
****
"Mikaela.. jika kau berhasil menyelesaikan tugasmu, aku akan benar-benar turun tahta, dan memberikan seluruh kekuasaan ku padamu."
"Bersiaplah turun dari jabatanmu Hidart! Aku akan menyelesaikan tugasku dengan sempurna. Gelar Raja Matahari akan jatuh padaku. Dan kau..! Akan ku lenyapkan kau dari dunia ini!"
"Jangan terlalu keras padaku Mikaela.. aku ini ayahmu!" Raja Hidart yang duduk di singgasana berdiri dan berjalan mendekati anaknya.
"Haha.. kau masih berani mengatakan kalau kau adalah ayahku? Jangan membuatku tertawa" dengan tatapan tajamnya, Mikaela membuat Raja Hidart yang mendekatinya kini berhenti tepat didepannya.
"Lupakan itu!! Jadi.. bagaimana? Kapan kau akan membawanya kemari?"
"Aku butuh waktu.. tak mudah membawanya secepat itu kemari. Aku akan mendekatinya dengan perlahan dan lembut"
Mikaela menyeringai licik
"Bagus! Aku serahkan semuanya padamu!" Raja Hidart ikut menyeringai.
__ADS_1
******
Seperti yang kita tahu. Bahwa matahari dan hujan yang datang bersamaan akan memancarkan tujuh warna indah yang kita sebut sebagai pelangi.
Sayangnya, keindahan tersebut tidak terdapat pada hubungan Kerajaan Matahari dan Kerajaan Hujan.
Hal ini berawal sejak Hidart menggantikan posisi ayahnya sebagai raja di Kerajaan Matahari.
Tiba-tiba saja Raja Hidart yang baru naik tahta memutuskan segala bentuk hubungan apapun dengan Kerajaan Hujan.
Hidart sangat mencintai Riani, seorang putri dari Kerajaan Angin. Namun sayang, cintanya tak terbalas.
Putri Riani lebih memilih untuk menjadi permaisuri Dhean, pangeran dari kerajaan hujan. Sejak itulah Hidart mulai kehilangan dirinya yang dulu. Ia menjadi pribadi yang pemarah, pendendam, dan kejam.
Ia bahkan tidak menyerah untuk mengejar dan mengambil hati Riani yang saat itu telah menikah dengan Dhean dan memiliki dua orang putri.
Bahkan Hidart memerintahkan pada pasukan nya untuk menyerang Kerajaan Hujan, yang menyebabkan hampir setengah dari penduduknya tewas mengenaskan.
__ADS_1
Tidak heran jika hal itu membuat Dhean, yang telah menjadi penguasa Negeri Hujan saat itu naik pitam. Awalnya Dhean tidak menyetujui adanya peperangan, tapi Raja Hidart benar-benar telah membuat desakkan dan selalu menyerang Kerajaan Hujan tanpa henti.
Hingga tak ada lagi alasan bagi Kerajaan Hujan untuk diam.
Akhirnya Raja Dhean memutuskan untuk turun tangan demi Negeri dan rakyatnya. Bersekutu dengan sahabat karibnya dari Kerajaan Awan, Kerajaan Hujan membawa pasukan yang cukup banyak dan kuat. Peperangan berlangsung lama. Darah menghiasi setiap wajah. Ada yang masih berdiri, ada juga yang sudah tergeletak. Pedang-pedang yang tertancap ditubuh mengalirkan darah segar. Lawan yang tangguh tanpa ampun. Sudah terlambat untuk kata menyerah. Peperangan hanya menyisakan mereka yang kuat.
Kerajaan Matahari mengibarkan bendera kemenangannya setelah berhasil merenggut nyawa Raja Hujan dan istrinya, Dhean dan Riani.
Riani berlari mencoba melindungi Dhean yang terluka, tertusuk oleh pedang Matahari Hidart yang mencoba membunuh suaminya. Dhean yang melihat itu murka dan kembali berdiri untuk membalas, namun apalah daya.. tubuhnya sudah kehilangan banyak darah. Belum sempat ia berdiri, ia sudah lebih dulu terbaring ketanah.
Cinta abadi mereka berakhir tragis karena kebengisan Raja Matahari. Seluruh negeri berduka. Bahkan langit ikut menangis melihat kepergian mereka. Lantunan angin yang lembut dibalut dengan hujan perpisahan, bak sengaja datang untuk membawa pulang putra dan putrinya. Kepergian mereka benar-benar menampar jiwa raga rakyat dan keluarga. Bak kehilangan seorang bapak, mereka kehilangan sosok pemimpin yang bijaksana, seorang pemimpin yang adil, serta mencintai Negeri dengan segenap jiwanya.
"Kak.. aku bersumpah! Aku akan melindungi tanah ini, dan kedua putrimu!! Bahagia disana kak.. Semoga Tuhan dan Dewa Hujan menjagamu"
Sumpah yang diucapkan Rayn, adik dari Raja Dhean, serta calon raja berikutnya adalah tanda, tidak akan ada perdamaian antara Matahari dan Hujan.
................
__ADS_1