Love Vs Blood

Love Vs Blood
25.Love vs Blood


__ADS_3

Arya tidak bisa bertindak, jika Arya ikut bantu meretas untuk menghapus berita-berita Arika yang sedang menjadi perbincangan tentu Jamie tidak akan tinggal diam mencari orang yang menghapus semua berita.


Putra bahkan tidak pulang ke apartemen, dirinya tertidur di sofa markas.


Arya melihatnya kasihan, begitu banyak kasus orang yang sedang dipikirkan karena memang kewajiban Putra sebagai pengacara. Tetapi, lupa akan bahagianya, mungkin lebih tepatnya mengabaikan kebahagiaan dirinya.


Sebelum pergi, Arya memberi selimut pada Putra yang tidur terbujur.


Menutup pintu, membiarkan orang yang dianggapnya kakak itu mengistirahatkan tubuhnya.


Pagi-pagi Arya harus pergi ke kampus. Motor kesayangannya selalu terparkir aman di depan kafe. Memakai helm, menerjang jalanan pagi yang cukup berisik.


Hari ini Arya datang pagi, tidur dari kemarin sore membuat dirinya terbangun lebih cepat.


Bersenandung sambil menambah kecepatan motor tiba-tiba dihentikan dengan notifikasi jika Arya harus datang ke markas besarnya atas perintah Mr.X.


Arya mengambil jalur kiri, berbelok menuju ke markas tempat dirinya bekerja.


---


Tania sudah cukup tenang dan siap menjalani hari. Berdandan cantik untuk pergi ke kantor. Dirinya melawan, tidak boleh terus dalam penyesalan atas perbuatan yang sudah dilakukan.


Mobil melaju cukup tenang, melewati gedung besar yang dirinya biasa singgah. Sekarang tatapan Tania ke depan, mencoba untuk tidak melihat ke arah kanan.


Kedatangan Tania dikejutkan dengan hal yang tidak biasa.


Meja kerja Helen berantakan. Tania mencari keberadaan Helen, bertanya pada karyawan lain yang sudah datang menjawab tidak mengetahui.


Karena semenjak Tania tidak ke kantor Helen juga jarang terlihat disana.


Tania sengaja tidak bilang jika hari ini dirinya akan masuk.


Ruangan kerja Helen, satu lantai dengan ruangan kerja Tania. Tidak ingin menghubungi Helen, pikiran Tania tertuju pada ruang cctv.


"Pagi bu, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang penjaga ruang pemantau cctv.


"Tolong kasih saya rekaman beberapa hari saat saya tidak ke kantor!"  Tania melenggang, ruangan cukup besar itu tidak ada yang mengetahui. Hanya Tania dan pekerja khusus, bahkan Helen tidak juga mengetahui.


Pekerja yang terbilang masih seumuran dengan Tania itu memberikan semua video yang terekaman.


Tania memperhatikan setiap orang yang keluar masuk dan berlalu lalang di kantor.


Raut wajah Tania berubah tampak geram ketika melihat wajah Sonic. Sonic terpantau masuk ke lantai ruangan dirinya kerja. Helen menyambut dan setelah itu mereka masuk ke ruangan Helen yang tidak terpantau cctv.


"Si*lan." Umpat Tania.

__ADS_1


Tania berterima kasih sebelum meninggalkan ruangan, mengambil ponsel yang tersimpan di tas jinjingnya.


"Nando, aku butuh kamu. Kita ketemu sekarang!" Ucap Tania pada Nando.


Emosi membara, Tania kembali meninggalkan kantor menuju ke markas untuk ketemu Nando.


Sepanjang jalan Tania tidak berhenti untuk mengumpat. Melaju cepat ingin menyampaikan penghianat pada mereka orang-orang yang membantunya.


Jarak kantor ke markas tidak jauh. Tania memarkirkan mobilnya sembarangan. Hendak masuk ke kafe, disambut beberapa karyawan yang berganti shift. Tania memberi aturan kafe buka 24 jam. Untuk mengelabui jika musuh mengikuti Tania, masih bisa bersembunyi di ruangannya dengan kondisi kafe yang tidak pernah sepi.


Pintu dibuka, Tania terkejut dengan penampakan Putra yang masih tertidur. Tidak ingin mengganggu sang kakak. Tania kembali ke bawah meminta dua gelas kopi untuk dibawa ke ruang kerjanya.


Tania kembali ke atas Putra sudah terbangun dan duduk.


"Apa kabar?" Tanya sang kakak pada Tania.


Tania merasa bersalah, tidak mampu menjawab. Bagaimanapun dia seorang adik yang butuh tempat untuk meluapkan keluhan. Tania berlari kecil menuju sang kakak, duduk di samping Putra. Tania memeluk erat, menangis terisak di pelukan orang yang tepat.


Putra kembali memeluk erat tanpa menanyakan apa yang telah terjadi. Membiarkan sang adik menangis hingga lega dan menunggu Tania bercerita.


---


Seperti dugaan, Arika tidak melihat lagi berita-berita yang tersebar tentang dirinya.


Arika masih pura-pura tidak tahu. Selama dirinya tidak pulang ke rumah sikap posesif Jamie tidak lagi seperti itu. Membuat janggal Arika.


Braaak ….


Suara bising terdengar lagi, seperti suara semalam yang terdengar saat Arika tertidur. Penasaran, ingin melihat terhalang oleh rasa takut yang menyeruak.


"Rumah ini menyeramkan." Arika masih duduk di atas ranjang.


Kali ini suara semakin keras terdengar. Suara pecahan kaca, barang berjatuhan. Arika sangat ingin melihat, lagi-lagi rasa takut lebih besar dari harus beranjak.


---


Dibawah Jamie lupa jika Arika sudah ada di rumah. Meluapkan emosinya pada orang-orang suruhannya.


"Gak ada yang becus." Kembali gelas dibanting ke lantai menjadi serpihan kaca.


Kehilangan Robert, salah satu kecil tetapi berakibat fatal jika tidak segera dimusnahkan.


Sonic? Masih menjadi incaran.


"Aku gak akan mau mendengar kegagalan lagi, jika tidak semuanya habis." Teriak Jamie yang tidak terdengar oleh Arika.

__ADS_1


Menunggu sunyi, sepi Arika ingin sekali melihat apa yang sedang terjadi. Membuka ponsel, mencari nomor yang satu-satunya pemilik nomor masih bisa diandalkan.


Arika berusaha tidak menekan tombol memanggil jika situasi tidak terdesak. Nomor Putra terlihat, orang satu-satunya yang menjadi harapan Arika.


---


"Aku capek kak." Suara Tania parau.


Masih memeluk Putra, Putra juga masih mendekap adiknya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Putra.


Bukan tentang Jamie atau Helen tetapi mulut Tania berucap.


"Tania pengen semua selesai, Tania pengen hidup jauh dari mereka semua, Tania tidak ingin disini, Tania ingin pergi jauh tanpa ada yang mengenali." Curahan hati adiknya, membuat sesak dada Putra.


"Semua akan segera usai, semua akan baik-baik saja." Putra meng*cup puncak kepala sang adik.


Tania kembali menangis.


"Tania rindu Mama Papa." Air mata semakin deras keluar.


Putra juga manusia, pipinya ikut basah oleh air mata kerinduan.


---


"Kenapa kau mencari tahu tentang kasus Baskara?" Mr.X bertanya dihadapan Arya.


"Ada kejanggalan." Jawab Arya.


"Itu bukan kuasa kita, lakukan pekerjaanmu atas perintahku saja." Pesan Mr.X duduk di kursi kerjanya.


"Siap." Arya tidak bisa menolak.


"Sonic, apa kau mengenal dia?" Tanya Mr.X


"Tidak, hanya mengetahui saja." Jawab Arya.


"Selidiki dia, jangan kasih tahu siapapun. Dia bandar, kita cari tahu tentang dia sebelum mencari dalangnya."


Arya menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Kita tidak bisa sembarangan, selidiki sampai akar-akarnya. Entah Jamie atau ada orang lain dibalik dia." Arya semakin terkesimah, Mr.X seperti bisa membaca pikirannya. Arya masih berdiri mendengarkan perintah.


"Y'ar, bekerjasamalah dengan Nando yang saya kirim untuk membantu kamu." Benar-benar bagai magic, Arya berucap "Terima kasih." 

__ADS_1


"Saya percaya sama kamu dan dia tetapi jangan pernah beritahu Nando tentang perintah ini." Pesan Mr.X.


Bersambung ….


__ADS_2