Love Vs Blood

Love Vs Blood
22.Love vs Blood


__ADS_3

Sabilla merasa lebih baik, menggendong bayi cantiknya di halaman rumah sembari melihat Elang yang sedang bermain. Bayu menitipkan Sabilla pada baby sitter yang masih memantau Sabay.


"Kalau capek istirahat ya, aku pergi dulu." Pamit Bayu pada sang istri.


Sabilla tersenyum, begitu bahagia menemukan Bayu. Tidak disangka Bayu yang tukang bercanda menjadi teman hidupnya. Begitu mencintai dan menjaga dirinya.


---


Bayu pergi mendatangi pertemuan untuk mengambil alih perusahaan. Perusahaan yang harus dirinya akuisisi. Lagi dan lagi, Bayu penyelamat perusahaan. Mental baja, cerdas dalam berwirausaha.


Atas keterlibatan Bayu di hampir perusahaan besar, tidak membuat Jamie berpikir jika Bayu adalah orang dibalik Tania.


Bayu melihat Jamie ikut masuk di dalam ruang pertemuan. Jamie salah satu pemilik saham di perusahaan yang akan di akuisisi oleh Bayu.


Hanya saling melihat, tidak menyapa bak orang saling mengenal dekat. Bayu menjadi tamu kehormatan, tidak ada yang tidak mengenal kecuali orang - orang bawahan. Pribadi Bayu tidak terekspos, tidak penting bagi dirinya menjadi terkenal.


---


"Arika tolong buka!" Putra mengetuk pintu kamarnya, Arika masih tertidur.


"Arika …." Panggil Putra berkali-kali. Putra akan terlambat untuk pergi ke persidangan jika Arika tidak lekas membukakan pintu.


Menelpon berulang kali tidak ada jawaban. Putra khawatir juga geram.


"Astaga ini orang ngapain? Mandi atau masih tidur." Putra bertanya-tanya.


Putra mengetuk pintu semakin kencang. Masih tidak ada respon, kunci ganda juga tersimpan di dalam kamar.


"Sial*n." Umpat Putra.


Dirinya hanya memakai celana pendek dan kaos. Melihat jam terus berputar, menunggu Arika tidak akan bisa.


"Sittt …." Putra mengumpat, membawa berkas-berkas dan tas kerja, mengambil kunci segera pergi dengan kondisi belum mandi.


Dijalan Putra teringat di kantor dirinya punya baju ganti waktu kehujanan. Tidak mungkin dirinya beli baju, sedangkan toko baju masih pada tutup.


Tidak peduli dengan rekan kerja yang bercanda dengan ocehan mereka dan menertawakan saat dirinya tiba di kantor.


"Belum mandi pak?" Tanya seorang rekan kerja.


"Bajunya kemana pak?" Celoteh yang lainnya.

__ADS_1


"Gak pulang pak?"


"Kalian gak bisa diam?" Putra membawa peralatan mandi yang masih sempat dibelinya di minimarket menuju toilet karyawan. Seisi ruangan tertawa bersamaan.


---


Arika membuka matanya, tangannya merayap mencari keberadaan gawai. Langsung melotot karena jam sudah menunjukkan 12 siang.


"Putra …." Ucapnya bergegas bangun, lekas membuka pintu mencari keberadaan Putra.


Putra tidak tampak batang hidungnya, notifikasi puluhan panggilan tak terjawab dilihatnya. Arika mencoba menghubungi Putra.


"Angkat dong!" Arika gelisah menggigit ujung jempolnya.


Putra yang sedang berada di ruang sidang tentu tidak menghiraukan. Perjalanan persidangan lebih penting dari si Arika yang menyebalkan.


Arika mendengus duduk di sofa tempat Putra tidur, bahkan selimut saja belum dilipat olehnya.


Arika merasa bersalah, juga merasa bingung. Tidurnya begitu nyenyak tanpa mimpi buruk yang selalu datang, sangat berbeda dengan dirinya tidur di rumah Jamie. Mimpi buruk tentang orang tuanya selalu datang, membuat dadanya sesak menahan tangis.


"Kamu siapa Putra, bahkan aku segampang itu percaya?" Batin Arika memegang selimut yang sudah dipakai Putra.


"Sudah lama aku tidak merasakan tidur senyenyak ini, maafkan aku." Gumamnya.


Tubuhnya butuh haknya untuk beristirahat, setelah sekian lama hari-harinya dilalui bekerja dan bekerja. Bantalan sofa yang lembut dan nyaman membuat Arika kembali tertidur.


---


"Apa yang kalian dapatkan?" Arya bertanya pada Raka dan Riki, Mereka bertiga sedang berada di markas.


Rekaman suara Robert dan yang lainnya tentang pembahasan Jamie didengarkan oleh Arya. Arya langsung menyimpulkan dan memberi perintah "Culik Robert."


Si kembar saling melihat, "Kita nyulik?" Riki gak bisa mikir.


"Ok, Biar aku nyuruh Nando." Arya dengan cekatan menghubungi Nando sebelum Robert menjadi makanan binatang buas.


Nando sigap, langsung paham tanpa penjelasan. Memerintahkan bawahan untuk mencari keberadaan Robert. 


"Ku yakin Jamie sudah tahu tentang hal ini." Ucap Arya.


"Robert masih aman, dia barusan aku hubungi masih di rumah." Raka menyampaikan pesan, ketika Arya menghubungi Nando. Raka berinisiatif menghubungi Robert menanyakan keberadaannya, bilang mau mampir yang membuat Robert harus menunggu kedatangan si Raka.

__ADS_1


Arya tertawa "Jamie punya Sniper, Robert dalam gedung sekalipun dia bisa m*ti di tangannya."


"Sniper?" Tanya Raka dan Riki barengan. Jelas mereka tidak banyak tahu, karena seperti pesan Putra untuk selalu melindungi Raka dan Riki.


"Sniper, orang suruhan Jamie." Arya menjelaskan, hanya Arya dan Nando yang mengetahui. Begitu pula dengan kem*tian bocah, Arya dan Nando menduga pemb*nuhan itu ulah Sniper atas perintah Jamie.


Seperti dugaan, di atas rooftop rumah orang dengan jarak 500 meter dari kediaman Robert, Sniper sudah siap dengan senjata laras panjang siap membidik. Memantau pergerakan Robert dari kejauhan, masih tidak ada pergerakkan. Tidak ada lalu lalang orang, begitu sepi kondisi perumahan mewah. Jendela kamar Robert di lantai tiga juga tidak terlihat adanya Robert.


Sniper tidak pernah gagal dalam pekerjaan, melakukan riset sebelum bertindak.


Terlihat mobil masuk ke pekarangan rumah robert. Sniper terkejut dengan orang yang turun dari mobil dengan plat nomor yang tidak dirinya kenali, seseorang yang turun adalah Sonic.


"Pengkhianat …." Umpat Sniper,


Semua data orang yang bekerja dengan Jamie, Sniper mengetahui. Sniper lah kaki tangan Jamie sebenarnya.


Sniper mengurungkan niat untuk membidik Robert. Memberitahu Jamie hal yang lebih penting daripada harus menghabisi Robert secepatnya.


Di balik omongan Robert ada Sonic si pengkhianat.


---


"F*ck." Umpat Jamie setelah mendengar informasi dari Sniper.


Berpikir sejenak sebelum kembali memerintah "Tinggalkan tempat! biarkan dulu mereka hidup."


Jamie emosi, raut wajahnya memerah. Tidak bisa lagi menahan amarah, botol minuman berisi wine kembali dilemparkan menghantam dinding, serpihan kaca berceceran. Tidak disangka masih ada seorang penghianat di sekitarnya. Jamie mencoba berpikir untuk mencari cara untuk menjebak mereka.


Sayangnya pikiran Jamie tidak fokus, semenjak kejadian di ruang kerja kantornya Tania tidak dapat dihubungi. Emosinya semakin meluap, gelas dan barang di meja semua dibuangnya sembarangan.


Tentu saja Jamie tidak terima, merasakan rindu bercampur amarah bagai lelaki bayaran, selesai dipakai ditinggalkan.


Masalah baru datang lagi, sebelum tuntas membereskan Mario yang masih tersimpan menunggu ajal.


"Bangs*t." Umpat Jamie sudah tidak peduli dengan barang berserakan.


Berjalan meninggalkan mini bar menuju kamar untuk berganti pakaian, segera pergi ke perusahaan. Masih banyak pekerjaan untuk menutupi topeng yang harus dirinya kerjakan.


---


Bi Wati datang dengan ketakutan. Melihat ruangan berantakan penuh dengan pecahan kaca dari benda-benda yang dibuang Jamie.

__ADS_1


Bi Wati mendapatkan panggilan untuk datang, segera membereskan kekacauan. Ditakutkan Arika datang, tidak ingin kekacauan yang terjadi diketahui oleh Arika. Seperti pesan Jamie padanya.


Bersambung ….


__ADS_2