
****
.
.
"Jadi tabib? Adakah obat untuk mempercep--" +
"Huh??"
Kalimat Raja Rayn terhenti dengan dengusan Olivia yang menggeliat memperbaiki posisi tidurnya.
"Eh?? Olivia?"
Hampir semua orang mengucapkan hal yang sama, terkejut melihat Olivia yang dengan santainya menggeliat.
Merasa diperhatikan, dan mendengar suara banyak orang, Olivia membuka mata, melihat sekelilingnya.
"Hmm? Kenapa kalian semua menatapku?"
Olivia duduk dari tidurnya
"Aduhh.. ohiya, aku ingat! Aku jatuh dari tangga kan? Hahahaha"
Olivia tertawa sambil meringis nyeri menyentuh kepalanya.
Lagi-lagi semua orang terdiam dan terkejut.
"Apa? Kenapa bisa?"
Tabib yang tampak kaget dan bingung kembali mendekati Olivia dan mengecek kondisinya.
"Padahal syarafnya rusak. Kenapa hal ini bisa terjadi?"
Tabib terduduk tidak percaya.
"Olivia? Kau mengenalku?"
Jimmy mendekati sahabatnya.
"Hah? Tentu. Kau Jimmy sahabatku" Olivia menjawab dengan santai.
"KAKAK!! kakak ingat aku?" Diral berlari memeluk kakaknya.
"Duh.. Iya.. kau adikku Diral." Olivia yang sedikit merasa kesakitan akibat guncangan dari pelukan Diral meringis.
"Pak Tabib? Kau bilang dia tidak akan bangun dalam waktu dekat bukan?" Dirga yang dari tadi hanya menyimak bertanya.
"Ya! Dan aku yakin akan hal itu. Tapi bagaimana hal ini bisa terjadi? Olivia.. kau memang seorang putri yang dilahirkan untuk Negeri Hujan. Kau benar-benar anak Dewa Hujan. Bahkan Dewa mengirimkan hujan rahmat ini untukmu." Tabib membungkuk dan berlutut hormat pada Olivia.
"Olivia?!" Raja Rayn memeluk keponakannya.
"Heh? Ada apa Paman? Aku juga mengingat paman.Tenang saja"
Olivia bingung.
"Terimakasih karena kau telah terlahir sebagai Putri Hujan sayang.. Paman mempercayakan Negeri ini padamu. Hanya padamu." Gumam Raja Rayn.
__ADS_1
Entah mengapa semua orang bersorak riang dan bertepuk tangan seperti telah menyaksikan hal yang menakjubkan.
Hujan yang dari tadi turun sangat deras pun kini melembutkan suaranya. Langit yang tadinya menghitam kini kembali membiru. Bahkan lebih cerah dari sebelumnya.
---------------------------
"Hmm? Anak Dewa Hujan? Cih!"
.........
***Di Istana Awan***
Pagi itu, seluruh keluarga kerajaan sedang sarapan di taman istana. +
"Aku bahagia!! Semua keluarga telah berkumpul. Sarapan jadi lebih nikmat"
Sesuai dengan ucapannya, Air muka Raja Zeylon tampak tersenyum bahagia.
"Benar! Sudah lama kita tidak sarapan ditaman seperti ini."
Zana tersenyum
"Tidak. Bukan itu bagian pentingnya. Yang paling penting adalah, kita bisa makan masakan ibu lagi. Ini hal yang kurindukan selama hampir sepuluh tahun" Dego meneguk coklat panasnya.
"Dego? Bukannya kau bilang kemarin kau tak suka pada ibumu?" Goda Raja Zeylon.
"Si-siapa bilang begitu?! Aku hanya kesal karena ibu pergi terlalu lama."
Wajah Dego memerah.
Ratu Lyra tersenyum dan mengusap lembut bahu Dego yang duduk di sisi kanannya.
Ucapan Ratu Lyra membuat hati semua orang senang, dan mengembangkan senyumnya.
"Ohiya..Ayah? Kapan kita akan ke Negeri Hujan lagi?"
Dego tiba-tiba bertanya disela-sela canda tawa saat sarapan.
"Entahlah. Tapi secepatnya kita akan kesana"
Jawab Raja Zeylon setelah menelan potongan roti terakhirnya.
"Bagaimana jika besok?"
Usul Ratu Lyra.
"Ya.. ide bagus" setuju Dego.
"Wowowo kenapa kalian begitu semangat? Apalagi kau Dego. Bukannya kemarin kau sangat tidak suka saat kuajak ke Negeri Hujan?"
Tanya Raja Zeylon.
"Aku ingin mencabut omonganku pada Olivia. Aku juga ingin minta maaf padanya. Aku sadar, tidak sepantasnya aku bersikap seperti itu padanya."
Dego berbicara pelan.
"Dego?! Itu hal bagus! Syukurlah kalau kau sudah sadar. Tapi jika itu Olivia, aku yakin sekarang dia sudah belajar menjadi Putri seperti yang kau minta."
__ADS_1
Zana tersenyum membayangkan Olivia.
"Ya.. begitulah Dhean junior ku!!"
Raja Zeylon tertawa ikut membayangkan Olivia.
"Mendengar cerita kalian, ibu jadi benar-benar sangat ingin bertemu dengan Olivia. Dulu dia sangat suka mendengarkan ibu bercerita. Ayolah sayang.. besok ya?"
Ratu Lyra tampak antusias dan merayu suaminya.
"Baiklah..baiklah.. besok kita akan kesana. Sekalian, kita akan membahas pernikahan Zana dan Olivia"
Jawaban Raja Zeylon membuat semua orang tersenyum senang. Pangeran Zana yang sedikit tersentak, mengeluarkan senyum tipisnya.
***Di Istana Hujan***
"Jangan bergerak dulu Olivia! Kau harus istirahat!"
Jimmy menghentikan Olivia yang ingin bangun dari baringnya.
"Jimmy.. aku bosan. Aku juga masih harus belajar banyak."
Olivia mengeluh manja pada sahabatnya.
"Belajar apalagi Olivia? Kau harus pulih total dulu!"
Ucap Jimmy tegas.
"Tapi aku tidak akan bisa menikahi Kak Zana kalau aku tidak belajar lagi."
Olivia memajukan bibirnya tanda kesal.
"Olivia.. cinta itu tidak akan melihat bagaimana sikapmu. Cinta tak butuh dirimu yang sempurna. Cinta itulah yang akan menyempurnakanmu. Cinta itu menerima kau apa adanya"
Jelas Jimmy lembut sambil mengusap tangan sahabatnya.
"Begitu? Apakah cinta seindah itu? Tapi cinta butuh pengorbanan kan? Aku akan berkorban demi Kak Zana."
Olivia tampak bertekad.
"Huhhh.." Jimmy menghela napas.
"Baiklah.. tapi sekarang kau istirahat. Aku akan menjagamu disini. Sebentar lagi Diral datang, dan aku yakin kau tidak akan bisa istirahat."
Jimmy menyelimuti Olivia.
"Huh.... baiklah..baiklah
Siapp komandan."
Olivia yang awalnya menolak, menghela napas dan mengangkat tangannya bak menerima perintah dari atasan.
Lalu tersenyum dan tidur.
"Aku disini.. aku akan menjagamu. Ini janjiku padamu" Gumam Jimmy.
..........
__ADS_1