LOVE IN REGRET

LOVE IN REGRET
Bab Dua Puluh Enam


__ADS_3

Mentari tersenyum sinis saat mendengar ucapan dari Aditia, ia tidak habis pikir? Sedangkal itukah pikirnya? Sangat percaya diri sekali dia!


Dengan cepat Mentari menepis tangannya dari pria itu. Aditia cukup terkejut dengan sikap Mentari.


“Kamu salah besar Aditia!” sinis Mentari, ia menatap Aditia penuh kebencian.


“Salah? Salahnya dimana? Bukankah kamu sudah tahu tentang perasaan aku sama kamu, aku mencintaimu Mentari, dan kedatangan kita ke sini, kita akan meminta restu dari orang tua kamu, bukan?”


Sepertinya Aditia memang belum paham maksud semua ini.


“Maaf, Aditia tapi saya tidak akan memberikan putri saya lagi sama kamu,” sahut Mamah mertuanya.


“A-apa maksud Mamah?”


“Aditia, Aditia, kamu pikir aku mau menikah dengan kamu hah? Cukup Kakakku, yang aku jadikan tumbal keegoisanmu. Apakah tidak pernah berkaca hah? Kedatanganku kehidupan kamu bukan seperti apa yang kamu pikirkan! Tapi aku ingin membalas semua perbuatan kamu terhadap mendiang Kakakku, kau sudah menyakitinya, menyiksa batinnya, sampai Kakakku lebih dulu meninggalkanku!” papar Mentari penuh emosi, ia sudah tidak bisa lagi menahan amarah yang sejak tadi bergejolak dalam jiwanya, menghadapi Aditia yang sama sekalian tidak peka!

__ADS_1


Deg!


Bagia tertancam belati tajam, perkata Mentari menusuk relung hatinya Aditia. Jadi Mentari hanya ingin membalaskan dendam padanya?


“Ke-kenapa kamu berkata seperti itu? Aku benar-benar tulus mencintai kamu Mentari,” lirih Aditia.


“Memang itu yang aku harapkan! Jadi bagiamana? Sakitkan Aditia, sakitkan?” teriak Mentari.


“Sakitmu ini tidak sebanding dengan sakit yang kau lakukan terhadap Kakakku, kau berselingkuh, kau tidak mempedulikannya, bahkan di saat Kakakku berjuang melawan sakitnya, dia mengandungnya darah daging kamu Aditia. Tapi apa yang kamu lakukan? Apa hah? Kau malah bersenang-senang dengan jalangmu itu! Kamu pria terkejam yang pernah aku temui Aditia, kamu kejam! Kau menyia-nyiakan Kakakku, demi wanita yang sudah jelas pernah membuatmu dan keluargamu malu, harusnya kau berterima kasih pada Kakakku, tapi apa hah? Kau malah membuat menderita sampai dia menghembuskan napas terakhirnya!” tangis Mentari pecah, membayang betapa sakitnya posisi kakaknya pada saat itu, dan semua ini gara-gara pria yang ada dihadapannya.


“Kau pikir aku mau menikah dengan pria yang sudah membunuh Kakakku hah? Kau pikir aku wanita bodoh hah? Tidak Aditia, tidak! Aku sengaja membuatmu masuk dalam perangkapku! Aku sangat membencimu Aditia, aku membencimu!” lanjutnya, dengar suara yang sangat keras.


“Sekarang lebih baik kamu pergi Aditia, dan jangan pernah tunjukan wajahmu dihadapanku lagi, aku membencimu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan atas semua yang sudah kamu lakukan terhadap Kakakku. Dan satu lagi, tidak sedikit pun aku pernah merasa mencintaimu!” usir Mentari.


Dada Aditia terasa sangat sesak, pundak pria itu berguncang, rasanya ia sudah tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi.

__ADS_1


Apa mungkin ini hukuman dari Tuhan atas apa yang pernah ia lakukan pada Melati, dan kini Aditia merasakan posisinya sama, sakit sekali, apakah dulu Melati juga merasakan sakit yang teramat hebat ini?


“Kenapa kau masih diam, capat pergi, pintu keluar ada di sebelah sana!”


Aditia mencoba menguatkan hatinya, ia tidak boleh lemah, ia terima semua perlakuan Mentari dengan lapang dada, kerena ia menganggap wajar, Mentari melakukan semua ini demi Kakak yang dicintainya, mungkin siapa pun yang berada di posisi Mentari, tidak menutupi kemungkinan melakukan hal ini.


Ini bukan akhir dari segalanya, terlebih ia juga harus tetap memikirkan putrinya Pelangi.


“Baiklah, jika memang ini keputusan kamu, aku tidak akan pernah menganggu kehidupan kamu lagi, maaf jika aku banyak salah. Aku pamit, tolong bawa Pelangi ke sini,” ujar Aditia, sebisa mungkin ia menguatkan dirinya.


“Pelangi akan tinggal bersamaku, bersama Kakak dan Neneknya di sini!”


“Apa maksud kamu Mentari?” tanya Aditia terkejut.


Mentari terlihat berjalan, lalu wanita itu mengambil sebuah map yang ada di atas meja.

__ADS_1


“Hak asuh Mentari sudah jatuh ketanganku!”


Bersambung ...


__ADS_2