
****
"Satu..dua..tig-"
#BRUKKK!! +
"Duh!"
Olivia tersungkur dengan buku-buku menimpa kepalanya.
"Sudah tiga jam kita berlatih Olivia. Dan kau masih belum bisa juga?!" Dirga mengomel geram.
"Memangnya seorang putri harus melakukan hal bodoh seperti ini ya? Berjalan menggunakan sepatu yang memiliki tungkai setinggi menara istana, dengan buku-buku tebal diatas kepala. Kakiku lecet, leherku pegal!!!"
Olivia bangkit dari jatuhnya, melepas sepatu yang ia sebut setinggi menara, dan membanting buku yang menimpa kepalanya.
"Ini penting Olivia! Itu melatih keseimbanganmu." Dirga melotot melipat kedua tangannya.
"Oh? Begitu? Tapi untuk apa itu?" Olivia ikut melotot.
Dirga menepuk dahinya
"Olivia.. dengarkan aku!!" Dirga menyentuh kedua pipi Olivia dan mendekatkan ke wajahnya
"Jika kau memiliki keseimbangan, maka posturmu akan bagus. Kau akan terlihat lebih anggun didepan pangeran Zana." Tutur Dirga lembut.
Olivia membulatkan matanya. Bukan karena perkataan Dirga, tapi karena perlakuannya.
"Hey Dirga?! Berapa umurmu?" Tanya Olivia.
"Dua puluh tujuh tahun. Kenapa?"
"Aku kira kau lebih muda dari itu. Kau sangat tampan."
Jawaban Olivia membuat Dirga membuka matanya terkejut. Wajahnya memerah. Dirga yang tadinya masih merapatkan kedua pipi Olivia, reflek mendorong wajah Olivia menjauh.
"Tentu s-saja aku ini tampan!"
Kata Dirga terbata-bata menahan malu.
Olivia memiringkan kepalanya tanda tak mengerti.
"Sekarang ayo kita lanjutkan sampai kau bisa!! Jangan bermain-main!!"
Dirga menyusun buku-buku yang terjatuh dan menyuruh Olivia memakai sepatunya kembali.
"Baiklah!! Ayoo" Olivia tampak bersemangat setelah mendengar penjelasan dari Dirga. Ia memakai sepatu itu dalam keadaan kaki yang lecet-lecet.
.......
*** Di kamar Raja dan Ratu Awan*** +
"Sayang.. maafkan aku. Aku terlalu lama meninggalkanmu dan anak-anak"
__ADS_1
Ratu Lyra menyentuh kedua tangan suaminya.
"Jangan minta maaf padaku sayang.. minta maaflah pada anak-anak. Mereka benar-benar merindukanmu."
Raja Zeylon mengelus tangan istrinya
"Mereka benar-benar sudah tumbuh menjadi orang yang dewasa. Terimakasih sayang."
Ratu Lyra mendaratkan kecupan kecil di pipi suaminya.
"Itu karena ada darahku ditubuh mereka. Pastinya!" Raja Zeylon tertawa kecil.
"Oh.. aku hampir melupakan hal ini. Kau tahu? Zana akan segera menikahi putri bungsu Dhean"
"Putri bungsu kak Riani? Benarkah?" Ratu Lyra mengembangkan senyum bahagianya
"Ya.. dan Untung saja kau datang disaat yang tepat. Kita bisa mempercepat proses pernikahannya bukan?"
Ratu Lyra mengangguk dengan cepat tanda setuju.
"Tunggu.. kau bilang tadi Putri bungsu?" Tiba-tiba dahi ratu Lyra mengerut.
"Ya, Putri bungsu mereka, Olivia. ada apa?"
"Oh tidak.. ini berita yang bagus"
.
.
.
.
***** +
"OLIVIA!!!"
Dirga berteriak dan berlari mendekati Olivia yang tergeletak tepat dibawah tangga.
"Olivia.. bangun! Olivia!!"
Dirga menepuk-nepuk pipi Olivia panik.
Sudah hampir seminggu Olivia mengikuti pelajaran bersama Dirga. Hari ini, Dirga meminta Olivia berjalan menuruni tangga dengan sepatu tingginya.
Siapa sangka, ia malah tersungkur dan terguling jatuh tak sadarkan diri. Tampak kepalanya mengeluarkan banyak darah.
"Dirga..kenapa kau berte- Hah?! KAKAK!!" Diral yang mendengar teriakkan Dirga dari luar Istana masuk dan tampak terkejut melihat kakaknya telah tergeletak di pangkuan Dirga.
"Kakak kenapa Dirga?!" Diral bertanya dengan panik
"Dia jatuh dari tangga!" Dirga menjawab dengan panik pula
__ADS_1
"Apa?! AYAH!! IBU!!! AYAHHH!! KAK JIMMY!! KAK KANNA!!" Diral berteriak memanggil anggota keluarga lain.
Jimmy tampak keluar dari kamarnya, dan melihat dari atas apa yang terjadi. Jimmy membatu melihat sahabatnya tergeletak.
"OLIVIA!!" Jimmy melompat dari lantai atas dan berlari menuruni tangga..
"Ada apa sayang?" Ratu Hanna dan Kanna datang dari taman bunga
"Ibu.. kak Olivia.." Diral masih memasang wajah panik menyadarkan ibunya akan situasi yang terjadi.
"Demi Tuhan.. Olivia!! Ada apa?" Ratu Hanna ikut panik.
"Apa yang kalian lakukan!! Minggir!!" Jimmy membentak orang-orang yang mengelilingi sahabatnya.
Jimmy mengangkat sahabatnya menuju kamar.
"TUNGGU APA LAGI?! PANGGILKAN TABIB!!" Terdengar teriakkan Raja Rayn dari lantai atas memberi perintah.
................
**** +
"Tabib.. bagaimana kondisinya?"
Tanya Raja Rayn berusaha tetap tenang.
"Ampun Paduka.. benturan di kepalanya cukup keras. Tidak mungkin seorang putri akan sadar dalam waktu dekat. Dan kemungkinan.."
Tabib ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Apa?! Jangan setengah-setengah pak.. kumohon!" Jimmy semakin panik.
"Memori syarafnya terganggu. Putri akan lupa dengan banyak hal yang di lalui nya selama ini."
Jelas tabib dengan nada pelan.
Mendengar penjelasan tabib, semua orang tampak terkejut. Kaki mereka melemas. Diral yang dari tadi sudah menangis kini memeluk kakaknya yang terbaring lemah. Jimmy berlutut membatu dengan tatapan kosong penuh air mata. Raja Rayn dan Ratu Hanna memandang keponakan mereka dengan air muka khawatir yang sangat jelas. Tidak hanya orang-orang yang ada di istana, langit yang tadinya biru cerah, kini mulai tertutup awan hitam mendung. Titikan air tampak menetes deras. Gema gemuruh petir terdengar lebih nyaring. Tidak ada yang memanggil hujan, hujan datang dengan sendirinya.Tanpa aba-aba.
"KAKAK!!! KAKAKKK!!"
Diral mengguncang tubuh Olivia
"Diral.. hentikan!! Itu menyakitinya." Kanna menarik Diral menjauh dari Olivia.
"AKU AKAN MENEMANINYA DISINI!! AKU TIDAK MAU KAKAK MELUPAKANKU!!"
Diral berteriak tersedu-sedu tak terima dijauhkan dari kakaknya.
"DIAM!! KAU HANYA AKAN MENGGANGGUNYA DENGAN TANGISANMU!!"
Jimmy berdiri dan menatap tajam kearah Diral.
Diral terdiam dan menunduk. Ia sadar akan apa yang Jimmy katakan.
__ADS_1
Suasana jadi canggung karena ucapan tegas Jimmy pada Diral. Hujan pun semakin deras. Gemuruh dan kilatan cahaya sesaat terus menerus datang.
............