
Flashback
2 tahun yang lalu...
Seorang laki-laki terlihat berjalan mondar-mandir dengan wajah yang cemas. Berulang kali ia mencoba menghubungi seseorang lewat sambungan telepon, namun orang yang dihubungi sama sekali tidak meresponnya.
“Siska kamu kemana sih?” gerutunya. Perasaan kini sungguh tidak menentu, cemas, kesal, bercampur menjadi satu.
Bagaimana tidak, hari ini adalah hari yang bersejarah untuknya, di mana beberapa jam lagi ia akan menikah dengan wanita yang ia cintai. Persiapan semuanya selesai, tamu undangan sudah mulai berdatangan. Namun tiba-tiba saja sang calon pengantin wanita tidak ada kabar sama sekali, bahkan belum datang ke tempat tersebut.
“Adi bagaimana? Apa kamu sudah menghubungi Siska? Sebentar lagi acara ijab qobul akan segara di lakukan.” Seorang wanita terlihat menghampiri Aditia, wanita itu adalah Ibunya.
“Siska susah sekali di hubungi, Bu. Ponselnya tidak aktif,” jawabnya dengan suara lemas.
“Ya ampun bagaimana ini? Penghulu sebentar lagi datang. Siska gimana sih!”
“Aku juga gak tau, Bu.”
“Coba kamu hubungi dia lagi.” titah sang Ibu. Aditia mengangguk, lalu ia mencoba menelepon calon istrinya itu, terhubung, namun wanita itu tidak mengangkatnya.
Aditia pun mengirim pesan padanya. Menanyakan jika calon istrinya itu sudah sampai mana dan mengatakan jika acaranya akan segera dilakukan.
Hingga beberapa detik kemudian Aditia mendapatkan balasan dari wanita itu.
‘Maaf aku tidak bisa datang.’
Deg!
Detak jantungnya terasa berhenti berdetak, saat ia membaca pesan yang dikirim oleh calon istrinya itu. Apa maksudnya Siksa mengirim pesan tersebut?
“Gimana Adi?” tanya Ibu Eva yang sedari tadi berada di sana. Wanita parubaya itu pun terlihat cemas.
Aditia tak menjawab, matanya masih fokus menatap layar ponselnya itu. Apa ia salah baca? Kerena tidak ada jawaban dari Aditia, Ibu Eva pun merebut ponsel putranya itu. Aditia terkejut, ia berusaha mengambil ponselnya itu kembali.
“Apa-apaan ini? Kenapa dia mengirim pesan seperti ini? Bener-bener kelewatan!” pekik Ibu Eva yang membaca pesan dari calon menantunya itu.
Antara terkejut, kecewa, marah. Bagaimana bisa wanita itu membatalkan acara tersebut, sementara acara sebentar lagi akan di mulai, tamu undangan sudah berdatangan. Jika acara pernikahan ini batal, mau di simpan di mana wajahnya. Pasti banyak orang yang mencibirnya.
“Enggak Bu, Siksa pasti salah kirim. Biar aku coba hubungi dia lagi,” ujar Aditia. Ia mengambil ponselnya dari sang Ibu, lalu mencoba menghubungi Siska kembali, namun sayangnya nomer ponsel wanita itu kini sudah tidak aktif lagi.
“Bagaimana sudah ada kabar dari Siksa? Barusan penghulu sudah datang,” ucap seorang laki-laki parubaya. Dia adalah Ayah Irwan, Ayahnya.
“Siska membatalkan pernikahan ini, Yah. Gimana ini?” jawab Ibu Eva, wajahnya terlihat sangat cemas.
“Apa?” Ayah Irwan terkejut. Ia langsung menghampiri Aditia.
“Bagaimana bisa seperti ini Aditia?” sambungnya pada Aditia.
“Aku juga gak tau Yah, tiba-tiba saja Siksa mengirim pesan jika ia tidak bisa datang,” jawabnya lirih. Aditia terlihat frustasi, beberapa kali ia mengusap wajahnya dan menyugar rambutnya dengan kasar.
“Benar-benar keterlaluan!” Raut wajah penuh amarah terlihat jelas dari Ayahnya Aditia.
“Batalkan saja semuanya Yah, Bu.” ucap Aditia.
“Apa kamu gila hah? Lihat, kamu lihat sana para tamu undangan sudah datang, semuanya sudah siap. Bagaimana kita membatalkan semuanya Aditia, pikir! Mau di simpan di mana wajah keluarga kita hah?” bentak Ayah Irwan. Tentu saja tidak semudah itu untuk membatalkan semuanya. Jika masih ada waktu, mungkin bisa saja, tapi ini? Sebentar lagi akan di mulai.
“Lalu aku harus bagaimana, Yah? Apa aku menikah tanpa ada calon pengantin wanita hah?”
“Kurang ngajar kamu!” Ayah Irwan mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan pada putranya itu.
“Cukup!” teriak Ibu Eva, ia menahan tangan suaminya itu. “Apa dengan cara ini bisa menyelesaikan semuanya hah?”
“Aditia kamu diam di sini. Ayah ikut Ibu.” sambungnya seraya menarik tangan suaminya itu.
Ibu Eva dan Ayah Irwan keluar dari ruangan tersebut.
“Argggg! kenapa jadi seperti ini sih? Siksa kenapa kamu tega meninggalkan aku di saat acara pernikahan kita?” teriak Aditia. Ia bener-bener tidak tahu harus bagaimana saat ini. Marah, kecewa, rasanya pada wanita yang ia cintai itu.
Padahal selama ini semuanya baik-baik saja, tidak ada pertengkaran antara mereka. Bahkan kemarin mereka masih bertemu, Siksa sendiri terlihat bahagia. Tapi kenapa tiba-tiba wanita itu membatalkan semuanya.
Sementara itu di tempat lain.
__ADS_1
“Enggak Bu, aku gak mau. Pernikahan itu bukan untuk main-main! Aku mau menikah dengan laki-laki yang aku cintai, aku mau menikah satu kali dalam hidupku!” ucap seorang wanita cantik.
“Iya Ibu tau Melati. Tapi kita juga sudah kenal bukan dengan keluarganya. Ibu yakin dia laki-laki yang baik, dia pasti akan membuat kamu bahagia,” bujuk wanita parubaya, yang tak lain adalah Ibunya.
Melati bergeming, permintaan sang Ibu benar-benar di luar logikanya. Bagaimana bisa Ibunya meminta ia untuk menikah dengan anak dari temannya. Memang mereka saling mengenal, Melati sendiri sudah pernah bertemu dengan laki-laki itu, tapi jika untuk menikah dengannya. Itu tidak mungkin, menikah bukan untuk main-main, pernikahan suatu ikatan suci.
“Melati, Ibu mohon. Ibu gak pernahkah minta apa-apa sama kamu, untuk kali ini saja, Ibu mohon ... kamu mau ya.” bujuk Ibu Reni.
Entahlah, rasanya Melati tidak tega melihat wanita yang sudah melahirkannya itu memohon. Memang selama ini sang Ibu tidak pernah meminta apa pun darinya, seingat Melati. Tapi, jika menuruti permintaannya kali ini.
“Bu, sudah jangan memaksa Melati jika dia tidak mau. Benar kata Melati, menikah itu bukan perkara yang gampang, menikah itu harus dengan cinta satu sama lain!” Tiba-tiba saja Ayah Reno menimpal pembicaraan Anak dan Istrinya itu.
“Iya Ayah, Ibu tau! Tapikan kita juga sudah mengenal keluarganya, mereka baik, mereka juga sahabat kita sejak dulu. Apa salahnya jika Melati menikah dengan anak mereka? Lagian Ibu yakin mereka gak mungkin mengecewakan kita, Yah!” tegas Ibu Reni pada suaminya itu.
“Sudah Bu, Ayah jangan bertengkar,” timpal Melati.
“Kami tidak bertengkar Melati, Ayah hanya tidak suka jika Ibumu melakukan hal yang diluar nalar seperti ini!”
“Di luar nalar bagaimana maksud Ayah hah? Ibu melakukan semua ini, hanya ingin melihat Melati bahagia kok, usia Melati sudah cukup matang untuk membina rumah tangga!”
“Cukup!” teriak Melati. Ia bener-bener pusing melihat Ayah dan Ibunya malah beradu mulut seperti ini.
Kedua orang tuanya pun langsung terdiam. Melati menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
“Baiklah, Melati akan turuti permintaan Ibu.” sambungnya.
Ibu Reni terlihat langsung tersenyum lebar, lalu memeluk putrinya itu. Sementara Ayah Reno, ia hanya menggeleng kepalanya. Sebenernya Ayah Reno sama sekali tidak setuju dengan permintaan keputusan istrinya. Tapi, apa boleh buat? Melati saja sekarang sudah menyetujuinya.
“Ya sudah, ayo kita ke tempat acara sekarang,” ajak Ibu Reni. Ia melepaskan pelukannya, lalu menarik tangan putrinya itu dengan lembut.
Melati hanya bisa pasrah, dalam hati kecilnya, ia masih menolak permintaan sang Ibu. Namun Melati juga tidak mau mengecewakan wanita yang sudah melahirkannya itu. Semoga saja keputusan ini benar.
Mereka pun langsung menuju tempat acara tersebut. Sesampainya di sana, Melati langsung berganti pakaian dengan baju kebaya modern yang seharusnya baju tersebut digunakan oleh Siksa—calon istrinya Aditia. Setalah itu Melati di rias oleh MUA.
“Terima kasih sudah bersedia menjadi pengantin pengganti untuk anak Tante,” ujar Ibu Eva pada Melati.
Melati hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan.
“Insyaallah, Aditia tidak akan mengecewakan kamu Melati, apa lagi kamu sangat cantik sekali.”
“Sama-sama sayang, kalau begitu Tante temui Aditia dulu ya, kami akan menunggu kamu di depan, Pak penghulu sudah menunggu sejak tadi,” pamit Ibu Eva.
Melati hanya menganggukkan kepalanya, setalah itu Ibu Eva pun berlalu dari sana.
“Aditia.” Panggil Ibu Eva pada putranya itu. Aditia pun menoleh padanya.
“Ayo kita ke depan, Pak penghulu sudah menunggu kamu, sebentar lagi ijab qobul akan dilakukan,” sambungnya.
“Ibu ini apa-apaan sih? Bukannya Ibu tadi baca sendiri pesan dari Siksa? Dia tidak akan datang, Bu. Lalu Aditia akan melakukan ijab qobul dengan siapa?”
“Sudah jangan banyak bertanya, rapikan dulu penampilan kamu. Pernikahan ini akan tetap dilangsungkan dengan atau tanpa wanita itu!” tegas Ibu Eva. Melihat penampilan Aditia yang acak-acakan tersebut.
“Apa maksud Ibu?” tanya Aditia. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Ibunya. Jika dia tidak menikah dengan Siksa, lalu dengan siapa?
“Udah jangan banyak tanya, sebaik kamu cepat. Nanti juga kamu akan tau sendiri siapa calon istrimu itu!” tegas Ibu Eva.
“Tapi Bu, aku tidak mau! Ini itu pernikahan Bu, bukan main-main. Aku tidak mau menikah dengan wanita lain!” Aditia masih mencoba menolak permintaan konyol Ibunya itu. Apa sudah gila? Ia harus menikah dengan wanita yang tidak ia cinta, benar-benar konyol!
“Iya kerena ini sebuah pernikahan, kamu yang jangan main-main Aditia! Pikir, jika pernikahan ini gagal bagaimana hah? Kamu sendiri yang akan jadi cemoohan orang-orang, semua tamu undangan sudah datang, mengertilah Aditia, Ibu juga sebenernya tidak mau begini, tapi kita tidak ada cara lain.”
“Tapi aku tidak mau menikah dengan wanita yang tidak aku cintai, Bu. Ibu juga harus mengerti itu!”
“Lantas, apa Siska itu mencintai kamu hah? Pikir Aditia, pikir! Jika dia mencintai kamu dia pasti akan datang ke sini. Buktinya apa hah? Dia pergi tanpa alasan yang jelas. Apa itu yang di namakan cinta hah?” pekik Ibu Eva, ia bener-bener tidak bisa menahan emosi yang terasa meluap dalam jiwanya itu.
“Tapi--”
“Menikah atau kamu jangan pernah anggap aku sebagai Ibu kamu lagi!” pungkas Ibu Eva. Wanita itu langsung berlalu dari hadapan putranya.
Aditia menghelai napas beratnya. Harus bagaimana ia sekarang? Apa harus menikah dengan wanita itu? Tapi ia tidak bisa, bagaimana nanti setalah pernikahan ini dilakukan? Akan seperti apa nantinya rumah tangganya? Benar-benar tidak bisa terbayangkan. Tapi jika ia menolak, ancaman Ibunya benar-benar menakutkan. Ia tidak mau durhaka dan mengecewakan kedua orang tuanya.
“Baiklah Bu, aku akan menuruti permintaan Ibu,” ucap Aditia pelan, seraya menatap punggung Ibunya yang semakin menjauh dari pandangannya itu.
__ADS_1
Aditia pun merapikan pakaiannya. Setalah itu, ia pun bergegas ke depan, dimana tempat acara akan dilangsungkan.
Laki-laki itu duduk di kursi yang sudah di sediakan di sana berhadapan dengan Pak penghulu dan wali nikah dari mempelai calon wanita. Melihat siapa wali dari calon istri pengganti itu, Aditia kini bisa menebak siapa yang akan jadi pendamping hidupnya itu.
Om Reno, Aditia mengenalnya, bahkan mengenal sahabat orang tuanya itu dengan baik.
Tidak ada ekspresi apa pun dari Om Reno, saat melihat Aditia. Laki-laki itu bahkan memalingkan pandangannya kearah lain, saat Aditia tersenyum padanya.
Hingga tak lama kemudian, semua mata yang ada di sana tertuju pada seseorang yang baru saja memasuki tempat tersebut. Diampit oleh Ibu dan calon Ibu mertuanya, Melati berjalan kearah Aditia. Wanita itu terlihat cantik dan anggun, semua orang yang menghadiri acara tersebut berdecak kagum melihat kecantikannya.
Aditia pun ikut mengalihkan pandangan kearah Melati yang tengah berjalan mendekat kearahnya itu. Tidak bisa dibohongi, dirinya pun terpesona oleh wanita itu. Melati memang sangat berbeda kali ini, tidak seperti yang biasanya Aditia lihat, wanita itu sangat pangling.
“Baiklah mari kita mulai acaranya.” Pak penghulu membuka pembicaraan, saat Melati sudah duduk berdampingan dengan Aditia.
Acara ijab qobul pun di mulai, dengan lugas Aditia mengucapkan kalimat ijab tersebut, hingga akhirnya penghulu dan para saksi pun serentak mengucapkan kata SAH.
Aditia dan Melati pun sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Flashback off
***
Aditia tersadar dari lamunannya, mengingat saat ia melaksanakan ijab qobul bersama mendiang istrinya—Melati.
Lagi-lagi Aditia merasakan sesak yang begitu menggema di dadanya. Kenapa dia sangat bodoh? Kenapa ia buta? Kenapa itu menyia-nyiakan wanita sebaik Melati.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu terdengar, membuat Aditia semakin sadar dari lamunannya tersebut. Lelaki itu segara menyerka air matanya, lalu berjalan menuju arah pintu kamarnya tersebut.
Ceklek!
Membuka pintu tersebut, lalu di lihatnya wanita yang sudah melahirkan Aditia berdiri di depan pintu kamar seraya menggendong seorang bayi mungil yang sedang menangis.
“Di, ini Dede dari tadi nangis terus, padahal Ibu sudah kasih susu, tapi tetap gak mau tenang, coba kamu gendong dia siapa sama kamu bisa tenang,” ucap Ibunya.
Perlahan Aditia pun mengulurkan kedua tangannya lalu mengambil alih bayi mungil tersebut dari sang Ibu.
“Kenapa sayang, hmm? Anak Ayah kenapa, tenang ya sayang, Ayah ada di sini,” ucap Aditia pada bayinya yang belum ia beri nama tersebut.
Ajaibnya bayi itu langsung tenang dan matanya perlahan tertutup, Aditia terus menimang-nimang putri kecilnya itu, hingga beberapa menit kemudian bayi itu tertidur dalam pangkuannya.
“Dia tenang, Di, mungkin dia pengen sama Ayahnya,” seru sang Ibu sambil tersenyum.
Aditia hanya mengangguk sambil tersenyum pada Ibunya itu.
“Dede biar tidur sama aku saja, Bu, bisa minta tolong sama Ayah buat pindahin ranjang Dede ke kamar aku, Bu?”
“Baiklah, Ibu akan bilang sama Ayah, sekalian Ibu siapkan susu dan yang lainnya, biar nanti kamu gak ribet ya bikin susunya,” sahut sang Ibu dengan penuh semangat.
“Iya, Bu. Terima kasih,” ucap Aditia.
Ibunya pun berlalu dari sana, untuk meminta suaminya memindahkan ranjang milik sang cucu ke kamar milik Aditia.
Aditia kembali menatap lekat malaikat kecilnya itu, senyuman terlihat terulas kembali dari bibir pria itu.
Jika diperhatikan wajah bayinya itu begitu mirip dengan Ibunya, mendiang istrinya—Melati.
“Kamu sangat mirip dengan Ibumu, Nak. Ayah yakin kelak kamu akan secantik Ibumu, maafkan Ayah Nak, Ayah tidak bisa menjaga Ibumu, sehingga Ibu meninggalkan kita lebih dulu,” lirih Aditia.
“Ayah berjanji akan menjaga kamu dengan segenap jiwa raga yang Ayah punya, seluruh hidup Ayah akan serahkan sama kamu Nak,” ucapnya lagi.
Seakan Aditia kini tengah menceritakan betapa bodohnya dirinya, betapa menyesalnya dia sudah menyakiti Ibu dari buah hatinya itu.
Bayi yang berada digendongnya terlihat terusik, lalu bibirnya tertarik tipis, seakan sang bayi kini tengah merespon ucapan dari Ayahnya.
“Tidur yang nyenyak Sayang, kamu tidak perlu bimbang, kita akan bahagia walaupun Ibu tidak bersama kita lagi, Ibu sudah behagia di sana, walaupun Ibu jauh, tapi Ibu selalu di hati kita.” Aditia mengecup lembut kening bayi mungil tersebut.
Ya, Melati memang sudah pergi tapi Melati akan selalu ada di hati.
‘Sayang, aku tahu kamu pasti melihat di sana, lihatlah ini anak kita, aku berjanji akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Kau tidak perlu risau sayang, tenanglah di sana, aku ikhlas sekarang, terima kasih sudah memberikan anak yang sangat lucu untukku, mulai saat ini aku dan anak kita akan membuka lembaran baru, percaya aku pasti akan membahagiakan anak kita, Melati,’ batin Aditia.
__ADS_1
Titik terdalam mencintai adalah mengikhlaskan-nya pergi.
Bersambung...