Love Vs Blood

Love Vs Blood
21.Love vs Blood


__ADS_3

"Kamu siapa?" Tanya Mario suaranya terdengar ketakutan, mulutnya perih terlalu lama ditutup dengan lakban. Suara langkah kaki seseorang mendekati dirinya, membuka lakban yang membungkam mulutnya.


Seseorang itu menyodorkan sendok kearah mulutnya. Mario mengendus sebelum membuka mulutnya. Tidak peduli jika makanan itu beracun asal perutnya tidak merasakan lapar.


Satu suapan masuk ke dalam mulutnya. Mario tidak mendengar sedikit pun suara orang selain suara sendok sesekali mengetuk piring. Mario dengan lahap menghabiskan suapan demi suapan. Suapan terakhir, seseorang yang tidak diketahui itu memberikan segelas minum air putih. Mario meminumnya rakus, belum usai merasakan lega mulut Mario kembali dibungkam kali ini dengan kain yang diikatkan bukan dengan lakban. Terdengar suara langkah kaki berjalan menjauh.


Sudah dua kali ini seseorang yang tidak dikenal memberikan Mario makan. Entah suruhan Jamie atau ketulusan dari hatinya sendiri. Karena orang jahat, tidak benar-benar jahat. Memiliki sisi kebaikan walaupun tidak nampak.


Di ruang gelap itu Mario kembali seorang diri, berpasrah dengan keadaan m*ti perlahan atau ditemukan terkapar dengan sedikit sisa napas diambang kem*tian.


 


Terlalu lama mereka beradu kenikmatan, Jamie dan Tania tertidur di atas sofa. Terlihat gelap, lampu ruangan yang tidak menyalah dan langit sudah gelap pertanda malam, terlihat dari kaca jendela yang belum tertutup.


Tubuh Tania merasakan remuk redam dan perih di bagian bawah.


"Ah …." Rintihnya merasakan sakit disekujur tubuh.


Jamie masih tertidur pulas, tidak terasa jika Tania melepaskan diri dari pelukannya. Tania baru menyadari tentang keberadaan cctv.


"F*ck." Umpatnya, sambil memikirkan caranya untuk mengambil pakaian dia yang berserakan.


Pelan-pelan merayap berharap tidak terekam oleh cctv, Arika berhasil mengambil pakaiannya. Dengan cepat segera memakai, kemudian pergi dari ruangan Jamie.


 


"Kep*rat juga aku, kenapa bisa melakukan dia? Dasar bod*h." Umpatnya pada diri sendiri sembari menyetir mobilnya untuk pulang ke rumah.


Sesekali Tania membenturkan kepalanya di sandaran kursi. Tania merasa menyesal dan marah pada dirinya sendiri. Sesuatu yang sudah terjadi terkadang tidak bisa dikembalikan lagi. Apa yang telah dirinya jaga? akhirnya terlepaskan juga hanya karena napsu belaka.


Pikiran Tania hanyalah kamar mandi, ingin mengguyur tubuhnya. Sudah tidak bisa berpikir lagi, membayangkan jika Arya dan Putra mengetahui entah enyah sudah.


Seperti yang diinginkan, mobil terparkir sembarangan di halaman rumah yang besar dan mewah. Tania secepatnya berlari menuju kamar, dan tanpa melepas pakaian mengguyur tubuhnya di bawah shower.


Tania tidak bisa menangis, air matanya tak mampu keluar. Penyesalan dan entah perasaan apa yang tiba-tiba menyeruak.

__ADS_1


 


Jamie terbangun, dilihatnya Tania sudah tidak ada di sampingnya. Bahkan tidak terlihat barang-barang Tania.


Jamie lekas menutup tubuhnya dengan kemeja yang tergeletak di lantai. Sempoyongan, tubuhnya kelelahan. Mengambil air minum sebelum pergi pulang meninggalkan kantornya.


Dilihatnya jam sudah tengah malam.



"Tolong, jika butuh sesuatu ketuk pintu!" Arika memberikan pesan pada Putra, tidak ada pilihan Putra tidur di sofa ruang tamu.


"Ingat, itu kamar ku." Jawab Putra.


"I know, kalau begitu antar aku pulang!" Pintah Arika sebelum masuk kamar.


"Lebih baik sekarang kau tidur, jika tidak aku akan menedur*mu." Mendengar Putra mengatakan itu Arika berlari masuk kamar, cepat-cepat mengunci pintu.


Putra tersenyum tipis melihat tingkah Arika. Bantal dan selimut sudah disiapkan Arika di sofa. Putra hanya geleng-geleng kepala.


"Siapa kamu Putra?" Gumam Arika,


"Aku yakin ini alasan kamu menahan aku untuk tinggal di sini." Memeluk guling dengan erat, memiringkan badan ke kiri, berulang kali membaca pesan yang tidak pernah dirinya sangka.


"Apa kau tau sejak aku berada di mall?" Arika memikirkan kejadian saat itu, Putra tiba-tiba datang membantu dirinya pergi.


"Terimakasih Putra." Ucap Arika sebelum memejamkan mata.


 


"Kita bagi tim untuk mencari keberadaan Mario." Ujar Calvin kepada anggotanya.


"Percuma anj*nk, dia disembunyikan Jamie. Dia sudah mati di tangan Jamie." Robert sudah berada di markas lagi.


"Jangan asal ngomong anj*nk! Apa kamu mau mati di tangan Jamie?" Tanya Calvin membawa stik billiard.

__ADS_1


"Orang tuanya bahkan polisi tidak mengetahui keberadaan dia. Kalian tau kan siapa orang tua Mario? Mereka seorang pengusaha bahkan bisa membeli jabatan. Tapi apa kekuasaan dia tidak ada apa-apanya dengan Jamie." Robert menjelaskan sambil berjalan kesana - kemari.


Si kembar pasti selalu ada di setiap perkumpulan. Pekerjaan sudah ada yang bertanggung jawab, mereka hanya menunggu transferan.


"Bagaimanapun kita juga harus hati-hati. Mario ketua kita, kita tetap nyari dan tentu antisipasi." Raka memberikan saran, yang membuat Riki geram kenapa harus ikut pembicaraan. Biarkan saja mereka berbicara, kita hanya sebagai pendengar, merekam rencana dan melihat alur.


Calvin diam, dirasa omongan Robert ada benarnya. Raka pun juga memberikan saran yang baik.


"Oke, aku setuju sama Raka." Calvin kemudian membagi anggotanya untuk menjadi kelompok pencarian Mario.


 


Bukan tidur Putra membuka file-file kerjanya. Segera menyelesaikan tugas perkara-perkara yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Mengetik per kalimat setiap berkas.


Malam ini dirinya harus fokus menuntaskan perkara kecil sebelum bertindak jauh, menyelesaikan perkara besar.


Putra sudah mempersiapkan semuanya, bukti-bukti sudah tersimpan rapi, hanya satu yang masih masih menjadi pencariannya yakni hilangnya orang tua Arika yang masih menjadi misteri.


 


Tidak perlu menunggu lama, pesan masuk di ponsel Jamie memberikan kabar jika Robert anak komunitas mobil mencurigai dirinya. Suara rekaman, terdengar jelas Robert berbicara di hadapan anggota.


Tidak ada orang yang benar-benar baik, satu kata 'manipulatif' bagi Jamie untuk orang-orang yang ada di sekelilingnya. Kecuali mereka yang terpilih, tidak akan pernah bisa berkhianat. Jika itu terjadi tentu Jamie tidak akan pernah main-main, meled*kan 1.000 orang dalam satu ruang sekaligus hanya pekerjaan seujung jari.


Apa yang tidak bisa dirinya lakukan? Kecuali jauh dari Tania. Belahan jiwanya, cintanya, dunianya selain permainannya.


"Tangkap dia, hab*si dia!" Perintah Jamie pada sang ahli. Seorang Sniper, yang sudah dipekerjakan Jamie sudah puluhan tahun. Mengabdi pada Jamie, mengingat kelaparan, kemiskinan dirasakan dirinya dan keluarganya. Jamie orang yang menolongnya saat frustasi ingin meng*khiri hidup.


Sniper namanya, sesuai pekerjaan yang diberikan Jamie. Puluhan orang sudah merasakan hant*man peluru dari senapan laras panjang.


"Buang jauh-jauh, aku tidak sudi melihat dia." Ucap Jamie dalam rekaman telepon.


"Baik." Hanya itu jawaban dari Sniper untuk mengindahkan permintaan tuannya.


Jamie melajukan mobilnya cepat, bagai di sirkuit, tidak peduli. Jangankan jalan, dunia bisa menjadi miliknya asalkan Tania bersamanya.

__ADS_1


Bersamamu ….


__ADS_2