
"Sejak kapan kamu mengetahui itu Clay?" Arya tidak jadi pergi, rasa penasarannya muncul berisik di kepala.
"Kejadian ketika di ulang tahunku. Kamu kan yang menyuruh aku buat melakukan pemeriksaan, dan hilangnya Mario sampai sekarang." Clay menuturkan.
Arya tidak menyangkah cewek lemot yang dikenalnya, memiliki kecerdikan dibelakang.
"Lalu." Arya ingin mengetahui semuanya.
"Lalu …. Aku," Clay menundukkan kepalanya.
"Aku berusaha bantu kamu …. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa? Aku tau aku salah, karena kamu pasti bisa menyelesaikan semua sendiri tapi aku gak mau kamu kenapa-kenapa?"
"Aku kenapa?" Arya bertanya balik.
"Aku gak mau kamu kenapa-kenapa Arya, harusnya kamu tau itu bod*h." Teriak Clay tidak peduli lagi, berjalan cepat sengaja menabrak sedikit tubuh Arya.
Arya kebingungan.
"Dasar cowok gak peka."Ucap Clay saat melintasi Arya.
---
"Bukti apa yang kalian dapat?" Tim Putra sudah menunggu di ruangan.
"Ini, surat kaleng." Seorang tim menunjukkan kaleng kecil yang berdiri di atas meja.
Arya membuka kaleng itu, membuka satu persatu foto dengan jepretan ngasal.
"Dari mana?" Tanya Putra.
"Kita masih menyelidiki, kita belum tau siapa yang kirim itu di tempat kejadian."
"Tempat kejadian? Kalian kesana?" Tidak ada persetujuan untuk melakukan penyelidikan ulang, mereka berani mendatangi tempat kejadian.
"Atas perintah Rafael, Rafael menyuruh kita untuk datang ke tempat kejadian bersama dia. Dia sedang menyelidiki kasus narkotika seperti laporan dari anaknya." Tutur seorang tim dan tim lainnya mengikuti.
"Seperti yang kita ketahui tidak jauh dari tempat itu markas mereka. Dan tidak ada satu oknum yang bisa masuk markas karena mulut mereka sudah dibeli."
"Jamie?" Putra langsung bertanya.
"Entah, kita tidak bisa langsung menunjuk dia orangnya."
"Ini lebih dari seorang Jamie, foto ini diambil diam-diam dengan rasa ketakutan. Bisa jadi dari salah satu anggota komunitas yang mengambil foto ini untuk menjatuhkan Jamie dan …." ucapan Putra terpotong.
Beberapa foto yang masih berada di tangannya dilihatnya lagi pelan-pelan, kemudian berlanjut mengatakan "Kita selidiki secepatnya."
Apa yang terucap dari mulut tidak sama dengan yang terpikirkan.
Putra lebih memilih kasus ini, foto itu dibantu oleh Arya dan Nando karena Arya tidak bisa percaya dengan timnya sendiri, bagaimana bisa foto ini tiba-tiba ada disaat Rafael menyelidiki komunitas karena laporan dari anaknya.
__ADS_1
Ketakutan dari foto yang diambil sama seperti ketakutan dari seseorang ini menyimpan kuat bukti yang dimilikinya. Dia butuh perlindungan untuk mengungkapkan kebenaran, butuh orang yang tepat untuk melindungi dirinya.
"Foto ini diambil dari sisi kanan dari tempat kejadian, apa tidak ada yang menemukan bukti lagi?" Tanya Putra pada tim.
"Awal kita kesana, kita tidak menemukan jejak kaki siapapun." Jawab seorang tim yang dimana salah satunya adalah seorang detektif.
Jam dan kejadian terekam langsung di otak Putra.
---
Pintu kamar Robert sudah terbuka dari tengah malam disaat Robert tertidur. Hingga pagi menjelang belum menyadari dirinya sudah terbebas dari penculikan yang tidak masuk diakal.
Robert terpantau masih rebahan di kasur. Raka dan Riki yang setiap jam bergiliran mengecek pergerakan dia sudah mulai bosan.
Biasanya Robert sudah bangun lalu mengecek pintu sebelum masuk kamar mandi.
Makanan dan minuman? Stok masih banyak untuk dirinya sendirian.
Robert seperti memikirkan sesuatu seperti yang dilakukan beberapa hari terakhir. Bukan bosan atau stress dengan keadaan.
"Siapa yang melakukan ini?" batinnya,
"Sonic? apakah dia yang menyelamatkan aku?" Pikiran Robert melalang buana.
"Apa disana masih aman?" Robert yang tadinya telentang kini mengubah posisinya tengkurap.
Di awal dirinya merasa senang, kini kepikiran.
---
"Rafael ikut campur?" jawab Bayu.
"Anaknya menyukai Arya, dia diserang anak anggota komunitas mobil. Clay ikut turun tangan dengan lapor ke Rafael." Cerita Bayu membuat Sabilla melongo,
"Anak zaman sekarang, orang tua ikut campur." Sabilla melenggang.
Tidak mau ikut campur, tidak ingin mendekati masalah.
Percaya dengan Bayu, semua pasti baik-baik saja.
Satu hal yang Sabilla dengar ketika menelpon
"Clay dan Arya jangan biarkan mereka lepas dari perlindungan."
"Rafael pasti lupa untuk melindungi anaknya." Ucap Bayu lagi pada Nando.
Pekerjaan baru yang tidak pernah terpikirkan akan seperti ini. Bayu berusaha mencari tahu setelah mendapatkan laporan hasil dari meeting. Bayu mengutus asistennya untuk menghadiri meeting. Dirinya cukup turun ketika dibutuhkan.
---
__ADS_1
"Kenapa Arya gak cerita kalau Clay tahu? Astaga ini bocah." Gerutu Nando, yang masih di rumah.
Tentu saja Nando menghubungi Arya untuk meminta kejelasan.
"Kita ke markas, tapi antarkan Clay pulang pastikan dia aman!" Hanya itu yang diucap Nando sebelum menutup telepon.
Di tempat lain Arya kebingungan, mencari tahu keberadaan Clan yang sudah keluar duluan.
---
Jamie pergi terlebih dahulu, sedangkan Tania langsung kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan.
Kembali terlihat mobil Sonic keluar dari gedung tinggi di hadapannya.
Tania memutuskan untuk mengirim chat ke Helen untuk mengurus pekerjaan yang masih numpuk di tempat kerja dirinya. Tidak ada yang Tania takutkan, di ruang kerjanya Tania tidak pernah menyimpan berkas penting selain pekerjaan tentang perusahaan.
Mobil Tania melaju dengan kencang mengikuti laju mobil Sonic dari belakang. Sonic seperti terburu-buru, mengejar sesuatu. Tania sudah tidak peduli, rasa penasarannya menghantui.
Berkilo meter sudah dirinya tempuh. Mobil Sonic masuk ke pekarangan gedung tua. Tania menghentikan laju mobilnya,
"Robert?" Ucap Tania,
Memastikan benar-benar Robert dan
Sittt ….
"Kau kemana?" Tanya Putra pada sang Adik.
"Robert …. Apa si kembar membebaskan dia?" Tanya Tania pada Putra. Ponsel Tania berdering disaat yang tepat.
"Iya, Nando yang menyuruh. Pulang jangan ikuti dia!" Pintah Putra.
"Kenapa kau mengetahui jika aku mengikuti Sonic?" Tania celingukan.
"Apa kau menaruh gps di mobilku?" Tanya Tania lagi.
"Biarkan aku menjadi kakakmu, yang juga bisa memantau keberatan dirimu." Jawab Putra, setelah Tania menyendiri beberapa hari terpikirkan olehnya untuk menempelkan gps di mobil sang adik.
Tania diam, berpikir sejenak kemudian berucap pada Putra "Setelah ini biarkan aku sendiri, jika aku tidak keluar dalam sehari 24 jam dari rumah itu, datangi aku."
"Apa yang akan kamu lakukan?" Putra terdengar khawatir.
"Aku ingin semuanya cepat selesai. Aku sudah lelah dengan misi yang tidak tau sampai kapan berakhir. Aku ingin hidup tenang, aku lelah." Ujar Tania.
"Maafkan aku melibatkanmu." Suara Putra terdengar ada penyesalan.
"Tidak kak, kita yang pilih untuk melakukan balas dendam. Kita juga yang harus menyelesaikan, meskipun nyawa menjadi taruhan." Ucap Tania.
"Jangan biarkan aku menyesal karena gagal jadi kakak yang baik." Putra di ruangan kerjanya merasa sedih, adiknya harus ikut merasakan kehidupan yang keras.
__ADS_1
"Tidak, kau sudah sangat hebat untuk aku. Sekarang biarkan aku menuju rumah itu." Tania pamit.
Bersambung ….