LOVE IN REGRET

LOVE IN REGRET
Bab Delapan


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, Aditia masih belum terlelap, berulang kali ia mencoba memejamkan matanya, namun rasa kantuk tidak sama sekali pria satu anak itu rasakan.


Aditia pun beranjak dari ranjangnya, ia berjalan menuju box bayi di dekat ranjang itu, di mana malaikat kecilnya itu kini tengah tertidur lelap, untunglah Melati kecil itu tidak rewel, tadi hanya terbangun sebentar, lalu Aditia memberikan susu, setalah itu bayinya tidur kembali.


Aditia menatap putri malaikat kecilnya itu, ia tersenyum saat melihatnya sang anak tersebut akan tetapi dengan mata yang tertutup itu.


“Apa kamu bermimpi bertemu dengan Ibumu Nak, senyumanmu terlihat sangat bahagia,” ucap Aditia pelan.


“Bilang sama Ibumu, Ayah juga merindukannya,” bisiknya kemudian, lalu Aditia mendaratkan kecupan di kening buah hatinya itu perlahan.


“Oh iya Ayah hampir saja lupa, Nak. Ayah belum memberimu nama, Ayah akan memberikan nama untukmu Pelangi, ya nama yang indah bukan? Kamu seperti pelangi yang akan selalu mewarna hari-hari Ayah, selamat tidur Pelangi anakku.” Aditia kembali mendarat di kening Pelangi, membuat Pelangi yang tengah tertidur lelap itu terusik, namun dengan cepat Aditia menempuk-nepuk pelan buah hatinya itu.


Setalah memastikan Pelangi sudah terlelap kembali, Aditia pun kembali ke ranjangnya, ia tidak mau membuat tidur Pelangi terganggu.


Mencoba untuk tertidur, tapi sayangnya lagi dan lagi ia sama sekali tidak bisa.


Lalu Aditia teringat sesuatu, ia mengambil buku dayri milik mendiang istrinya yang ia temukan tempo hari itu, Aditia belum membaca semuanya.


Perlahan Aditia pun kembali membuka tiap lembar buku tersebut dan membacanya, lagi-lagi Aditia merasakan dadanya bak terhampit bongkahan batu besar, sakit, sesak.


...'*Aku pikir aku sudah berhasil menaklukannya, aku pikir aku sudah berhasil mengambil hatinya, ternyata tidak....


...Salahkan jika aku berharap padanya? Salahkan jika aku mengharap dia mencintaiku? ...


...Rasa percaya diri ini terlalu tinggi, haruskah aku menyerahkan sekarang? ...


...Ya Tuhan sesakit inikah berharap pada maklum ciptaanMu?...


...Aku pikir setalah aku mengandung janin ini dia akan mulai memberikan kasih dan sayang serta cintanya untukku, tapi nyatanya......


...Bahkan secara diam-diam ia menyembunyikan rahasia, secara diam-diam ia kembali menjali hubungan dengan masalalunya....


...Beginikah rasanya mencintai seseorang yang belum usai dengan masalalunya? ...


...Kenapa dia begitu tega? Kenapa dia harus hadir kembali? Bukankah dia juga wanita? Tidakkah dia mengertikan posisiku....

__ADS_1


...Bukankah aku lebih berhak atas suamiku? ...


...Aku lelah Tuhan, kenapa engkau memberikan cobaan seberat ini? ...


...Aku benci berada di posisi seperti ini, antara aku, suamiku dan dia!...


...Bukankah aku berhak sepenuhnya, aku istri sahnya, tapi mengapa aku seperti menjadi sebuah penghalang baginya? ...


...Aku seperti tembok besar yang menghalangi sebuah pemandangan yang indah, sehingga mereka tidak bisa merasakan bagaimana keindahannya....


...Aku Melati yang goyah, aku Melati yang layu, aku Melati yang tidak diharapkan olehnya. ...


...Aku tahu Tuhan, engkau tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan umatnya. Tapi apakah harapan bahagia itu masih ada?...


...Hujan pasti rada, badai pasti berlalu, akan ada pelangi setalah hujan, aku hanya bisa menunggu semuanya sampai indah pada waktunya....


...Namun, kapan waktu itu tiba? ...


...Aku seperti sebuah kapal yang terdampar di tengah laut tanpa nakoda, dayung pun aku tidak punya, lantas bagaimana aku menepi? ...


...Menunggu gelombang ombok sampai aku bisa menepi?...


... ~Melati*...


Aditia tak kuasa menahan tangisnya usai membaca curahan mendiang sang istri yang di tulis dengan kalimat diski yang sangat menyayat hati tersebut.


Tentu saja ia mengerti dengan tulisan itu, kapan Melati menuliskan semua itu tentu saja ia tahu.


“Maafkan aku Sayang, aku menyadari semuanya saat itu, tapi aku terlalu egois selalu menepis rasa itu. Maafkan aku sudah melukai hatimu, aku terlalu terobsesi dengannya sehingga aku tidak peduli denganmu, padahal kamu yang selalu mengerti aku, maafkan aku Melati,” lirih Aditia.


Siska—wanita yang dituju dalam tulisan Melati adalah wanita itu, Wanita yang sudah meninggal Aditia dia saat pernikahan mereka digelar, tanpa alasan yang jelas wanita itu membatalkan semuanya, sehingga Melati—lah yang menggantikan posisi sang pengantin wanita.


Bodohnya Aditia, bukannya berterima kasih pada Melati yang sudah menyematkan nama baik dirinya dan keluarganya, tapi ia malah melukainya, menganggap jika Melati tidak berati dalam hidupnya, bahkan sampai ujung usia wanita itu, hanya luka dan luka yang ia berikan.


Flashback...

__ADS_1


Saat itu Aditia baru saja pulang dari kantor, saat ia keluar dari lobi kantornya terlihat seorang wanita berdiri di depan sana, wanita itu menatap Aditia dengan tatapan penuh kerinduan saat melihat Aditia yang baru saja keluar tersebut.


“Aku sangat merindukanmu,” ucap wanita tersebut, yang tak lain adalah Siska.


Tanpa aba-aba Siska langsung berjalan menghampiri Aditia dan memeluknya. Aditia terkejut saat itu, ia terdiam membisu.


Jujur Aditia pun sangat merindukan mantan kekasih itu, akan tetapi ia teringat dengan kejadian saat Siska yang meninggalkan dirinya serta acara pernikahan mereka dengan alasan yang tidak jelas. Dengan capat Aditia tersadar ia langsung mendorong wanita itu menjauh dari pelukannya.


Siksa langsung menatap nanar pria yang sangat dicintainya itu.


“Kenapa? Apa kamu tidak merindukan aku?” tanyanya, suaranya terdengar bergetar, menandakan jika ia terluka atas perlakuan Aditia tersebut.


“Rindu?” cibirnya, ia tersenyum sinis menatap Siksa.


“Untuk apa kamu datang ke sini? Rinduku sudah musnah saat kamu meninggal aku tanpa alasan yang tak jelas!” lanjutnya.


“Kamu salah Aditia! Aku tidak bermaksud menyakiti kamu, aku punya alasan yang jelas mengapa aku melakukan hal itu, aku terpaksa Aditia, aku terpaksa!” pekik Siska.


“Omong kosong! jangan katakan cinta palsumu itu Siskaa, aku sudah muak, kau wanita terkejam yang pernah aku kenal!” kata Aditia, setalah itu Aditia langsung berjalan menuju mobilnya.


“Aditia tunggu!” Dengan cepat Siska menyusul pria itu. Siksa langsung meriah tangan Aditia, menahannya agar tidak masuk ke dalam mobil.


“Apa lagi?!” kesal Aditia, ia menepis tangan Siksa akan tetapi tidak berhasil, Siska malah mengeratkan genggamannya.


“Tolong dengarkan penjelasan aku dulu! Aku terpaksa melakukan semua itu, semua itu bukan keinginan aku, yang mengirim pesan itu adalah Mamahku, bukan aku. Aku sudah bersiap-siap pada saat itu, akan tetapi orang tuaku malah mengunciku di dalam kamar, tidak perlu aku jelaskan bukan kenapa mereka melakukan itu, sejak pertama kamu juga tahu jika mereka tidak menyetujui hubungan kita, terutama Ayahku. Saat itu aku sempat berhasil kabur, tapi ketahuan, Ayahku langsung terkana serangan jantung, beliau meninggal Aditia!” jelas Siska.


Aditia terkejut saat mendengar penjelasan dari wanita itu.


“Ayah meninggal, Mamah sangat tersiksa, ia sempat masuk rumah sakit berkali-kali, hingga akhirnya meninggalkan aku juga. Sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi, aku mohon maafkan aku,” lanjut Siska, air mata terlihat sudah membanjiri wajah wanita itu.


“Ke—kenapa kamu tidak pernah bercerita soal ini?”


Pertahanan Aditia saat itu mulai goyah, ia merasa kasian pada Siska, terlebih rasa cinta untuk mantan kekasihnya itu masih ada.


“Aku ingin bercerita, tapi kamu memblokir kontak aku, bahkan aku datang ke rumah kamu, orang tuamu mengatakan jika kamu sudah menikah dan bahagia, aku hancur Aditia, aku hancur saat mendengarnya!”

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk like dan komen ya temen-temen, terima kasih.


__ADS_2