Love Vs Blood

Love Vs Blood
46. Love vs Blood


__ADS_3

Suasana kolam dengan air yang begitu tenang, tanaman hijau menambah keasrian menunggu sinar senja datang menyapa.


Tidak disangka Jamie tertidur terlalu lama dari dugaan, efek obat tidur dengan dosis yang tinggi ditambah dirinya semalaman terjaga, mantau kejadian dari ruang kerjanya.


Tania yang ikut terlelap, menggeliat oleh sentuhan lembut yang membelai wajahnya.


Sesekali ciuman lembut mendarat di pipinya.


Tania mengerang lirih, lupa jika masih berada di rumah Jamie.


"Bangun sayang, kita ketiduran!" Suara Jamie berbisik lirih tepat di telinganya.


Mata Tania mendadak terbelalak, tubuhnya terperanjat.


"Its oke sayang." Jamie menahan tangannya.


"Astaga …. " Ucap Tania.


"Are you oke?"  Tanya Jamie menenangkan.


Tania mengusap wajahnya.


"Aku kira mimpi," celetuknya


"Bagaimana bisa aku tertidur?" Tanya Tania.


"Aku juga gak tau, mungkin semalam kita tidak tidur." Jawab Jamie memperhatikan pesona Tania.


"Kenapa tidak tidur?" Tanya Tania.


"Banyak kerjaan." Jawab Jamie menarik lembut tubuh Tania, menuntun untuk tidur di samping dirinya.


Lengannya yang kekar siap untuk jadi tumpuan kepala kekasihnya.


"Kita istirahat lagi ya!" Ucap Jamie, Tania perlahan menuruti, merebahkan tubuh di samping Jamie.


"Bolehkah aku memberi nama untuk bayiku?" Jamie bertanya sembari mengelus perut Tania.


Kagok Tania menjawab "Bo … Leh."


"Biarkan dia mewarisi namaku, aku yakin anak ini perempuan. Akan menjadi anak perempuan tercantik dan pemberani sepertimu sayang." Kecup Jamie di puncak kepala Tania.


"Bagaimana kalau dia laki-laki?" Tanya Tania yang dalam hatinya,


"Astaga bagaimana bisa aku melakukan kebohongan seperti ini?"


"Dia akan menjadi lelaki pemberani yang akan melindungi kamu, Dia akan jauh lebih hebat dan berani." Ucap Jamie, dari matanya tersorot kebahagian.


"Apa kamu begitu senang?" Tanya Tania, menatap mata Jamie.

__ADS_1


"Sungguh, berulang kali pun kamu bertanya tidak akan pernah berubah jawabanku." Jawab Jamie kembali mencium puncak kepala Tania.


"Jika … Aku menyakitimu, apa kau akan menyakiti aku?" Tania berusaha menelan salivanya.


"Apa kamu bahagia ketika melihat aku tersakiti?" Jamie kembali bertanya, yang membuat Tania semakin kesulitan menelan salivanya.


"Jika itu membuat kamu bahagia, semua akan ku berikan." Jamie menjawab pertanyaannya sendiri.


Dua pasang mata saling bertemu, menghipnotis Tania yang seketika sudah berada di bawah Jamie.


Dua tangan Jamie menahan tubuhnya yang kekar, mulai mencium kening Tania dengan lembut, membuat Tania memejamkam mata begitu terhanyut dengan permainan Jamie.


Untuk kali ini Tania pasrah, Tania siap menerima serangan kenikmatan dari lelaki biad*b yang membuatnya luluh.


Erangan demi erangan kenikmatan tumpah ruah, beradu. Tubuh mereka kembali menyatu.


---


"Arya…." Putra menahan amarah, baru menyadari jika mobil sang adiknya terparkir di pekarangan Jamie.


"Tenang Putra." Nando yang ikut datang bersamanya setelah melakukan menyelidikan di rumah Helen, tidak menemukan keberadaan Sonic.


"Kenapa gak bilang kalau Tania sedang di rumah Jamie? Apa kalian bekerja sendiri tanpa melibatkan aku?"


Arya yang malas ribut menunjukan pesan yang dirinya terima, memberikan ponsel kepada Putra.


"Baca sendiri!" Pintahnya,


"Kita biarkan dulu! Tania sudah memasang cctv di ruangan itu." Tunjuk Arya pada layar monitor yang memperlihatkan kegelapan.


"Apa yang bisa kau lihat bocah?" Amarah Putra masih tersisa.


"Ya … Kita lihat saja, Tania pasti punya alasan kenapa dia menancapkan jarum kamera disitu?" Ujar Arya.


"Kak Nando, Bang Reza berkabar Helen dan Anjas memakai tiket palsu untuk mengelabui." Arya menyampaikan pesan.


"Reza sudah memberitahu, biarkan menjadi tugas Reza." Nando menjawab.


Si Reza yang narsis, dan tukang bercanda. Yang seharusnya disembunyikan, dia membuka identitasnya terpilih menjadi agen mata-mata saat berkuliah di Rusia, yang seharusnya menjadi impian Bayu.


Flashback


"Bagaimana kau tidak memberi kabar pada kita? selama enam bulan orang tuamu meneror ku untuk mencari keberadaanmu anj*nk." Umpat Putra saat mendapatkan telepon masuk dari nomor luar negeri.


"Sorry sorry brother…." Reza dengan sangat antusias menceritakan kejadian yang dirinya alami selama ini.


"Aku ikut dalam operasi besar-besaran, seorang teman yang aku kenal di rusia, ternyata dia agen mata-mata. Dia melihat kemampuan ku yang membuat menyeret ku untuk gabung."


"Gak usah mendongeng Reza, disini mereka panik dan sekarang kau pakai nomor dari Amerika."

__ADS_1


"Justru itu brother, gak bisa bayangin dah gimana jadi aku yang harus menyusup melihat langsung penghianatan." Ujarnya.


"Apa kau mabuk?" Putra yang gelagapan merasa mendengar anak kecil menceritakan imajinasinya.


"Terserah brother, bilang sama orang tua ku, gak usah khawatir. Anaknya yang ganteng ini aman, kuliah akan aku lanjutkan. Sorry harus menyudahi perbincangan brother, takut disadap." Telepon berakhir tanpa mendengarkan perkataan Putra, tahun-tahun dimana Putra belajar bangkit mulai meniti karir untuk menjadi seorang pengacara.


---


"Bagaimana dengan kabar Arika, apa dia masih di apartemenmu?" Tanya Nando pada Putra tiba-tiba.


Tidak ada yang berani menyahuti, semua diam.


Suasana hening, jika seorang Nando sudah mulai mengusik perihal privasi.


"Apa yang kau katakan?" Tanya Putra mencari tahu, apakah Nando juga menyelidiki dirinya.


"Tania melaporkan padaku, setelah dirinya menghubungimu. Dia mendengar suara Arika ada di apartemen." Jawab Nando, menelisik gerak-gerik Putra.


"Iya, dia bersamaku." Jawab Putra tidak bisa mengelak, berbohong tentu akan menjadi seorang penghianat.


"Adakah yang ingin kau sampaikan?" Tanya Nando lagi.


"Dia terus menyuruhku untuk mencari tahu keberadaan orang tuanya." Jawab Putra.


"Apakah dia tahu jika kau musuhnya?" Nando langsung memberikan pertanyaan tepat sasaran.


Seorang Putra yang dikenal tegas, cuek tetapi dia tidak tega jika melihat kebenaran tersakiti.


Arika yang selama ini juga dalam pantauan Nando, mengetahu jika Arika hanya korban dari Jamie.


"Iya." Jawab Putra tidak bisa menutupi lagi.


"Oke, sudah kuduga." Jawab Nando.


Arya, Raka dan Riki saling melihat kemudian Arya dengan berani mengatakan "Apakah ini sebuah penghianatan?"


Nando menghela napas panjang kemudian menjawab "Tentu."


"Brother, kenapa bisa melakukan ini kepada kita?" Arya berdiri mendekati Putra.


"Tidak perlu menyalahkan, ini sebuah perasaan yang tidak pernah tahu kapan datang menerobos kebencian mengubahnya sedemikian." Tutur Nando, mencoba memahami.


"Sorry." Hanya itu jawaban dari seorang Putra tidak bisa tegas atas perasaannya.


"Manusiawi, asal kau tidak mencekik kita dari belakang dan satu yang perlu kau tau, Tania. Dia akan lebih sakit mendengarnya." Ucap Nando.


"Tania." Gumam Putra, tidak memikirkan perasaan adiknya.


"Lihat….!" Tunjuk Arya pada layar monitor merekam ruangan gelap.

__ADS_1


"Tania berada di sana, dia ingin secepatnya menuntaskan misi meskipun nyawanya sendiri taruhannya." Kata Nando yang memotong ucapan Arya, lebih baik dirinya yang mengatakan. Tidak ingin ada pertengkaran diantara timnya. Nando yang selalu menjadi penengah, sifat keras kepala Putra, Tania dan Arya membutuhkan leader untuk menengai.


Bersambung ….


__ADS_2