
***
"Kenapa kau ikut campur urusan si Birgaus itu sih kak?"
Diral mengomel.
"Apa kau tidak lihat tadi dia mau membunuh Putri Kanna dan Pangeran Zana?"
Balas Jimmy meringis menahan perih sementara Olivia masih mengobati luka di lengannya.
"Biarkan saja.. itu lebih baik"
Diral membaringkan tubuhnya di sebelah Jimmy.
Olivia tak memperdulikan percakapan antara sahabat dan adiknya.
Ia hanya fokus pada luka Jimmy yang ternyata sangat parah.
"Ini sangat dalam.. "
Gumam Olivia.
"Tidak. Aku tidak apa-apa"
Jimmy tersenyum memandang Olivia.
Wajah Olivia memerah, ia memanyunkan bibirnya.
"Dasar pembohong"
"Daripada itu.. Olivia? Bukannya sikapmu pada Birgaus tadi terlalu berlebihan?"
Tangan Olivia terhenti. Matanya membulat, bak baru menyadari sesuatu. Ia perlahan mengangkat wajahnya menatap tepat ke arah Jimmy.
"K..kau benar, aku terlalu kasar kepadanya"
Olivia kembali menunduk
"Jadi? Apa yang akan kau lakukan?"
Tanya Jimmy.
"Aku akan meminta maaf kepadanya. Aku juga akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."
Jawab Olivia
"Bagus. Aku akan menemanimu kesana"
Jimmy lagi-lagi melempar senyumnya
"Tidak. Kau harus istirahat. Aku akan segera selesai membalut luka mu, setelah ini kau harus tetap disini, dan jangan banyak bergerak."
Olivia mempercepat gerakannya
"Kalau begitu aku sajaa yang ikuttt!!"
Diral melompat menawarkan diri.
"Kau jaga Jimmy."
Dengan cepat Olivia membalas ucapan Diral.
"Tapi? Kau tidak apa-apa sendiri? Apa kau yakin Olivia? Aku tak ingin kau kenapa-napa"
Khawatir Jimmy.
"Percaya lah pada sahabatmu yang tangguh ini."
Olivia mengedipkan matanya dan segera mempersiapkan diri setelah selesai dengan luka Jimmy.
"Aku pergi ya.. sampai jumpa"
Olivia melambaikan tangannya, berlari keluar kamar dan turun ke bawah untuk pergi menemui Birgaus.
"KAKK!! TUNG--"
"Biarkan dia Diral."
Jimmy menahan tangan diral yang ingin mengejar Olivia.
"Bagaimana kalau dia terluka?!"
Diral tampak panik.
"Tidak. Ingatlah, dia adalah Olivia."
Jimmy tersenyum.
Diral menggaruk kepalanya, tak mengerti.
.
.
.
............
****
Aku meluncur turun dari lantai atas dengan tergesa.
Kulihat ruang utama Kerajaan telah kosong, hanya ada para pelayan dan prajurit yang sedang membereskan ruangan serta berjaga.
"Pelayan? Dimana semua orang?"
Tanyaku pada salah seorang pelayan.
"Semua orang tampaknya sedang melihat keadaan Pangeran Zana di tempat tabib tuan putri"
Jawab pelayan itu
"Apa Pria yang membuat keributan tadi juga ikut kesana?"
Tambahku bertanya.
"Maaf. Saya tidak tahu mengenai itu Putri"
Pelayan itu menundukkan kepalanya.
Apa mungkin kak Birgaus ikut menjenguk Zana?
Aku memutuskan untuk keluar dari istana dan berlari pergi ke tempat tabib istana, yang jaraknya tidaklah jauh.
Tepat didepan rumah tabib, aku melihat Dego sedang mencoba memarkirkan kudanya.
"DEGOO"
Teriakku melambaikan tangan pada Dego.
Wajah Dego tampak dingin seperti biasa.
__ADS_1
Ia hanya menatapku sekilas dan kembali fokus pada kudanya, hingga aku tepat berdiri disebelahnya.
"Kenapa kau kemari?" Tanya nya tanpa menoleh
"Aku mau bertemu dengan Birgaus"
"Dia telah kembali ke gua nya"
Balas Dego singkat.
Aku terkejut mendengar itu. Aku terlalu kasar padanya! Aku benar-benar harus minta maaf kepadanya.
"Baiklah.. aku pergi"
Ucapku.
"Tunggu?! Kau mau kemana?"
Dego menahanku yang sudah dua langkah berlari.
"Aku akan pergi ke gua itu. Aku ingin meminta maaf kepadanya."
"Bodoh! Kau tahu kan itu bahaya? Aku yakin seluruh negeri telah mendengar berita bahwa kau adalah titisan Dewi Hujan!! Jika terjadi apa-apa padamu bagaimana? Lagipula, gua itu sangat jauh. Kau akan mati jika berlari kesana."
Dego meninggikan nada bicaranya kepadaku
Aku sebenarnya masih sangat bingung dengan apa yang terjadi. Baik itu tentang Dewi Hujan, Birgaus, Helena.. aku masih bingung dengan semuanya.
Yang aku tahu sekarang hanyalah, aku harus meminta maaf pada Birgaus. Hanya itu.
"Kalau begitu, aku pinjam kudamu"
"BODOH! Aku bilang kau jangan pergi!"
Dego menahan tangan kananku dengan kuat.
"Lepaskan! Ini semua bukan urusanmu!!"
Aku terpaksa mengucapkan kalimat itu. Dego tampak membulatkan matanya dan melepaskan tanganku.
Ia menunduk.
Ini kesempatan ku untuk pergi. Tanpa pikir panjang, aku berlari kembali menuju istana dan pergi ke kandang kuda istana. Disana ada Hera, kuda pemberian Ayah untukku dulu. Aku sudah lama tidak menaiki kuda, tapi ketika mempertimbangkan apa yang dikatakan Dego tadi.. sepertinya benar, mustahil aku harus berlari ke gua itu. Aku akan pergi bersama Hera.
"Baiklah Hera.. aku mengandalkanmu! Ayo kita pergi ke tempat kakakku"
Aku memukul kendali Hera, membuat Hera melaju dengan cepat.
Sesungguhnya aku sangat takut ketika Hera melaju dengan cepat seperti ini. Aku tidak sempat menggunakan pengaman apapun. Bagaimana jika aku terjatuh?
Tapi semua pemikiran itu tersingkirkan oleh ingatanku saat berbicara kasar pada Birgaus. Aku tetap melajukan kudaku tanpa memikirkan hal buruk yang terjadi.
....
---------------
****Dego POV****
Bodoh!! Ini memang bukan urusanku!! Mengapa aku harus mengkhawatirkannya!!
Aku merasa sangat tertampar dengan kalimat yang baru saja diucapkan Olivia. Tak ada jalan lain. Aku akan membiarkannya pergi. Aku benar-benar tidak peduli lagi.
"Lebih baik sekarang aku melihat kak Zana didalam"
Aku berjalan masuk ke dalam rumah tabib setelah memarkir kan kudaku.
Kak Zana masih terbaring lemas, ibu terus memegangi tangannya dengan cemas.
Sudahlah istriku. Zana tidak apa-apa"
Ibu tak pernah menanggapi perkataan ayah. Ia hanya terus memasang muka gelisah dan menggenggam tangan kak Zana. +
Aku sebenarnya juga sangat merasa bersalah karena telah membuat Birgaus melakukan ini pada kakakku. Tapi ayah memerintahkan ku melakukan itu, dengan tujuan melihat bagaimana kekuatan Birgaus. Ayah memang licik, sangat licik. Aku sangat membenci sikapnya itu.
"Ji..Jimmy dan O..Olivia.. apa mereka tidak apa-apa?"
Kak Zana bertanya padaku.
Hey! Mengapa kau bertanya padaku! Aku tidak peduli. Memangnya aku datang terakhir karena aku mengecek kondisi mereka terlebih dahulu?! Tidak!!
Aku lebih peduli dengan kuda ku.
"Eum.. sepertinya mereka baik-baik saja"
Jawabku mengarang.
Mendengar jawaban ku, kak Zana tersenyum tipis. Ahhh!! Tidak.. sepertinya aku melakukan sebuah kesalahan!! Otakku tiba-tiba saja memutar memori saat Olivia berlari ingin pergi ke gua.
Perasaanku menjadi tidak enak. Wajah Olivia yang selalu tersenyum tiba-tiba saja muncul di kepalaku. Apa ini!!
"Kau kenapa Dego?"
Tepukan ayah menyadarkanku. Semua orang melihatku bingung.
"Oh tidak. Aku tidak apa-apa. Aku sepertinya lelah. Aku akan kembali ke istana."
"Ya.. istirahatlah nak.."
Ucap ibu.
Aku pergi keluar dan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi padaku. Aku tiba-tiba saja sangat khawatir dengan si **** perusuh itu.
"Aku akan memastikan dia baik-baik saja."
Akhirnya aku memutuskan untuk menyusul Olivia ke gua Veterdra.
Aku mengendarai kuda dengan kecepatan diatas rata-rata. Bukan ingin sombong, tapi kuda ku adalah salah satu kuda elit di negeri ini. Kalian bisa memanggilnya Braun. Dia kuda yang sangat cerdas dan cepat. Aku mendapatkannya saat umurku 6 tahun. Bukan dari Ayah atau ibuku, Braun kudapatkan dari Paman Dhean, Ayah Olivia. Oke lupakan soal kuda...!!
Sekarang pikiranku masih fokus untuk menyusul dan memastikan bahwa Olivia baik-baik saja. Saat aku melihat Olivia bersama Birgaus, aku akan pergi.
Saat kuda ku mendekati gua nanti, aku akan menarik kendalinya agar berjalan lebih lambat. Aku tidak ingin Olivia tahu bahwa aku menyusulnya.
Belum lagi aku mendekati gua, aku melihat kuda putih yang sepertinya tersesat.
Aku sepertinya pernah melihat kuda ini... sebentar... aku akan mengingat-ingat terlebih dulu..
Hmm.. kuda putih, dengan rambut lebat, hmmm... matanya yang biru.. hmmm.. OHH!!
"HERA!! ini kudanya Olivia kan?! Ke-kenapa ada disini?!"
Aku masih mencari kemungkinan yang terjadi.
"Oh.. mungkin si **** itu tidak mengikat Hera dengan benar. Dasar!"
Aku turun dari Braun dan membawa Hera mendekatiku. Aku memutuskan untuk membawa Hera kembali ke gua, dan aku akan memberi pelajaran pada si **** perusuh itu!!
Saat sampai di gua, aku mengikatkan tali kendali Hera dan Braun dengan kuat. Lalu aku masuk ke dalam.
Tidak seperti awal, aku tidak takut sama sekali memasuki gua ini.. walaupun di awal aku juga tidak takut.
Sampai diujung gua, aku melihat pria dengan rambut panjang dan jubah putihnya terduduk dan menunduk. Ya! Itu birgaus.
__ADS_1
Aku memutuskan untuk menghampirinya.
"Birgaus.."
Panggilku.
Pria itu mengangkat wajahnya dan menoleh ke arahku.
Wajahnya sembab seperti habis menangis. Aku tak bisa menahan tawa. Aku tertawa sangat kencang
"HUAHAHAHAHAHHAHAHAH"
"Kenapa kau tertawa ********!"
Birgaus berdiri dan menarik baju ku
"Ti..tidak. Aku hanya merasa kasihan padamu. Kau ini terlihat sangat kejam tadi.. tapi sekarang kau seperti perempuan. Ahahah"
"Diam! Kenapa kau kemari?!"
Wajah marah Birgaus tampak kembali terlihat.
Aku yang dari tadi masih tertawa tiba-tiba terdiam ketika mendengar pertanyaan Birgaus.
"Tu..tunggu!! Dimana Olivia?"
Aku bertanya pada Birgaus.
"Hah? Apa? Kenapa kau bertanya padaku?"
Birgaus melepaskan cengkraman nya pada bajuku.
"Ta-tadi Olivia berkata padaku, bahwa ia ingin kesini menemui mu untuk meminta maaf."
Aku mulai panik. Mataku tampak sangat gelisah.
"Tidak ada."
Jawab Birgaus yang tampak ikut panik.
"Apa?! Ja-jadi ia belum kesini?"
"Ya.. belum. Mungkin ia belum sampai. Kau tau kan? Medan untuk sampai kesini sangat sulit."
Birgaus tampak membuat harapan.
"Tapi aku mendapatkan kudanya sudah melewati Medan yang sulit itu."
"Kudanya?"
"Iya!! Hanya kudanya!!"
Aku dan Birgaus saling menatap dan berlari keluar gua.
Aku sangat panik, perasaanku makin tak enak.
Apa ini... kenapa aku merasa sangat bersalah membiarkannya pergi!! Ahhh!!
"Kita harus mencarinya!!"
Ucapku
"Tentu saja!! Apalagi bodoh!!!"
Gas Birgaus.
Aku dan Birgaus pergi mengelilingi wilayah tersebut. Tapi kami tidak mendapati adanya keberadaan Olivia.
"Dagu!!"
Birgaus memanggilku dari jauh.
"Namaku Dego!"
Protes ku
"Terserah! Aku tidak peduli. Dimana kau menemukan kuda ini?"
Tanya Birgaus sambil mengelus Hera
"Di ujung jalan dekat hutan di sana"
Aku menunjuk hutan yang berada lumayan jauh dari kami berdiri.
"Aku.. menemukan ini!"
Birgaus menunjukkan sebuah anting
"Dimana kau menemukannya?"
"Di kuda ini.. benda ini tersangkut di rambutnya"
Aku mengamati anting yang ditemukan oleh Birgaus. Anting ini tampak tidak asing bagiku. Aku sepertinya pernah melihat anting ini. Tapi dimana? Kapan? Aku lupa..
Aku terus coba mengingat dimana aku pernah melihat anting ini.
.
.
.
.
"Ti-..tidak mungkin.. ini ke-kerajaan matahari?!"
Ucapku pelan setelah mengingat bahwa anting ini adalah lambang dari Kerajaan Matahari.
Tidak mungkin!!! Jangan-jangan Olivia telah diculik oleh... ahhh!! Tidak mungkin!! Janhan sampai ini terjadi Dewa!!!
"Kerajaan Matahari? Baiklah.. ayo kita kesana. Mungkin mereka tahu dimana Olivia."
Ujar Birgaus dengan santai.
"Tunggu! Jika ini berkaitan dengan kerajaan Matahari, kita harus beritahu Ayahku."
"Kenapa?"
"Sudah.. ikuti saja aku. Ayo!!"
Aku menaiki Braun dan segera pergi menuju istana Hujan.
Gawat!! Ini benar-benar gawat! Aku tak bisa membayangkan jika hal yang terjadi pada Paman Dhean dan Bibi Riani akan terjadi pada Olivia.
Aku harus segera memberitahukan ini pada semuanya.
.
.
.
__ADS_1
.
.............