Love Story Princess Rain

Love Story Princess Rain
29


__ADS_3

~next~


Dego menggaruk kepalanya yarng tak gatal. la tak mengerti dengan senyuman Jimmy.


"Dego.. turunkan senjatamu" Perintah Raja Zeylon. Dego pun menurunkan pedangnya, Dikuti dengan para pasukan.


"Sekarang.. kita tunggu saja.." Raja Zeylon lagi-lagi mengeluarkan senyuman liciknya.


"Huh?"


*Di penjara bawah tanah kerajaan matahari*


"Maksud bibi? Barang milikku itu apa?"


olivia memiringkan kepalanya tak mengerti.


"Sayang.. bibi akan menjelaskannya padamu nanti. Kita tak punya banyak waktu. Sekarang kau ikuti saja bibi."


Tutur Ratu Lyra sembari berjalan menarik tangan Olivia.


Ratu Lyra dan Olivia tampak menyelusuri lereng penjara bawah tanah itu dengan hati-hati.


Mereka mengendap-endap memastikan bahwa para penjaga tidak akan melihat mereka. Hingga sampailah mereka ke sebuah ruangan.


"Olivia. itu ruangannya. Disana ada benda milikmu" Ratu Lyra menunjuk sebuah ruangan yang dijaga ketat oleh seorang penjaga berbadan besar.


"Tapi bi.. disana ada penjaganya.. bagaimana kita bisa masuk?"Tanya Olivia.


"Itu masalah mudah. Lihat aku.." Ratu Lyra mengendap-endap berjalan ke


belakang penjaga itu.


Ratu Lyra menusukkan beberapa jarum pada area leher penjaga. Dan dalam hitungan detik tanpa ada perlawanan, penjaga tersebut terbaring kaku tak berdaya. Ratu Lyra tertawa puas.Olivia yang menyaksikan itu kebingungan.


"Hah? Ap-apa?? Kenapa bisa?"

__ADS_1


"Tenanglah sayang. Bibi hanya membuatnya lumpuh sementara. Teknik ini bibi pelajari saat bibi berada di China. Sebenarnya ini digunakan untuk pengobatan. Tapi bibi rasa disaat seperti ini, kita bisa menggunakannya untuk menyelamatkan diri kita"


"Bibi sangat luar biasa" Kini mata Olivia berbinar kagum melihat ratu Lyra.


"Sudah.. ayo kita masuk" Ratu Lyra masuk ke ruangan diikuti Olivia


dibelakangnya.


Sangat berdebu...


Hal yang tepat untuk menggambarkan ruangan ini.


"Mereka hanya menjaga ini diluar. Tapi merekabtidak mengurus nya" Ujar ratu Lyra sembari menutupi hidung dan


mulutnya.


"Uhuk..uhuk.. benar.. ini sangat menyesakkan" Olivia terbatuk-batuk.


Ratu Lyra memandang kesana dan kemari mencari sesuatu. Matanya tertuju kepada sebuah peti besar diujung ruangan.


"Sebenarnya apa yang ada dalam kotak ini bi?" Olivia bertanya.


"Disini. ada barang milik ibu dan ayahmu dulu. Itu adalah benda pusaka milik kerajaan yang seharusnya di wariskan pada anak-anaknya. Benda ini hanya akan menjadi sebuah benda apabila yang memakai adalah keturunan bangsawan hujan biasa. Tapi jika kau yang memakai... bibi yakin, kau tidak akan terkalahkan. Bahkan melawan Hidart" Ratu Lyra tersenyum.


"Hah? Maksud bibi? Aku tak mengerti."


"Sebentar....." Ratu Lyra mencongkel tutup peti itu dengan pedangnya hingga terbuka.


Tampaklah sebuah pedang biru dengan lambang petir diatasnya. Disebelah pedang itu terdapat cincin dengan batu kecil berwarna putih.


"Ini adalah benda milikmu Olivia. Gurdio, dan tsovetra." Ratu Lyra tersenyum lebar.


"Gur-gurdio? Dan.. tsovetra?" Olivia mengerutkan dahinya.


"Ambil ini." Ratu Lyra memberikan pedang yang ada didalam peti itu pada Olivia.

__ADS_1


"Ini gurdio. Ini adalah benda pusaka dari Negeri Hujan. Benda ini adalah benda bersejarah. Ayahmu sangat menyayangi benda ini. Dan asal kau tahu, Hidart telah membunuh kedua orangtua mu dengan ini" Ratu Lyra kini menatap Olivia dengan serius.


"Apa? Ayah.. ibu.." Olivia terkejut dan menatap sedih ke arah pedang yang ada ditangannya.


"Dan yang ini.." Ratu Lyra memasangkan cincin ke jari telunjuk kanan Olivia.


"tsovetra. Cincin dari negeri Angin, tempat aku dan ibumu berasal. Cincin ini memiliki kekuatan tersembunyi. lbumu tidak bisa menggunakannya. Tapi bibi yakin. Jika itu kau, pasti bisa"


"Tunggu bi.. lalu? Apa yang bisa ku perbuat dengan benda ini? Aku tidak merasakan apapun saat menyentuh dan menggunakannya."Ratu Lyra tersenyum.


"Kau.. tau nyanyian pemanggil hujan?"


"Ya.. aku tau"


"Nyanyikan itu.. jika kau adalah penerus yang terpilih, maka kedua benda ini pasti akan bereaksi dengan nyanyianmu."


"Tapi bi, aku tidak pernah memanggil hujan dengan nyanyian. Aku memanggilnya dengan tangisan ku selama ini"


"Aku tau itu. Tapi tidak salah kan jika mencoba memanggil nya dengan nyanyian juga?"


"Bibi.. suaraku tak seindah kak Kanna" Wajah Olivia memerah.


"Hahahaha tidak masalah.. aku akan menutup telingaku hahaha" Goda Ratu Lyra.


"Bibi.. >\<"


**yoshi, akhirnya selama liburan 2 bulan lebih ini. aku jadi semangat ngehalunya ouh ya aku kasih spoiler buat chap selanjutnya itu nanti Jimmy bantu Olivia terus ntar Jimmy belum sempat mengutarakan perasaanya Jimmy udah menghembuskan nafas terakhirnya T_T


SUMPAH AKU NANGIS PAS MIKIR CHAPTER ITU.


but, don't worry.


aku memiliki ide yang cemerlang buat nasibnya Olivia nanti `^_^


JJA...MATTA NE**

__ADS_1


__ADS_2