
Mentari terdiam, ia tak menyangka jika Aditia akan mengatakan hal itu, apakah benar pria itu mencintainya? Ataukah benar yang dikatakan oleh Siska jika Aditia mencintainya kerena dirinya mirip dengan mendiang sang Kakak, Melati?
“Maksud Bapak apa ya?”
“Kamu mau menjadi istri saya dan ibu sambung untuk putri saya? Saya tahu semua ini terlalu capat, saya tidak akan memaksa kamu untuk memberikan jawabannya sekarang, saya akan memberikan aku waktu,” jelas Aditia.
Dalam hati Mentari bersorak gembira, ia merasa memang, akhirnya Aditia terjebak dalam situasi yang memang sangat Mentari harapan sejak awal. Ia tidak peduli jika Aditia menyatakan hal itu kerena tulus atau pun menganggap dirinya sebagai mendiang Kakaknya, Melati.
Kerena ia sama sekali tidak peduli akan hal itu, niatnya masuk ke kehidupan Aditia adalah untuk membalaskan dendam atas kematian sang Kakak yang dirasa semua itu adalah ulahnya Aditia. Dan sampai detik ini, hanya rasa benci yang Mentari rasakan pada Aditia, tidak ada rasa cinta sama sekali, sikap baiknya selama ini tentu saja hanya sebagai sandiwara semata, agar bisa membuat Aditia terjebak dalam permainannya.
“Apakah Bapak yakin?” tanya Mentari.
“Ya saya sangat yakin,” jawab Aditia penuh keyakinan, ia merasa jika Mentari wanita yang tepat untuknya dan juga sebagai ibu sambung putrinya.
“Baiklah, kalau memang Bapak sudah yakin, besok Bapak temui orang tua saya,” pinta Mentari.
“Ka-kamu serius?”
__ADS_1
Tentu saja Aditia terkejut, ia tak menyangka akan langsung mendapatkan jawaban dari pengasuh putrinya itu. Dari perkataan wanita itu jelas Aditia merasa jika dirinya sudah mendapatkan lampu hijau, tinggal meminta restu pada orang tua Mentari. Dan semoga saja merestuinya.
“Iya, saya serius,” jawab Mentari.
“Baiklah, setalah orang tua saya kembali, saya akan menemui orang tua kamu, kita berangkat ke kampung kamu bersama,” ujar Aditia, raut wajahnya terlihat berbinar bahagia.
“Tidak usah menganggu mereka Pak, sebaiknya secara pribadi Bapak saja dulu, kebetulan orang tua saya juga lagi ada di sini, tidak di kampung, dan jika nanti memang orang tua saya merestui kita, Bapak bisa membawa kedua orang tua Bapak.”
‘Tapi sayangnya itu hanya sebuah mimpi Aditia,’ lanjut Mentari dalam hatinya.
Aditia menyetujui usul dari wanita itu, setalah berpikir ulang, memang lebih baik seperti itu dulu, ia secara pribadi berkenalan dulu dengan orang tua Mentari, ia juga tidak tahu orang tua Mentari nantinya akan bersikap seperti apa kepadanya, terlebih semua ini sangat singkat juga.
Dan jika terjadi hal buruk, dalam artian kasarnya orang tua Mentari menolaknya, setidaknya hanya dirinya yang mendapatkan penolakan tersebut tidak dengan orang tuanya. Bukankah hal itu sangat memalukan, jika benar terjadi. Tapi, Aditia harap semuanya akan berjalan sesuai dengan niatnya.
Bukankah niat baik bisanya selalu dipermudah?
“Jadi orang tua kamu ada di sini? Apakah kamu punya saudara di sini?” lanjut Aditia.
__ADS_1
Mentari langsung menganggukkan kepalanya, “iya Pak, benar.”
“Lalu, kapan saya bisa bertemu dengan orang tua kamu?”
“Bapak bisanya kapan? Saya terserah Bapak saja,” jawab Mentari.
“Emm, bagaimana kalau besok? Kalau kamu setuju saya akan minta cuti ke kantor dulu. Bukankah niat baik harus disegerakan?”
“Baik Pak, saya akan menghubungi orang tua saya dulu.”
“Baiklah, silahkan.”
Mentari mengangguk, setalah itu ia pun berpamitan, berlalu dari hadapan Aditia.
“Melati, aku juga minta restu darimu, semoga Mentari adalah pilihan yang tepat untukku,” gumam Aditia.
Bersambung ...
__ADS_1