
****
"Olivia?"
Zana, Dego, dan Ratu Lyra, masuk ke kamar Olivia diikuti dengan Putri Kanna dan Ratu Hana. Terlihat disana Olivia dan Diral yang tertidur pulas, serta Jimmy yang duduk menjaga mereka
"Eh? Pangeran, Ratu? Kalian disini?" Jimmy berdiri.
"Iya Jimmy. Maaf mengejutkanmu. Bagaimana keadaan Olivia?
Pangeran Zana duduk di samping Olivia yang tertidur.
"Dia harus banyak istirahat pangeran. Memori syarafnya rusak. Kata tabib kemungkinan dia takkan bisa bangun, dan akan melupakan semua hal yang telah terjadi selama ini.."
Jimmy menjelaskan dengan berat dan pelan.
"Ti-tidak bi-bisa bangun? Lupa? Apakah separah itu?"
Ratu Lyra mulai menunjukkan kegelisahannya.
"Tidak Ratu.. Tidak lama setelah tabib berkata seperti itu, Olivia terbangun dan tertawa karena mengingat kembali kejadian ia jatuh dari tangga. Tabib bahkan kebingungan. Syarafnya rusak, tapi ia masih bisa mengingat dan sadar dari tidurnya." Jimmy kembali menjelaskan dengan nada yang pelan.
"Apa?! Jadi dia bisa sadar walau syarafnya rusak?" Ratu Lyra terkejut membulatkan matanya.
Tak hanya Ratu Lyra, Pangeran Zana dan Dego juga terkejut.
"Ini semua salahku. Jika saja aku tidak meminta hal bodoh kepadanya, dia takkan menjadi seperti ini." Dego menunduk dan merendahkan nada bicaranya.
"Minta maaflah padanya saat ia bangun nanti sayang.."
Ucap Ratu Lyra sembari mendekati Olivia dan mengelus lembut kepalanya
Olivia menggeliat dan membuka matanya. Lagi-lagi ia dikelilingi oleh orang banyak.
"Huh? Apakah aku jatuh lagi?" Olivia mengusap kedua matanya.
"Olivia?!" Ratu Lyra, Pangeran Zana, dan Dego serentak bergumam. Wajah mereka berseri melihat Olivia bangun.
"Olivia? Kau tidak apa-apa?"
Pangeran Zana bertanya lembut.
"Aku jatuhnya sudah dua hari yang lalu kak. Aku tidak apa-apa" Olivia menjawab dengan tersenyum.
"Sayang.. kau harus lebih hati-hati."
__ADS_1
Ratu Lyra menatap sayu kepada Olivia dan mengusap kedua pipinya.
Olivia yang melihat tatapan itu, mencoba mengingat-ingat sesuatu.
"Hohh? Bibi? Bibi Lyra? Bibiii?!!!!"
Olivia yang telah mengingat wajah bibinya menangis haru langsung memeluk Ratu Lyra.
"Bibi.. aku merindukanmu.. hiks..hiks"
Ucap Olivia masih memeluk Ratu Lyra.
"Iya sayang.. bibi juga sangat merindukanmu. Bibi merindukanmu sayang..."
Ratu Lyra membalas pelukan Olivia dan ikut berkaca-kaca.
Olivia dari kecil sangat dekat dengan Ratu Lyra. Bercerita, bermain, memasak, Ratu Lyra pasti mengajak Olivia kemanapun dia pergi. Tak heran jika Ratu Lyra dan Olivia sangat senang bertemu selama hampir sepuluh tahun berpisah.
"Kau harus janji padaku sayang.. mulai saat ini kau harus menjaga dirimu!! Jangan sampai kau terluka lagi. Aku tak ingin itu terjadi" Ratu Lyra menyodorkan jari kelingkingnya tanda perjanjian.
"Maafkan aku bi. Ya! Aku janji!!" Olivia menyambut jari kelingking itu dengan kelingkingnya tanda setuju.
Ditengah-tengah suasana temu rindu antara Ratu Lyra dan Olivia, Dego berjalan mendekati mereka.
"Ehem.." Dego berdeham tanda meminta perhatian.
"Dego! Aku sudah bisa merawat bunga, postur jalanku juga sudah seperti Kak Kanna, Aku juga sudah bisa berjalan menggunakan sepatu menara, Aku juga bisa memberi penghormatan dan aku juga bisa tata berbahasa seorang putri. Bagaimana? Apa aku lolos? Ya tapi aku belum bisa menuruni tangga dengan sepatu menara sih..
Tapi besok akan kucoba."
Cerocos Olivia sambil tersenyum bangga.
Dego yang mendengar itu menaikkan alisnya terkejut, dan makin merasa bersalah.
"Olivia.. aku menarik perkataan dan permintaan ku. Kau tak perlu lagi belajar menjadi seorang putri sejati. Aku minta maaf padamu Olivia"
Dego menunduk dan berlutut di depan Olivia.
"Hee? Dego! Jangan menundukkan kepalamu padaku. Ayo bangun!! Aku tidak masalah akan semua ini. Bukan hanya atas permintaanmu. Semua ini juga kulakukan demi Kak Zana dan Negeri ini."
Olivia mengeluarkan senyuman khasnya.
"Maksudmu?"
Dego mengangkat wajahnya
__ADS_1
"Ya.. aku ingin menjadi Putri sekaligus istri yang baik. Jadi itu sama sekali tak merugikan ku." Lagi-lagi senyum khas dari Olivia seperti menusuk hati semua orang yang melihatnya.
"Kami menyayangimu nakk"
Gumam Ratu Lyra.
Ratu Lyra, dan Pangeran Zana yang mendengar perkataan Olivia langsung serentak memeluknya.
Tak hanya mereka, semua orang yang berada dikamar tersenyum bahagia mendengar pernyataan Olivia. Mereka tidak menyangka Olivia bisa mengatakan hal seperti itu.
Suasana dikamar Olivia menjadi Ramai, semua orang tertawa mendengar kisah lucu Ratu Lyra saat mengembara selama hampir sepuluh tahun. Diral yang tadinya tidur juga ikut terbangun mendengar cerita Ratu Lyra.
Sangat menyenangkan.
--------------------
"Bagaimana jika Olivia benar-benar anak yang ditunggu-tunggu oleh pendahulu kita selama ini kak?"
"Aku belum yakin. Tapi hal yang terjadi ini benar-benar sudah menjelaskan semuanya Rayn."
"Tapi kak. Hal ini belum pasti."
"Ya maka dari itu kita harus pastikan. Aku ingin menanyakan satu hal padamu.."
"Apa itu kak?"
"Apa Olivia tidak pernah kau ajarkan bernyanyi sebelumnya?"
"Tidak. Nyanyian pemanggilan hujan itu tidak diajarkan padanya. Karna kukira dia sudah bisa memanggil hujan dengan tangisannya."
"Itu dia!! Kita harus ajarkan padanya. Jika benar dia adalah anak yang kita tunggu, maka kuyakin dia bisa mengendalikan Veterdra"
"Veterdra?! Jangan bercanda kak!! Aku tidak akan membiarkan keponakanku mati!!"
"Pelan-pelan Rayn. Kita akan coba dulu dengan Gurdio, dan Tsovetra. Jika benar Olivia bisa mengendalikan kedua benda itu, maka mengendalikan Veterdra bukanlah hal yang sulit."
"Tapi kak!! Aku--"
"Kau tenang saja Rayn. Aku akan mendampinginya."
.
.
.
__ADS_1
.
.............