“Bagaimana bisa seperti itu Tari? Apa yang sudah kamu lakukan? Kok bisa hak asuh Pelangi jatuh ke kita?” Dari suaranya Mamahnya itu nampak terkejut.


“Nanti akan aku ceritakan semuanya Mah.”


“Tapi, Nak. Apa kamu yakin? Kamu gak akan menyesal?”


“Enggak Mah, gak akan. Sudah dulu ya Mah.”


Klik!


Mentari langsung mematikan sambungan telepon bersama Mamahnya itu. Berulang kali ia menghelai napasnya.


“Tidak! aku tidak boleh goyah. Ayolah Mentari, kamu sudah sejauh ini, selangkah lagi semuanya berhasil. Kamu akan berhasil membuat Aditia terjatuh, sakit, seperti apa yang lakukan pria itu dulu pada Kak Melati,” gumamnya.


*


*


*


Sementara itu, Aditia kini tengah berbaring di atas ranjang. Ia terlihat sangat gusar, rasanya ingin cepat-cepat menjelang pagi, ia sudah tidak sabar ingin menemui orang tua Mentari dan mengutarakan niat baiknya itu.

__ADS_1


“Semoga semuanya di permudah,” gumamnya.


Ia pun mulai memejamkan matanya. Hingga beberapa menit kemudian, ia pun terlelap masuk ke dalam dunia mimpinya.


Pagi pun menjelang, Aditia sejak subuh tadi sudah terbangun, ia juga sudah terlihat sangat rapi.


“Oke, aku rasa sudah selesai, sopanlah ya pakaian kaya gini,” gumamnya sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin.


Menggunakan celana jeans dan kemeja berwarna putih.


Sementara itu Mentari juga terlihat sudah siap. Ia sudah siapa dari setengah jam yang lalu dan kini ia tengah mempersiapkan barang-barangnya milik Pelangi, beberapa baju ganti dan yang lainnya.


Tok tok tok


“Iya, sebentar,” sahut Mentari saat mendengar pintu kamarnya di ketuk. Ia masukan barang terakhir ke adalan tas, lalu menutupnya.


Setalah itu ia pun berlalu menuju pintu dan membuka pintu tersebut.


“Sudah, Pak.”


“Baiklah, saya tunggu di mobil. Kita sarapan di luar saja ya,” ujarnya.


“Baik Pak.”


Aditia pun berlalu dari sana, Mentari pun mengambil tasnya serta tas yang berisi barang milik Pelangi tersebut.


“Ayo Sayang kita ketemu sama Nenek dan Kakek, kita akan tinggal bersama mereka,” ucap Mentari pada bayi kecil tersebut.


Ia pun menggendongnya, lalu beranjak dari kamar tersebut.


“Loh, kok bawa tas gitu? Kaya mau pindahan aja?” tanya Aditia, ia merasa heran, kerena Mentari menenteng tas yang ukurannya cukup besar.

__ADS_1


“Oh ini, ini oleh-oleh buat orang tua saya, Pak. Saya udah ngumpulin sejak lama, beli dari online,” jawab Manteri sedikit gugup.


“Oh begitu, apa memang isinya?”


“Pakaian Pak.”


“Ya sudah biar saya masukan ke bagasi mobil.” Aditia mengambil alih tas tersebut dari tangan Mentari dan memasukannya ke dalam bagasi mobilnya.


“Udah yuk masuk,” ajaknya sambil membukakan pintu mobil untuk wanita itu.


“Terima kasih Pak,” ucap Mentari, lalu ia pun masuk ke dalam mobil tersebut.


Aditia pun menyusul masuk, ia duduk di kursi pengemudi, dan mulai melajukan mobilnya.


“Jadi di mana alamat rumah saudara kamu itu?” tanya Aditia.


“Terus saja jalan Pak, nanti saya tunjukkan jalannya,” jawab Mentari.


Aditia mengangguk, ia melajukan mobilnya sesuai arahan dari Mentari. Sudah hampir setengah jam mengemudikan mobilnya itu.


Aditia merasa tidak asing dengan jalan yang kini ia lewati, kenapa jalan ini seperti menuju rumah kedua mertuanya?


“Apa kita gak salah jalan?” tanya Aditia.


“Enggak kok Pak, sudah benar jalannya.”


Aditia mencoba berpikir positif, mungkin rumah saudara Mentari memang satu kompleks dengan rumah orang tua mendiang istrinya.


“Stop Pak,” pinta Mentari.


Aditia pun langsung menghentikan laju mobilnya itu. Lah kok?

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2