LOVE IN REGRET

LOVE IN REGRET
Bab Enam Belas


__ADS_3

Setalah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, tubuhnya yang serasa lelah itu terasa kembali fresh.


Seperti memang nikmat menikmati secangkir teh hangat malam-malam begini, usul yang tawarkan Mentari, cukup menarik juga.


Aditia pun berlalu dari kamarnya, menuju lantai bawah, lalu sesampainya di sana ia duduk di sofa yang ada di depan televisi.


Beberapa menit kemudian, terlihat Mentari membawakan dua gelas teh manis hangat ke dekat majikannya itu.


“Ini tehnya, Pak.” Wanita itu meletakan dua tersebut di atas meja.


“Terima kasih, emm ... ini kok ada dua gelas?” tanya Aditia keheranan.


“Oh, maaf, saya lupa itu untuk saja, kok saya malah bawa ke sini ya," jawab Mentari, sebenernya ia memang sengaja, tidak lupa sama sekali, ya bisa dikatakan ini termasuk salah satu dalam rencananya.


“Oh buat kamu, ya sudah kita ngeteh bareng saja," ujar Aditia.


Yes! Berhasilkan, inilah yang dimaksud oleh Mentari.


“Saya rasa tidak usah, Pak, rasanya tidak pantas saya ngeteh bersama Bapak,” tolaknya.


Agar tidak curiga, Mentari sengaja mencoba menolak ajakan dari pria yang sangat ia benci itu, pria yang sudah membuat mendiang sang Kakaknya menderita.

__ADS_1


“Tidak usah sungkan, sekalian juga ada yang ingin saya bicarakan sama kamu.”


Mentari pun mengangguk kepalanya, ia jadi penasaran apa yang akan dibicarakan oleh pria itu?


“Ini tehnya gak diracunkan?” tanya Aditia, sebelum ia meminumnya.


“Ya ampun, Pak. Ya tidaklah, Bapak ini masa saya racun sih.”


“Hahaha ... saya bercanda, ayo diminum,” pungkas Aditia sambil tertawa.


Mentari pun memaksakan senyumnya. ‘sebenarnya aku ingin sekali meracuni kamu, tapi sayangnya aku masih punya hati, tidak seperti kamu!’ lanjutnya dalam hati.


“Oh iya, saya mau minta maaf sama kamu, kerena selama ini saya selalu bersikap kurang baik sama kamu, saya harap kamu bisa memaafkan saya,” ucap Aditia.


“Tidak masalah Pak, saya mengerti kok, mungkin Bapak tidak bisa cepat akrab dengan orang baru.”


“Sebenarnya bukan itu sih, emm ... ” Aditia mengantungkan ucapan.


“Kerena saya mirip dengan mendiang istri, Bapak?” sambung Mentari.


Aditia terkejut saat mendengar hal itu, dari mana Mentari tahu? Ia menatap Mentari.

__ADS_1


Mentari menampakkan senyumnya. “Maaf jika saya lancang, kerena Bapak sejak awal seperti tidak menyukai saja berada di sini, saya sempat bertanya pada Ibu, prihal sikap, Bapak. Dan Ibu menceritakan semuanya, saya mengerti kok apa yang dirasakan oleh, Bapak. Jujur saya juga sangat terkejut, saat tahu ternyata mendiang istri Bapak sangat mirip dengan saya,” jelas Mentari, yang seakan wanita itu tahu apa yang dipikirkan oleh Aditia.


“Ya itu benar, kamu sangat mirip dengan wanita yang sangat saya cintai, tapi sayangnya Tuhan lebih cepat mengambil dia,” ujar Aditia, ia mengalihkan pandangan lurus ke depan, dengan tatapan yang menerawang.


Memang itulah kenyataannya, yang ada ia rasakan saat ini.


“Saya turut berduka cita, Pak. Pasti istri Bapak sangat beruntung memiliki suami seperti Bapak, terlihat sekali jika Bapak sangat kehilangan dia,” ujar Mentari, senyuman sinis kini terlihat terpancar dari wanita itu.


'Beruntung dari mananya? Kau seorang suami yang sangat kejam Aditia, kau yang sudah membuat Kakakku meninggal!’


Aditia kembali menatap kearah Mentari, dengan galau Mentari menteralkan ekspresinya.


“Tidak, saya tidak sebaik itu. Jika kamu tahu ceritanya, kamu pasti akan memaki saya,” sangkal Aditia.


Mentari memasang wajah sok bingung. Seakan ia bener-bener tidak mengerti semuanya, padahal ia sudah tahu dan sangat tahu!


‘Ya memang kau sangat pantas untuk di maki Aditia!’


“Maaf, jika saya lancang, maksud Bapak? Saya melihat jika Bapak sangat kehilangan mendiang istri Bapak itu, bukankah itu tandanya Bapak sangat mencintainya?”


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2