
***
Tepat empat hari lagi adalah hari pernikahan Olivia.
"Selamat untukmu"
Haruskah aku mengucapkah hal itu padanya?
Sakit.. tapi aku ikhlas.
Aku bahagia melihatnya bersama dengan pria lain yang ia inginkan. +
"Kau bahagia?"
Kataku padanya yang sedang duduk menyendiri di balkon kamarnya.
"Ti-tidak.."
Olivia menjawab lemas.
Jangan tanya bagaimana reaksiku mendengar jawaban darinya.
Aku langsung mendekatinya dan duduk di depannya.
Matanya sembab, seperti habis menangis.
"Kau menangis?"
"Tidak."
"Kau kira aku baru mengenalmu Olivia? Aku sangat mengetahui watakmu. Kau kenapa?" Aku mulai khawatir. Tak biasanya Olivia menangis sembunyi-sembunyi seperti ini. Pantas saja dari tadi gerimis.
"Kak Kanna, dan Kak Zana. Mereka saling mencintai."
Olivia menjawab dengan pelan.
"Ha? Kau tahu darimana?"
Tanyaku
"Kemarin dimalam hari, aku diam-diam pergi dan mendengar percakapan mereka di taman bunga. Mereka saling menyatakan perasaan mereka" Olivia menunduk dan menutupi kedua wajahnya menahan tangis.
Ber"Hah?!" Kaget
Aku segera mendekapnya. tak habis pikir, kenapa pangeran Zana dan Putri Kanna melakukan itu?!
Aku mencoba menenangkannya.
"Me-mereka.. mereka bercium-an"
Suara Olivia tersendat-sendat didalam pelukanku.
"Apa?!" Aku mulai mengerutkan kening ku. ********!!!
Apa maksudnya itu?!!
"Jimmy... aku tak tahu kenapa, tapi bukannya kak Zana ingin menikahi ku?! Kenapa dia mencium kak Kanna?" Olivia membalas erat pelukanku.
"Itu... kenapa kau tidak memberitahukan ini pada orang-orang dari kemarin?"
"Mereka tampak bahagia. Aku tak sanggup kehilangan hal itu."
"Tidak. Jika seperti ini, kau yang akan tersakiti. Cukup. Aku akan pergi untuk bicara pada Raja Rayn dan Raja Zeylon."
"Tunggu!! Kau disini saja Jimmy!! Aku membutuhkanmu" Olivia menarikku yang sudah ingin beranjak pergi.
Ia kembali memelukku dan menangis disana.
Hujan pun turun mengikuti irama tangisannya.
..............
Jimmy selalu menjagaku. Aku sangat bosan. Padahal aku sudah merasa baikan.
__ADS_1
Malam itu, Jimmy kelihatan lelah. Ia tertidur diatas kursi +
"Ini kesempatan yang bagus untuk menyelinap dan bermain keluar"
Kataku.
Aku pun mengendap-endap pergi keluar kamar dan berjalan-jalan di lorong istana.
Dekorasi-dekorasi yang dibuat untuk pernikahanku sangat cantik.
Ada bunga-bunga, pita-pita, lampu, dan masih banyak hal lainnya.
Aku sangat bahagia karena sebentar lagi aku akan menikah dengan Kak Zana. Aku berjalan sambil melompat-lompat.
Di ujung lorong, aku melihat Dego yang sedang berdiri menatap langit malam lewat jendela.
"Dego?" Aku menghampirinya
"Olivia?! Kenapa kau keluar dari kamarmu? Dimana Jimmy? Apa dia tidak menjagamu?"
Dirga bertanya tanpa melihat ke arahku.
"Dia kelelahan, aku mengendap untuk keluar." Jawabku.
"Kebiasaanmu itu tak bagus."
Dego membalas.
"Ya ya ya.." kataku sambil berlalu pergi.
"Mau kemana?" Akhirnya Dego memandang ke arahku.
"Aku mau ke taman bunga diatas. Sepertinya disana pemandangannya bagus"
"Aku ikut denganmu. Kau tak bisa sendirian." Dego berjalan ke arahku.
"Yasudah, ayo"
Aku berjalan riang menuju taman bunga. Melihat dekorasi-dekorasi, sambil membayangkan hari pernikahanku, aku makin melompat-lompat kegirangan.
Dego sepertinya mulai kesal denganku.
Tanpa menjawab apa-apa, aku langsung merubah sikap jalanku. Sesuai yang kupelajari dari Dirga, aku berjalan layaknya seorang putri.
Aku mendengar Dego tertawa pelan. Tapi aku tak menghiraukannya lagi.
Ngomong-ngomong, semenjak kedatangan keluarga kerajaan Awan, aku tak pernah lagi melihat Dirga. Apa dia sudah pergi ya?! Hmm.. aku akan tanyakan hal ini pada Diral besok.
Aku masih berjalan hingga sampai di pintu masuk taman bunga.
Aku mendengar suara tangisan perempuan. Siapa itu? Aku pelan-pelan mengintip dari pintu. Disana terlihat kak Kanna sedang berpelukan dengan seseorang, tapi siapa? Wajah orang itu terhalang oleh bunga-bunga didekat pintu tempat ku mengintip.
"Masuk Olivia! Kenapa kau berhenti?!" Protes Dego yang mengantri masuk di belakangku.
"Ssstttt... lihat itu!! Kak Kanna sedang menangis."
Aku menarik tangan Dego untuk ikut bersembunyi mengintip.
"Itu Putri Kanna? Tapi siapa lelaki yang bersamanya itu? Aku tak bisa melihatnya"
Dego mencoba menyingkirkan daun-daun yang menghalanginya.
-------
"Aku mencintaimu.. hiks..hikss"
Kak Kanna terus mengulangi kalimat itu sambil menangis dan memeluk pria didepannya. Pria itu diam, namun ia membalas pelukan kak Kanna.
Aku dan Dego saling menatap.
Kami penasaran, siapa pria yang dicintai kak Kanna itu.
"Apa kita masuk saja?" Bisikku pada Dego.
__ADS_1
"Jangan!! Itu akan jadi canggung. Kita tunggu saja sampai lelaki itu menampakkan wajahnya"
Aku cemberut kesal. Padahal aku sangat ingin tahu, siapa lelaki yang dicintai oleh kakakku.
-------
"Kanna.. aku juga sangat mencintaimu. Dari dulu, rasa ini tak pernah pudar untukmu"
Akhirnya pria itu berbicara. Aku dan Dego kembali saling menatap.
Kami menyadari satu hal.
Suara itu... suara Kak Zana?!
Awalnya kami sama-sama berpikir bahwa kami hanya salah mendengar. Namun saat laki-laki itu menaruh wajahnya kebahu kak Kanna, tak salah lagi. Pria itu adalah kak Zana.
---------
"Maafkan aku Kanna. Aku harus menikahi adikmu. Bukan aku tak mencintaimu.. tapi ini kulakukan karena janjiku pada Paman Dhean. Maafkan aku.."
"Batalkan itu pangeran.. batalkan.. aku mencintaimu hiksss.. hikss.."
Kak Kanna menangis dan terus menangis.
Kak Zana tampak gelisah dan dilema. Ia masih mendekap kak Kanna.
Tiba-tiba ia melepas pelukannya, dan meletakkan tangannya ke pipi kak Kanna. Ia mencium bibir kak Kanna dengan lembut.
"Ketahuilah.. walau kau tak bisa jadi milikku, kau akan selalu ada di hatiku."
Ucap kak Zana dengan wajah sayunya.
---------
Aku membeku. Tanpa sadar air mataku sudah mengalir deras sedari tadi. Hatiku hancur berkeping-keping. Kepalaku memutar ulang memori bahagia ku bersama Kak Zana dan Kak Kanna.
Jika kau mencintai kakakku, mengapa kau bersedia menikah denganku?!
Jika kau mencintai orang yang sama dengan adikmu, mengapa kau tidak mengatakannya?!
Mengapa semua orang memendam apa yang mereka inginkan?! +
Aku masih membeku menyaksikan hal itu, Dego yang dari tadi ingin menghampiri mereka mengurungkan niatnya karena melihatku menangis.
"O- Olivia.." Dego mencoba menenangkan ku.
Tak ada yang bisa kulakukan. Aku akan menerima semua ini.
"Dego.. aku akan kembali ke kamarku." Aku mencoba menghapus air mataku dan tersenyum.
"Kuantar?" Dego menawarkan diri
"Tidak. Terimakasih"
Aku kembali tersenyum dan langsung berlari menuju kamarku.
Aku berlari sambil menangis.
Dekorasi-dekorasi yang awalnya membuatku bahagia, kini membuat dadaku sesak. Didekat kamar, ku hapus air mataku. Aku tak ingin Jimmy khawatir.
Aku kembali masuk kamar, ternyata Jimmy masih tidur di kursinya.
Ku mendekati Jimmy, dan mengusap pipinya.
"Kau sepertinya sangat lelah ya.." ucapku pelan.
Aku mengambil selimut, dan menyelimuti sahabatku itu.
"Terimakasih telah menjagaku. Selamat malam."
Aku kembali tidur di kasur.
Mengingat kejadian tadi, membuat tubuhku terasa dicabik-cabik. Tapi aku harus bisa menahan air mataku. Aku akan mencoba untuk ikhlas.
__ADS_1
...........