Love Story Princess Rain

Love Story Princess Rain
4


__ADS_3

"PAMANNNN!!!" Suara teriakan Olivia bersamaan dengan dobrakan pintu ruang jamuan istana.


Tampak kedua raja yang seperti membahas sesuatu kini memandang Olivia yang tiba-tiba saja datang.


"Ada apa Olivia?" Raja Rayn bertanya.


"Paman... ayo kita pergi ke halaman. Disana Diral sedang mencoba mainan barunya. Sangat hebat!! Ayo pamann!!" Olivia mendekat dan menarik lembut tangan Raja Zeylon.


"Tapi kami sedang membicarakan sesuatu" Raja Rayn mendekati kursinya dan kembali duduk.


"Tidak.. sebentar saja.. kau harus melihat ini!! Ayoo!!" Kini Olivia menarik paksa kedua pamannya.


"Baiklah.. aku ingin melihatnya. Ayo Rayn! Hal tadi bisa kita bicarakan nanti."


Raja Zeylon yang dari tadi sudah memasang wajah penasaran, berdiri.


Raja Rayn terpaksa menyetujuinya dan segera mengikuti Olivia dan Raja Zeylon yang sudah duluan menuju pintu. Di sana sudah ada Ratu Hana, istri Raja Rayn yang ternyata sudah diajak oleh Olivia terlebih dulu. Raja, Ratu, dan Olivia kini berjalan menuju halaman istana.


"Sebenarnya apa yang ingin kau tunjukkan? Lihat saja! Kalau tidak bagus Paman akan menarik telingamu!"


Ancam Raja Rayn sambil berjalan dan menyilangkan tangannya.


Olivia hanya tersenyum mendengar itu.


-----------------


"HEEE???!?!?!" Teriakan Olivia menghentikan langkah Paman dan Bibinya.


"Ada apa sayang?" Tanya Ratu Hana lembut.


"Aku melupakan Jimmy!! Paman dan Bibi duluan saja!! Aku akan menjemput Jimmy. Jika aku terlalu lama, mulai saja tanpa aku." Suara Olivia mengecil diiringi dengan berlarinya ia kedalam istana.


"Dasar anak itu!!" Gumam Raja Rayn kesal akan kelakuan keponakannya itu.


"HUAHAHAHAHAH!!!!! si Dhean junior itu.. dia memang mirip sekali dengan ayahnya." Raja Zeylon tertawa lalu pergi mengikuti langkah Raja Rayn dan Ratu Hana.


***************


Bisa-bisanya aku melupakan Jimmy. Aku harus segera menemukannya. Aku sangat ingin menunjukkan kepadanya bunga-bunga api itu. Dari kecil, dia selalu merawat,dan menjagaku. Aku bersyukur memiliki sahabat sepertinya. Aku sangat menyayanginya, dari dulu.. sampai saat ini..


Aku terus berlari mencari Jimmy dari lorong istana, ruang utama, taman hujan, sampai ruang dansa. Tapi aku tak menemukannya.


"Pengawal? Apa kalian melihat Jimmy?" Tanyaku pada dua orang yang sedang berjaga di depan ruang dansa.


"Maaf Putri. Kami tidak melihat Jimmy." Jawab kedua orang itu serentak


Mendengar itu, aku kembali berlari


"Kemana Jimmy ya? Apa dia di dapur? Akan ku cek." Gumamku sembari berlari menuju dapur.

__ADS_1


Disana aku bertanya pada seluruh pelayan dan dayang, tapi tak ada seorangpun yang melihat Jimmy.


"Maaf tuan putri.. mungkin Putri bisa bertanya kepada Carlos. Biasanya kan Jimmy berlatih bersamanya." Ucap seorang pelayan dengan menundukkan kepalanya padaku.


"Benar! Aku akan tanya pada pak Carlos. Terimakasih!!" Lagi-lagi aku berlari dengan segenap tenaga ku menuju tempat penyimpanan senjata dibawah tanah yang biasanya digunakan Jimmy sebagai tempat latihan beladiri nya bersama pak Carlos, kepala prajurit istana.


"Aku harus bisa menemukan Jimmy dan membawanya ke halaman istana. Aku ingin menunjukkan kepadanya keindahan bunga-bunga api itu. Harus!"


Itulah yang selalu kupikirkan ketika berlari mencari keberadaan Jimmy.


"PAK CARLOS??" Teriakkanku sepertinya menghentikan kegiatan yang sedang berlangsung ditempat tersebut.


"A- ada apa tuan putri?" Balas seorang lelaki tua mendekatiku.


" Hahh..aa..paa baphak me..melihat Jim..my?" Tanyaku dengan napas yang terengah-engah.


"Jimmy? Ya.. tadi dia kesini, tapi belum lama dia kembali ke kamarnya. Kena--"


Mendengar pernyataan pak Carlos, tanpa pikir panjang dan mendengarkan kalimat selanjutnya, aku langsung berlari dari ruang bawah tanah menuju lantai dua istana tempat kamar Jimmy berada.


Aku berlari menaiki ribuan anak tangga yang cukup membuat kakiku pegal. Itulah mengapa aku lebih sering memilih untuk meluncur di pegangan tangga jika turun dari lantai atas.


"Sebentar lagi.. sebentar lagi aku akan sampai di kamar Jimmy. Aku tak punya banyak waktu. Orang-orang di halaman pasti sedang menung----"


"DUARRR!!"


Bunga apinya... sudah diledakkan. Itu bukan salah mereka. Aku berkata bahwa jika aku lama mereka boleh memulainya tanpaku.. tapi.. aku benar-benar ingin menunjukkan nya pada Jimmy. Ingin rasanya aku berhenti berlari, namun kakiku masih saja berlari bahkan kecepatannya bertambah.


"BRAKK!!" Aku terjatuh berlutut tepat setelah membuka pintu kamar Jimmy.


Jimmy yang berada disana melihatku, dengan cepat berlari ke arahku dan ikut berlutut di depanku.


"Olivia? Ada apa? Apa yang terjadi?" Suara Jimmy terdengar panik dan khawatir.


"Hahh.. hahh.. Ji.. ji.. Hah.. ak.. aku.." aku terengah-engah.


Jimmy mendekapku "kau kenapa? Jangan membuatku takut Olivia" ucapnya lembut, suara Jimmy semakin terdengar khawatir.


"Aku.. tadi ingin menunjukkan kepadamu mainan baru buatan Diral. Aku ingin kau melihat bunga api itu.. tapi sepertinya sudah terlambat. Aku terlambat.. bunga apinya sudah diledakkan"


Aku membalas dekapan sahabatku itu dan hampir menangis kecewa.


"Hey.. Olivia.. jangan menangis. Jika kau menangis, langit juga ikut menangis. Kau dengar suara ledakan itu..?" Ucap Jimmy lembut mencoba menenangkan ku.


"Bunga api itu masih ada. Kau tidak terlambat Olivia.. tidak sama sekali." Jimmy mengajakku berdiri dan menghapus air mataku.


"Maksudmu? Apa kau dan aku masih bisa melihatnya?" Tanyaku pelan


"Tentu saja. Kemari.." Jimmy menuntunku kearah jendela kamarnya.

__ADS_1


Disana terlihat bunga api yang telah diledakkan oleh orang-orang di halaman istana.


Mataku terbelalak kagum dengan keindahan langit malam itu. Aku sangat bersyukur bisa melihatnya bersama sahabat terbaikku.


Tapi lagi-lagi... Jimmy lah yang memperlihatkan kepadaku sesuatu yang indah. Aku tadi bahkan tak mendengar apapun saat sudah hampir menyerah, mengira aku terlambat.


"Aku senang kau mencari ku Olivia.." ujar Jimmy sambil melihat langit yang dipenuhi bunga api berwarna-warni.


"Aku senang kau masih mengingatku"


Kini Jimmy tersenyum lembut menatapku.


"Tentu saja.. kau adalah sahabatku dari kecil. Kau selalu merawat serta melindungiku. Aku tak mungkin melupakanmu" kataku dengan tersenyum dan menyentuh bahu sahabatku itu.


"Aku mencintaimu.." Jimmy tersenyum hangat padaku. Dan entah mengapa aku mengalihkan pandanganku. Jantungku berdebar lebih kencang daripada saat berlari tadi.


"Aku juga selalu mencintaimu.." aku coba membalas senyumannya.


Mendengar perkataan ku, Jimmy tiba2 saja tertawa dan kembali memandang langit.


"Kau tahu Olivia? Cintaku itu bukan hanya sekadar saha---"


"Olivia???"


Kalimat Jimmy terpotong oleh kedatangan kak Zana yang mencari ku.


"Kau kemana saja? Bukannya kau sangat ingin melihat bunga api dihalaman istana? Kenapa kau disini?" Pangeran Zana mendekatiku dan Jimmy.


"Kak Zana? Kenapa kakak kesini?" Tanyaku.


"Kenapa? Tentu saja mencarimu. Semua menunggumu. Tapi kau tak kembali"


Aku menjelaskan semuanya kepada Kak Zana. Kini, Kak Zana ikut bersamaku dan Jimmy melihat bunga api dari jendela kamar.


"Disini terlihat lebih indah.. aku bersyukur karena mencarimu Olivia." Kak Zana tersenyum menatap langit.


"Benarkah? Aku juga senang kau mencari ku kak.. berarti kau sangat peduli padaku"


Aku sangat bahagia melihat Kak Zana, pria yang aku suka pergi mencari dan mengkhawatirkan ku. Tapi entah kenapa seperti ada yang mengganjal di hatiku. Aku merasa ada sesuatu yang kosong. Bahkan Jimmy daritadi hanya diam semenjak kedatangan kak Zana.


"Hey? Kau tadi ingin mengatakan sesuatu?" Aku mencolek tangan Jimmy


"Tidak.. bukan apa-apa" Jawab Jimmy tersenyum tanpa melihat ke arahku


"Baiklah.."


Malam itu Aku melihat bunga api bersama Sahabat dan Pria yang aku suka. Aku sangat bahagia.


Terimakasih Dewa Hujan

__ADS_1


__ADS_2